
DM2 – Firasat buruk
Gerakan Kinanti membeku diudara, Ilham
sudah keluar dari ruang kerja Rio, menatapnya dengan kening berkerut.
“Kamu kenapa lagi?”
Kinanti menggeleng sambil tersenyum pada Ilham.
Ia kembali duduk di kursinya, menyelesaikan pekerjaannya hari itu. Sampai jam
pulang kantor, Rio tidak memanggil Kinanti lagi. Hanya sesekali Rio menelpon
menanyakan urusan pekerjaan.
Merasa bosan, Kinanti memutuskan pulang
duluan. Ia menelpon Rio, menanyakan apa dia boleh pulang duluan dan Rio
mengijinkannya. Saat melewati pantry, Kinanti berhenti ketika mendengar nama
Gadis disebut.
“Kamu gak liat tadi istrinya pak Rio
datang. Itu loh ibu Gadis.”Kinanti mengintip ada dua wanita sedang berdiri di
pantry, sepertinya sedang mem-fotocopy sesuatu. “Liat kok. Cantik ya, badannya
bagus banget.”
“Jelaslah bagus, belum pernah melahirkan.”
“Iya ya. Mereka udah lama banget nikah tapi
belum juga punya anak.”
Kinanti semakin menempelkan telinganya di
balik pintu pantry, ia ingin mengetahui semua informasi tentang Gadis dan ia
mendapatkannya.
“Gadis, ternyata kamu mandul ya. Atau Rio?
Hmm, harus dicoba baru tahu. Rio, sayang. Kau akan jadi millikku.”
Kinanti tersenyum puas, ia mulai menyusun
rencana untuk menjebak Rio agar bisa tidur dengannya. Kinanti sangat yakin
kalau Rio sangat perkasa sampai bisa membuat dirinya hamil nanti. Ia baru
sampai di depan mobilnya terparkir, saat merasakan ponselnya bergetar.
“Sepertinya Pak Ilham sangat
membantuku.”Gadis tersenyum menatap chat dari Ilham yang memintanya bersiap
meeting keluar kota bersama Rio, besok.
Rio mengemasi barang-barangnya, ia bersiap
pulang setelah Kinanti meminta ijin padanya. Ilham juga mengirimkan chat untuk
Rio tentang keberangkatan mereka berdua besok.
Rio keluar dari dalam ruangannya, ia
melihat ruangan meja Ilham dan Kinanti sudah kosong. Ia berjalan mendekati
lift, menunggu sebentar hingga pintu lift terbuka. Sampai di tempat parkir, Rio
masuk ke mobilnya. Ia mengemudikan mobil itu dengan kecepatan standar menuju
rumah Alex.
Gadis menoleh saat Rio masuk ke dalam
rumah, ia tersenyum manis menyambut kepulangan suaminya itu. “Capek ya.”
“Nggak. Yank, besok aku tugas luar, siapin tas yang biasanya ya. Nggak nginep
sich. PP.”
“Sama sapa perginya?”
__ADS_1
“Sama Kinanti.”
Deg! Hati Gadis bergemuruh mendengar nama
wanita itu. Ia cepat menguasai dirinya, menatap Rio yang tampak acuh setelah
menyebut nama itu. Jelas sekali di mata Gadis melihat kalau Kinanti menyukai
Rio. Tapi apa suaminya menyukai wanita itu?
Gadis menepuk pipinya, ia kembali tersenyum
pada Rio yang sudah merangkul pinggangnya. Hari itu Rey tidak datang dan Gadis
kembali merasakan kehilangan. Si kembar memang ada di sekitarnya, menanyakan PR
padanya, tapi Gadis merasakan ada yang kurang.
Putranya, Rey tidak ada bersamanya.
Memikirkannya saja, Gadis rindu setengah mati pada pria kecil itu. Tring!
Tring! Ponsel Gadis berdering, Rey menelponnya lewat v-call. Gadis tersenyum
melihat Rey melambaikan tangannya pada Gadis.
“Mama Gadis, Rey kangen. Hari ini Rey...”Rey
sibuk bercerita apa yang ia lakukan di sekolah. Ia juga menanyakan PR pada
Gadis dan memperlihatkan hasil jawabannya. Gadis mengoreksi beberapa hal yang
salah pada PR Rey.
“Tuch kan, mah. Tadi Rey udah bilang sama
mama Rara kalau jawabannya gak gitu. Mama Rara malah maksa jawab gitu.”
“Eh, kok nyalahin mama Rara. Nanti mama
Rara sedih loh. Ayo, cepat perbaiki jawabannya.”
Mereka asyik mengobrol sampai PR ketiga
pria kecil itu akhirnya selesai. Gadis meletakkan ponselnya, ia memeriksa
pekerjaan si kembar sekali lagi. Setelah yakin PR mereka sudah benar, Gadis
biasanya.
Si kembar menurut pada Gadis, mereka saling
mengucapkan selamat tidur. Lalu Gadis keluar sambil menutup pintu kamar mereka.
Dilihatnya Rio masih duduk di ruang keluarga. Gadis menyusulnya, duduk di
samping Rio. Tubuh Gadis rebah bersandar di dada Rio.
“Yank, aku boleh nanya? Tapi jangan marah
ya. Jangan serang aku lagi. Aku beneran nanya serius.”pinta Gadis sambil
menoel-noel pipi Rio. Konsentrasi Rio terpecah antara menonton sepak bola atau
menatap Gadis.
“Nanya apa?”
“Kalau nanti kita punya anak perempuan,
kamu mau kasi nama siapa?”
“Hmm, Kaori?”
“Kenapa pilih nama itu?”
“Bukan cuma karena kita pernah bersama
wanita baik bernama Kaori, tapi juga arti namanya dalam bahasa Jepang Kaori
artinya harum, wangi wanita cantik.”
“Indah sekali ya arti namanya. Kalau anak
laki-laki?”
“Aku gak kepikiran punya anak laki.”
__ADS_1
“Kenapa?”tanya Gadis kepo. Ia merapatkan
tubuhnya membuat Rio salfok.
“Sudah terlalu banyak anak laki-laki di
rumah ini. Ada Rey, si kembar juga. Belum lagi Ello. Kita fokus buat anak
perempuan aja.”
Gadis mengggut-manggut, ia berjengit saat
tangan Rio mulai nakal, menyusuri pinggangnya yang terlihat dari balik kaosnya.
“Rio, geli ich. Mas jangan nakal.”
“Tumben manggil mas.”
“Iya, aku males manggil mas, kayak manggil
tukang bakso pinggir jalan.” Gadis terkikik geli sendiri.
Rio menggelitiki pinggang Gadis, ia
mematikan TV karena sudah tidak konsen lagi dengan pertandingan sepak bola yang
sedang berlangsung. Rio mengajak Gadis naik ke lantai 2, masuk ke kamar mereka
untuk beristirahat.
Keesokan paginya, Rio sudah siap berangkat,
ia harus ke kantor dulu. Ia dan Kinanti akan berangkat bersama sopir. “Gadis,
aku pergi dulu ya. Nanti kamu ke kantor?”
“Iya, Rio. Aku sudah baikan kok. Hati-hati
di jalan.”
Rio hampir masuk mobilnya, ia meletakkan
tas dan jasnya di kursi sebelah. “Rio...”panggil Gadis lagi.
Rio menoleh pada Gadis yang langsung
merentangkan tangannya. Rio tersenyum, merentangkan tangannya juga pada Gadis.
Keduanya berpelukan sangat erat sampai rasanya nafas mereka akan berhenti saat
itu juga.
Gadis melepaskan pelukannya, ia mencium Rio
dengan lembut. Sebelum melepas kepergian pria itu, Gadis melambaikan tangannya
mengikuti arah mobil Rio pergi. Setelah mobil Rio tidak terlihat lagi, Gadis
kembali masuk ke dalam rumah.
Kesibukan rumah Alex di pagi itu kembali menyibukkan
Gadis. Ia menyiapkan bekal si kembar berikut bekal untuknya juga.”Gadis, jangan
lupa vitamin sama obatmu ya. Mama taruh di tas bekal ya.”
“Iya, mah.” Gadis memasukkan bekal yang
sudah ia siapkan ke dalam tas si kembar dan juga tasnya.
Si kembar merengek minta dipotongkan apel
pada Gadis. Tepatnya Reva yang merengek keras. Gadis mengupaskan satu apel
untuk mereka berdua. Tak sengaja jarinya teriris ujung pisau yang tajam. Darah
mengucur keluar hampir jatuh ke lantai. Gadis sigap membawa tangannya ke bawah
kran air.
Ia memegang dadanya yang terasa sesak dan
tidak nyaman.
*****
Maaf kalau jalan ceritanya gak sesuai harapan. Tapi bisa sabar sedikit kan? Ini gak lama lagi kok. Saya juga mau siapkan sekuel berikutnya percintaan si kembar. Jadi bentar lagi (mungkin) Duren Manis akan tamat.
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.