
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 42
Suasana di rumah Alex benar-benar meriah, halaman
samping sudah dipasangi tenda yang ditutupi tirai panjang. Didalam tenda itu
terasa sangat sejuk karena AC yang terpasang di beberapa sudut tenda. Mobil Ken
berhenti tepat di samping pintu masuk tenda. Rupanya si kembar Riana dan Riani
mencegat mobil Ken.
“Aunty, sepertinya penjaga Ratuku sudah datang. Silakan
turun disini, aunty,” kata Ken sambil menaikkan kedua bahunya.
Renata mengucapkan selamat berjuang pada Ken, ia
segera turun dari mobil bersama sopir yang membawakan barang belanjaan Renata.
“Princesses, apa kabar?” sapa Ken merayu kedua adik
terkecil Kaori itu.
“Kak Ken, terima kasih atas pujiannya. Tapi hari
ini kami juga minta hadiah,” kata Riana dan Riani kompak.
Ken memberi tanda pada asistennya untuk
mengambilkan koper di dalam mobil. Asisten Ken itu langsung membuka koper di
depan mereka berdua yang tersenyum manis pada Ken. Riani menghitung deretan
uang di dalam koper itu. Si kembar paling kecil ini memang mata duitan. Mereka
paling mudah disogok dengan uang atau cek. Benar-benar setan kecil yang
mengerikan.
Rintangan berikutnya adalah Reymond dan Reyna. Ken
menggaruk kepalanya sambil senyum-senyum pada dua orang kembar di depannya.
Asisten Ken menyodorkan sebuah kotak besar dan kotak kecil pada Ken. Kotak
besar yang berisi games terbaru ia serahkan pada Reymond dan kotak kecil berisi
ponsel pintar keluaran terbaru jatuh ke tangan Reyna.
Ken pikir rintangannya hanya tinggal sekali lagi,
yaitu Varrel dan Roy. Tapi mereka berdua tidak muncul dimanapun. Ketika Ken
sampai di depan teras rumah Alex, Rio dan Gadis yang muncul disana.
“Papa, mama, apa kabar?” tanya Ken sambil memasang
wajah sok polos.
“Ken, seharusnya kamu kesini besok sekalian ijab.
Pulang sana,” usir Rio dengan tampang bete-nya.
“Yah, pa. Aku mau ketemu Kaori. Udah sebulan nggak
ketemu, pah. Boleh sebentar aja ya,” pinta Ken masih ngeyel.
Rio melirik Gadis seolah meminta Gadis yang bicara
dengan Ken. Ketika wanita cantik itu hampir bicara, Ken menyodorkan sebuah
paper bag berisi tas mahal keluaran terbaru. Mata Gadis berbinar, bukan karena
hadiah mahal yang ia terima tapi pada perhatian calon menantunya itu pada
dirinya.
“Mama, ini oleh-oleh untuk mama mertua,” ucap Ken
manis.
“Oh, Ken. Makasih ya. Ini BAGUS BANGET,” ucap Gadis
menekankan kata ‘bagus banget’ dengan ekspresi wajah sumringah.
Rio berjengit melihat tatapan Gadis pada Ken, harga
dirinya sebagai suami tercoreng melihat hadiah mahal yang diterima Gadis.
Jelas-jelas mereka tadi sudah sepakat untuk melarang Ken masuk ke dalam rumah
dan menemui Kaori. Tapi semuanya buyar dengan sebuah sogokan yang mahal.
“Pah, ini oleh-oleh buat papa juga,” kata Ken
sambil menyodorkan sebuah kotak kecil pada Rio.
Kening Rio mengerut, ia ingin menolak tapi
penasaran juga dengan hadiah yang disodorkan Ken. Ketika Rio membukanya, ia
melihat ponsel keluaran terbaru yang sudah siap pakai. Banyak aplikasi untuk
meeting di dalamnya dan juga beberapa games. Rio memang jarang sekali mengganti
ponselnya. Ia tidak punya waktu untuk itu saking sibuknya mengurus anak-anaknya
dan bekerja.
Terakhir kali Ken ingat kalau ponsel Rio retak pada
layarnya dan pria itu bahkan tidak peduli asalkan masih bisa dipakai. Rio
mengusap ponsel baru itu dengan tangan sedikit gemetar. Tatapan matanya berubah
lebih lembut, membuat Gadis tersenyum manis pada perhatian Ken.
“Sini, ponsel papa. Aku setting nomornya,” pinta
__ADS_1
Ken.
Rio tanpa sadar menyerahkan ponsel lamanya pada Ken
yang sibuk mengutak-atik ponsel itu. Hanya sebentar saja, ponsel baru Rio sudah
siap dipakai. Ia mencoba selfie dengan Gadis dan hasilnya sangat bagus. Ken
tersenyum manis saat mereka berdua mengucapkan terima kasih dan pergi dari
hadapan Ken.
Saatnya menghadapi raja terakhir. Kali ini Mia dan
Alex, tentu saja Ken akan sangat mudah melewati mereka berdua. Tapi rupanya
perkiraan Ken salah besar. Alex dan Mia berdiri di depan ruang keluarga,
menghalangi jalan Ken menuju kamar Kaori.
“Opa, oma, apa kabar? Boleh aku ketemu dengan
Kaori?” tanya Ken dengan senyum tengilnya.
Keduanya kompak menggeleng dan meminta Ken untuk
pulang ke rumah besar kakek Martin. Ken memasang wajah cemberut dengan bibir
manyun. Pura-pura ngambek di depan Alex dan Mia. Tapi kali ini mereka berdua
tetap kekeh tidak mengijinkan Ken bertemu dengan Kaori.
“Tapi kenapa?” rajuk Ken dengan suara memelas.
“Seharusnya kamu bertemu dengan Kaori besok sebelum
ijab. Sudah tradisi kan? Kamu ngerti arti dipingit, nggak,” tanya Mia berusaha
menahan dirinya untuk tidak jatuh kasihan melihat Ken memelas,
“Nggak ngerti, nggak mau ngerti. Nggak tau,” rengek
Ken lagi.
Alex sampai menepuk jidatnya melihat kelakuan Ken
yang seperti anak kecil ngambek karena nggak dikasi permen. Keduanya saling
pandang hampir luluh dengan tingkah Ken, tapi keduanya menetapkan hati dan kembali
meminta Ken pulang.
Ken beneran ngambek, ia duduk di lantai dengan kaki
menjulur ke depan. “Kaori! Kaori!” panggil Ken kencang sambil menendang-nendang
kakinya.
Asisten Ken sampai malu sendiri melihat kelakuan
tuan mudanya. Sangat jauh berbeda dengan image yang selama ini ia kenal dari
asistennya itu benar-benar malu melihat kelakukan Ken.
“Aku mau Kaori, carikan Kaori,” rengek Ken pada
asistennya.
“Tuan muda, saya mohon. Jaga kelakuan tuan muda.
Kalau sampai ada wartawan yang lihat, bisa hancur reputasi tuan muda,” bisik
asistennya masih sabar.
“Tapi aku mau Kaori! Kaori! Kaori!” jerit Ken.
Tidak ada yang bisa menghentikan Ken yang terus berteriak.
“Ada apa sih?” celetuk Kaori yang tiba-tiba muncul
dari belakang Alex.
Ken langsung memeluk pinggang Kaori ketika melihat
gadis itu. Kaori hampir jatuh kalau Alex tidak menahan tubuh mungilnya.
“Kaori, aku kangen banget sama kamu,” lirih Ken
sambil mengusapkan wajahnya ke perut Kaori.
“Ken? Kamu udah pulang? Bukannya harusnya besok
ya?” tanya Kaori kaget.
“Aku pulang hari ini, Kaori. Cium dulu,” pinta Ken
hampir menyosor bibir Kaori.
Gadis itu menghindar dengan cepat, ia bersembunyi
di belakang Alex sambil tersenyum mengejek Ken. Kaori berpindah ke belakang Mia
saat Ken berusaha meraih tangannya. Saat itu Ken menyadari sesuatu, Kaori bisa
bergerak bebas tanpa tongkatnya.
“Kaori... matamu...,” kata Ken kaget.
Kaori tersenyum manis menatap dalam mata Ken. Mata
coklat itu berbinar indah dengan kerlingan bintang yang muncul ketika Kaori
tersenyum manis. Ken berjalan mendekati Kaori dengan mata berkaca-kaca, ia
menangkup kedua pipi Kaori. Sentuhan Ken pada pipinya membuat Kaori memejamkan
mata, mengeluskan pipinya ke telapak tangan Ken.
“Ken, aku sudah bisa melihat,” ucap Kaori.
__ADS_1
“Sungguh? Tapi bagaimana bisa? Kaori...,” ucap Ken
masih tidak percaya.
Alex dan Mia meminta mereka semua duduk dulu di
ruang keluarga. Pria paruh baya itu mengatakan setelah Kaori sembuh dari demam
tingginya bulan lalu, ia mulai bisa melihat tapi masih samar-samar. Dokter juga
tidak bisa menemukan jawaban kenapa Kaori tiba-tiba bisa melihat seperti itu.
Karena penglihatannya masih samar, mata Kaori tidak
boleh terkena sinar secara langsung. Ia harus memakai kacamata hitam untuk
melindungi matanya. Karena itu Kaori masih memakai indra penciuman dan
pendengarannya untuk membantu Kaori mengenali sekitarnya.
Kemajuan pada mata Kaori tentu saja memberi kejutan
yang sangat besar bagi keluarga besar Alex. Tapi Kaori meminta agar mereka
tetap merahasiakannya sambil memastikan kalau memang matanya sudah mulai
berfungsi. Jadi Kaori memang bisa melihat tapi masih samar-samar.
Ken sangat senang dengan kejutan yang diterimanya
tepat sebelum hari pernikahannya dengan Kaori. Kebahagiaan mereka semakin dekat
seiring berjalannya detik-detik dalam kehidupan mereka. Meskipun tanpa
kehadiran Endy dan Kinanti, Ken sudah cukup puas dengan persiapan pernikahan
mereka berdua.
Hari itu, Ken memutuskan untuk tetap tinggal di
rumah Alex, ia memilih menginap disana. Seharusnya Ken datang besok bersama
kakek Martin, tapi pria itu tidak mau pergi dari rumah Alex. Calon pengantin
tampak asyik duduk berduaan di ruang keluarga. Kaori sedang melakukan menicure
dan pedicure. Ken yang tidak bisa diam, ingin ikut memasangkan nail art di kuku
Kaori.
Saat itu Renata bergabung dengan mereka. Ia
terlihat kebingungan mencari seseorang. Ken menebak kalau Renata mulai mencari
Reynold.
“Aunty, duduk sini. Kita manicure bareng,” ajak
Kaori dengan suara ceria.
“Jangan ditanyain dulu, sayang. Masih galau
auntynya,” sahut Ken dengan cengiran khasnya.
Renata menimpuk Ken dengan bantal yang ada di ruang
keluarga itu. Ia tidak ingin Ken memberitahu Kaori tentang apa yang tadi mereka
bicarakan di dalam mobil.
“Emangnya ada apa, aunty? Gaun untuk besok nggak cukup?”
tanya Kaori kepo.
“Cukup kok, malahan tadi sempet coba gaun pengantin
sama gaun malam. Gaun malamnya juga dibeli,” sahut Ken.
Renata kembali menimpuki Ken dengan bantal dan
meminta pria itu tidak ikut bicara. Ken malah memasang tampang polos, pura-pura
nggak ngerti apa maksud Renata. Gadis itu jelas semakin kesal sampai Ken
kesakitan karena Renata mencubit lengannya dengan kejam.
“Sayang, aku dianiaya sama aunty Renata,” rajuk Ken
sambil memeluk pinggang Kaori.
“Makanya jangan banyak bacot. Berisik,” kata Renata
kesal.
“Sayang, tolong aku,” pinta Ken sangat mesra pada
Kaori.
Kaori cuma senyum-senyum mendengar Ken bertengkar
dengan Renata. Ia sudah paham kalau Ken memang dekat dengan Renata, tapi
hubungan mereka hanya sebatas pertemanan saja. Kaori hanya fokus menanyakan tentang
apa yang dialami oleh Renata sampai terlihat bingung seperti itu.
Sejujurnya Renata sedang bingung mencari keberadaan
Reynold. Pria itu jelas-jelas bilang akan segera menyusulnya ke rumah Alex
setelah menjemput mamanya, Rara. Tapi sampai saat ini, tidak terlihat batang
hidungnya. Tentu saja Renata jadi kuatir pada Reynold, pria itu tidak pernah
mengingkari kata-katanya pada Renata.
“Hadeh, sebenarnya dia kemana sich?” gerutu Renata
mulai kesal.
__ADS_1