
Extra part 38
Keira melotot ke arah layar ponselnya, ia melempar
ponsel itu kembali ke atas sofa. Lalu cepat-cepat mengganti pakaiannya dengan
dress mini yang ketat. Keira bahkan tidak sempat berdandan, ia hanya memulas
wajahnya dengan pelembab dan lipstik. Untung saja wajah Keira memang sudah
cantik meski tanpa make up tebal.
Sedikit ngebut, Keira menuju club malam langganannya.
Setelah parkir sedikit asal, ia masuk dengan tergesa-gesa, berusaha menerobos
kerumunan orang demi mencapai kursi yang biasanya. Teman-teman Keira menyambut
kedatangan gadis itu.
“Keira, duduk dulu. Lo cepet juga nyampenya,” kata
salah satu dari mereka.
“Mana dia? Mana Bilar?!” kata Keira sedikit kuatir
karena tidak menemukan Bilar disana.
Teman Keira mengatakan kalau Bilar dibawa salah
satu teman mereka yang paling genit, masuk ke salah satu kamar di lantai atas.
Keira berdecih kesal, yang benar saja.
Dengan langkah cepat, Keira menaiki tangga menuju
kamar yang dimaksud. Ia membukanya dengan terburu-buru dan mendapati temannya
sudah ada di atas tubuh Bilar yang
terbaring di tempat tidur.
“Keluar lo! Dia punya gue!” jerit Keira sambil
menarik tangan wanita itu keluar dari kamar.
Keira segera menghampiri Bilar, memeriksa keadaan
pria itu. Tercium bau alkohol dari pakaian Bilar yang basah.
“Bilar, bangun! Bilar! Lo denger gue nggak?!” kata
Keira sambil menepuk-nepuk pipi Bilar.
“Kei...,” panggil Bilar.
“Iya, ini gue. Ayo kita pulang,” ajak Keira sambil
membantu Bilar bangun dari tidurannya.
Sedikit tertatih, Keira menopang tubuh Bilar yang
lebih besar darinya. Meskipun belum mabuk berat, tapi pengaruh alhokol sudah
membuat kesadaran Bilar mulai menurun. Keira memberi tanda pada pelayan untuk
mendekatinya dan membantu Keira membawa Bilar ke mobilnya.
“Bilang sama bos, tagihan cowok ini, masuk ke
tagihan gue ya. Nich buat lo,” kata Keira sambil memberikan selembar uang
berwarna merah pada pelayan itu.
Keira menyetir mobilnya menuju rumah Bilar. Tidak
sulit menemukannya karena rumah Bilar berada di kawasan elit satu-satunya di
kota itu. Keira hanya perlu mengingat gerbang depan rumah Bilar. Perlahan mobil
Keira memasuki kawasan elit itu, Keira melihat rata-rata gerbang rumah disana
sama semua.
“Hais, nyusahin aja. Bilar, bangun lo. Yang mana
rumah lo?” tanya Keira sambil mengguncang-guncang tubuh Bilar.
Pria itu hanya bergumam tentang nomor enam. Keira
ingin sekali menendang Bilar keluar dari mobilnya. Mereka baru saja melewati
rumah nomor enam. Keira terpaksa berputar balik, ia berharap memang benar kalau
__ADS_1
itu rumah Bilar.
Seorang penjaga mendekati mobil Keira dan gadis itu
menunjuk Bilar. Melihat tuan mudanya pulang dalam keadaan mabuk, lagi, penjaga
itu segera membuka pintu rumah. Keira yang sudah sensi sejak awal, memilih
tetap mendiamkan mobilnya di depan pintu gerbang.
“Pak, bawa aja dia masuk. Saya mau pulang,” kata
Keira pada penjaga itu. Bilar tiba-tiba bangun, ia menatap Keira yang balas
menatapnya. “Pak, ini Bilar udah bangun.”
Hoeekk!! Bilar memuntahi tubuh Keira dengan cairan
yang berbau sangat tidak enak.
“Bilar!! Keluar sana!!” jerit Keira kesal. Keira
keluar dari mobilnya, ia mengibaskan dress ketatnya tapi cairan lengket itu
sudah lebih dulu meresap dengan baik.
Masih marah-marah, tubuh Keira tiba-tiba terangkat dengan
mudahnya. Bilar membopong Keira seperti membopong karung beras di pundaknya.
Pria itu berjalan masuk dengan cepat, tidak terlihat seperti orang mabuk.
“Bilar!! Turunin gue!! Brengsek!!” jerit Keira sambil
memukul-mukul punggung Bilar.
Sia-sia saja karena tenaga Bilar lebih kuat. Bahkan
cubitan Keira tidak sanggup membuat Bilar kesakitan. Akhirnya Keira menjambak
rambut cepak Bilar.
“Turunin gue! Tante! Tante! Om X!” teriak Keira
memanggil semua orang yang ia tahu.
Bilar membawa Keira ke bawah tangga. Ada sebuah
dinding dan perabotan yang ada di dalamnya. Bilar membuka pintu satu lagi,
terlihat kamar mandi dengan nuansa putih dan bathup yang sudah berisi air. Keira
melihat tanda-tanda kalau Bilar akan menceburkannya ke bathup itu.
“Jangan coba-coba. Bilar!! Gue nggak mau!” jerit
Keira tidak mau melepaskan tangannya dari leher Bilar.
“Kamu bau, Kei. Mandi dulu.” Bilar menarik paksa
tangan Keira lalu menjatuhkan gadis itu ke dalam bathup.
Byur! Keira gelagapan ketika air hangat itu masuk
ke hidungnya. Tubuhnya basah kuyup, bahkan rambutnya tampak berantakan. Keira
melepas heelsnya, lalu melemparkannya ke Bilar. Kemudian dengan satu gerakan
yang sensual, Keira melepaskan tali pengikat dressnya.
“Tuan Superman, lo mau lihat semuanya kan? Gue bisa
buka sekarang, disini,” kata Keira dengan berani menggoda Bilar.
Keira berharap Bilar mau keluar dari kamar mandi
itu dan membiarkannya mandi sendiri. Tapi pria itu malah bersandar di meja
wastafel, sambil menatap Keira. Kemana perginya Bilar yang polos dan kalem?
Keira jadi takut melihat Bilar sekarang. Takut dirinya akan terlena dan
mengikuti kemauan pria itu.
“Kenapa ragu-ragu. Buka aja. Aku masih nunggu,” kata
Bilar dengan santainya.
“Siapa lo? Mana Bilar yang asli?! Lo bukan Bilar!”
Keira menatap sosok Bilar di depannya.
“Jatuh cinta bisa bikin kita berubah, Kei. Aku juga
__ADS_1
tahu kamu cinta sama aku, kan,” kata Bilar lagi.
“Kepedean!” sahut Keira ketus.
Keira membalik tubuhnya dan melepaskan dress ketat
itu sebelum kembali duduk di dalam bathup. Perlahan tangan Keira mulai
menggosok lengan dan punggungnya. Air hangat ditambah suasana kamar mandi yang
sangat nyaman dan bersih membuat tubuh Keira perlahan mulai rileks.
“Kei...,” panggil Bilar sangat dekat di belakang
Keira.
Gadis itu menyilangkan tangannya di depan dada.
Entah kenapa ia jadi malu sekarang, Keira tidak ingin Bilar melihat tubuhnya. Keira
bergeser sedikit ketika Bilar menyentuh punggungnya.
“Bilar, jangan dekat-dekat. Lo keluar sana. Gue mau
bilas,” pinta Keira.
Keira bernafas lega saat Bilar mau keluar dari
kamar mandi. Gadis itu cepat-cepat membilas tubuhnya dengan air hangat di
shower lalu memakai handuk menutupi rambut dan tubuhnya. Ragu-ragu Keira ingin
membuka pintu kamar mandi, ia melihat sekali lagi di cermin. Penampilannya
sangat mengundang serigala kelaparan diluar sana. Bagaimana kalau saat ia
keluar nanti, tiba-tiba Bianca masuk dan menjambaknya.
Keira menggelengkan kepalanya, bayangan seperti itu
sangat mengerikan. Sebelum keluar dari kamar mandi, Keira menarik nafas panjang
lebih dulu. Ia berharap tidak terjadi apa-apa pada dirinya.
Bilar duduk di sofa kamarnya ketika pintu kamar
mandi terbuka dan Keira keluar dari sana. Keduanya saling menatap sebentar
sebelum Keira memalingkan wajahnya. Keira tercekat melihat Bilar tiba-tiba
bangkit dari duduknya lalu menghampirinya.
“B—Bilar, jangan mendekat lagi. Gue mohon. Gue
belum pake baju,” pinta Keira mulai takut.
Pria itu mendekati lemarinya, lalu mengeluarkan sesuatu
dari sana. Bilar meminta Keira memakainya dulu sebelum mereka bicara lagi. Keira
masuk lagi ke kamar mandi, lalu keluar dengan memakai dress pendek yang melekat
dengan ketat di tubuhnya. Bilar hampir jatuh dibuatnya melihat kecantikan
Keira.
“Bilar, lo punya kelainan ya. Punya barang-barang
cewek di lemari lo. Jangan-jangan lo suka make baju cewek juga,” sindir Keira
nakal.
“Itu punya adikku. Aku nggak sengaja lihat waktu
dia mau nyoba baju itu. Kalau mamaku sampai tahu, bisa dihukum tuch. Makanya
aku umpetin bajunya disini. Cocok kok buat kamu,” kata Bilar sambil tersenyum
manis.
Keira tidak menanggapi Bilar, ia ingin pergi dari
rumah itu secepatnya karena tidak ingin kepergok mamanya Bilar. Gadis itu
membujuk Bilar agar ia bisa pulang sekarang juga.
“Gue nggak mau dijambak, Bi. Please, gue mau
pulang,” rengek Keira.
“Ada syaratnya, kamu harus cium aku dulu,” pinta Bilar.
“Syarat macam apa itu?!” protes Keira cemberut.
__ADS_1