
Romi berjalan cepat memasuki lobby kantornya, ia sudah terlambat ikut meeting dengan Alex. Sampai di ruang kerjanya, Romi melihat tumpukan berkas baru di atas mejanya.
Ia mengambil tumpukan paling atas dan melihat penyelewengan dana atas projek Pak Hary. Tulisan tangan Jelita sangat jelas menunjukkan selisih pada laporan keuangan projek.
Romi tersenyum melihat hasil kerja Jelita, tidak sia-sia ia mengajari Jelita dan lembur bersama selama ini. Raut wajahnya kembali dingin mengingat kejadian pagi ini saat ia jadi pria brengsek.
Romi melihat sekeliling ruang kerjanya dan menemukan ponselnya tergeletak di sudut meja. Baterainya lowbat dan tidak bisa dipakai membuka aplikasi CCTV.
Dengan frustasi Romi menyambungkan ponselnya pada charger yang selalu siap di mejanya. Ia menunggu sebentar, notif pesan mulai masuk termasuk dari Alex yang menelponnya sejak subuh.
Romi : "Pasti ada hubungannya dengan temuan ini. Tapi aku sudah terlambat ikut meeting."
Romi memilih melanjutkan pekerjaannya dan meletakkan dokumen yang harus di ttd Alex di ruang kerjanya. Saat itu ia melihat ponsel Alex tergeletak di meja dan ada pesan dari Mia. Romi ingin memberitahu Alex, tapi ia tidak ingin bertemu Jelita sekarang.
------
Mia bolak balik di kamarnya, ia mulai bosan berada di rumah karena kondisi kehamilannya. Ia ingin menelpon Alex tapi ia ingat kalau tadi Alex bilang akan ada meeting sampai sore.
Akhirnya Mia memutuskan pergi jalan-jalan, ia berpamitan pada nenek dan pergi naik ojol. Mia ingin bersantai di salon untuk perawatan rambut dan kuku.
Seseorang mengikuti Mia sejak ia keluar dari rumah, kali ini menggunakan mobil warna putih. Saat Mia akan turun dari ojol, tiba-tiba seseorang menarik tangannya dan menamparnya.
Wanita A : "Wah, lihat wanita murahan ini beraninya senang-senang ke salon."
Mia balik menampar wanita itu lebih keras. Ia sudah cukup stress dengan hormon kehamilannya dan perlu pelampiasan. Kebetulan ada yang cari gara-gara dengannya.
Mia : "Siapa yang kau bilang murahan, *****!"
Wanita A : "Kau berani menamparku?!"
Mia : "Kau yang mulai duluan! Apa kau mabuk?"
Mereka saling mengatakan kata-kata makian yang semakin menarik perhatian orang disekitar mereka. Mia sudah memasang wajah malas, ia tidak mau mengurusi orang gila yang menuduhnya merebut suaminya.
Beberapa orang tampak merekam video dua wanita sedang bertengkar dan mempostingnya. Video itu segera viral dengan tuduhan untuk Mia sebagai pelakor.
Ekspresi Mia jelas sekali terlihat santai saja sementara wanita di depannya sibuk mencak-mencak.
Mia : "Aku sudah menikah dengan suami yang tampan, buat apa aku mendekati suamimu yang aku tidak kenal. Sebaiknya kau tanyakan dengan jelas pada suamimu."
Mia dengan cuek berjalan masuk ke dalam salon. Ia sedikit takut karena banyaknya orang yang mulai mendekati tempat mereka bertengkar.
__ADS_1
Mia mengirim pesan pada Alex untuk menjemputnya di salon sejam lagi. Ia tidak mau ambil resiko dengan keselamatan bayinya setelah mengalami kejadian tadi.
Pihak security salon sudah mengusir semua orang yang masih melihat-lihat ke dalam salon, mencari Mia. Mia mulai menjalani ritual perawatan sambil tetap mengirim chat pada Alex.
Selang sejam kemudian, Mia sudah selesai dengan urusannya di salon. Ia melihat chat-nya dengan Alex hanya di read tapi tidak ada jawaban. Mia cemberut merasa kalau Alex terlalu sibuk sampai mengabaikan dia.
Dengan sedikit kesal, Mia keluar dari salon tanpa memperhatikan sekeliling. Tiba-tiba seseorang menabraknya hingga langkahnya limbung. Mia hampir saja jatuh terjerembab kalau seseorang tidak menahan tubuhnya.
Romi : "Mia, gak pa-pa? Hei! Hati-hati...!" Romi menatap tajam pada laki-laki yang menabrak Mia, yang bahkan tidak minta maaf.
Mia : "Kak Romi? Ngapain disini?"
Romi : "Kita ke mobil dulu ya."
Romi menuntun Mia ke mobil Alex yang terparkir di depan salon. Saat itu kondisi jalan sedikit becek setelah hujan lebat tadi. Seseorang memotret mereka dari dalam mobil putih.
Romi secara naluri menoleh menatap mobil putih yang terparkir tidak jauh dari mereka. Ia mengambil ponselnya dan diam-diam mengambil foto nopol mobil itu.
Setelah membantu Mia duduk di kursi penumpang, ia segera masuk dan duduk di belakang kemudi. Jemarinya dengan lincah mengetik pesan pada seseorang untuk menyelidiki mobil putih itu.
Romi : "Mia, apa mobil putih dibelakang itu ngikutin kamu terus?"
Mia : "Aku gak perhatikan, kak. Emang kenapa?"
Mobil polisi tampak berhenti di depan mobil putih itu, dua orang polisi keluar dari sana dan mengetuk pintu mobil putih itu. Seorang wanita keluar dari sana, mencoba menutupi wajahnya dengan topi yang dipakainya.
Romi : "Oh, dia orangnya."
Mia ikutan menoleh dan menatap lekat-lekat pada wanita yang sedang dimintai surat-surat itu. Romi keluar dari mobil, ia mengambil langkah panjang mendekat dan mulai mengambil gambar dari sudut yang cukup jelas menunjukkan wajah wanita itu.
Mia : "Dia siapa?" Mia bertanya setelah Romi kembali duduk di belakang kemudi.
Romi : "Kamu gak kenal? Oh, mungkin kalian belum pernah ketemu. Mau tanya ke Alex langsung? Atau kuantar pulang?"
Mia : "Langsung ke kantor aja ya. Aku bosan banget di rumah."
Romi : "Ok."
Mia : "Tapi kenapa kak Romi yang jemput? Alex kemana?"
Romi : "Alex masih meeting tadi, aku terlambat masuk kantor dan aku lihat ponsel Alex ketinggalan di meja kerja. Nih, ponselnya. Aku terpaksa buka notif pesanmu karena kamu spam chat. Aku pikir urgent, jadi kujemput saja."
__ADS_1
Setelah berkendara sekitar lima belas menit, mereka tiba di kantor Alex. Romi memarkir mobil Alex di tempat biasanya dan menuntun Mia turun dari mobil. Mereka berjalan masuk ke lobby kantor, ketika resepsionis memanggil Romi. Ada kiriman paket untuk Alex. Romi mencari pengirimnya tapi tidak ada.
Romi dan Mia masuk ke dalam lift yang langsung membawa mereka ke lantai ruang kerja Alex. Romi membuka pintu ruang kerja Alex dan Mia masuk kesana. Keduanya tertegun di depan pintu karena mendapati Alex ada di dalam sana sedang bersama dengan Jelita.
Alex : "Sayang? Sama siapa kesini?"
Alex segera menghampiri Mia dan menuntunnya untuk duduk di sofa.
Mia : "Aku dijemput kak Romi, mas. Tadi mas sibuk meeting, kan." Mia menggelayut manja di lengan Alex yang duduk di sampingnya.
Alex : "Emangnya kamu kemana? Kok gak telpon aku?"
Mia : "Aku dari salon, coba cium..."
Maksud Mia ingin Alex mencium rambutnya, tapi suaminya itu malah menyosor bibir Mia dan melumatnya dengan lembut. Mereka lupa kalau Jelita dan Romi masih berada disana.
Romi mengalihkan pandangannya melihat adegan panas di depannya, matanya bertemu pandang dengan Jelita yang langsung menunduk dengan wajah merah.
Romi : "Ehhem...!!"
Alex menoleh pada Romi, pandangannya seolah mengusir Romi agar keluar dari sana.
Romi : "Ini ada paket. Ok, aku keluar."
Romi meletakkan paket di tangannya dan hampir berjalan keluar ketika mendengar suara Jelita,
Jelita : "Kalau gitu saya pamit dulu, pak Alex. Terima kasih karena sudah membantu saya selama disini. Untuk perkembangan kasusnya, nanti bisa langsung komunikasi dengan papa ya. Bu, saya pamit."
Jelita sedikit membungkuk dan berjalan cepat melewati Romi untuk keluar dari ruang kerja Alex. Romi ikut berjalan keluar dan hampir mengejar Jelita tapi urung. Jelita dengan cepat masuk ke dalam lift yang terbuka.
Romi mengepalkan tangannya, ia masuk ke ruang kerjanya, dan hampir membalik mejanya. Ia sangat kesal dan marah pada dirinya sendiri.
Sementara Alex kembali mencumbu Mia di dalam ruang kerjanya, ia cukup lelah menjalani meeting sendirian tanpa Romi dan perlu charger energi. Mia cuma bisa pasrah menerima perlakuan Alex.
------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------