
Romi melihat reaksi Jelita yang ketakutan, ia mengambil remote TV dan mematikannya. Romi berjalan ke DVD player, ia mengeluarkan CD film panas itu dan menaruhnya di dalam laci diatas TV.
Gak bohong kalau Romi punya beberapa koleksi film seperti itu, tapi dia jarang menontonnya. Ketika Romi berbalik melihat Jelita, gadis itu sudah ngibrit ke dapur.
Romi merebahkan tubuhnya diatas sofa, hampir saja ia kebablasan. Cukup berbahaya juga kalau mereka terus saja berduaan.
Romi berpikir untuk mengajak Jelita ke tempat lain. Mereka bisa ngobrol sambil minum kopi atau mungkin melihat-lihat cincin kawin.
Deg! Dirinya baru sadar kalau belum mempersiapkan seserahan dan bahkan cincin kawin. Romi berdiri dengan cepat menyusul Jelita yang sedang mengambil bajunya yang tadi dijemur.
Romi : "Ayo pergi."
Jelita : "Mau kemana?"
Romi : "Kita belum beli cincin kawin. Dan kamu mau apa untuk seserahan?"
Jelita : "Oh iya..."
Romi menarik tangan Jelita masuk ke dalam kamarnya. Ia dengan seenaknya membuka pakaiannya di depan Jelita untuk ganti baju.
Jelita berjalan cepat masuk ke kamar mandi sambil menunduk. Ia segera memakai pakaiannya yang sudah kering.
Keluar dari kamar mandi, Jelita melihat Romi sudah selesai berpakaian dan sedang menyisir rambutnya di depan cermin.
Jelita menatap Romi dengan intens, calon suaminya itu terlihat tampan dengan kemeja biru muda dan celana pendek krem. Meskipun masih ada plester yang menempel di keningnya, Romi masih terlihat tampan.
Romi : "Kenapa ngeliatin gitu?"
Jelita : "Kamu ganteng... eh, bukan. Maksudku..."
Jelita nyengir lebar, ia salah tingkah kepergok memperhatikan Romi. Tapi ketika ia ingin keluar dari kamar Romi, Romi menarik tangannya dan mencium bibirnya.
Romi : "Aku mencintaimu, Jelita."
Jelita : "Aku juga, Romi."
Romi : "Ayo kita pergi beli cincin."
Mereka berdua pergi ke toko perhiasan menggunakan mobil Jelita. Sampai disana, penjaga toko menyodorkan beberapa pilihan bentuk cincin kawin.
Romi : "Kamu mau yang mana?"
Jelita : "Aku mau yang ini." Jelita menunjuk sepasang cincin emas dengan hiasan ukiran di bagian sisinya. Sangat sederhana menurut Romi tapi Jelita tidak mau yang lainnya.
Romi : "Apa kau yakin? Masi ada cincin keluaran terbaru, apa itu tidak terlalu simple."
Jelita : "Kalau aku bilang aku bosan, apa kau percaya?"
Romi : "Maksudmu? Kau bosan denganku?
Jelita : "Selama ini aku selalu mendapatkan yang terbaik dari papa. Aku gak pernah bisa milih apa yang aku inginkan. Sama seperti pernikahan kita, semua papa yang atur. Aku ingin sekali-kali merasakan pilihanku sendiri."
Romi : "Aku sangat beruntung memiliki kamu, Jelita."
Jelita tersenyum malu, Romi segera membayar cincin pilihan Jelita dan mereka pergi ke mall untuk belanja seserahan.
Hari itu Romi membayar semua yang dipilih Jelita untuk seserahannya. Ia juga membelikan beberapa pakaian wanita untuk ditaruh di lemarinya. Ia berharap Jelita mau menginap di rumahnya malam itu.
__ADS_1
Romi : "Jelita, malam ini tinggal disini. Temani aku."
Bujuk Romi ketika mereka baru sampai di rumah. Jelita menoleh menatap wajah Romi dengan senyum manisnya.
Jelita : "Papa marah ntar, Romi."
Romi : "Papamu setuju." Romi memperlihatkan ponselnya yang berisi chat dengan pak Hary.
Jelita : "Iih, papa tuch. Apa yang kamu kasi ke papa sampai bisa tunduk sama kamu?"
Romi : "Papamu bisa lihat ketulusanku sama kamu."
Jelita memonyongkan bibirnya, kesal dengan papanya dan Romi. Dia berusaha menjaga dirinya tetap utuh, ini papanya malah mendorongnya ke ranjang Romi.
Jelita : "Gak ach, aku mau pulang. Besok aku kerja."
Romi : "Aduch!!"
Romi mengaduh memegangi kepalanya, Jelita yang khawatir segera menghampirinya. Ia melihat luka di kepala Romi yang terlihat baik- baik saja. Jadi kenapa dia seperti kesakitan.
Romi memeluk tubuh Jelita sambil menggesekkan hidungnya ke leher gadis itu. Jelita yang kegelian tidak sengaja menyikut ulu hati Romi sampai ia kesakitan.
Romi : "Aduch...!!" Romi memegangi atas perutnya. Ia sampai berpegangan pada sofa untuk bisa tetap berdiri.
Jelita : "Kamu kenapa? Maaf aku gak sengaja."
Romi : "Sakit sekali. Kamu suka olahraga ya."
Jelita : "Aku biasa latihan tinju dan sedikit taekwondo."
Romi berpikir lagi untuk membujuk Jelita menginap. Bagaimana kalau Jelita marah dan memukulinya.
Romi : "Nah, itu yang kutakutkan. Aku akan jadi menyebalkan sekarang agar kamu mau menginap disini."
Jelita : "Kau mau dipukul?"
Romi : "Aku rela dipukul, yang penting setelah itu kamu mau merawatku."
Jelita : "Gombal."
Romi : "Sini..."
Romi menarik tangan Jelita hingga menabrak tubuhnya. Ia menggenggam kedua tangan Jelita dan menatap matanya. Ditatap begitu, Jelita jadi salah tingkah.
Jelita : "Iya, aku akan nginep. Tapi cuma semalam ya. Aku malu dilihat tetanggamu besok."
Romi : "Yes!!"
Jelita : "Tapi... Jangan nakal ya."
Romi : "Nakal gak boleh, kalo khilaf?" Jelita memukul bahu Romi,
Romi : "Gak boleh juga ya..."
Jelita tersenyum geli melihat reaksi Romi, ia maklum saja mengingat Romi sudah jomblo lama. Tapi bisa gak ya Romi menahannya dulu.
Selama beberapa hari menginap di rumahnya, Romi memang tidak meminta melakukan itu. Tapi ini di rumahnya sendiri, entah apa yang akan terjadi nanti malam.
__ADS_1
Jelita : "Kamu mau makan apa?"
Romi : "Apa aja masakanmu aku mau makan."
Jelita : "Enak ya jadi istrimu, gak banyak maunya."
Romi : "Maunya cuma satu, kok..."
Jelita melihat seringai mesum Romi dan segera menjauh dari Romi. Benar-benar bisa gawat nanti malam.
Jelita melangkah ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Ia melihat daging beku dan berpikir memasak semur daging.
Jelita mengumpulkan bumbu dan bahan makanan lain untuk melengkapi menu makan malam hari ini. Romi mengambil laptop dan ponselnya, lalu duduk di meja bar untuk bekerja sambil memperhatikan Jelita memasak.
Tak lama, bau harum masakan Jelita mulai tercium sampai ke pelosok rumah. Romi mengalihkan pandangannya ke arah piring yang berisi semur daging siap santap.
Perutnya langsung mengirimkan signal kelaparan ke otaknya. Tadi mereka makan siang terlalu cepat, sekarang Romi ingin makan malam dimajukan.
Romi : "Sayang, aku lapar..."
Romi sudah beranjak dari depan laptopnya dan memeluk Jelita dari belakang. Tubuh Jelita menegang mendengar Romi memanggilnya sayang.
Jelita : "Mandi dulu sana. Habis itu kita makan bareng."
Romi : "Makan aja dulu, abis tuh mandi..."
Jelita tidak bicara apa-apa lagi, ia menarik tangan Romi dan masuk ke kamar. Diambilnya handuk Romi dari gantungan handuk di kamar mandi dan memberikannya pada Romi,
Jelita : "Kamu mandi di luar ya. Aku mandi disini."
Romi cemberut, tapi berjalan keluar dari kamarnya juga. Jelita tersenyum geli melihat reaksi Romi. Mungkin ia mengira kalau Jelita akan mengajaknya mandi bareng.
-------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
__ADS_1
--------