Duren Manis

Duren Manis
Congrat, mblo


__ADS_3

Boleh curhat dikit gak kenapa author kadang gak semangat up, soalnya author baru abis lahiran dan sibuk begadang ngurus bayi. Dan otomatis waktu istirahat jadi berkurang. Belum lagi sambil kerja juga.


Author uda berusaha bisa up dan gak masalah liat komen gak enak dari beberapa reader. Author maklum kok, jadi harap maklum juga kalau up novelnya terlambat atau isinya gak sesuai harapan.


Author pengen sich nulis adegan dewasa lebih banyak tapi masa kehidupan novel isinya cuma adegan dewasa doang sich. Kadang hidup juga ngbosenin kan, gak selalu happy, gak selalu sedih.


Beneran ini hak reader untuk komen baik atau buruk, tapi mohon pengertiannya juga ya. Menulis itu gak mudah, mengarang itu susah juga apalagi gak punya mood bagus. Bisa seharian mikir buat nulis tapi yang ketulis cuma 200kata - 500kata aja. Kan gak enak juga up cuma segitu.


Sekali lagi ini cuma curhat ya, author gak maksud bikin reader baper. Biar sama-sama tahu kondisi author bagaimana.


Happy reading...


Yang uda vote, thank a lot ya. Author jadi semangat lagi.


------


Hari yang dinanti Romi akhirnya tiba juga. Sejak pagi ia sudah bersiap-siap. Beberapa kali ia mengucapkan kalimat yang akan menentukan perubahan statusnya pada KTP-nya hari ini.


Romi melihat penampilannya di cermin kamar hotel tempat pernikahannya dengan Jelita akan diadakan. Pak Hary menggunakan salah satu propertinya untuk mengadakan acara besar itu.


Semua keluarga, termasuk keluarga Alex sudah menginap disana sejak semalam untuk menghadiri pernikahan mereka. Selain itu Alex juga diminta jadi salah satu saksi pernikahan Romi dan Jelita.


Tok, tok, tok... Seseorang mengetuk pintu kamar hotel Romi. Wajah Alex muncul dari balik pintu saat Romi membukakan pintunya.


Alex : "Pagi, kau sudah siap?"


Romi : "Aku sedikit gugup. Bagaimana penampilanku?"


Alex : "Tampan. Wajar saja kau gugup, kau akan segera menikah. Aku juga gugup sebelumnya."


Romi : "Lalu apa yang kau lakukan agar tidak gugup lagi?"


Alex : "Aku hanya membayangkan malam pertama yang panas."


Romi : "Ide bagus."


Tapi membayangkan malam pertama yang panas malah membuat Romi merasakan mulas pada perutnya. Ia buru-buru ke toilet untuk meredakan sakitnya.


------


Penghulu sudah siap duduk di depan Romi bersama pak Hary. Mereka sedang menunggu Jelita diantar keluar oleh saudara papanya.


Keluarga Alex sudah duduk di tempat yang sudah disediakan. Mia terlihat cantik dan lebih berisi akibat kehamilannya. Si kembar juga ada disana tampak manis memakai seragam yang sudah disediakan.


Arnold dan Rara tidak bisa datang karena Arnold sedang sakit. Sementara nenek tampak duduk di samping Alex.


Mata semua orang tertuju pada sosok gadis manis berkebaya putih dan menggunakan kain batik coklat tampak berjalan dengan anggun memasuki ruangan tempat ijab akan dilaksanakan.


Romi melongo melihat Jelita tampak berbeda dari biasanya, ia hampir tidak bisa mengenali Jelita. Beberapa kali Romi mengucek matanya untuk memastikan apakah itu benar calon istrinya atau bukan.

__ADS_1


Romi : "Apa dia benar-benar Jelita? Kenapa berbeda sekali?"


Romi berbisik pada Alex dan nenek yang duduk di sampingnya.


Nenek : "Itu artinya Jelita masih perawan. Gadis perawan akan terlihat berbeda saat dirias pengantin. Tapi itu memang Jelita kok."


Romi : "Hampir saya kira, pengantin wanitanya salah."


Romi menatap pak Hary yang sudah menatapnya sejak tadi seolah mengatakan apa kau bisa bekerja dengan benar?


Romi nyengir karena belum juga membobol Jelita. Bagaimana mau dibobol kalau alasannya banyak sekali? Meskipun mereka selalu bermalam berdua entah di kamar Jelita atau di kamar Romi, Jelita tetap menolak memberikan mahkotanya.


Jelita sampai di samping Romi, ia duduk di kursi yang sudah disediakan menatap semua orang yang duduk di depannya. Tapi tidak menatap Romi, ia merasa malu menatap calon suaminya.


Penghulu meminta pak Hary dan Romi berjabat tangan dan lima menit kemudian, para saksi berteriak SAH dengan semangat.


Semua orang mendoakan kebahagiaan kedua mempelai yang terlihat bahagia di depan sana. Jelita menatap Romi dan mencium tangannya sementara Romi mengecup kening Jelita.


Setelah keduanya bertukar cincin dan menandatangani buku nikah, keduanya tersenyum menghadap kamera sambil memperlihatkan cincin di jari manis tangan kanan dan buku nikah mereka.


Acara terus berlanjut ke resepsi pernikahan dan undangan mulai menyantap makanan yang sudah disediakan. Romi dan Jelita terus menyalami undangan yang hadir, tak sedikit undangan yang mengenali Romi karena hubungan bisnis antara Alex dan pak Hary.


Sempat terdengar bisik-bisik betapa beruntungnya Romi menjadi menantu pak Hary yang kaya raya. Jelita yang mendengarnya jadi bertanya-tanya kenapa papanya bisa setuju dengan Romi.


Jelita : "Romi, aku capek."


Jelita berbisik pada Romi saat tamu undangan tinggal sedikit yang mengantri untuk bersalaman dengan mereka. Romi melihat heels yang dipakai Jelita dan langsung berjongkok untuk membantunya melepaskan sandal itu.


Romi : "Lepas dulu sandalnya ya, ntar pake lagi. Mau minum?"


Jelita : "Kamu manis banget sih, sayang."


Romi : "Apa? Bilang lagi?" Romi mendekatkan wajahnya pada Jelita yang tersenyum malu.


Jelita : "Itu ada yang datang lagi." Romi menoleh pada tamu undangan yang akan mendekati mereka.


Romi sudah tidak sabar ingin membawa Jelita ke dalam kamar pengantin mereka. Saat pak Hary memberinya kode untuk turun dari pelaminan, Romi membopong Jelita yang kakinya kesemutan akibat terlalu lama berdiri.


Mereka duduk di kursi dekat pak Hary duduk bersama Alex dan Mia. Alex mengambilkan makanan untuk Jelita dan dirinya sendiri. Mereka mengobrol sambil makan malam.


-----


Jelita dan Romi masuk ke kamar yang sudah dipersiapkan untuk jadi kamar pengantin mereka malam itu. Bukan hanya itu saja, pak Hary sampai mengancam Romi kalau hal itu tidak terjadi malam ini juga, Romi dan Jelita tidak boleh keluar dari kamar hotel.


Romi jadi serba salah, disatu sisi ia kasihan melihat Jelita yang kecapean tapi disisi lain ia punya misi dari pak Hary. Romi dan Jelita saling pandang di dalam kamar pengantin itu.


Romi & Jelita : "Aku..." Mereka tertawa karena bicara bersamaan.


Romi : "Kamu duluan."

__ADS_1


Jelita : "Aku mau mandi dulu, bisa tolong lepasin kancing kebayaku?"


Romi : "Aku bantu lepas semuanya ya. Boleh?"


Jelita : "Tapi..."


Romi tidak mau mendengarkan Jelita, ia berjalan ke belakang Jelita dan mulai melepas kancing kebayanya. Untuk saat ini Romi hanya ingin membantu Jelita agar cepat mandi.


Urusan nanti untuk bicara dengan Jelita mengenai keinginan pak Hary, termasuk keinginannya juga. Modus mode on.


Setelah kebaya dan kain batik yang dikenakan Jelita terlepas, Romi mengalihkan pandangannya dari tubuh Jelita. Ia mulai membantu melepas hiasan di rambut Jelita, sementara Jelita menghapus riasan di wajahnya.


Rambut dan wajah Jelita sudah terlepas dari hiasan dan riasan yang menutupinya. Jelita melirik Romi yang membantunya menyisir rambut panjangnya. Terlihat jelas di wajah Romi yang memerah kalau ia sedang menahan sesuatu.


Jelita : "Aku mandi dulu ya, sayang..."


Romi hampir menerjang Jelita saat mendengar kata-kata istrinya itu. Bagi Romi, kata-kata Jelita terdengar sebagai suatu undangan yang menggoda imannya. Apalagi ia tidak mendengar pintu kamar mandi terkunci.


Romi berjalan mondar mandir sambil melepas satu persatu baju pengantinnya. Sampai ia tinggal memakai boxer saja. Tubuh maskulinnya terlihat mengkilat dibawah cahaya lampu kamar itu.


Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka, Romi menoleh melihat Jelita keluar hanya berbalut handuk pada tubuh dan rambutnya.


Glug! Romi menelan liurnya dengan susah payah. Ia terus menatap kemanapun Jelita melangkah. Tanpa ia sadari, kakinya membawanya mendekati Jelita.


Jelita menoleh menatap Romi yang berjalan mendekat. Ia tertegun melihat otot di tubuh Romi yang terlihat wow di matanya.


Romi masih ingin bicara tapi lidahnya terasa kelu menahan hasratnya. Jelita hanya diam saja ketika Romi mengambil handuk yang membungkus rambutnya.


Romi : "Apa aku... boleh... melakukannya?"


Jelita : "Iya, suamiku."


Romi memeluk Jelita, menekan hasratnya pada istri cantiknya itu.


-----


Pasti nungguin adegan 18++ ya... Author pengen sich nulisnya tapi takut kena tegur editor MT.


Jadi silakan mengkhayal sendiri-sendiri ya para readersku yang setia.


Tolong authornya jangan di goreng, dipecel, atau apalah. Please save author.


------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------


__ADS_2