Duren Manis

Duren Manis
Rapat wangi


__ADS_3

Rapat wangi


“Rio, coba telpon kak Katty. Paketnya uda nyampe.


Ini obat apa yang dikirim?”


Rio menelpon Katty dan menanyakan kenapa mengirim


paket itu, Katty menjelaskan kalau undangan itu bisa dipilih Rio dan Gadis


untuk undangan pernikahan mereka dan Jodi sudah siap mencetak sekaligus


mengirimnya. Katalog kebaya untuk kebaya pernikahan Gadis dan juga resepsinya,


Gadis bisa memilihnya dan Katty akan mengurus sisanya. Untuk seragam juga akan


disiapkan oleh Katty.


“Trus obat ini untuk apa, kak?”tanya Gadis sambil


membolak-balik botol ditangannya.


“Itu minum biar rapet. Minum dari sekarang ya, bisa


bikin wangi juga.”


Gadis menunduk dengan wajah memerah karena semua


orang mendengar kata-kata Katty yang jelas banget. Para suami dan calon suami


langsung bisik-bisik kalau boleh juga tuch dicoba. Suasana semakin meriah saat


Jodi juga ikutan promosi mengenai obat itu.


Gadis hanya bisa menahan malunya saat Rio berbisik


di telinganya kalau ia tidak sabar menunggu malam pernikahan mereka. “Aku


menunggu malam pernikahan kita, sayang.”

__ADS_1


“Diam, Rio. Aku malu, tau.”


Rio menunduk hampir mencium Gadis kalau Aira tidak


berdehem untuk menyadarkan mereka dimana mereka berada saat itu.


*****


Mendengar kabar pernikahan Rio dan Gadis, Riri


mengatakan akan pulang beberapa hari sebelum hari H. Mereka juga sedang


mempersiapkan pernikahan Lili dan Dion yang akan berlangsung beberapa hari lagi


setelah Lili benar-benar pulih. Ibu Lili sudah datang untuk menemani putrinya


yang masih sedikit trauma.


Lili belum mau disentuh siapapun kecuali oleh


ibunya. Ia lebih banyak berdiam di rumah setelah mengantar Riri ke kampus


untuk semua orang di rumah itu.


Tapi Lili tidak sama seperti sebelumnya, bunga itu


sudah layu bahkan hampir mati. Dion berusaha membuat Lili merasa nyaman dengan


sikap dan candaannya seperti biasa. Sungguh suatu keajaiban saat Lili mau


menikah dengan Dion. Perempuan itu tidak ingin makan saat di rumah sakit dan ia


melihat Dion juga melakukan hal yang sama.


Keras kepala Dion membuat Lili akhirnya mau


menyentuh makanannya. Pria itu benar-benar menunjukkan ketulusannya sampai Lili


mengangguk menerima lamarannya yang entah sudah keberapa kalinya.

__ADS_1


“Apa kamu gak malu menikah dengan perempuan tidak


sempurna seperti aku? Kamu gak jijik?”


“Kamu sendiri? Apa kamu gak malu nikah sama aku


yang buruk rupa ini. Kamu gak jijik?”


Lili menatap Dion yang saat itu sedang main games


di ponselnya sambil duduk di sampingnya. Sesekali Dion membuka mulutnya meminta


Lili menyuapi snack yang berserakan di sekitar mereka. Salah satu kebiasaan


baru Dion saat weekend adalah bermain games dan minta disuapi Lili.


“Dion, aku serius nich. Kamu berhenti dulu main


gamesnya.”


“Aku juga serius. Aku gak mau berhenti main games.


Ntar aku kepancing mau cium kamu. Atau kamu mau dicium?”


Lili meringkuk takut, ketika Dion menatapnya. Dion


menyentil dahi Lili, “Aouch!” “Tuch, kan. Baru ngomong gitu udah takut. Kalau


aku cium beneran gimana?”


Lili menggeleng,”Gak pa-apa. Coba aja.”


"Beneran? Janji gak jerit-jerit?" Lili mengangguk ragu. Ia menatap mata Dion yang sudah mendekat padanya. Lili mengepalkan tangannya menahan gemetar di tubuhnya.


"Lili..."panggil Dion, Lili menatapnya penuh tanya.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2