Duren Manis

Duren Manis
Pengirim bunga


__ADS_3

Pengirim bunga


“Kamu yakin bisa kerja? Lukamu gimana?”tanya Gadis.


“Bisa. Nanti kita nebeng papa dulu sementara. Makasi


ya, udah bantu aku bersih-bersih.”kata Rio.


Gadis mengangguk dan tersenyum lagi. Mereka turun


dari lantai 2, saling berpegangan satu sama lain. Mia menyikut Alex ketika


melihat keduanya turun sambil liat-liatan.


“Ehem! Sayang, suapin aku makan dong.”pinta Alex


sok manja pada Mia.


“Mau makan pake apa, sayang?”Mia ngikutin aja


permainan suaminya.


“Apa aja, sayang. Aaa...”kata Alex sambil membuka


mulutnya lebar-lebar.


Rio menatap sirik Alex yang sedang disuapi Mia. Ia


juga ingin disuapin Gadis, tapi bagaimana cara memintanya tanpa jadi canggung.


Rio mengeluh dalam hatinya, Gadis melihat Rio tidak menyentuh sarapannya. Ia


malah sibuk memeriksa lengannya sendiri.


“Kenapa gak makan? Nanti kita telat ke kantor. Buka


mulut.”kata Gadis sambil menyodorkan sesendok nasi goreng ke depan mulut Rio.


Rio memakan nasi goreng itu sambil terus disuapi


Gadis. Sesekali ia menunduk menyembunyikan rona bahagia di wajahnya. Mia dan


Alex melihat putra mereka sudah mendapatkan cintanya kembali. Keduanya juga


menatap Rara dan Arnold yang asyik mengobrol sambil sarapan.


“Kalau Riri disini, pasti tambah rame ya,


mas.”bisik Mia di telinga Alex.


“Ya. Dan aku harus membeli rumah sebelah lagi untuk


nambah kamar.”bisik Alex.


“Bukannya di sebelah ada dua kamar lagi ya? Masih


cukuplah.”bisik Mia lagi.


“Ntar kalau anak-anak mereka nambah gimana?”


“Oh iya ya. Belum kalau Reva sama Rava punya adik


nanti.”kata Mia.


“Kamu masih mau punya anak lagi?”tanya Alex kali


ini gak pake bisik-bisik.


“Ya, satu anak lagi. Perempuan. Atau dua


perempuan.”jawab Mia santai.


Alex membayangkan Rava dan Reva berumur lima tahun


dan Mia menggendong dua bayi perempuan. Baby Reynold akan berumur lima tahun


juga. Belum lagi anak Rio yang akan lahir juga. Anak Riri nantinya. Ia pusing


membayangkan baby Reynold memanggil tante pada anak-anak perempuannya dan Mia.


“Mas! Mas, nglamun apa sich?”tanya Mia mengguncang


bahu Alex.


“Mikir mesum tuch, mah. Mama mau punya anak lagi


toh.”sindir Rio pada papanya.


“Gak gitu, cuma pusing aja kalo tantenya lebih


kecil umurnya dari ponakannya.”kata Alex.


“Bener juga ya. Kalo gitu aku pikir-pikir lagi


dech, mas.”kata Mia sedikit kecewa.


“Mama gak pa-pa punya anak lagi. Mau perempuan mau


laki-laki. Biar makin rame rumah ini.”kata Rio memahami perasaan Mia.

__ADS_1


“Kamu emang paling ngerti mama, Rio. Muaach...”kata


Mia sambil mengirimkan flying kiss untuk Rio tapi Alex langsung menangkapnya


dan memasukkannya ke kantong kemejanya.


“Pah...! Itu buat Rio. Kembaliin, eh... gak jadi.


Ma, kasi lagi dong.”pinta Rio kekanakan.


“Enak aja. Mama milik papa. Kamu udah punya Gadis,


minta cium sama dia.”kata Alex sengit.


“Mana mau dia...hup.”Rio mengunyah nasi goreng yang


masuk ke mulutnya.


Gadis menyuapi Rio nasi goreng terakhir di


piringnya. Ia membereskan bekas makan mereka dan mencium pipi Rio sekilas,


sebelum membawa piring kotor ke dapur.


“Cieee...”goda Rara dan Arnold bersamaan sambil


memukul-mukul lengan Rio.


“Addooww...! Sakit, kak. Sengaja ya.”kata Rio


sambil terus tersenyum dengan wajah merona.


Gadis tersenyum malu pada mb Minah yang memintanya


meletakkan saja piring kotor di tempat cuci piring.


Alex, Rio dan Gadis berangkat bersama menuju kantor


Alex. Mia sudah menyiapkan cemilan roti tawar untuk Gadis dan juga susu hangat.


*****


Gadis masih berkutat dengan pekerjaannya membantu


Alex. Ia sudah mengganti sepatunya dengan flat shoes yang sangat nyaman hingga


memudahkannya bolak-balik. Tanpa Gadis sadari, Rio terus menatapnya dari balik


meja kerjanya.


Romi menepuk pundak Rio, ia memberikan setumpuk


Alex. Rio mendorong troli yang berisi tumpukan dokumen itu melewati meja Gadis


yang bahkan tidak meliriknya.


Rio memonyongkan bibirnya karena kesal, setelah Rio


berlalu dengan trolinya ke dalam lift, Gadis melongok ke arah lift dan


tersenyum malu. Ia masih malu karena tidak bisa menahan dirinya untuk mencium


pipi Rio tadi.


”Aku bisa gila gara-gara cinta ini. Nak, biarkan


mama bahagia walau sebentar ya. Mama ingin kamu juga merasakan cinta mama untuk


papamu.”


Gadis mengelus perutnya, ia mengambil sepotong roti


dari dalam lacinya dan mengunyahnya dengan cepat. Pintu lift terbuka lagi, kali


ini seorang kurir datang membawa sebuket bunga mawar.


“Permisi, dengan nona Gadis?”tanya kurir itu.


“Iya, saya sendiri.”kata Gadis.


“Kiriman bunga untuk anda. Silakan diterima. Tanda


tangan disini.”kata kurir itu.


“Dari siapa, pak?”tanya Gadis sambil menandatangani


tanda terima itu.


“Sepertinya ada kartunya, nona. Saya permisi dulu.”


Gadis melihat ada kartu di antara bunga mawar itu. Ia


membaca tulisan didalamnya, ’Untuk nona Gadis yang secantik bunga mawar ini.


Dari M.’ Gadis melihat bunga mawar itu lagi, ia menghirup aroma wangi bunga itu


dan tersenyum senang.


“Siapa yang ngirim ya? Kok cuma inisial. Apa

__ADS_1


mungkin Rio? Ach, dia kan gak romantis.”kata Gadis pada dirinya sendiri.


Suara telpon mengalihkan perhatian Gadis, ia


mengangkat telpon itu dan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Sampai Rio


kembali, Gadis masih tetap sibuk. Sesekali ia ke toilet untuk muntah, tapi bisa


mengatasinya dengan baik.


Rio kembali menatap Gadis dari balik meja kerjanya.


Padahal Romi sudah berkali-kali mengingatkannya kalau mereka ada meeting


sebentar lagi. Saat waktunya hampir tiba, Romi menepuk pundak Rio, mengajaknya


keluar kantor. Saat itu Rio melihat bunga mawar di samping meja Gadis.


“Dari siapa...”kata Rio tapi terpotong Romi yang


sudah memanggilnya.


“Rio, cepet. Kita hampir telat!”panggil Romi yang


sudah berdiri di depan lift.


“Bentar, om.”kata Rio.


Ia masih menoleh melihat buket bunga mawar itu.


Gadis yang keheranan melihat Rio terus menoleh padanya, mencoba bertanya dengan


menggerakkan kepalanya. Rio menunjuk-nunjuk sesuatu di meja Gadis sampai Gadis


kebingungan apa ada yang salah. Romi keburu menyeret Rio masuk lift sebelum ia


selesai bertanya dari jauh.


Tring! Bunyi chat masuk ke ponsel Gadis. Tring!


Gadis menoleh melihat ponselnya di dalam laci. ‘Itu bunga mawar dari siapa?’.


Chat dari Rio. ‘Buat kamu?’ Gadis hampir membalasnya, tapi Alex keburu


memanggil Gadis. Gadis masuk ke ruangan Alex dan tidak menghiraukan chat dari


Rio.


Mereka baru bertemu lagi ketika jam pulang kantor


hampir tiba. Rio yang sangat tidak sabaran, mendatangi meja Gadis dan tidak


menemukan buket bunga itu ditempat tadi ia melihatnya.


“Apa? Nyari apa?”tanya Gadis yang bingung karena


Rio hampir menabrak mejanya.


“Itu bunganya mana?”tanya Rio.


“Bunga? Bunga mawar maksudmu?”tanya Gadis lagi.


“Iya. Kemana? Kenapa kamu gak bales chat-ku?”tanya


Rio sedikit keras.


“Kenapa kamu galak gitu? Aku dipanggil papa, tadi.


Memangnya kerjaanku disini cuma bales chat-mu?”sengit Gadis.


“Mana bunganya? Siapa yang ngasi?”tanya Rio lagi.


Keributan antara Gadis dan Rio sampai memancing


Alex keluar dari ruangannya. Romi juga bengong ngliatin mereka berdua ribut


masalah bunga.


“Aku taruh bunganya di pantry. Kasian kalo layu.”jelas


Gadis.


“Itu bunga dari siapa? Siapa cowok yang ngasi kamu


bunga?!”tegas Rio.


Gadis menciut dengan wajah cemberut, ia memberikan


kartu yang datang bersama bunga itu pada Rio.


“Siapa M? Kamu kenal dia?”tanya Rio.


*****


"Kenal. Dia juga vote novel ini. Kamu uda vote belum?"tanya Gadis


Rio auto nunduk ambil ponsel lupa vote lagi.


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2