
Riri meninggalkan Rio dan Kaori untuk bicara berdua saja. Rio yang meminta Riri melakukannya. Kaori sudah ketakutan duluan, takut Rio akan menyerangnya lagi. Tapi Rio menatapnya dengan sungguh-sungguh dan berjanji tidak akan melakukan itu lagi.
Rio : "Ayo jalan kesana."
Rio menunjuk jalanan yang mengarah ke taman kampus. Rio membawa tasnya berjalan duluan dan berhenti sambil melihat ke belakang, menunggu Kaori.
Kaori berjalan mengikutinya, menjaga jarak aman dari jangkauan Rio. Sungguh dirinya belum siap kalau kejadian kemarin terulang lagi. Jantungnya gak kuat berdebar kencang karena laki-laki dihadapannya.
Pasalnya pandangan Kaori terhadap Rio sudah berubah sejak laki-laki itu mencium pipinya dan memeluk pinggangnya di acara kundangan pernikahan Bianca.
Kaori jadi lebih sering memikirkan Rio saat gabut. Laki-laki itu mulai memenuhi hari-harinya tanpa permisi mengetuk pintu hatinya yang selama ini terkunci rapat.
Setelah mereka berjalan agak jauh dari hiruk pikuk keramaian di kantin kampus, Rio berhenti melangkah. Ia berbalik berdiri di hadapan Kaori.
Rio : "Bisa lebih dekat? Aku gak mungkin ngomong sambil teriak-teriak. Keburu habis suaraku."
Kaori : "Kamu gak bakalan macem-macem kan?"
Rio melongo, astaga! Perbuatannya kemarin sudah menimbulkan trauma bagi Kaori. Ia berjalan cepat mendekati Kaori, menangkap tangan gadis itu.
Kaori meronta, tapi kata-kata Rio berikutnya membuatnya berhenti, dirinya tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Rio : "Jadi pacarku ya."
Kaori : "Apa?"
Rio : "Pacaran sama aku. Kurang keras aku ngomongnya."
Kaori : "Aku denger. Maksudku kenapa tiba-tiba? Apa karena kemarin?"
Rio : "Gak karena kemarin. Aku suka sama kamu sejak kita ketemu."
Kaori : "Hah?! Tapi kamu jahil sama aku. Kamu nakal."
Rio : "Itu karena aku suka sama kamu. Aku gak bisa ngomong cinta, sayang, bla, bla, bla dan segala macam bahasa sebangsanya. Aku cuma bisa menunjukkannya."
Kaori : "Dengan cara ngjahilin aku? Gangguin aku?"
Rio : "Iya."
Kaori menatap wajah Rio yang memerah, ia merasa wajah Rio sangat lucu dan mulai tersenyum geli lanjut ketawa.
Rio : "Kenapa kamu ketawa? Aku gak bercanda."
Kaori : "Hihihi... Mukamu lucu. Mirip tomat."
Rio : "Serius nich."
Kaori : "Iya, maaf. Aku baru tahu cara nembak maksa tuch kayak gini ya."
Rio : "Aku gak maksa... Tapi kamu harus mau jadi pacarku."
Kaori : "Menurutmu caramu ini gak maksa?"
Rio : "Kalau kau tanya aku... gak. Aku minta kamu jadi pacarku dan kamu harus mau."
Kaori : "Kok maksa? Aku gak mau."
Rio : "Kok gitu?"
Rio menyatukan kedua jemari mereka, menatap mata coklat Kaori yang berbinar dengan senyumannya yang menawan hati Rio. Kaori tersipu malu ditatap Rio.
Kaori : "Rio... Kamu gak lagi mainin aku kan?"
Rio : "Gak..."
Kaori : "Biasanya kan kamu suka ngibulin aku. Bikin kesel."
Rio : "Kapan aku gitu?"
__ADS_1
Kaori : "Suka gak nyadar. Gak ach, kalau aku bilang iya, pasti abis tuch kamu ketawa ngakak."
Rio : "Perlu aku cium lagi biar kamu percaya?"
Kaori : "Jangan...! Gak kuat..."
Rio : "Apanya yang gak kuat?"
Kaori : "Jantungku berdebar gak karuan."
Rio : "Sama..."
Rio mengangkat jemari Kaori dan menempelkannya di dadanya sendiri. Mata Kaori membulat merasakan debaran jantung Rio sahut-sahutan dengan debaran jantungnya.
Rio : "Makasi ya, uda mau jadi pacarku?"
Kaori : "Pede banget sich. Aku belum bilang iya."
Rio : "Apa kamu uda makan?"
Kaori : "Uda."
Rio : "Makan di kantin?"
Kaori : "Iya."
Rio : "Tuch uda bilang iya, artinya sah kita pacaran."
Kaori : "Tapi, bukan itu maksudku.!
Rio : "Habisnya... Jawab dong."
Rio menatap dalam mata Kaori yang wajahnya tetap merona.
Kaori : "Iya... Aku mau."
Rio : "Yess!!" Rio mengepalkan tangannya ke atas.
Rio : "Emang kamu gak seneng?"
Kaori : "Seneng sich."
Rio : "Kok pake sich?"
Kaori : "Banyak kali pertanyaanmu. Uda ach, aku mau balik ke asrama."
Rio : "Tunggu..."
Kaori gak jadi balik badan, ia menatap Rio, menunggu apa yang ingin ia lakukan lagi.
Rio : "Boleh peluk?"
Wajah Kaori memerah lagi, ia melihat sekeliling yang jauh dari kantin dan suasananya cukup sepi. Rio mendekatkan tubuhnya, menatap mata Kaori lagi.
Kaori merasakan kedua lengan kekar Rio menyentuh lengannya. Sebuah pelukan tanpa hasrat, hanya mencari kehangatan satu sama lain mereka lakukan.
Rio meresapi aroma wangi yang menguar dari tubuh Kaori, memenuhi rongga hidungnya. Ia merapatkan pelukan mereka sampai tubuh Kaori terlihat tenggelam.
Kaori memejamkan matanya, menerima pelukan Rio. Mereka berpelukan seolah tidak ada siapapun yang akan melihat mereka disana.
Riri : "Ciiieee...."
Riri belum sepenuhnya pergi, ia mengikuti mereka berdua dari jarak aman dan bersembunyi di balik pohon.
Kaori meronta dalam pelukan Rio, ia merasa tidak enak pada Riri. Tapi Rio tidak mau melepaskannya, malahan melotot pada Riri,
Rio : "Pergi sana. Gak liat aku lagi sibuk?"
Riri : "Sibuk ngapain? Meluk anak gadis orang?"
__ADS_1
Rio : "Bawel."
Kaori : "Rio, lepasin ya. Aku mau balik uda malem."
Rio : "Gak mau..."
Pletak! Riri memukul kepala Rio, membuat kembarannya meringis memegangi kepalanya. Kaori yang terlepas dari pelukan Rio, berlari mendekati Riri.
Rio : "Tungguin dong."
Ketiganya berjalan beriringan kembali ke asrama.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Arnold membuka sebuah amplop yang dikirimkan entah oleh siapa untuknya. Ia mengkerutkan keningnya melihat sebuah surat dan salinan hasil pemeriksaannya sendiri ada di dalam amplop itu.
Ia membuka surat itu, membacanya dengan sangat pelan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Berulang-ulang ia membaca, meneliti, mencari celah kesalahan pada surat itu.
Pelan-pelan matanya mulai berkaca-kaca. Ia menahan suara isak tangisnya setelah menyadari Rara sedang tidur di ranjang apartment mereka.
Arnold mengambil ponselnya, membrowsing sesuatu yang tercatat dengan detail di atas laporan hasil pemeriksaannya. Ia tidak bisa percaya apapun yang dikatakan surat itu sebelum membuktikannya sendiri.
Semuanya muncul dengan jelas dari hasil browsing itu. Menunjukkan detail apa yang sedang ia alami dan dokter spesialis yang terbaik untuk masalah ini.
Pilihannya hanya operasi atau kematian. Semua pilihan ada di tangan Arnold. Surat itu memberinya pilihan dan langkah apa yang harus dilakukan kalau memilih salah satunya.
Arnold melihat no kontak yang bisa ia hubungi, ia ingin menelpon orang itu, yang mengirim surat padanya. Tapi ini sudah tengah malam, akhirnya Arnold memutuskan mengirimkan sebuah chat.
Ia tidak perlu menunggu lama, chatnya langsung dibalas. Mereka akan bertemu dua hari lagi di kota J tanpa Rara.
Arnold menatap Rara yang merubah posisi tidurnya. Tubuh istrinya itu bergerak seiring tarikan nafasnya. Matanya kembali mengembun, meneteskan air mata kepedihan.
Hanya sebuah kesalahan di masa lalu, yang akhirnya merembet sampai ke masa depannya. Ia kira kebahagiaannya sudah datang menghampirinya.
Kehadiran Rara dalam hidupnya sangat berarti baginya. Rara adalah kehidupan Arnold yang baru. Tapi apa arti dirinya bagi Rara? Selama ini ia tidak pernah mempertanyakannya.
Rara mencintainya dengan tulus. Tidak perduli bagaimana masa lalunya, bagaimana ketidaknormalannya. Bahkan kekurangannya, Rara tidak pernah berhenti mencintainya.
Tidak! Operasi hanya akan membuatnya lumpuh. Kelumpuhannya hanya akan membebani Rara seumur hidup istrinya itu. Tapi kematiannya akan menghancurkan Rara.
Dilema menyakitkan hati Arnold, apapun keputusannya hanya akan menghancurkan Rara. Ia terlalu takut melihat Rara menderita, ia tidak sanggup melihat istrinya menderita.
Arnold mencari kontak list pengacaranya, ia mengirimkan pesan padanya untuk bertemu setelah tiga hari.
Arnold masuk ke kamar mandi, mencuci wajahnya yang dibasahi air mata. Ia tidak ingin Rara mengetahui apapun sekarang. Sebelum ia memutuskan menjalani yang mana.
Keluar dari kamar mandi, Arnold melihat posisi tidur Rara sudah berubah lagi. Sepertinya ia sedang bermimpi, tidurnya tidak tenang.
Arnold : "Apa yang kau mimpikan? Apa kau merasakan apa yang aku rasakan sekarang?"
Rara : "Arnold..."
Mata Arnold terbelalak, Rara menyebut namanya dalam tidurnya. Ia berbaring di samping Rara, menyusupkan lengannya kebawah leher Rara. Merangkul tubuh istrinya itu agar bisa tidur dengan tenang.
Arnold mencium kening Rara, menatap wajah tenang Rara.
Arnold : "Kuharap kau mau memaafkan apapun keputusanku nanti, Ra. Aku hanya bisa melakukan apa yang kuanggap terbaik untukmu."
Mata Arnold terpejam, ia terlelap bersama Rara di aparment mereka.
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
__ADS_1
π²π²π²π²π²