
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 36
Alan tetap diam di dekat Endy, ia harus melaporkan
apa yang terjadi pada Kaori setelah kembali ke rumah Alex. Endy yang melihat
kepergian Ken, hanya bisa termenung tanpa berniat memanggil Ken lagi.
**
Ken dan Kaori menjalani kehidupan mereka lagi
setelah kejadian malam itu. Keduanya tidak saling menghubungi tapi hati mereka
sudah terkait sangat dalam sampai-sampai Ken selalu merasakan saat Kaori sedang
sedih. Keputusan Kaori untuk menenangkan dirinya tanpa bertemu dengan orang
lain, membuat Ken sangat menderita. Ia merindukan Kaori setiap hari.
Setiap kali Ken ingin menelpon Kaori, bayangan
ekspresi wajah kecewa Kaori malam itu, membuatnya mengurungkan niatnya. Ken
frustasi setiap kali memikirkan hancurnya perasaan Kaori mengetahui identitas
dirinya yang sebenarnya. Pertanyaan-pertanyaan Kaori malam itu bahkan belum
bisa ia jawab sampai sekarang.
Ken kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa
melindungi Kaori bahkan sebelum gadis itu menjadi istrinya. Hembusan nafas
panjang Ken kembali terdengar, ia harus bertemu dengan tamu berikutnya sesuai
jadwal. Asisten Ken membuka pintu ruang kerjanya dan Ken melihat kakek Martin
memasuki ruangannya.
Ken segera berdiri dari kursi kerjanya dan
mendekati kakek Martin, “Kakek, apa kabar?” sapa Ken dengan hormat.
Plak! Sebuah tamparan mengenai pipi Ken dengan
telak. Ayunan tongkat kakek Martin juga mengenai lengan dan kaki Ken. Pria itu
sampai berlutut karena kakinya gemetar merasakan sakit. Kali ini kakek Martin
benar-benar marah. Ketika tongkat kakek Martin kembali berayun hampir memukul
punggung Ken, pria tua itu menghentikan gerakannya.
Ken tampak menyedihkan di bawah sana, ia sudah siap
menerima pukulan kakek Martin. Entah kesalahan yang mana, yang membuat kakek
Martin marah besar seperti itu. Ken sedang tidak ingin berdebat dengan siapapun
terutama orang yang lebih tua darinya.
“Ken, bangun! Kamu nggak tahu apa kesalahanmu?”
tanya kakek Martin.
Ken mencoba mengingat buku dosanya, bulan ini
sepertinya pekerjaannya baik-baik saja. Bahkan mencapai target seperti
biasanya. Kalau untuk masalah Kaori, Ken sedikit bingung kenapa reaksi kakek
Martin bisa semarah itu.
“Aku nggak tau, kek,” sahut Ken.
Buk! Pukulan dari tongkat melayang lagi ke kaki
Ken. Pria itu kembali berlutut, tubuhnya gemetar antara menahan sakit dan
kesedihan di hatinya. Kakek Martin menarik kerah kemeja Ken sampai pria itu
berdiri lagi.
“Berani-beraninya kamu menyakiti perasaan Kaori!”
bentak kakek Martin. “Pikir, Ken! Apa yang sedang kamu lakukan sekarang?” tanya
kakek Martin lagi.
Ken seratus persen bingung, ia tidak tahu harus
bereaksi dan menjawab bagaimana. Kakek Martin menghela nafas panjang, ia ikutan
stress melihat reaksi Ken yang bingung.
“Hadduuhhh... yang benar saja, Ken! Sukses, muda,
bertalenta, pewaris tunggal Martin Wiranata, mengejar seorang gadis saja tidak
becus!” bentak kakek Martin.
“Kek, masalahnya tidak seperti itu. Kaori mendengar
sesuatu yang dikatakan papa. Gimana aku harus bilangnya sama kakek ya.” Ken bingung
mengatakan apa yang didengar Kaori malam itu.
“Bodoh! Kamu kira kakek tidak tahu? Kaori adalah
cucu kandung kakek,” kata kakek Martin membuat Ken terkejut.
Ken menunduk sambil menggelengkan kepalanya, dia
lupa siapa kakek Martin. Tentu saja kakek tahu tentang Kaori, tapi kenapa kakek
Martin tidak mengatakannya juga pada Ken.
“Dengar, Ken. Kakek tahu kamu sangat mencintai
Kaori. Tapi dengan tidak berusaha memberinya dukungan, apa menurutmu caramu ini
__ADS_1
sudah benar?” tanya kakek Martin.
“Tapi Kaori ingin sendirian, kek. Dia perlu waktu
untuk menenangkan diri. Aku nggak tahu apa salah paham diantara kami juga sudah
clear atau belum. Kaori mengira kalau kami bersaudara kandung, kek,” kata Ken
sedih.
“Kamu pikir Kaori bodoh? Anak itu sangat cerdas.
Dia pasti sudah bertanya pada Alex atau siapapun disana. Kakek yakin kalau Alex
sudah memberitahu Kaori kalau kalian bukan saudara kandung,” kata kakek Martin
lagi.
Ken menatap kakek Martin, ia tidak tahu harus
melakukan apa saat ini. Kakek Martin yang gemas, menepuk pundak Ken dengan
keras.
“Kenapa masih disini? Sana cari Kaori. Apa perlu
kakek anterin juga?!” bentak kakek Martin emosi.
“Tapi meetingnya? Itu tamunya?” tanya Ken bingung.
Ia ingin sekali berlari ke rumah Alex tapi di kantor itu masih banyak yang
harus ia kerjakan juga.
Kakek Martin memanggil bodyguardnya lalu
memerintahkan beberapa bodyguard itu membawa Ken ke rumah Alex. Semua orang di
kantor itu melongok ketika melihat Ken diapit dua bodyguard yang badannya lebih
besar dari Ken. Bahkan tubuh Ken diangkat sedemikian rupa sampai kakinya tidak
menapak di lantai.
Bukannya diantar dengan baik ke rumah Alex, Ken
lebih mirip diculik dan dibawa paksa. Bahkan para bodyguard itu sama sekali
tidak memberi Ken kesempatan untuk bicara. Para bodyguard kakek Martin memang
bodyguard pilihan yang rela mati asalkan perintah kakek Martin dijalankan
dengan baik.
Sampai di depan rumah Alex, Ken kembali diapit dua
bodyguard. Padahal Ken hampir melarikan diri ketika pintu mobil terbuka, ia
nekat memukul bodyguard disampingnya, tapi pukulannya tidak mempan sama sekali.
Akhirnya Ken hanya pasrah ketika dirinya dibawa ke teras rumah Alex. Salah satu
yang membuka pintu.
“Selamat sore, Nyonya. Saya membawa paket untuk
nona Kaori,” kata bodyguard itu.
“Paket apa? Ken? Kenapa kamu digotong gitu?” tanya Gadis
bingung.
Ken tidak bisa berkata apa-apa, ia menendang salah
satu bodyguard yang masih mengapitnya tapi bahkan bodyguard itu tidak bereaksi
sama sekali.
“Lepasin aku! Kita sudah sampai kan? Lepas!” teriak
Ken sambil memberontak.
“Maaf, tuan muda, perintah tuan besar agar tuan
muda bertemu dengan nona Kaori baru bisa kami lepaskan,” kata bodyguard di
depan Gadis.
“Apa kalian sudah gila?!” sengit Ken mulai kesal.
Mia yang mendengar keributan di pintu rumah, segera
menghampiri Gadis. Ia menutup mulutnya dengan tangan ketika melihat Ken
meronta-ronta di tangan dua bodyguard yang tetap mengapitnya.
“Ada apa ini? Ken, kamu kenapa?” tanya Mia kuatir.
“Selamat sore, Nyonya. Bisa dipanggilkan nona Kaori
dulu? Kami diperintahkan tuan besar Martin untuk mempertemukan tuan muda Ken dengan
nona Kaori,” kata bodyguard di depan Mia.
“Oh, sebentar saya tanya anaknya dulu,” kata Mia
sambil masuk ke dalam rumah.
Gadis menahan senyumnya melihat Ken diangkat seperti
anak kucing yang mau dibawa induk kucing. Ken masih mengomeli dua bodyguard
yang tidak mau melepaskannya. Wajah cemberutnya persis Rio kalau sedang
ngambek.
Alex, Rio, dan Reva yang pulang bersamaan, bingung
melihat Ken dan beberapa bodyguard ada di depan teras rumah Alex. Mereka kompak
tertawa geli melihat Ken diapit bodyguard yang tetap tegak berdiri meskipun Ken
__ADS_1
sudah meronta-ronta. Kaori yang dibawa Mia ke depan pintu, kebingungan dengan
apa yang terjadi. Tadi Mia mengatakan kalau kakek Martin memerintahkan
bodyguardnya mengantar Ken untuk menemui Kaori. Mia menambahkan sedikit drama
dengan mengatakan kalau Ken digotong oleh dua orang bodyguard berbadan besar.
“Nona Kaori, ini paket spesial untuk nona. Silakan
diterima. Tuan muda Ken,” kata bodyguard itu sambil menyingkir.
Dua bodyguard yang membawa Ken, mendorong Ken ke
hadapan Kaori. Sedikit berlebihan karena mereka mendorong Ken sedikit keras sampai
pria itu menabrak tubuh Kaori. Ken menahan tubuh Kaori agar tidak jatuh, lalu
buru-buru melepaskannya setelah Kaori bisa berdiri dengan stabil lagi.
“Ken,” panggil Kaori.
“I—iya, Kaori...,” sahut Ken gugup.
“Kita bicara di kamarku, ya,” ajak Kaori.
“Iya, Kaori,” sahut Ken lagi semakin gelisah.
Ken menunggu Kaori berbalik, lalu berjalan duluan
menuju kamar gadis itu. Ken menatap Mia dan Gadis yang menyingkir memberi jalan
untuk mereka berdua. Ken ingin meminta Mia menemaninya ke kamar Kaori, tapi Mia
menggeleng pelan. Terus terang, ia belum siap untuk bicara dengan Kaori
sekarang. Ken takut mengganggunya. Sudah tidak bisa mundur lagi, Ken mengikuti
Kaori berjalan ke kamarnya.
“Ken, tutup pintunya,” ucap Kaori saat mereka sudah
ada di dalam kamar gadis itu.
Ken melakukan apa yang diminta Kaori, saat ia
berbalik, Kaori sudah ada dibelakang Ken. Gadis itu mendekat sambil meraba-raba
ke depannya. Ken menahan dirinya untuk tidak memeluk Kaori. Ia sangat
merindukan gadis itu, tapi takut akan menyakiti Kaori.
“Ken, kamu dimana?” tanya Kaori yang tidak bisa
menemukan Ken.
Pria itu menahan nafasnya dan menempel pada pintu
yang sudah tertutup, mencoba bersatu dengan pintu kamar Kaori. Tapi Kaori tetap
melangkah maju mendekati Ken. Saat Kaori bisa meraih kemeja Ken, gadis itu
meminta Ken menunduk. Cup! Kaori sepertinya ingin mencium bibir Ken, tapi ia
hanya mencapai dagu Ken.
“Kaori, kamu kenapa? Mau apa?” tanya Ken bingung.
“Ken, kamu nggak kangen sama aku ya? Nggak sayang
aku lagi?” tanya Kaori dengan ekspresi wajah menggemaskan.
“Aku hampir mati, Kaori. Nggak ketemu kamu, nggak
bisa denger suara kamu. Aku mencintaimu, Kaori. Sangat-sangat mencintaimu,”
ucap Ken sendu.
“Kalo gitu, kenapa nggak peluk aku? Ken, aku ingin
dicium lagi,” bisik Kaori sambil menarik-narik kancing kemeja Ken.
Ken menelan salivanya, ia masih ingin bertanya
tentang perasaan Kaori pada Endy dan Kinanti. Tapi godaan yang diberikan Kaori
membuat akal sehat Ken raib tanpa jejak. Ken menunduk, mengecup bibir pink
Kaori. Ia menatap mata Kaori yang sudah terpejam dengan ekspresi pasrah.
“Kaori, kali ini, aku tidak akan menahannya lagi,”
bisik Ken di telinga Kaori.
Ken menggendong Kaori mendekati tempat tidur gadis
itu. Perlahan dibaringkannya tubuh Kaori, Ken membelai rambut Kaori yang
sedikit berantakan. Ia menunduk mengecup kening Kaori lalu menjauh lagi. Kali
ini, Kaori tidak membiarkan Ken menjauh. Gadis itu langsung merangkul leher Ken
dan mencium bibir pria itu.
Keduanya terhanyut dalam kemesraan sepasang kekasih
yang saling merindukan satu sama lain. Ken memperlakukan Kaori dengan lembut,
membuat Kaori terlena dan akhirnya menyerahkan dirinya pada Ken.
**
Alex yang menunggu di depan kamar Kaori tampak
gelisah. Pria paruh baya itu bolak-balik seperti setrikaan. Kaori memang ingin
tenang beberapa hari ini, ia tidak pernah membahas tentang Endy dan Kinanti
lagi. Seolah-olah ia sudah menerima semuanya. Tapi kedatangan Ken hari ini,
membuat Alex ingin tahu reaksi Kaori.
__ADS_1