
Jodi keluar dari mobilnya, ia tersenyum pada Rio.
Jodi : "Hai, Rio."
Kaori : "Kamu kenal dia? Kakak, itu siapa? Kenapa kalian ciuman tadi?"
Katty menutup mulut Kaori yang mulai ngoceh gak berhenti.
Katty : "Kita duduk dulu ya. Kakak jelasin."
Mereka duduk di salah satu bangku, Jodi mengulurkan tangannya pada Kaori.
Jodi : "Aku Jodi, pacar Katty."
Katty dan Kaori sama-sama menatapnya.
Jodi : "Kita pacaran kan?"
Katty : "Sejak kapan?"
Jodi : "Ok, ulang. Aku Jodi, calon suami Katty."
Kata-kata Jodi membuat punggungnya dipukulin Katty.
Katty : "Kamu sembarangan ngomong."
Jodi : "Aduduh...! Ampun...! Sadis banget jadi cewek."
Kaori : "Kak, bilang yang jelas. Kalau kalian gak ada hubungan, kenapa kalian ciuman?"
Katty : "Kamu salah liat kali, kakak gak ciuman. Tadi..."
Kaori : "Kak, Kaori gak buta ya. Jelas banget tadi. Tuch bibir kakak kenapa bengkak?"
Katty mati kutu dipergoki adiknya. Ia menoleh menatap Jodi, minta bantuan.
Jodi : "Kami pacaran okey, wajar kan ciuman. Kalian juga kan?"
Jodi menuding Kaori dan Rio yang masih mengunyah cemilannya. Rio cuma nyimak aja dari tadi gak ngomong apa-apa.
Katty : "Kalian pacaran?"
Rio : "Iya, kak."
Kaori mencubit paha Rio,
Rio : "Wadaaooww...! Sakit, sayang."
Kaori : "Idih, sayang..."
Rio : "Iya, sayang."
Jodi ketawa ngakak melihat wajah Kaori merah padam. Katty menutup mulut Jodi agar berhenti tertawa.
Katty : "Sejak kapan kalian pacaran?"
Rio : "Baru masuk kuliah, kak."
Jodi : "Katty, Rio ini adiknya Rara."
Katty : "Oh, adiknya Rara. Dunia sempit juga ya."
Kaori : "Kakak sekarang tinggal dimana? Kenapa gak pulang?"
Katty : "Kakak tinggal di rumah Jodi."
Jodi : "Itukan rumahmu."
Katty : "Kan kamu yang lunasin."
Jodi : "Rumah itu atas nama sapa?"
Katty : "Atas namaku."
__ADS_1
Jodi : "Nah, kan jelas rumah siapa."
Kaori : "Kalian tinggal serumah?"
Katty : "Nggak...!!"
Jodi : "Akui saja kamu sudah keciduk adikmu."
Katty : "Mengakui apa? Jangan ngaco dech."
Jodi : "Kita sudah tinggal serumah tapi belum nikah."
Kaori : "Apaaaa!!!"
Katty : "Ngomong lagi, bongkar semuanya. Sekalian pake toa sana."
Jodi : "Aku cuma mau kita nikah. Kaori, bujukin kakakmu nich. Susah banget diajak nikah."
Kaori dan Rio cuma bengong melihat Jodi kembali di pukulin Katty. Jodi sampai memeluk Katty agar berhenti memukulinya.
Tapi saat pukulan Katty mulai menyakitinya, Jodi memaksa mencium Katty lagi. Kaori menahan nafasnya melihat adegan panas didepannya.
Ia menoleh menatap Rio yang sudah menatapnya sambil tersenyum manis.
Rio : "Aku juga mau."
Kaori : "Rio! Jangan dekat-dekat...!"
Terjadilah adegan dorong-mendorong antara Kaori dan Rio. Sementara Katty malah keasyikan dicium Jodi.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Di apartment Elo, Riri mengambil ponselnya yang terus berbunyi. Ia membuka chat dari nomor asing dan melihat foto-foto Elo sedang memeluk seorang gadis.
Riri menegakkan tubuhnya, ia membaca chat itu "Pacar kamu sudah lama berhubungan dengan gadis ini. Elena."
Riri : "Kak, siapa Elena?"
Elo berhenti membaca, ia menegakkan tubuhnya juga.
Riri : "Ada yang ngirim ini ke HP-ku."
Elo mengambil ponsel Riri dan melihat foto-foto yang diambil tadi sore.
Elo : "Dia bukan Elena. Itu gadis yang gak sengaja aku tabrak di parkiran kampus tadi. Kamu lihat bajuku sama. Ini parkiran kampus, Ri."
Riri mengamati foto itu lagi dan juga baju Elo. Mungkin Elo jujur untuk yang satu ini, tapi siapa Elena?
Riri : "Tapi siapa Elena, kak?"
Elo : "Aku belum siap bicara sekarang, Ri. Aku harap kamu ngerti."
Riri : "Kakak pasti sangat mencintai dia ya."
Elo diam saja, ia tidak tahu harus berkata apa pada Riri.
Riri merasa ia sudah melanggar privasi Elo dan memilih berdiri. Riri merapikan penampilannya, dan mengambil tas kecilnya. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Riri : "Kak, aku harus balik. Uda malem."
Elo melihat baru jam 9 malam, ia menatap Riri yang menunduk di dekat pintu keluar. Ia ingin mengatakan semuanya tentang Elena, tapi hatinya belum siap.
Elo menyusul Riri, mengambil kunci mobil, dompet dan ponselnya. Saat Riri ingin membuka pintu apartment Elo, Elo menahan pintunya. Ia mengukung Riri yang masih berdiri disana.
Elo : "Maaf, Ri. Aku gak maksud menyembunyikan sesuatu dari kamu."
Riri : "Aku mau pulang, kak."
Elo : "Ri..."
Riri : "..."
Elo membuka pintu apartment, membiarkan Riri berjalan duluan menuju lift. Ia mengunci apartmentnya dengan cepat dan menyusul Riri.
__ADS_1
Mereka berdua masuk ke dalam lift yang sudah terbuka. Di dalam lift, Elo terus menatap Riri yang tidak mau menatapnya.
Riri juga tidak mau tangannya digenggam Elo. Ia pura-pura sibuk membetulkan tali tasnya.
Saat pintu lift terbuka, Riri berjalan keluar duluan dan menghampiri mobil Elo.
Elo membuka kunci mobilnya dan Riri masuk duluan ke dalam sana. Elo menghela nafas, ia berada disituasi yang sulit dan ditambah Riri ngambek.
Tanpa mengatakan apapun, Elo mengendarai mobilnya menuju asrama kampus. Ponsel Riri kembali berbunyi dengan notif chat.
Ia membuka ponselnya dan melihat foto Elo bersama wanita cantik berambut panjang. Mereka terlihat serasi dengan pakaian resmi.
Riri terkejut saat Elo tiba-tiba mengambil ponselnya. Mereka berhenti di pinggir jalan. Elo dengan cepat menelpon via WA tapi tidak ada yang mengangkat. Ia mencoba lagi, kali ini diangkat. Elo dengan cepat menekan tombol loudspeaker. Suara seorang wanita terdengar dari ponsel Riri.
Wanita : "Kalau kamu mau tahu siapa Elena, kamu bisa tanya kakek Angelo."
Elo meremas setir mobil dengan keras. Ia tahu siapa wanita itu. Ia menahan dirinya untuk tidak bicara apa-apa.
Wanita : "Kamu gak sebanding dengan Elena."
Sambungan WA terputus dan Elo tidak bisa menghubungi nomor itu lagi.
Elo : "Itu tante Dewi."
Riri : "Sepertinya Elena ini sangat dikenal keluargamu ya, kak."
Elo : "..."
Riri mengambil ponselnya dari tangan Elo dan memasukkannya ke dalam tas lagi.
Elo : "Hapus foto itu, Ri."
Riri : "Aku gak menganggapnya penting, kak. Bisa kita jalan lagi?"
Elo : "Aku janji akan kukatakan secepatnya."
Riri : "Gak usah, kak. Aku sudah tahu kemana arahnya."
Elo : "Apa maksud ucapanmu?"
Riri : "Hubungan kita belum sedalam itu sampai sebuah rahasia masih menjadi penghalang."
Elo : "Apa kamu gak percaya sama aku?"
Riri : "Anggap saja begitu, kak. Ayo, kita jalan lagi."
Elo : "Tapi, Ri... Aku gak bohong sama kamu. Aku hanya belum siap cerita."
Riri : "Kalau gitu, kita gak usah ketemu dulu ya, kak."
Elo : "Kenapa?!"
Riri menatap Elo yang berteriak padanya. Elo kembali bersandar di kursi mobil. Ia menjalankan mobilnya kembali menuju asrama.
Sampai di parkiran asrama, Riri membuka sabuk pengaman dan menoleh menatap Elo.
Riri : "Aku masuk dulu ya, kak. Makasih uda nganter aku."
Riri menunggu Elo mengatakan sesuatu, tapi Elo hanya diam menatap setir mobilnya. Riri keluar dari dalam mobil, dan berjalan memasuki asrama.
Elo masih diam di dalam mobilnya, ia melihat ke samping dan terkejut melihat kursi disebelahnya sudah kosong.
Elo memukul kepalanya, ia sangat kesal dengan apa yang terjadi hari ini. Elo memejamkan matanya, ia sudah melupakan Elena dan sekarang ia harus mengingatnya lagi untuk bisa bertemu Riri.
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
__ADS_1
π²π²π²π²π²