Duren Manis

Duren Manis
Dilema


__ADS_3

Arnold : "Agnes??!!"


Arnold mengepalkan tangannya kesal, Rara yang berdiri diam di belakangnya mencoba menenangkan Arnold. Ia mengusap punggung Arnold sambil berbisik padanya,


Rara : "Tenang, mas. Sabar."


Arnold : "Gimana mau sabar? Selalu saja ganggu."


Agnes : "Kak Arnold! Jangan dekat-dekat dia!!"


Agnes hampir beringsut masuk ke kamar mereka, mau memukul Rara. Arnold meraih tangan Agnes dan mendorongnya ke arah security yang dengan sigap menahan tubuh Agnes.


Arnold : "Pak, bawa keluar dia dari sini. Dia mengganggu saya dan istri saya."


Agnes : "Lepasin!! Kak, aku lebih baik dari dia. Kenapa kakak gak mau lihat aku??!!"


Arnold : "Lebih baik apanya? Pengganggu! Kamu itu cuma pengganggu buat kami. Pergi sana!"


Rara : "Mas, jangan ngomong gitu. Agnes, kamu pulang dulu ya."


Agnes : "Gak usah sok baik, kamu perempuan murahan!!"


Arnold hampir menggampar Agnes mendengar makiannya untuk Rara. Dia gak habis pikir sepupunya ini jadi terlalu terobsesi padanya.


Tapi Agnes gak tulus menyukai Arnold. Entah kenapa dia kembali setelah Arnold dinyatakan sembuh.


Agnes melepaskan dirinya dari tangan security dan menerjang Arnold. Mereka hampir jatuh kalau saja Rara tidak menahan tubuh Arnold. Agnes memeluk tubuh Arnold dan sempat mencakar lengan Rara.


Rara : "Aduch! Sss..."


Arnold dengan kasar mendorong Agnes keluar kamar dan menutup pintunya. Brak! Brak! Agnes masih ngeyel memukul pintu kamar Arnold.


Agnes : "Buka, kak! Buka!"


Security sampai harus menarik Agnes menjauh dari kamar Arnold. Untung saja keributan itu tidak menarik perhatian tamu lainnya karena jarak villa yang cukup berjauhan.


Arnold : "Sayang, kamu gak pa-pa?"


Rara meringis kesakitan memperlihatkan lengannya yang berdarah sedikit. Arnold menggeram marah, ia menelpon manajer lagi.


Arnold : "Bro, tolong usir pembuat masalah itu dari sini."


Manajer Yudi : "Dia menginap juga disini, bro. Aku akan coba bicara padanya."


Arnold : "Kalau dia tidak mau pergi, aku yang pergi. Tolong siapkan , aku mau check out sekarang. Dia melukai istriku!"


Manajer Yudi : "Maaf, bro."


Arnold menutup telponnya. Ia menuntun Rara duduk di pinggir ranjang. Arnold mengambil tisu dan membersihkan luka cakaran itu.


Rara : "Aduh... Pelan-pelan... Sss..."


Arnold : "Maafkan aku, sayang. Kamu jadi luka gara-gara aku."


Rara : "Gak, mas. Aku beneran gak pa-pa."


Arnold : "Aku akan menuntut Agnes. Biar dia gak bisa dekat-dekat kita."


Rara : "Jangan, mas. Nanti nenek kecewa sama kita. Dia hanya perlu sedikit perhatian."

__ADS_1


Arnold : "Aku capek gini terus. Dia gak ngerti-ngerti."


Rara : "Sabar ya, mas. Kalau kita punya anak, mungkin dia akan berhenti mengejarmu."


Arnold : "Anak? Masa sich?"


Rara : "Siapa tahu? Nenek juga akan bisa melarangnya lebih tegas kan, mungkin juga menikahkan dia dengan pria baik lainnya."


Arnold : "Kalau aku gak bisa memberimu anak, gimana?"


Rara : "Pasti bisa, mas. Kita cuma perlu waktu. Kita masih muda kan?"


Arnold : "Andai saja itu terjadi, apa kau akan meninggalkan aku?"


Rara : "Sstt... Jangan mendahului Tuhan, mas. Kita gak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi apapun yang terjadi aku janji gak akan meninggalkanmu sampai maut memisahkan kita."


Arnold : "Beneran ya? Aku gak akan sanggup hidup tanpa kamu, Ra. Kamu hidupku sekarang, kamu yang membuat aku hidup lagi. Kalau kamu pergi, aku gak mau hidup lagi."


Rara : "Maass..."


Arnold : "I forever you, Rara. My wife..."


Rara memeluk Arnold yang hampir menangis. Ia juga hampir menangis terharu. Rara memikirkan sesuatu untuk menghibur suaminya itu.


Rara : "Eh, mas aku perlu disuntik tetanus gak nich? Hehe..."


Arnold tersenyum tipis mendengar kata-kata Rara, ia mencoba menghiburnya yang sedang kesal.


Arnold : "Aku menyesal membawamu kesini. Harusnya kita bisa pergi ketempat yang lebih jauh."


Rara : "Kalau dia bisa menemukan kita, mau sejauh apapun ya pasti ketemu, mas. Tapi aku senang kok disini."


Rara : "Yah, kok cepet sich?"


Arnold : "Aku uda gak mood bikin anak disini. Ayo."


Rara : "Mas, sini dulu..."


Arnold menatap Rara bingung, ia mendekat dan Rara menerjangnya hingga jatuh ke atas ranjang. Sekali lagi mereka melepaskan hasrat yang sempat tertunda karena ulah Agnes.


-----


Setelah mengurus check out, Arnold dan Rara pergi dari private villa itu. Agnes entah ada dimana, menurut manajer villa, tadi ia masuk ke dalam kamarnya dan belum keluar lagi.


Arnold sempat berpikir siapa yang menbocorkan keberadaannya disana. Mereka berangkat honeymoon tanpa memberitahu siapapun kecuali orang rumah Rara dan Ronald.


Mereka seharusnya pergi selama 3 hari dan Arnold harus membiarkan Ilham mengurus perusahaan dibawah pengawasan papanya. Atau Agnes melihat sosmed Rara? Rara memang sering memposting saat mereka jalan keluar di sosmed-nya.


Arnold : "Sayang, coba kamu cek followers-mu. Ada Agnes gak disana?"


Rara : "Agnes? Coba aku cari."


Arnold : "Mungkin dia tahu dari sana. Kamu private IG-mu gak?"


Rara : "Gak sich, mas. Aku private aja ya?"


Arnold : "Iya, baiknya begitu. Dan pastikan ada Agnes gak disana."


Rara : "Perlu waktu dong, mas. Followers-ku banyak banget."

__ADS_1


Arnold : "Ya uda, kalo gitu. Lain kali post-nya kalau uda mau pulang ya. Biar kita gak diganggu lagi."


Rara : "Ok mas."


Mereka berkendara selama kurang lebih 1 jam sebelum akhirnya memasuki gerbang kota Y. Arnold langsung mengarahkan mobilnya ke apartment.


Berharap sisa liburan mereka akan lebih tenang, Arnold tidak menyadari kalau Agnes mengikuti mereka sampai ke kota Y.


Ketika akhirnya mereka tiba di apartment, Agnes keluar dari mobil dan mencegat keduanya.


Arnold : "Kamu mau apalagi sich?! Jangan ganggu kami."


Agnes : "Kak, aku udah nunggu kakak lama banget. Aku sengaja keluar negeri biar kakak bisa fokus berobat. Sekarang kakak uda sembuh, masa kakak gak mau balik lagi sama aku."


Arnold : "Agnes! Kamu tuh halu apa gimana sich? Sejak kapan kita punya hubungan lebih? Kita cuma sepupu!!"


Rara : "Mas, sabar. Kita masuk aja yuks."


Arnold : "Gak! Aku mau masalah ini selesai sekarang. Aku uda muak diganggu!"


Agnes maju kedepan Arnold ingin memeluknya. Tapi Rara sudah berdiri diantara keduanya.


Agnes : "Minggir kamu pelakor! Kamu rebut kak Arnold dari aku. Pelakor murahan!!"


Keributan diantara mereka memancing satpam apartment mendekat. Dan juga orang disekitar yang kebetulan ada disana. Mereka bergunjing menuding Rara pelakor.


Arnold : "Kamu yang pelakor. Dia istri sahku. Kamu yang mau merusak rumah tangga kami!"


Arnold memeluk pinggang Rara menjauhkannya dari Agnes yang makin kalap ingin memukul Rara.


Agnes : "Pergi kau perempuan murahan!"


Plak!! Tamparan keras mengenai pipi kanan Agnes sampai ia jatuh tersungkur. Arnold menatap Agnes yang kesakitan di lantai.Rara menahan Arnold untuk tidak maju lagi.


Rara : "Sudah, mas. Kau menyakiti dia."


Arnold : "Dia duluan yang mulai."


Agnes merangkak mendekati kaki Arnold, ia memohon agar Arnold meu menikahinya. Meskipun jadi istri kedua sekalipun. Rara menatap kasihan melihat Agnes begitu mengiba.


Ronald : "Hentikan! Bubar semua! Bubar!"


Mereka menatap Ronald yang berdiri sambil memegang ponselnya.


γ€€


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


γ€€


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2