Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Firasat buruk


__ADS_3

DM2 – Firasat buruk


Gerakan Kinanti membeku diudara, Ilham


sudah keluar dari ruang kerja Rio, menatapnya dengan kening berkerut.


“Kamu kenapa lagi?”


Kinanti menggeleng sambil tersenyum pada Ilham.


Ia kembali duduk di kursinya, menyelesaikan pekerjaannya hari itu. Sampai jam


pulang kantor, Rio tidak memanggil Kinanti lagi. Hanya sesekali Rio menelpon


menanyakan urusan pekerjaan.


Merasa bosan, Kinanti memutuskan pulang


duluan. Ia menelpon Rio, menanyakan apa dia boleh pulang duluan dan Rio


mengijinkannya. Saat melewati pantry, Kinanti berhenti ketika mendengar nama


Gadis disebut.


“Kamu gak liat tadi istrinya pak Rio


datang. Itu loh ibu Gadis.”Kinanti mengintip ada dua wanita sedang berdiri di


pantry, sepertinya sedang mem-fotocopy sesuatu. “Liat kok. Cantik ya, badannya


bagus banget.”


“Jelaslah bagus, belum pernah melahirkan.”


“Iya ya. Mereka udah lama banget nikah tapi


belum juga punya anak.”


Kinanti semakin menempelkan telinganya di


balik pintu pantry, ia ingin mengetahui semua informasi tentang Gadis dan ia


mendapatkannya.


“Gadis, ternyata kamu mandul ya. Atau Rio?


Hmm, harus dicoba baru tahu. Rio, sayang. Kau akan jadi millikku.”


Kinanti tersenyum puas, ia mulai menyusun


rencana untuk menjebak Rio agar bisa tidur dengannya. Kinanti sangat yakin


kalau Rio sangat perkasa sampai bisa membuat dirinya hamil nanti. Ia baru


sampai di depan mobilnya terparkir, saat merasakan ponselnya bergetar.


“Sepertinya Pak Ilham sangat


membantuku.”Gadis tersenyum menatap chat dari Ilham yang memintanya bersiap


meeting keluar kota bersama Rio, besok.


Rio mengemasi barang-barangnya, ia bersiap


pulang setelah Kinanti meminta ijin padanya. Ilham juga mengirimkan chat untuk


Rio tentang keberangkatan mereka berdua besok.


Rio keluar dari dalam ruangannya, ia


melihat ruangan meja Ilham dan Kinanti sudah kosong. Ia berjalan mendekati


lift, menunggu sebentar hingga pintu lift terbuka. Sampai di tempat parkir, Rio


masuk ke mobilnya. Ia mengemudikan mobil itu dengan kecepatan standar menuju


rumah Alex.


Gadis menoleh saat Rio masuk ke dalam


rumah, ia tersenyum manis menyambut kepulangan suaminya itu. “Capek ya.”


“Nggak.  Yank, besok aku tugas luar, siapin tas yang biasanya ya. Nggak nginep


sich. PP.”


“Sama sapa perginya?”

__ADS_1


“Sama Kinanti.”


Deg! Hati Gadis bergemuruh mendengar nama


wanita itu. Ia cepat menguasai dirinya, menatap Rio yang tampak acuh setelah


menyebut nama itu. Jelas sekali di mata Gadis melihat kalau Kinanti menyukai


Rio. Tapi apa suaminya menyukai wanita itu?


Gadis menepuk pipinya, ia kembali tersenyum


pada Rio yang sudah merangkul pinggangnya. Hari itu Rey tidak datang dan Gadis


kembali merasakan kehilangan. Si kembar memang ada di sekitarnya, menanyakan PR


padanya, tapi Gadis merasakan ada yang kurang.


Putranya, Rey tidak ada bersamanya.


Memikirkannya saja, Gadis rindu setengah mati pada pria kecil itu. Tring!


Tring! Ponsel Gadis berdering, Rey menelponnya lewat v-call. Gadis tersenyum


melihat Rey melambaikan tangannya pada Gadis.


“Mama Gadis, Rey kangen. Hari ini Rey...”Rey


sibuk bercerita apa yang ia lakukan di sekolah. Ia juga menanyakan PR pada


Gadis dan memperlihatkan hasil jawabannya. Gadis mengoreksi beberapa hal yang


salah pada PR Rey.


“Tuch kan, mah. Tadi Rey udah bilang sama


mama Rara kalau jawabannya gak gitu. Mama Rara malah maksa jawab gitu.”


“Eh, kok nyalahin mama Rara. Nanti mama


Rara sedih loh. Ayo, cepat perbaiki jawabannya.”


Mereka asyik mengobrol sampai PR ketiga


pria kecil itu akhirnya selesai. Gadis meletakkan ponselnya, ia memeriksa


pekerjaan si kembar sekali lagi. Setelah yakin PR mereka sudah benar, Gadis


biasanya.


Si kembar menurut pada Gadis, mereka saling


mengucapkan selamat tidur. Lalu Gadis keluar sambil menutup pintu kamar mereka.


Dilihatnya Rio masih duduk di ruang keluarga. Gadis menyusulnya, duduk di


samping Rio. Tubuh Gadis rebah bersandar di dada Rio.


“Yank, aku boleh nanya? Tapi jangan marah


ya. Jangan serang aku lagi. Aku beneran nanya serius.”pinta Gadis sambil


menoel-noel pipi Rio. Konsentrasi Rio terpecah antara menonton sepak bola atau


menatap Gadis.


“Nanya apa?”


“Kalau nanti kita punya anak perempuan,


kamu mau kasi nama siapa?”


“Hmm, Kaori?”


“Kenapa pilih nama itu?”


“Bukan cuma karena kita pernah bersama


wanita baik bernama Kaori, tapi juga arti namanya dalam bahasa Jepang Kaori


artinya harum, wangi wanita cantik.”


“Indah sekali ya arti namanya. Kalau anak


laki-laki?”


“Aku gak kepikiran punya anak laki.”

__ADS_1


“Kenapa?”tanya Gadis kepo. Ia merapatkan


tubuhnya membuat Rio salfok.


“Sudah terlalu banyak anak laki-laki di


rumah ini. Ada Rey, si kembar juga. Belum lagi Ello. Kita fokus buat anak


perempuan aja.”


Gadis mengggut-manggut, ia berjengit saat


tangan Rio mulai nakal, menyusuri pinggangnya yang terlihat dari balik kaosnya.


“Rio, geli ich. Mas jangan nakal.”


“Tumben manggil mas.”


“Iya, aku males manggil mas, kayak manggil


tukang bakso pinggir jalan.” Gadis terkikik geli sendiri.


Rio menggelitiki pinggang Gadis, ia


mematikan TV karena sudah tidak konsen lagi dengan pertandingan sepak bola yang


sedang berlangsung. Rio mengajak Gadis naik ke lantai 2, masuk ke kamar mereka


untuk beristirahat.


Keesokan paginya, Rio sudah siap berangkat,


ia harus ke kantor dulu. Ia dan Kinanti akan berangkat bersama sopir. “Gadis,


aku pergi dulu ya. Nanti kamu ke kantor?”


“Iya, Rio. Aku sudah baikan kok. Hati-hati


di jalan.”


Rio hampir masuk mobilnya, ia meletakkan


tas dan jasnya di kursi sebelah. “Rio...”panggil Gadis lagi.


Rio menoleh pada Gadis yang langsung


merentangkan tangannya. Rio tersenyum, merentangkan tangannya juga pada Gadis.


Keduanya berpelukan sangat erat sampai rasanya nafas mereka akan berhenti saat


itu juga.


Gadis melepaskan pelukannya, ia mencium Rio


dengan lembut. Sebelum melepas kepergian pria itu, Gadis melambaikan tangannya


mengikuti arah mobil Rio pergi. Setelah mobil Rio tidak terlihat lagi, Gadis


kembali masuk ke dalam rumah.


Kesibukan rumah Alex di pagi itu kembali menyibukkan


Gadis. Ia menyiapkan bekal si kembar berikut bekal untuknya juga.”Gadis, jangan


lupa vitamin sama obatmu ya. Mama taruh di tas bekal ya.”


“Iya, mah.” Gadis memasukkan bekal yang


sudah ia siapkan ke dalam tas si kembar dan juga tasnya.


Si kembar merengek minta dipotongkan apel


pada Gadis. Tepatnya Reva yang merengek keras. Gadis mengupaskan satu apel


untuk mereka berdua. Tak sengaja jarinya teriris ujung pisau yang tajam. Darah


mengucur keluar hampir jatuh ke lantai. Gadis sigap membawa tangannya ke bawah


kran air.


Ia memegang dadanya yang terasa sesak dan


tidak nyaman.


*****


Maaf kalau jalan ceritanya gak sesuai harapan. Tapi bisa sabar sedikit kan? Ini gak lama lagi kok. Saya juga mau siapkan sekuel berikutnya percintaan si kembar. Jadi bentar lagi (mungkin) Duren Manis akan tamat.

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2