Duren Manis

Duren Manis
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 14


__ADS_3

Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 14


Renata menegakkan tubuhnya saat Merry mengirimkan video dan foto yang ia terima dari Abdi. Wajahnya merona merah melihat video dan foto tanpa sensor yang memperlihatkan dengan jelas api asmara antara Merry dan Alfian. Renata ternganga melihat betapa agresifnya pria dingin itu kalau sudah bersama Merry.


[]“Bu, itu beneran pak Alfian? Pak Alfian yang asisten Pak Direktur?” tanya Renata masih tidak percaya dengan matanya.


[]“Iya, Ren. Haduh, aku harus gimana ya? Aku ingin menghadap ke Pak Direktur, tapi aku malu mengatakan alasannya. Ini sangat memalukan, Ren. Apa yang akan dikatakan orang kantor kalau melihat video dan foto-foto itu?” tanya Merry semakin galau.


[]”Saya rasa mereka tidak akan mengatakan apa-apa, bu. Kita kan bekerja di negara yang membebaskan


hal-hal seperti itu,” ucap Renata.


Tetap saja Merry merasa malu dengan video dan foto-foto itu. Ia akan menghadap ke Pak Direktur besok pagi untuk membicarakan pembatalan mutasi Abdi. Tapi Renata meminta Merry untuk menemui Alfian terlebih dahulu.


[]”Lagipula kenapa pak Abdi dimutasi? Apa alasannya bu?” tanya Renata hanya ingin tahu apa kesalahan Abdi.


[]”Menurut surat itu alasannya adalah karena Abdi jarang mencapai target penyelesaian laporan tepat waktu. Tapi aku curiga bukan itu alasan yang sebenarnya,” ucap Merry.


Renata terdiam, memikirkan bagaimana cara membantu Merry. Ia teringat kalau Reynold bisa meng-hack ponsel seseorang. Seharusnya dia bisa membantu Merry saat ini. Renata melirik jam diatas nakas, sudah hampir jam satu dini hari. Ia bisa saja menelpon Reynold untuk datang malam itu juga.


[]”Ren, maaf ya sudah mengganggu malammu. Makasi banyak sudah mau mendengarkan curhatku. Biar masalah ini aku selesaikan dengan caraku sendiri,” kata Merry lesu.


[]”Bu, kalau ibu percaya sama saya, saya bisa bantu ibu. Saya yakin kalau pak Abdi tidak akan bisa mengganggu ibu lagi setelah ini,” ucap Renata yakin.


*”Kak Rey\, jangan kecewakan aku sekarang. Meskipun harus membayar mahal\, aku harus membantu ibu Merry yang sudah sangat baik padaku\,”* batin Renata.


Merry sangat senang mendengar harapan yang ia terima dari Renata. Setidaknya masih ada waktu sebelum besok pagi. Ia harus memberi jawaban atas surat mutasi yang sudah diterima Abdi.


Setelah Merry menutup telponnya, Renata masih ragu-ragu ingin menelpon Reynold. Ia memikirkan imbalan


apa yang akan ia berikan kalau ponakannya itu minta bayaran. Renata menghela nafas panjang, lalu menekan nomor telpon Reynold. Diluar dugaan Renata, Reynold langsung mengangkat telpon darinya.


[]”Halo, aunty,” sapa Reynold datar.


[]”... Kak, belum tidur. Aku boleh minta tolong?” tanya Renata ragu-ragu.


[]”Bilang saja apa, aunty?” tanya Reynold.


Renata menceritakan apa yang menimpa Merry dan Alfian. Tentang video dan foto-foto mesra keduanya


yang digunakan Abdi untuk mengancam Merry. Reynold hanya diam tidak mengatakan apa-apa, Renata mendengar suara ketikan keyboard di laptop. Ia juga ikut diam, tidak mengatakan apa-apa lagi.


[]”Kak?” panggil Renata setelah sepuluh menit berlalu.


[]”Sudah selesai. Video dan foto-foto itu sudah terhapus. Sampai backupnya juga sudah tidak ada,” kata Reynold kemudian.

__ADS_1


[]”Beneran?! Kak Rey memang yang terbaik. Makasih banyak, kak. Nanti aku traktir ya,” kata Renata sangat senang. Kalau Reynold ada di depannya, mungkin saja Renata sudah khilaf menciumnya.


[]”Cuma traktir? Cium aku,” pinta Reynold tanpa dosa.


Renata langsung mengiyakan tanpa pikir panjang, ketika akhirnya ia sadar, sambungan telponnya sudah terputus. Reynold menganggapnya sebagai janji yang harus ditepati Renata.


Sadar kalau Merry masih menunggu kabar darinya, Renata segera menelpon Merry dan mengabarkan berita baik itu. Merry yang awalnya tidak percaya, mengecek lagi ponselnya dan mendapati video dan fotonya bersama Alfian benar-benar sudah terhapus dari ponselnya. Ketika Merry bertanya apa yang sudah dilakukan Renata, gadis itu tidak bisa menjawabnya. Ia seharusnya bertanya hal yang sama pada Reynold.


Tapi Merry tidak mempersoalkan bagaimana Renata membantunya mengatasi Abdi. Dirinya sudah cukup puas dengan hukuman yang akan diterima staf-nya itu karena sudah berani mengancam Merry.


Sementara itu di kamar Kaori dan Ken, keduanya sedang berbaring terlentang dengan nafas yang tidak beraturan. Ken menarik selimut menutupi tubuh polos Kaori setelah pergulatan mereka tadi. Senyum manis mengembang menghiasi bibir Ken ketika menatap wajah Kaori yang merona.


“Ken, sudah cukup. Aku capek sekali,” pinta Kaori yang sudah merasakan pegal pada tubuhnya.


“Yah, sayang. Baru dua kali. Istirahat sebentar, nanti lanjut lagi ya,” pinta Ken nakal.


Kaori menabok lengan Ken, mencubitinya dengan gemas. Rasa sakit di pinggangnya, menahan gerakan


Kaori. Tubuhnya melemas dan hampir jatuh ke pinggir tempat tidur kalau Ken tidak sigap menangkapnya.


“Aduch, pinggangku...,” rintih Kaori kesakitan.


“Jangan bergerak, sayang. Tunggu aku oleskan obat pereda nyeri dulu ya,” kata Ken sambil menyingkap selimutnya.


“Kenapa ditutupin, sayang? Tubuhku sudah jadi milikmu, cintaku,” ucap Ken manis.


“Ken, pakai celanamu. Apa kamu nggak malu?” tanya Kaori sambil mengintip diantara sela-sela jarinya. Ken


dengan nakalnya menarik tangan Kaori, lalu mengarahkannya ke bagian bawah tubuhnya. Wanita itu menarik tangannya cepat sebelum menabok lengan Ken lagi. “Iih... jangan genit, ach!” kata Kaori malu-malu gemas.


Ken tergelak, tubuhnya berguncang seiring tawanya yang semakin keras. Demi bisa membawa Kaori ke mansion mewahnya dan tinggal bersamanya, Ken rela bekerja keras siang dan malam untuk memperkuat kedudukannya di Wiranata Group. Ia membangun hubungan yang sangat kuat dan tidak ada ampun bagi pengkhinatan. Kini setelah Kaori selalu ada di dekatnya, Ken ingin segera punya anak dari istrinya itu.


Kaori yang merasa malu, ikut tertawa juga pada akhirnya. Mereka berpelukan mesra sambil menikmati


kebersamaan yang romantis. Sampai Kaori teringat akan janji Ken.


“Ken, rahasia apa yang mau kamu katakan?” tanya Kaori tiba-tiba.


“Oh itu. Aku mulai dari mana ya. Well, kamu sudah jadi istriku. Aku sudah janji akan selalu jujur padamu, kan. Tapi kamu harus janji dulu sama aku. Jangan pernah mengatakan rahasia ini pada siapapun. Kamu bisa?” tanya Ken.


“Aku janji, Ken. Sepertinya ini rahasia yang sangat besar ya. Sampai-sampai kamu nutupin juga dari aku,”


ucap Kaori sambil menegakkan kepalanya menatap Ken.


Ken tersenyum, Kaori mungkin tidak akan bisa percaya dengan apa yang akan ia katakan sebentar lagi.

__ADS_1


Dirinya saja tidak percaya dengan apa yang didengarnya dulu. Bahkan dari mulut Endy, pria yang ia kira sebagai papanya, ternyata bukan papa kandungnya. Ken menarik nafas panjang sebelum mulai mengatakan satu kalimat pada Kaori.


“Sayang, Renata itu adalah adik kandungmu,” ucap Ken sambil menangkup kedua pipi Kaori.


Kaori menggeleng sambil mengatakan kalau Renata itu adalah tantenya. Anak bungsu opa Alex dan oma Mia. Ken menggeleng lalu menyambungkan kalau dirinya adalah anak kandung opa Alex dan oma Mia yang sesungguhnya. Kaori memegang kening Ken, mengecek suhu tubuhnya. Ia juga mengendus mulut Ken, apakah berbau alkohol atau tidak. Bagaimana bisa Ken mengatakan hal-hal tidak masuk akal seperti itu.


“Sayang, aku berkata jujur. Kamu adalah anak pertama papa Endy dan mama Kinanti. Renata adalah anak


kedua mereka. Saat aku dan Renata lahir, kami ditukar oleh papa Endy,” jelas Ken.


Kaori masih belum bisa menerima apa yang dikatakan Ken. Otaknya membangun sebuah silsilah keluarga Alex. Ia mengingat semua anak-anak Alex dan Mia, baik anak kandung maupun anak sambung. Lalu Kaori menghitung anak-anak mereka, dengan kata lain sepupunya. Kepalanya berdenyut setelah semuanya lengkap terabsen. Hatinya terasa sakit mendengarkan kenyataan kalau kelahirannya dan kelahiran Renata bisa


dipermainkan dengan mudah.


“Oh, astaga. Gimana kalau sampai aunty Renata tahu? Maksudku Renata sampai tahu,” kata Kaori entah


pada siapa. Tatapannya kosong memikirkan perasaan orang terdekatnya selain Alex.


“Makanya aku masih tetap merahasiakan ini sampai sekarang, sayang. Aku nggak mau Renata sakit hati. Apalagi sampai tahu kalau aku adalah anak kandung opa Alex dan oma Mia. Makanya aku bilang kalau orang tuaku tidak diketahui,” ucap Ken.


“Tapi kenapa mereka melakukannya. Aku bisa mengerti kalau mereka tidak menginginkanku karena aku


buta. Tapi aunty Renata sangat cantik dan sempurna. Apa masalahnya?” lirih Kaori dengan mimik wajah kecewa.


Ken menimbang antara mengatakan alasan yang sebenarnya atau memilih mengatakan tidak tahu. Kaori


meminta Ken jujur saja padanya. Sesakit apapun itu, ia berhak mendengarnya.


“Orang tua kandungmu menginginkan semua yang kumiliki sekarang. Warisan kakek Martin. Syarat yang


diajukan kakek Martin saat itu adalah seorang cucu laki-laki. Kamu bisa bayangkan orang tua seperti apa yang tega menukar anaknya demi harta. Saat aku pertama kali kenal dengan keluarga ini, aku sangat iri. Papa Alex, mama Mia memberikan kasih sayang yang sangat besar sampai-sampai aku juga bisa merasakannya. Selama aku hidup bersama papa Endy dan mama Kinanti, mereka hanya bisa menuntutku. Aku tidak pernah merasakan kasih sayang selayaknya anak,” keluh Ken sambil memeluk Kaori.


“Mungkin aku harus bersyukur karena mereka meninggalkan aku di rumah opa Alex. Meskipun bukan cucu


kandungnya, opa selalu mengutamakan aku melebihi siapapun. Aku sempat nggak terima waktu tahu kalau papa Rio dan mama Gadis bukan orang tua kandungku. Aku takut, Ken. Mereka yang sudah membuangku akan datang mengambilku dari opa Alex,” tutur Kaori sedih.


“Karena itu aku berusaha keras menjadi pewaris kakek Martin, Kaori. Aku tidak mau papa Endy dan mama Kinanti semakin berkuasa. Mereka sudah salah sejak awal karena menukar kedua putrinya yang cantik. Kaori, tolong jangan bilang apa-apa pada Renata. Aku tidak tahu bagaimana reaksinya nanti. Lagipula, aku masih ingin  bermain dengan Reynold,” ucap Ken sambil tersenyum devil.


“Kenapa? Apa salahnya dengan kak Rey?” tanya Kaori lagi.


“Aku cuma nggak suka sama dia. Dan sepertinya, Reynold jatuh cinta pada Renata,” kata Ken lagi.


Kaori menaikkan kedua alisnya, satu fakta lagi yang harus ia dengar dari mulut Ken. Dirinya akhirnya paham kenapa Reynold memperlakukan Renata lebih spesial dari yang lain di keluarga mereka. Kalau Renata bukan anak kandung opa Alex dan mama Mia, hubungan mereka akan sah-sah saja. Tapi untuk mereka bisa bersatu, perasaan Renata harus dikorbankan. Tentu saja Kaori lebih memilih menjaga perasaan Renata untuk saat ini. Ia sudah tahu rasanya sakit hati ketika mengetahui orang tua yang sudah mengandung dan melahirkannya, tega membuang dirinya demi harta.


Kaori mengelus pipi Ken, menatap sayang pada suaminya yang sangat baik. Ia masih tidak habis pikir dengan apa yang baru saja ia ketahui, tapi Kaori meyakini satu hal. Kaori menikah dengan pria yang tepat. Selain sangat mencintai dirinya dan mau menerima keadaannya, Ken juga sangat perhatian pada keluarga besar mereka. Ia tidak sejahat Endy dan Kinanti. Ken tersenyum manis saat Kaori membisikkan kata-kata cinta padanya. Mereka menghabiskan malam-malam bersama setelah berpisah begitu lama.

__ADS_1


__ADS_2