
Baru sampai di ruang tengah, langkah Mia terhenti. Ia menggenggam tangan neneknya dengan erat, jantungnya berdetak sangat kencang. Mia benar-benar tidak mampu lagi melangkah ke ruang tamu, ia melepaskan tangan neneknya dan berlari kembali ke kamarnya.
Mia belum siap, keringat dingin membasahi pelipis dan tangannya. Hatinya baru saja hancur, dan dia tidak sanggup menghadapi kehancuran lagi.
Mia menahan air matanya agar tidak jatuh, dia perlu waktu sebentar lagi. Sebentar saja untuk mengumpulkan sedikit keberaniannya. Mamanya masuk ke kamarnya,
Mama Mia : “Mia, keluar sekarang!”
Mia : “Mah, bentar aja. Mia belum siap, 10 menit aja. Tamunya bisa makan dulu, kan.”
Mama Mia : “Kamu yakin cuma 10 menit? Mama lihat kamu sudah siap.”
Mia : “Mah, Mia gak mau dijodohin seperti ini.”
Mama Mia : “Apa kamu mau buat mama malu sekarang?!”
Mia : “Kalau mama gak setuju sama mas Alex, Mia gak pa-pa, mah. Tapi jangan paksa Mia dengan orang lain.”
Mama Mia : “Kamu mau keluar atau gak?”
Mia : “Nanti Mia keluar…”
Mama Mia keluar dari kamar dan Mia ambruk di lantai kamarnya. Ia menangis sambil memeluk lututnya yang lemas. Tubuhnya bergetar hebat, menggigil seiring tarikan nafasnya yang terasa berat.
Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya, suara itu milik pria yang dicintainya, tapi rasanya tidak mungkin,
Mia : “Aku benar-benar sudah gila, kenapa ada suara mas Alex disini.”
Alex : “Mia…”
Mia mengangkat kepalanya yang terasa sedikit pening, matanya buram karena air mata, menyamarkan sosok yang berdiri di pintu kamarnya. Mia menghapus air matanya dan melihat Alex berdiri disana, pria itu berjalan mendekatinya.
Alex : “Mia, sayang.”
Mia : “Kalau ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku.”
Alex : “Peluk aku, sayang.”
Mia merentangkan tangannya dan memeluk Alex erat-erat, menjepit tubuh Alex dengan melingkarkan kakinya ke pinggang Alex. Seolah mereka akan terpisah kalau ia tidak melakukan itu. Alex membenamkan wajahnya ke leher Mia, menghembuskan nafas panasnya di leher Mia.
Mia : “Mas.. ini benar kamu kan?”
Alex : “Iya, sayangku. Aku disini untuk melamarmu.”
Mia : “Mas gak boong kan? Mama mau jodohin aku, mas.”
Alex : “Dijodohin sama aku, sayang. Kita akan segera bersama.”
Mia : “Mas, aku cinta banget sama kamu.”
Alex : “Aku juga, sayang.”
Mia mengendurkan pelukannya, ia menatap Alex lagi, memastikan kalau dia tidak bermimpi. Cup! Mia melumat bibir Alex, mengingat rasa yang muncul ketika mencium Alex sebelumnya. Rasanya sama, dia memang Alex dan Mia tidak bermimpi.
Mia tidak melepaskan ciumannya dari Alex yang sudah membalasnya, mereka saling berpagutan mesra, meraba seluruh bagian tubuh pasangannya yang bisa mereka raih.
Mama Mia : “Eeehhheemmm…!
Keduanya menoleh ke arah pintu kamar Mia yang sudah terbuka lebar, tampak Mama Mia, Rara yang matanya ditutup neneknya, dan si kembar yang melongok dari celah yang ada.
Mama Mia : “Kalian bisa tahan diri sebentar, acaranya sudah mau dimulai.”
Mia menatap Alex dan melihat posisi mereka yang sangat intim, dengan cepat Mia melepaskan diri dari Alex dan
membenahi penampilannya. Alex tersenyum menatap Mia yang meliriknya, ia menjilat bibirnya yang terasa manis karena ciuman Mia dan berhasil membuat wajah Mia merah padam.
Alex berjalan keluar dari kamar Mia, menyeret si kembar kembali ke ruang tamu dan duduk disana. Sementara Rara masuk ke kamar Mia dan membantunya memperbaiki penampilannya yang sedikit berantakan.
Kedua keluarga sudah duduk berhadapan, tinggal menunggu Mia yang tampak berjalan mendekat bersama Rara, terlihat sangat cantik dan manis.
Mama Mia : “Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya kalau acara hari ini untuk perkenalan dan lamaran. Meski ada insiden kecil tadi, saya harap tidak mengurangi makna dari acara ini.”
Mama Mia menatap Mia yang menunduk dengan wajah memerah, malu kepergok mamanya tadi.
Mama Mia : “Alex, silakan mendekat. Mia juga.”
Kedua insan yang saling mencintai itu kini duduk berhadapan, Alex memberikan satu set perhiasan untuk Mia sebagai tanda lamaran. Ia memasangkan gelang, cincin, giwang, dan kalung ke tubuh Mia, saat ia memasangkan kalung di leher Mia, Alex berbisik,
Alex : “Bersiaplah saat malam pertama, sayang…
Mia : “Maass…
Mia menatap sekeliling, semua orang sedang menatapnya sambil senyum-senyum. Mia jadi malu sendiri karena ucapannya didengar semua orang.
Setelah acara resmi, semua orang sedang menikmati hidangan yang sudah disiapkan. Mia menemani Rara dan si kembar makan, ia sibuk mengelap bibir Rio yang belepotan saus ayam bakar. Rio sengaja melakukannya karena ingin perhatian dari Mia.
Riri : “Rio, kamu makan kayak anak kecil. Malu-maluin.”
Rio : “Biarin, wee…”
__ADS_1
Mia : “Kalian mau tambah lagi?”
Rio & Riri : “Iya, mah!”
Riri : “Dikit aja…”
Mia : “Rara juga mau tambah?”
Rara : “Gak ach, mah. Ntar Rara gendut.”
Mia : “Hais, uda mulai puber ya. Jaga pola makan.”
Rara tersenyum malu, Mia beranjak mengambilkan makanan lagi untuk si kembar. Mama Mia yang duduk bersama Alex dan nenek, memperhatikan semua interaksi antara Mia dan ketiga calon anak tirinya.
Mama Mia : “Sepertinya mereka sangat akrab ya.”
Nenek : “Sejak Rara mulai berteman dengan Mia, ia jadi lebih ceria dan tegar. Rara hanya sebentar saja merasakan
kasih sayang seorang ibu. Sementara si kembar bahkan belum pernah merasakannya.”
Mama Mia : “Kenapa Alex tidak menikah lagi?”
Alex : “Alex waktu itu merasa anak-anak masih baik-baik saja. Lagipula Alex bukan tipe orang yang mudah jatuh
cinta, mb. Tapi waktu pertama ketemu Mia, Alex baru bisa merasakan jatuh cinta lagi.”
Mama Mia mengangguk, usianya dan Alex terpaut 5 tahun, jadi Alex memanggilnya mbak. Jadi bagaimana semuanya ini bisa terjadi?
Flash back…
Setelah Mia masuk ke kamarnya, mama Mia kembali ke ruang tamu dan duduk menghadap Alex. Kakek yang ingin mengatakan sesuatu, ditahan olehnya,
Mama Mia : “Apa tujuan Alex kesini?”
Alex : “Saya mau melamar Mia, mb.”
Mama Mia : “Apa Alex sadar kalau usia kalian terlalu jauh?”
Alex : “Saya belum setua itu, mb. Masih kuat.”
Mama Mia : “Bagaimana dengan
anak-anakmu? Apa mereka tahu?”
Alex : “Mereka setuju kalau kami
menikah, mb.”
pusing, sebenarnya ia tidak ingin Mia menikah dengan duda, apalagi sudah
beranak tiga. Tapi ia tahu betul kalau Mia sudah jatuh cinta pada Alex. Dan
sepertinya pria di depannya ini juga sangat mencintai putrinya.
Mama Mia : “Cepat atau lambat pasti
akan jadi seperti ini.”
Alex : “Jadi mb setuju?”
Mama Mia : “Dengan satu syarat, malam
ini juga datanglah bersama orang tua dan anak-anakmu. Kita makan malam bersama.
Saya harus dengar sendiri pendapat keluargamu. Tidak usah terlalu formal, ini
hanya undangan makan malam.”
Alex : “Baik, mb. Saya akan datang
bersama ibu dan anak-anak saya.”
Mama Mia : “Silakan pulang. Tunggu apa
lagi?”
Alex : “Boleh saya pamitan sama Mia?”
Mama Mia : “Gak boleh. Saya harus
menghukum anak itu karena gak cerita soal hubungan kalian.”
Alex : “Tolong jangan membuatnya
sedih.”
Mama Mia : “Tunggu sebentar, sudah
sejauh mana hubungan kalian? Jangan bilang kalau Mia sudah hamil… Apa karena
__ADS_1
itu alasan kamu melamar Mia secepat ini?”
Alex : “Justru saya mau melamar Mia
untuk menghalalkan hubungan kami, jadi Mia bisa segera hamil.”
Mama Mia : “Tapi Mia masih kuliah,
bukankah Rara juga masih kuliah.”
Alex : “Setahu saya, Mia sedang
praktek kerja dan proses menyusun skirpsi. Apa dia gak cerita sama mb?”
Mama Mia : “Astaga, anak ini. Kenapa
begitu banyak kejutan hari ini?”
Alex : “Jadi setelah lamaran diterima,
bisa kan saya menikahi Mia secepatnya. Satu bulan lagi mungkin?”
Mama Mia : “Saya tidak setuju, Mia
harus lulus kuliah dulu. Baru kalian boleh menikah. Lagi pula saya harus
pastikan Mia mau menikah kapan.”
Alex : “Saya paham, mb. Tapi jangan
terlalu lama ya.”
Mama Mia : “Apa kamu segitu kebelet
mau kawin?”
Alex : “…” Alex menggaruk belakang
kepalanya yang tidak gatal, bingung harus menjawab jujur atau bohong.
Mama Mia : “Sudahlah, cepat jemput
keluargamu. Saya juga harus bersiap-siap.”
Alex : “Saya akan datang jam 8,
permisi mb.”
Mama Mia : “Alex! Jangan hubungi Mia
dulu, jangan katakan apa-apa. Katakan juga pada ibu dan anak-anakmu. Ini akan
jadi kejutan untuknya.”
Alex : “Baik, mb.”
Alex pulang dan mengatakan pada
keluarganya untuk bersiap-siap ke rumah Mia. Rara dan si kembar sangat senang
mendengarnya. Mereka segera berangkat ke rumah Mia dan disambut mama Mia disana.
Alex hanya diam ketika anak-anaknya
menjawab pertanyaan mama Mia tentang perasaan mereka. Rara sampai menangis
karena ingat bagaimana Mia selalu membantunya melewati sekolah dan kuliah yang
berat.
Anak-anak Alex memohon pada mama Mia
untuk mengijinkan Mia menikah dengan Alex dan berjanji akan selalu menjaga Mia
dengan baik dan membuatnya bahagia. Mama Mia merasa lebih lega mendengar kalau
Mia akan disayangi di keluarga Alex.
Flash back end…
-------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel
author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’,
‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------