Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 42


__ADS_3

Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 42


Suasana di rumah Alex benar-benar meriah, halaman


samping sudah dipasangi tenda yang ditutupi tirai panjang. Didalam tenda itu


terasa sangat sejuk karena AC yang terpasang di beberapa sudut tenda. Mobil Ken


berhenti tepat di samping pintu masuk tenda. Rupanya si kembar Riana dan Riani


mencegat mobil Ken.


“Aunty, sepertinya penjaga Ratuku sudah datang. Silakan


turun disini, aunty,” kata Ken sambil menaikkan kedua bahunya.


Renata mengucapkan selamat berjuang pada Ken, ia


segera turun dari mobil bersama sopir yang membawakan barang belanjaan Renata.


“Princesses, apa kabar?” sapa Ken merayu kedua adik


terkecil Kaori itu.


“Kak Ken, terima kasih atas pujiannya. Tapi hari


ini kami juga minta hadiah,” kata Riana dan Riani kompak.


Ken memberi tanda pada asistennya untuk


mengambilkan koper di dalam mobil. Asisten Ken itu langsung membuka koper di


depan mereka berdua yang tersenyum manis pada Ken. Riani menghitung deretan


uang di dalam koper itu. Si kembar paling kecil ini memang mata duitan. Mereka


paling mudah disogok dengan uang atau cek. Benar-benar setan kecil yang


mengerikan.


Rintangan berikutnya adalah Reymond dan Reyna. Ken


menggaruk kepalanya sambil senyum-senyum pada dua orang kembar di depannya.


Asisten Ken menyodorkan sebuah kotak besar dan kotak kecil pada Ken. Kotak


besar yang berisi games terbaru ia serahkan pada Reymond dan kotak kecil berisi


ponsel pintar keluaran terbaru jatuh ke tangan Reyna.


Ken pikir rintangannya hanya tinggal sekali lagi,


yaitu Varrel dan Roy. Tapi mereka berdua tidak muncul dimanapun. Ketika Ken


sampai di depan teras rumah Alex, Rio dan Gadis yang muncul disana.


“Papa, mama, apa kabar?” tanya Ken sambil memasang


wajah sok polos.


“Ken, seharusnya kamu kesini besok sekalian ijab.


Pulang sana,” usir Rio dengan tampang bete-nya.


“Yah, pa. Aku mau ketemu Kaori. Udah sebulan nggak


ketemu, pah. Boleh sebentar aja ya,” pinta Ken masih ngeyel.


Rio melirik Gadis seolah meminta Gadis yang bicara


dengan Ken. Ketika wanita cantik itu hampir bicara, Ken menyodorkan sebuah


paper bag berisi tas mahal keluaran terbaru. Mata Gadis berbinar, bukan karena


hadiah mahal yang ia terima tapi pada perhatian calon menantunya itu pada


dirinya.


“Mama, ini oleh-oleh untuk mama mertua,” ucap Ken


manis.


“Oh, Ken. Makasih ya. Ini BAGUS BANGET,” ucap Gadis


menekankan kata ‘bagus banget’ dengan ekspresi wajah sumringah.


Rio berjengit melihat tatapan Gadis pada Ken, harga


dirinya sebagai suami tercoreng melihat hadiah mahal yang diterima Gadis.


Jelas-jelas mereka tadi sudah sepakat untuk melarang Ken masuk ke dalam rumah


dan menemui Kaori. Tapi semuanya buyar dengan sebuah sogokan yang mahal.


“Pah, ini oleh-oleh buat papa juga,” kata Ken


sambil menyodorkan sebuah kotak kecil pada Rio.


Kening Rio mengerut, ia ingin menolak tapi


penasaran juga dengan hadiah yang disodorkan Ken. Ketika Rio membukanya, ia


melihat ponsel keluaran terbaru yang sudah siap pakai. Banyak aplikasi untuk


meeting di dalamnya dan juga beberapa games. Rio memang jarang sekali mengganti


ponselnya. Ia tidak punya waktu untuk itu saking sibuknya mengurus anak-anaknya


dan bekerja.


Terakhir kali Ken ingat kalau ponsel Rio retak pada


layarnya dan pria itu bahkan tidak peduli asalkan masih bisa dipakai. Rio


mengusap ponsel baru itu dengan tangan sedikit gemetar. Tatapan matanya berubah


lebih lembut, membuat Gadis tersenyum manis pada perhatian Ken.


“Sini, ponsel papa. Aku setting nomornya,” pinta

__ADS_1


Ken.


Rio tanpa sadar menyerahkan ponsel lamanya pada Ken


yang sibuk mengutak-atik ponsel itu. Hanya sebentar saja, ponsel baru Rio sudah


siap dipakai. Ia mencoba selfie dengan Gadis dan hasilnya sangat bagus. Ken


tersenyum manis saat mereka berdua mengucapkan terima kasih dan pergi dari


hadapan Ken.


Saatnya menghadapi raja terakhir. Kali ini Mia dan


Alex, tentu saja Ken akan sangat mudah melewati mereka berdua. Tapi rupanya


perkiraan Ken salah besar. Alex dan Mia berdiri di depan ruang keluarga,


menghalangi jalan Ken menuju kamar Kaori.


“Opa, oma, apa kabar? Boleh aku ketemu dengan


Kaori?” tanya Ken dengan senyum tengilnya.


Keduanya kompak menggeleng dan meminta Ken untuk


pulang ke rumah besar kakek Martin. Ken memasang wajah cemberut dengan bibir


manyun. Pura-pura ngambek di depan Alex dan Mia. Tapi kali ini mereka berdua


tetap kekeh tidak mengijinkan Ken bertemu dengan Kaori.


“Tapi kenapa?” rajuk Ken dengan suara memelas.


“Seharusnya kamu bertemu dengan Kaori besok sebelum


ijab. Sudah tradisi kan? Kamu ngerti arti dipingit, nggak,” tanya Mia berusaha


menahan dirinya untuk tidak jatuh kasihan melihat Ken memelas,


“Nggak ngerti, nggak mau ngerti. Nggak tau,” rengek


Ken lagi.


Alex sampai menepuk jidatnya melihat kelakuan Ken


yang seperti anak kecil ngambek karena nggak dikasi permen. Keduanya saling


pandang hampir luluh dengan tingkah Ken, tapi keduanya menetapkan hati dan kembali


meminta Ken pulang.


Ken beneran ngambek, ia duduk di lantai dengan kaki


menjulur ke depan. “Kaori! Kaori!” panggil Ken kencang sambil menendang-nendang


kakinya.


Asisten Ken sampai malu sendiri melihat kelakuan


tuan mudanya. Sangat jauh berbeda dengan image yang selama ini ia kenal dari


asistennya itu benar-benar malu melihat kelakukan Ken.


“Aku mau Kaori, carikan Kaori,” rengek Ken pada


asistennya.


“Tuan muda, saya mohon. Jaga kelakuan tuan muda.


Kalau sampai ada wartawan yang lihat, bisa hancur reputasi tuan muda,” bisik


asistennya masih sabar.


“Tapi aku mau Kaori! Kaori! Kaori!” jerit Ken.


Tidak ada yang bisa menghentikan Ken yang terus berteriak.


“Ada apa sih?” celetuk Kaori yang tiba-tiba muncul


dari belakang Alex.


Ken langsung memeluk pinggang Kaori ketika melihat


gadis itu. Kaori hampir jatuh kalau Alex tidak menahan tubuh mungilnya.


“Kaori, aku kangen banget sama kamu,” lirih Ken


sambil mengusapkan wajahnya ke perut Kaori.


“Ken? Kamu udah pulang? Bukannya harusnya besok


ya?” tanya Kaori kaget.


“Aku pulang hari ini, Kaori. Cium dulu,” pinta Ken


hampir menyosor bibir Kaori.


Gadis itu menghindar dengan cepat, ia bersembunyi


di belakang Alex sambil tersenyum mengejek Ken. Kaori berpindah ke belakang Mia


saat Ken berusaha meraih tangannya. Saat itu Ken menyadari sesuatu, Kaori bisa


bergerak bebas tanpa tongkatnya.


“Kaori... matamu...,” kata Ken kaget.


Kaori tersenyum manis menatap dalam mata Ken. Mata


coklat itu berbinar indah dengan kerlingan bintang yang muncul ketika Kaori


tersenyum manis. Ken berjalan mendekati Kaori dengan mata berkaca-kaca, ia


menangkup kedua pipi Kaori. Sentuhan Ken pada pipinya membuat Kaori memejamkan


mata, mengeluskan pipinya ke telapak tangan Ken.


“Ken, aku sudah bisa melihat,” ucap Kaori.

__ADS_1


“Sungguh? Tapi bagaimana bisa? Kaori...,” ucap Ken


masih tidak percaya.


Alex dan Mia meminta mereka semua duduk dulu di


ruang keluarga. Pria paruh baya itu mengatakan setelah Kaori sembuh dari demam


tingginya bulan lalu, ia mulai bisa melihat tapi masih samar-samar. Dokter juga


tidak bisa menemukan jawaban kenapa Kaori tiba-tiba bisa melihat seperti itu.


Karena penglihatannya masih samar, mata Kaori tidak


boleh terkena sinar secara langsung. Ia harus memakai kacamata hitam untuk


melindungi matanya. Karena itu Kaori masih memakai indra penciuman dan


pendengarannya untuk membantu Kaori mengenali sekitarnya.


Kemajuan pada mata Kaori tentu saja memberi kejutan


yang sangat besar bagi keluarga besar Alex. Tapi Kaori meminta agar mereka


tetap merahasiakannya sambil memastikan kalau memang matanya sudah mulai


berfungsi. Jadi Kaori memang bisa melihat tapi masih samar-samar.


Ken sangat senang dengan kejutan yang diterimanya


tepat sebelum hari pernikahannya dengan Kaori. Kebahagiaan mereka semakin dekat


seiring berjalannya detik-detik dalam kehidupan mereka. Meskipun tanpa


kehadiran Endy dan Kinanti, Ken sudah cukup puas dengan persiapan pernikahan


mereka berdua.


Hari itu, Ken memutuskan untuk tetap tinggal di


rumah Alex, ia memilih menginap disana. Seharusnya Ken datang besok bersama


kakek Martin, tapi pria itu tidak mau pergi dari rumah Alex. Calon pengantin


tampak asyik duduk berduaan di ruang keluarga. Kaori sedang melakukan menicure


dan pedicure. Ken yang tidak bisa diam, ingin ikut memasangkan nail art di kuku


Kaori.


Saat itu Renata bergabung dengan mereka. Ia


terlihat kebingungan mencari seseorang. Ken menebak kalau Renata mulai mencari


Reynold.


“Aunty, duduk sini. Kita manicure bareng,” ajak


Kaori dengan suara ceria.


“Jangan ditanyain dulu, sayang. Masih galau


auntynya,” sahut Ken dengan cengiran khasnya.


Renata menimpuk Ken dengan bantal yang ada di ruang


keluarga itu. Ia tidak ingin Ken memberitahu Kaori tentang apa yang tadi mereka


bicarakan di dalam mobil.


“Emangnya ada apa, aunty? Gaun untuk besok nggak cukup?”


tanya Kaori kepo.


“Cukup kok, malahan tadi sempet coba gaun pengantin


sama gaun malam. Gaun malamnya juga dibeli,” sahut Ken.


Renata kembali menimpuki Ken dengan bantal dan


meminta pria itu tidak ikut bicara. Ken malah memasang tampang polos, pura-pura


nggak ngerti apa maksud Renata. Gadis itu jelas semakin kesal sampai Ken


kesakitan karena Renata mencubit lengannya dengan kejam.


“Sayang, aku dianiaya sama aunty Renata,” rajuk Ken


sambil memeluk pinggang Kaori.


“Makanya jangan banyak bacot. Berisik,” kata Renata


kesal.


“Sayang, tolong aku,” pinta Ken sangat mesra pada


Kaori.


Kaori cuma senyum-senyum mendengar Ken bertengkar


dengan Renata. Ia sudah paham kalau Ken memang dekat dengan Renata, tapi


hubungan mereka hanya sebatas pertemanan saja. Kaori hanya fokus menanyakan tentang


apa yang dialami oleh Renata sampai terlihat bingung seperti itu.


Sejujurnya Renata sedang bingung mencari keberadaan


Reynold. Pria itu jelas-jelas bilang akan segera menyusulnya ke rumah Alex


setelah menjemput mamanya, Rara. Tapi sampai saat ini, tidak terlihat batang


hidungnya. Tentu saja Renata jadi kuatir pada Reynold, pria itu tidak pernah


mengingkari kata-katanya pada Renata.


“Hadeh, sebenarnya dia kemana sich?” gerutu Renata


mulai kesal.

__ADS_1


__ADS_2