Duren Manis

Duren Manis
Keputusan


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, Rara terbangun dengan tubuh basah karena keringat. Ia merasa lebih segar dan sehat dari sebelumnya. Saat sedang menggeliat, pandangannya tertuju pada punggung Arnold yang terlihat jelas di sampingnya.


Rara melihat kondisi tubuhnya dan langsung menarik selimut menutup tubuhnya. Ia mengingat-ingat apa yang terjadi semalam dan sangat malu setelah mengingatnya.


Itu artinya Arnold sudah melihat tubuh polosnya saat mandi. Wajah Rara memerah, ia sangat malu dan bingung harus bersikap bagaimana.


Rara melihat Arnold menggeliat, otot-otot pada tubuhnya bergerak dengan sangat indah. Seolah sedang menari dan memikat Rara untuk menyentuhnya.


Dan Rara melakukannya tanpa sadar! Ia menyentuh otot di lengan Arnold yang langsung menoleh menatapnya.


Arnold : "Kamu uda bangun, Ra? Badanmu masih panas?"


Arnold menyentuh kening Rara dan merasakan suhu tubuh Rara sudah normal.


Arnold : "Kenapa wajahmu merah?"


Rara : "Kak, semalam... kita..."


Giliran Arnold yang wajahnya memerah, ia ingat betul bagaimana kejadian semalam. Bagaimana rasanya saat kulit tubuh Rara menyentuh kulitnya dengan lembut.


Sungguh ia tersiksa menahan hasratnya untuk tidak menyerang Rara. Tapi mau bagaimana lagi, ia sudah berjanji pada Alex untuk menjaga Rara.


Arnold : "Ra, gak usah dibahas lagi ya. Aku benar-benar terpaksa masuk ke kamar mandi saat kamu mandi. Kamu gak jawab panggilanku. Harusnya aku gak kasi kamu mandi semalam."


Rara : "..."


Arnold : "Tapi kalau kamu merasa gak enak sama aku, kamu boleh marah. Boleh tampar aku."


Rara melayangkan tangannya tinggi ke samping, Arnold yang melihatnya sangat terkejut dan langsung memejamkan matanya.


Dirinya memang pantas di tampar, ia sudah melanggar ucapannya demi untuk menolong Rara. Tentu saja Rara boleh marah.


Tapi bukan tamparan yang ia terima, Rara menarik tengkuknya dan mencium Arnold. Diserang begitu, mata Arnold melotot kaget. Untuk sesaat ia hanya diam, tapi sentuhan Rara membuatnya berani membalas ciuman itu.


Mereka saling membalas ciuman dan saling memeluk, sampai suara notif ponsel menyadarkan keduanya. Arnold menatap mata Rara yang masih terbaring di bawahnya.


Rara : "Arnold, aku mencintaimu."


Arnold : "Aku juga mencintaimu, Ra."


Arnold beranjak ke sisi ranjang, ia tersenyum lebar saat perasaannya telah berbalas.


Arnold : "Ra, mandi duluan sana. Aku pesenin sarapan ya."


Rara : "Iya, kak."


Arnold tidak menoleh saat mendengar langkah kaki Rara di belakangnya. Ia tahu Rara tidak berpakaian lengkap dan ia tidak mau pikirannya jadi mesum lagi di pagi yang cerah ini.


Arnold menelpon ke pengurus apartment dan minta dibelikan sarapan. Setelah itu ia membuka kopernya dan mulai mengemasi pakaiannya.


Jadwal keberangkatan mereka sekitar jam 11 siang, dan mereka masih punya waktu sekitar 2 jam untuk bersiap-siap sebelum berangkat ke bandara.


Rara yang sudah selesai mandi, keluar hanya memakai bathrobe. Ia mengambil pakaian ganti dan masuk lagi ke kamar mandi. Arnold bahkan sudah menutup matanya saat mendengar pintu kamar mandi terbuka.


Rara : "Kak, kita pulang sekarang ya?"


Arnold : "Iya, Ra. Pesawat jam 11, habis sarapan kita langsung pergi."


Rara : "Bajuku kayaknya masih ada yang dilaundry, kak."


Arnold : "Sebentar aku cek."


Arnold menelpon pengurus apartment lagi dan meminta sekalian dibawakan laundry mereka.

__ADS_1


Setelah itu ia pergi mandi, tapi sebelum itu,


Arnold : "Ra, kalau pengurus apartment datang dan dia tanya, bilang kamu istriku ya. Dia orangnya suka kepo."


Rara : "Istri??!!"


Arnold : "Kenapa? Gak suka?"


Rara : "Malu, kak."


Arnold : "Kamu malu jadi istriku?!"


Rara : "Bukan!!"


Arnold tersenyum, ia mengerti maksud Rara, tapi menggoda Rara mulai jadi hobby-nya sekarang.


Arnold : "Lalu kenapa?"


Rara : "Ih, kakak mandi aja dech. Gak peka banget."


Arnold : "Kenapa aku gak peka?"


Rara sudah hampir membalas ucapan Arnold, tapi bel pintu keburu berbunyi. Rara menoleh menatap Arnold yang sudah lenyap ke dalam kamar mandi.


Akhirnya Rara membuka pintu apartment, pengurus apartment tersenyum padanya sambil membawa sarapan dan tas laundry.


Pengurus apartment : "Selamat pagi, saya mengantar sarapan dan laundry."


Rara membiarkan dia masuk, pengurus apartment meletakkan sarapan diatas meja dan tas laundry di kursi. Ia memperhatikan Rara dengan seksama sebelum kembali ke depan pintu.


Rara hanya tersenyum tanpa mengatakan apa-apa dan menutup pintu kembali. Ia mulai membuka kopernya dan memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.


Arnold bahkan belum keluar kamar mandi setelah Rara selesai mengemasi kopernya. Rara membuka bungkus sarapan, menghidangkannya diatas meja.


Rara : "Halo, mah."


Mia : "Ra, kapan kamu pulang?"


Rara : "Pesawat kami jam 11 dari sini, mah. Mama lagi dimana?"


Mia : "Mama dirumah. Kenapa? Kalian perlu dijemput?"


Rara : "Oh, kirain mama di rumah Rara."


Mia : "Mama agak sibuk persiapan ujian, nich. Kalau mama disana, papamu gak bisa diem soalnya."


Rara : "Emang papa ngapain?"


Mia terdiam, ia bingung mau cerita apa. Masalahnya hal-hal yang menyangkut Alex pasti ada hubungannya dengan adegan 18++.


Mia : "Nanti aja mama cerita ya. Kalau sekarang, ntar lama. Kalian mau dijemput gak?"


Rara : "Tanya Arnold dulu ya, mah. Dia masih mandi."


Mia : "Arnold? Sejak kapan kamu manggil nama langsung? Gak pake embel-embel kakak."


Rara : "Eh, itu... sejak barusan, mah."


Mia : "Rara... Apa yang terjadi sama kalian?"


Rara : "Rara uda bilang perasaan Rara sama Arnold, mah. Dan Arnold juga sama. Tapi kami belum jadian, kok mah. Kan nunggu gimana papa nanti. Tapi mah, papa terima Arnold kan?"


Mia : "Kamu tanya sendiri ya, Ra. Mama cuma bisa support aja sekarang."

__ADS_1


Rara : "Mama juga main rahasia nich. Bilang dong papa ngasi apa gak?"


Mia : "Lagi beberapa jam kan tahu jawabannya, Ra. Sabar dong."


Rara : "Ach, mama gak asyik."


Mia : "Ya ampun...!" tiba-tiba Mia berteriak panik.


Rara : "Kenapa mah?!!" Rara ikutan panik.


Mia : "Anak mama kebelet kawin... hahahahaha...."


Rara : "Mama..!!!"


Rara cemberut digoda Mia yang tertawa terbahak-bahak. Akhirnya mereka berdua tertawa bersama, saling menggoda satu sama lain.


-------


Arnold dan Rara tiba juga dibandara kota Y, sopir Arnold tampak berdiri di tempat penjemputan. Arnold menerima kunci mobilnya dan mengajak Rara pulang ke rumah Rara.


Sementara itu Ronald, Alex dan Mia sedang duduk di ruang tamu rumah Alex. Mereka menunggu kedatangan pasangan muda itu untuk membicarakan pernikahan.


Alex : "Aku masih belum bilang kalau aku setuju dengan lamaran Arnold. Tapi kata Mia, sepertinya mereka sudah ada kemajuan. Aku jadi ragu kalau mereka menikah nanti, apa Arnold bisa menahan dirinya."


Ronald : "Aku sudah bicara pada dokter Kevin, dokternya Arnold. Terapi kedua berjalan lancar kemarin, tapi Arnold menghentikan session dengan alasan harus menikahi Rara dulu kalau mau lanjut. Menurutmu apa yang terjadi di sana?"


Alex : "Apa lebih parah dari terapi pertama? Mungkin saja itu terjadi."


Ronald : "Kita tunggu saja Arnold untuk minta penjelasan. Kalau kita terus menduga, kita akan semakin salah paham."


Alex : "Ya, lebih baik begitu. Jadi kapan mereka akan dinikahkan?"


Ronald : "Kalau bersamaan dengan kalian bagaimana?"


Mia : "Persiapan pernikahannya gimana? Saya sudah cukup kewalahan dengan persiapan pernikahan kami. Mereka mungkin menginginkan konsep pernikahan yang lebih modern."


Ronald : "Aku malah berpikir tentang pernikahan sederhana, hanya antar keluarga saja, sah secara hukum dan agama. Setelah kalian menikah, baru kita pikirkan pesta pernikahan mereka."


Mia : "Saya gak setuju, kalau pernikahan Rara sederhana, saya juga akan ikut seperti itu. Tanpa resepsi."


Alex dan Arnold saling pandang, belum jadi ibu tiri tapi Mia terlihat sangat menyayangi Rara.


Alex : "Kalau begitu, kita lakukan bersama-sama. Aku rasa mereka tidak akan keberatan."


Mia : "Tapi apa Rara gak malu kalau nikah bersamaan dengan kita? Kita tunggu mereka saja ya. Mungkin sebentar lagi mereka sampai. Aku coba telpon sebentar."


Setelah Mia beranjak ke ruang dalam, Ronald menyikut Alex.


Ronald : "Kamu beruntung banget ya, punya calon istri muda, cantik, trus pengertian lagi."


Alex : "Iya, aku benar-benar beruntung. Kami bertemu disaat yang tepat dan jatuh cinta."


Alex tersenyum mengingat kembali pertemuan pertama mereka dan saat-saat indah bersama.


--------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Sama tolong vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya cari detail dan klik vote.


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.

__ADS_1


--------


__ADS_2