
Rapat wangi
“Rio, coba telpon kak Katty. Paketnya uda nyampe.
Ini obat apa yang dikirim?”
Rio menelpon Katty dan menanyakan kenapa mengirim
paket itu, Katty menjelaskan kalau undangan itu bisa dipilih Rio dan Gadis
untuk undangan pernikahan mereka dan Jodi sudah siap mencetak sekaligus
mengirimnya. Katalog kebaya untuk kebaya pernikahan Gadis dan juga resepsinya,
Gadis bisa memilihnya dan Katty akan mengurus sisanya. Untuk seragam juga akan
disiapkan oleh Katty.
“Trus obat ini untuk apa, kak?”tanya Gadis sambil
membolak-balik botol ditangannya.
“Itu minum biar rapet. Minum dari sekarang ya, bisa
bikin wangi juga.”
Gadis menunduk dengan wajah memerah karena semua
orang mendengar kata-kata Katty yang jelas banget. Para suami dan calon suami
langsung bisik-bisik kalau boleh juga tuch dicoba. Suasana semakin meriah saat
Jodi juga ikutan promosi mengenai obat itu.
Gadis hanya bisa menahan malunya saat Rio berbisik
di telinganya kalau ia tidak sabar menunggu malam pernikahan mereka. “Aku
menunggu malam pernikahan kita, sayang.”
__ADS_1
“Diam, Rio. Aku malu, tau.”
Rio menunduk hampir mencium Gadis kalau Aira tidak
berdehem untuk menyadarkan mereka dimana mereka berada saat itu.
*****
Mendengar kabar pernikahan Rio dan Gadis, Riri
mengatakan akan pulang beberapa hari sebelum hari H. Mereka juga sedang
mempersiapkan pernikahan Lili dan Dion yang akan berlangsung beberapa hari lagi
setelah Lili benar-benar pulih. Ibu Lili sudah datang untuk menemani putrinya
yang masih sedikit trauma.
Lili belum mau disentuh siapapun kecuali oleh
ibunya. Ia lebih banyak berdiam di rumah setelah mengantar Riri ke kampus
untuk semua orang di rumah itu.
Tapi Lili tidak sama seperti sebelumnya, bunga itu
sudah layu bahkan hampir mati. Dion berusaha membuat Lili merasa nyaman dengan
sikap dan candaannya seperti biasa. Sungguh suatu keajaiban saat Lili mau
menikah dengan Dion. Perempuan itu tidak ingin makan saat di rumah sakit dan ia
melihat Dion juga melakukan hal yang sama.
Keras kepala Dion membuat Lili akhirnya mau
menyentuh makanannya. Pria itu benar-benar menunjukkan ketulusannya sampai Lili
mengangguk menerima lamarannya yang entah sudah keberapa kalinya.
__ADS_1
“Apa kamu gak malu menikah dengan perempuan tidak
sempurna seperti aku? Kamu gak jijik?”
“Kamu sendiri? Apa kamu gak malu nikah sama aku
yang buruk rupa ini. Kamu gak jijik?”
Lili menatap Dion yang saat itu sedang main games
di ponselnya sambil duduk di sampingnya. Sesekali Dion membuka mulutnya meminta
Lili menyuapi snack yang berserakan di sekitar mereka. Salah satu kebiasaan
baru Dion saat weekend adalah bermain games dan minta disuapi Lili.
“Dion, aku serius nich. Kamu berhenti dulu main
gamesnya.”
“Aku juga serius. Aku gak mau berhenti main games.
Ntar aku kepancing mau cium kamu. Atau kamu mau dicium?”
Lili meringkuk takut, ketika Dion menatapnya. Dion
menyentil dahi Lili, “Aouch!” “Tuch, kan. Baru ngomong gitu udah takut. Kalau
aku cium beneran gimana?”
Lili menggeleng,”Gak pa-apa. Coba aja.”
"Beneran? Janji gak jerit-jerit?" Lili mengangguk ragu. Ia menatap mata Dion yang sudah mendekat padanya. Lili mengepalkan tangannya menahan gemetar di tubuhnya.
"Lili..."panggil Dion, Lili menatapnya penuh tanya.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.