
Pengirim bunga
“Kamu yakin bisa kerja? Lukamu gimana?”tanya Gadis.
“Bisa. Nanti kita nebeng papa dulu sementara. Makasi
ya, udah bantu aku bersih-bersih.”kata Rio.
Gadis mengangguk dan tersenyum lagi. Mereka turun
dari lantai 2, saling berpegangan satu sama lain. Mia menyikut Alex ketika
melihat keduanya turun sambil liat-liatan.
“Ehem! Sayang, suapin aku makan dong.”pinta Alex
sok manja pada Mia.
“Mau makan pake apa, sayang?”Mia ngikutin aja
permainan suaminya.
“Apa aja, sayang. Aaa...”kata Alex sambil membuka
mulutnya lebar-lebar.
Rio menatap sirik Alex yang sedang disuapi Mia. Ia
juga ingin disuapin Gadis, tapi bagaimana cara memintanya tanpa jadi canggung.
Rio mengeluh dalam hatinya, Gadis melihat Rio tidak menyentuh sarapannya. Ia
malah sibuk memeriksa lengannya sendiri.
“Kenapa gak makan? Nanti kita telat ke kantor. Buka
mulut.”kata Gadis sambil menyodorkan sesendok nasi goreng ke depan mulut Rio.
Rio memakan nasi goreng itu sambil terus disuapi
Gadis. Sesekali ia menunduk menyembunyikan rona bahagia di wajahnya. Mia dan
Alex melihat putra mereka sudah mendapatkan cintanya kembali. Keduanya juga
menatap Rara dan Arnold yang asyik mengobrol sambil sarapan.
“Kalau Riri disini, pasti tambah rame ya,
mas.”bisik Mia di telinga Alex.
“Ya. Dan aku harus membeli rumah sebelah lagi untuk
nambah kamar.”bisik Alex.
“Bukannya di sebelah ada dua kamar lagi ya? Masih
cukuplah.”bisik Mia lagi.
“Ntar kalau anak-anak mereka nambah gimana?”
“Oh iya ya. Belum kalau Reva sama Rava punya adik
nanti.”kata Mia.
“Kamu masih mau punya anak lagi?”tanya Alex kali
ini gak pake bisik-bisik.
“Ya, satu anak lagi. Perempuan. Atau dua
perempuan.”jawab Mia santai.
Alex membayangkan Rava dan Reva berumur lima tahun
dan Mia menggendong dua bayi perempuan. Baby Reynold akan berumur lima tahun
juga. Belum lagi anak Rio yang akan lahir juga. Anak Riri nantinya. Ia pusing
membayangkan baby Reynold memanggil tante pada anak-anak perempuannya dan Mia.
“Mas! Mas, nglamun apa sich?”tanya Mia mengguncang
bahu Alex.
“Mikir mesum tuch, mah. Mama mau punya anak lagi
toh.”sindir Rio pada papanya.
“Gak gitu, cuma pusing aja kalo tantenya lebih
kecil umurnya dari ponakannya.”kata Alex.
“Bener juga ya. Kalo gitu aku pikir-pikir lagi
dech, mas.”kata Mia sedikit kecewa.
“Mama gak pa-pa punya anak lagi. Mau perempuan mau
laki-laki. Biar makin rame rumah ini.”kata Rio memahami perasaan Mia.
__ADS_1
“Kamu emang paling ngerti mama, Rio. Muaach...”kata
Mia sambil mengirimkan flying kiss untuk Rio tapi Alex langsung menangkapnya
dan memasukkannya ke kantong kemejanya.
“Pah...! Itu buat Rio. Kembaliin, eh... gak jadi.
Ma, kasi lagi dong.”pinta Rio kekanakan.
“Enak aja. Mama milik papa. Kamu udah punya Gadis,
minta cium sama dia.”kata Alex sengit.
“Mana mau dia...hup.”Rio mengunyah nasi goreng yang
masuk ke mulutnya.
Gadis menyuapi Rio nasi goreng terakhir di
piringnya. Ia membereskan bekas makan mereka dan mencium pipi Rio sekilas,
sebelum membawa piring kotor ke dapur.
“Cieee...”goda Rara dan Arnold bersamaan sambil
memukul-mukul lengan Rio.
“Addooww...! Sakit, kak. Sengaja ya.”kata Rio
sambil terus tersenyum dengan wajah merona.
Gadis tersenyum malu pada mb Minah yang memintanya
meletakkan saja piring kotor di tempat cuci piring.
Alex, Rio dan Gadis berangkat bersama menuju kantor
Alex. Mia sudah menyiapkan cemilan roti tawar untuk Gadis dan juga susu hangat.
*****
Gadis masih berkutat dengan pekerjaannya membantu
Alex. Ia sudah mengganti sepatunya dengan flat shoes yang sangat nyaman hingga
memudahkannya bolak-balik. Tanpa Gadis sadari, Rio terus menatapnya dari balik
meja kerjanya.
Romi menepuk pundak Rio, ia memberikan setumpuk
Alex. Rio mendorong troli yang berisi tumpukan dokumen itu melewati meja Gadis
yang bahkan tidak meliriknya.
Rio memonyongkan bibirnya karena kesal, setelah Rio
berlalu dengan trolinya ke dalam lift, Gadis melongok ke arah lift dan
tersenyum malu. Ia masih malu karena tidak bisa menahan dirinya untuk mencium
pipi Rio tadi.
”Aku bisa gila gara-gara cinta ini. Nak, biarkan
mama bahagia walau sebentar ya. Mama ingin kamu juga merasakan cinta mama untuk
papamu.”
Gadis mengelus perutnya, ia mengambil sepotong roti
dari dalam lacinya dan mengunyahnya dengan cepat. Pintu lift terbuka lagi, kali
ini seorang kurir datang membawa sebuket bunga mawar.
“Permisi, dengan nona Gadis?”tanya kurir itu.
“Iya, saya sendiri.”kata Gadis.
“Kiriman bunga untuk anda. Silakan diterima. Tanda
tangan disini.”kata kurir itu.
“Dari siapa, pak?”tanya Gadis sambil menandatangani
tanda terima itu.
“Sepertinya ada kartunya, nona. Saya permisi dulu.”
Gadis melihat ada kartu di antara bunga mawar itu. Ia
membaca tulisan didalamnya, ’Untuk nona Gadis yang secantik bunga mawar ini.
Dari M.’ Gadis melihat bunga mawar itu lagi, ia menghirup aroma wangi bunga itu
dan tersenyum senang.
“Siapa yang ngirim ya? Kok cuma inisial. Apa
__ADS_1
mungkin Rio? Ach, dia kan gak romantis.”kata Gadis pada dirinya sendiri.
Suara telpon mengalihkan perhatian Gadis, ia
mengangkat telpon itu dan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Sampai Rio
kembali, Gadis masih tetap sibuk. Sesekali ia ke toilet untuk muntah, tapi bisa
mengatasinya dengan baik.
Rio kembali menatap Gadis dari balik meja kerjanya.
Padahal Romi sudah berkali-kali mengingatkannya kalau mereka ada meeting
sebentar lagi. Saat waktunya hampir tiba, Romi menepuk pundak Rio, mengajaknya
keluar kantor. Saat itu Rio melihat bunga mawar di samping meja Gadis.
“Dari siapa...”kata Rio tapi terpotong Romi yang
sudah memanggilnya.
“Rio, cepet. Kita hampir telat!”panggil Romi yang
sudah berdiri di depan lift.
“Bentar, om.”kata Rio.
Ia masih menoleh melihat buket bunga mawar itu.
Gadis yang keheranan melihat Rio terus menoleh padanya, mencoba bertanya dengan
menggerakkan kepalanya. Rio menunjuk-nunjuk sesuatu di meja Gadis sampai Gadis
kebingungan apa ada yang salah. Romi keburu menyeret Rio masuk lift sebelum ia
selesai bertanya dari jauh.
Tring! Bunyi chat masuk ke ponsel Gadis. Tring!
Gadis menoleh melihat ponselnya di dalam laci. ‘Itu bunga mawar dari siapa?’.
Chat dari Rio. ‘Buat kamu?’ Gadis hampir membalasnya, tapi Alex keburu
memanggil Gadis. Gadis masuk ke ruangan Alex dan tidak menghiraukan chat dari
Rio.
Mereka baru bertemu lagi ketika jam pulang kantor
hampir tiba. Rio yang sangat tidak sabaran, mendatangi meja Gadis dan tidak
menemukan buket bunga itu ditempat tadi ia melihatnya.
“Apa? Nyari apa?”tanya Gadis yang bingung karena
Rio hampir menabrak mejanya.
“Itu bunganya mana?”tanya Rio.
“Bunga? Bunga mawar maksudmu?”tanya Gadis lagi.
“Iya. Kemana? Kenapa kamu gak bales chat-ku?”tanya
Rio sedikit keras.
“Kenapa kamu galak gitu? Aku dipanggil papa, tadi.
Memangnya kerjaanku disini cuma bales chat-mu?”sengit Gadis.
“Mana bunganya? Siapa yang ngasi?”tanya Rio lagi.
Keributan antara Gadis dan Rio sampai memancing
Alex keluar dari ruangannya. Romi juga bengong ngliatin mereka berdua ribut
masalah bunga.
“Aku taruh bunganya di pantry. Kasian kalo layu.”jelas
Gadis.
“Itu bunga dari siapa? Siapa cowok yang ngasi kamu
bunga?!”tegas Rio.
Gadis menciut dengan wajah cemberut, ia memberikan
kartu yang datang bersama bunga itu pada Rio.
“Siapa M? Kamu kenal dia?”tanya Rio.
*****
"Kenal. Dia juga vote novel ini. Kamu uda vote belum?"tanya Gadis
Rio auto nunduk ambil ponsel lupa vote lagi.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.