Duren Manis

Duren Manis
Ujian si kembar


__ADS_3

Gak terasa si kembar sedang bersiap ujian akhir sekolahnya. Mereka sedang libur seminggu sebelum ujian akhir dimulai dan Mia harus stay di rumah selama mereka libur.


Itu ultimatum dari si kembar yang ingin mamanya tetap diam di rumah selama mereka libur. Alex sempat protes karena ia tidak bisa bersama Mia, tapi Rio tidak mau mengalah.


Papa dan anak itu berdebat cukup lama, bagaimana membagi waktu Mia antara si kembar dan papanya.


Rio : "Pokoknya mama harus di rumah sama kita. Mama bisa bantu kita belajar, ya kan Ri?" Riri hanya mengangguk sambil membaca buku ujian akhir.


Alex : "Tapi papa juga perlu sama mama di kantor. Kerjaan papa banyak."


Rio : "Papa kan punya asisten yang nemenin. Sekretaris juga ada, ngapain mama disana?"


Alex : "Mama itu kalo ibarat minuman ya bagaikan secangkir kopi yang nikmat banget buat papa. Bisa bikin semangat kerja papa bertambah."


Rio, Riri, dan Mia sampai melongo melihat ekspresi Alex yang merem melek.


Rio : "Papa bisa buat kopi kan? Gak minum mama."


Alex : "Kadang-kadang... Buk!"


Mia melempar bantal pada Alex dan mengenai wajahnya. Pasalnya kata-kata Alex mulai menjurus ke hal-hal diatas 18++. Gak baik didengar anak-anak.


Alex : "Apa sich?!"


Rio : " Kadang-kadang apa, pah?"


Mia : "Skip... lanjut yang tadi."


Rio : "Mama dirumah titik."


Alex : "Ok, tapi makan siang harus sama papa. Emang mama gak mau ngecek kerjaan asistennya."


Alex mulai memanas-manasin Mia tentang Bianca. Ia tahu kalau Mia masih cemburu pada Bianca.


Mia : "Tenang aja, selama seminggu ke depan, Bianca kerja di kantor Arnold. Ia harus memantau kuisioner yang masuk sama IT disana."


Alex memonyongkan bibirnya kesal, satu-satunya cara hanya meminta Mia mengantarkan makan siang padanya.


Alex : "Kalau gitu papa mau mama makan siang sama papa. Gak ada debat lagi."


Rio : "Ok. Deal." Papa dan anak bungsunya bersalaman tanda deal dengan kesepakatan mereka. Di masa depan, Rio akan sulit dikalahkan dalam negosiasi kalau terus begini.


Mia : "Trus kerjaan mama gimana?" Mia nyeletuk aja.


Alex & Rio : "Cuti!!"


Mia : "Giliran gini kompak. Riri, kamu mau mama masakin apa?" Mia beralih pada Riri yang tersenyum padanya. Sejak tadi ia hanya menyimak sambil tetap membaca buku soal ujian.


Riri : "Sup jamur enak kayaknya mah. Sama iga bakar."


Mia : "Ya udah, mama masak dulu."


Rio & Alex : "Mama duduk!"


Mia : "Apalagi sich??!!" Mia frustasi karena gak dikasi pergi dari ruang keluarga. Padahal mb Minah sudah mulai menyiapkan bahan masakan bersama nenek.

__ADS_1


Rio & Alex : "Peluk!"


Mia pasrah diapit kedua bocah bongsor itu, setelah berdebat satu sama lain, mereka kompak memeluk Mia di kanan dan kiri. Nafas Mia sampai sesak karenanya.


Gak papanya gak anaknya sama aja. Sama-sama demen banget ngerecokin Mia.


-----


Setelah mereka puas memeluk Mia, akhirnya Mia bisa masak juga. Ia membuat makanan yang diminta Riri dengan cepat dibantu mb Minah.


Wangi iga bakar mengundang semua penghuni rumah untuk berkumpul di ruang makan. Si kembar, Alex, dan nenek. Sementara Rara dan Arnold masih  di kantor.


Rio : "Mah, laper..."


Alex : "Mah, laper juga..."


Mia menatap jengkel pada Alex yang belum juga berangkat ke kantor. Pagi tadi Mia tidak diperbolehkan ke kantor, dan Alex ikut-ikutan gak mau masuk kantor. Ia bekerja dari ruang kerja di rumah.


Mia jadi lebih repot dua kali lipat dari biasanya. Ia harus mensupport si kembar belajar dan Alex bekerja. Bolak-balik beberapa kali antara ruang kerja Alex, ruang keluarga, sampai dapur.


Ketika akhirnya masakan Mia sudah terhidang dimeja makan, ia duduk di ruang keluarga merenggangkan tubuhnya sambil berguling-guling diatas karpet.


Matanya setengah terpejam, semilir angin dari kipas angin diatas ruang keluarga membuat Mia mengantuk. Ia tertidur di ruang keluarga saat Alex baru keluar lagi dari ruang kerjanya.


Ia duduk di samping Mia, mengelus kepalanya dengan sayang. Si kembar yang tadinya duduk di meja makan, beranjak ke samping Alex dan duduk disana sambil menatap wajah tenang Mia.


Rio : "Kalo gak ada mama, mungkin Rio gak akan berani ambil extra basket."


Alex : "Sejak kapan kamu suka olahraga?"


Rio : "Sejak ketemu mama. Rio sempat down waktu itu karena gak bisa masuk klub olahraga apapun. Tapi mama yang support sampai Rio bisa masuk tim sekolah."


Riri : "Riri? Hmm... Mama banyak banget bantu Riri lebih percaya diri untuk menulis."


Alex : "Menulis?"


Riri : "Iya, pah. Nulis novel online dan sekarang Riri uda punya pendapatan dari sana."


Alex : "..." Alex spechlees ketika Riri menunjukkan deretan nominal yang masuk ke rekeningnya. Memang gak banyak, tapi putrinya yang belum lulus sekolah ini uda bisa menghasilkan uang sendiri.


Rio : "Papa gak tahu?"


Alex : "Papa gak tahu, beneran. Sepertinya mama yang lebih tahu semua tentang kalian ya."


Rio : "Kasi tahu gak?" Rio mencolek Riri yang mengangguk.


Riri : "Pah, kita berdua uda daftar kuliah lewat program beasiswa dan..."


Rio : "Lulus dong, pah."


Alex : "Kok bisa? Kalian kan belum lulus ujian akhir."


Rio : "Semua berkat mama. Mama yang nemu waktu itu dan langsung minta kami ikut daftar. Ada test-nya pah, susah banget."


Riri : "Test soalnya gampang gitu. Test kesehatannya yang susah."

__ADS_1


Rio : "Kecil itu. Aku kan kuat." Si kembar lanjut ngobrol asyik berdua saja.


Alex kembali menatap Mia yang masih tertidur tanpa terganggu dengan obrolan mereka yang mulai berisik.


-----


Ujian si kembar tiba juga harinya, Alex dan Mia sengaja mengantar si kembar ke sekolah untuk mensupport mereka.


Mia : "Kalian semangat ya, semoga berhasil. Mama doakan kalian sukses ujiannya. Nanti pulang jam berapa? Mama jemput ya?"


Rio : "Selesai ujian jam 12, mah. Paling jam 1 baru keluar sekolah."


Rio memeluk Mia, meski sudah SMA, Rio sangat suka memeluk mamanya. Ia tidak malu melakukannya dimanapun termasuk di depan sekolahnya.


Padahal beberapa teman sekelasnya sedang menunggunya di gerbang untuk masuk bersama. Awalnya mereka sempat mengejek Rio, tapi Rio mengatakan sesuatu yang membuat mereka diam,


Rio : "Wajar aku ingin dipeluk terus sama mama, sejak lahir aku belum pernah dipeluk mama."


Alex : "Semoga berhasil, nak."


Alex mengemudikan mobilnya menjauh dari sekolah si kembar setelah memastikan si kembar masuk melalui gerbang sekolah.


-----


Jam 12.45, Mia sudah memarkir mobil Alex di tempat parkir gedung sekolah si kembar. Ia turun dari mobil, dan menghampiri penjual cilok yang mangkal di depan sekolah.


Sedang asyik memesan seporsi cilok untuknya, seseorang mendekati Mia dan langsung memeluknya.


Rio : "Mamah...!!"


Mia : "Rio! Bikin kaget aja. Uda selesai ujiannya? Mana Riri?"


Rio : "Udah mah. Riri? Itu disana..."


Mia : "Eh, Riri sama sapa tuch? Ganteng..." Mia mengikuti arah yang ditunjuk Rio. Tampak Riri sedang bicara dengan seorang anak laki-laki. Riri tampak beberapa kali ingin menjauh, tapi anak itu terusa saja mengejarnya.


Riri sampai di depan Mia bersama anak laki-laki yang mengikutinya itu.


Riri : "Kak, nanti aku kirim e-mail aja. Aku harus pulang."


Keith : "Ok, Ri. Sampai jumpa besok."


Riri menatap Mia dan Rio yang sudah menatapnya kepo. Sejak kapan ada yang mengejar Riri,


Riri : "Dia cuma mau minta link novel Riri."


Keduanya hanya mengangguk sambil tersenyum menggoda Riri.


-----


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------


__ADS_2