
Keesokan harinya, Mia menjalani kuliah seperti biasa. Ia mulai berusaha melupakan kesedihannya dengan memfokuskan diri pada kuliahnya. Ia bahkan mendekati satu persatu dosennya untuk mengajukan percepatan kuliah hingga ia bisa segera lulus.
Beruntung ada satu dosennya yang menyarankan Mia mengambil mata kuliah lebih banyak per semesternya agar bisa segera menyusun skripsi dan lulus. Mia juga menghindari Rara ketika melihatnya ada di kampus, bersikap seolah-olah memang itu suatu hal yang biasa dan Mia tidak melihat Rara.
Tapi hal terberat yang Mia lakukan adalah mem-block nomor Alex dan semua yang bisa memungkinkan Alex
menghubunginya. Mia bahkan selalu menyelinap keluar dari kampus sembunyi-sembunyi dan hanya keluar rumah dengan sedikit penyamaran. Dia juga tidak berani mengangkat telpon dari nomor tidak dikenal.
Terlalu berlebihan memang kalau hanya untuk menghindari Alex, hanya saja Mia merasa Alex selalu tahu apapun
kegiatannya yang membuat mereka selalu bertemu secara tidak sengaja dan hal itu membuat Mia semakin merasa bersalah pada Rara.
Sama seperti hari itu, kira-kira dua minggu setelah Rara memergoki mereka kencan di bioskop. Mia melihat mobil Alex berhenti di depan rumahnya, Alex keluar dari sana dan pandangan mereka bertemu. Mia berdiri diam menatap Alex, ketika Alex berlari ke arahnya, dengan cepat Mia berbalik dan lari memasuki gerbang sekolahnya yang dulu.
Mia bersembunyi dari kejaran Alex yang terlihat kebingungan dari tempat ia sembunyi. Air matanya menetes karena sangat merindukan pria itu.
------
Tiga bulan berlalu…
Mia sedang duduk di perpustakaan menyelesaikan tugas kuliahnya yang dua kali lipat lebih banyak dari biasanya
karena dia mulai mengambil lebih banyak mata kuliah. Ia terlalu sibuk mengetik dan browsing, mengejar waktu perpustakaan tutup jam 6 sore karena hari Sabtu.
Rara yang sejak Mia masuk ke perpustakaan sudah ada disana untuk menyelesaikan tugasnya juga, melirik Mia
sesekali. Sebenarnya ia ingin meminta bantuan Mia menyelesaikan tugasnya, karena memang ada beberapa tugas yang lumayan berat karena dosennya killer.
Akhirnya Rara tidak tahan untuk mendekati Mia juga,
Rara : “Kak Mia… Aku boleh gabung?”
Mia : “Ra… iya, duduk Ra.”
Rara : “Kak, aku boleh minta tolong tugas ini?”
Mia : “Iya, mana?”
Mia membantu Rara mengerjakan tugasnya, ia sangat sabar melakukannya, bersikap biasa saja seperti dulu. Rara
bisa merasakan tubuh Mia sedikit gemetar saat lengan mereka tidak sengaja bersentuhan. Tapi ia tidak melihat perubahan ekspresi pada wajah Mia ketika ia menatapnya. Senyum manis Mia masih seperti dulu, selalu menenangkannya.
Setelah tugas Rara selesai, petugas perpustakaan mengumumkan kalau perpustakaan akan segera tutup. Mia dan Rara mengemasi barang-barang mereka dan Mia menghampiri petugas perpustakaan, ia perlu meminjam beberapa buku.
Mia : “Ra, duluan aja. Aku masih minjem buku.”
Rara : “Iya, kak. Mmm… kak, makasi ya.”
__ADS_1
Mia : “Iya, Ra. Ati-ati pulangnya.”
Rara ragu-ragu keluar dari perpustakaan, ia ingin menunggu Mia agar bisa pulang bersama, tapi sepertinya Mia masih sangat sibuk dengan bukunya. Akhirnya Rara berjalan keluar dari perpustakaan dan menemukan papanya menunggunya di parkiran, memainkan ponselnya.
Alex : “Sudah selesai tugasnya, Ra?”
Rara : “Sudah, pah. Tadi dibantu sama kak Mia.”
Gerakan tangan Alex terhenti, hatinya bergemuruh mendengar nama Mia lagi. Tangannya mengepal *** kunci mobilnya, ia marah karena Mia memblokir semua akses untuk menghubunginya. Bahkan sampai sembunyi setiap mereka bertemu secara tidak sengaja.
Alex : “Kamu gak tahu, aku hampir gila karena merindukanmu… Mia…” kata Alex dalam hati.
Ia membuka pintu mobil dan duduk di belakang kemudi, menunggu Rara masuk juga. Tapi mata Rara menangkap sosok Mia yang berjalan terburu-buru ke parkiran motor. Ia hampir memakai semua atribut sebelum mengendarai motor dan menyadari kalau mobil Alex terparkir tidak jauh dari parkiran motor.
Deg! Mia bisa melihat dengan jelas saat Alex keluar lagi dari mobil dan berdiri disana. Tampak lebih kurus dan
lelah, sepertinya tidak ada yang mengurus dirinya. Alex juga melihat hal yang sama pada Mia. Tapi kali ini Alex sudah tidak mengejar Mia lagi, ia berbalik masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobil.
Rara yang melihat semua kejadian itu hanya diam, ia duduk di samping Alex yang langsung menjalankan mobilnya keluar dari kampus. Mia memegangi stang motornya, mencoba menarik nafas memenuhi paru-parunya yang kosong seolah-olah udara disekitarnya menghilang saat melihat Alex.
Ia mengambil botol air minum dan meminumnya dengan cepat, membuatnya tersedak dan terbatuk-batuk. Air matanya sudah menetes membasahi wajahnya dan ia tidak mau dilihat orang dalam kondisi hancur. Masih terbatuk-batuk, Mia mulai menjalankan motornya keluar dari kampus.
-------
Sementara itu Alex sudah memarkir mobilnya di halaman rumah, Rara menatap papanya yang melamun menatap kosong ke kaca depan.
Alex : “Eh, iya.”
Rara memperhatikan papanya yang membuka pintu mobil dan hendak turun tapi tertahan sabuk pengaman. Alex membuka sabuk pengaman itu dengan kasar dan membanting pintu menutup. Ia berjalan cepat masuk ke dalam rumah, meninggalkan Rara yang sedih melihat papanya.
Rara turun mengambil tasnya dan tas papanya, kemudian ikut masuk ke dalam rumah. Suasana di dalam rumah juga tidak sama lagi, seolah kembali lagi ke masa-masa ketika Mia belum datang ke rumah itu. Si kembar sesore itu hanya duduk di ruang keluarga menonton kartun, sementara papanya mengurung diri di dalam kamar dan keluar hanya untuk makan malam.
Nenek menemani mb Minah di dapur, mereka akan berkumpul untuk makan malam dan kembali ke kamar masing-masing setelahnya.
Rara naik ke lantai 2, ia menutup pintu kamarnya dan mulai menangis. Ia lelah sekali karena kuliah yang padat
tugas dan sebentar lagi ujian. Ia benar-benar takut akan gagal. Dia tidak mungkin curhat pada papanya karena Alex selalu terlihat kecapean sepulang dari kerja. Apalagi untuk curhat dengan Rio dan Riri, terlebih sama neneknya.
Disaat seperti ini Rara sangat membutuhkan Mia, akhirnya ia mengambil ponselnya dan menelpon Mia. Beruntung
Mia tidak mem-block nomor HP-nya.
Mia : “Halo, Ra?”
Rara : “Halo, kak? Kakak sibuk?”
Mia : “Kamu nangis, Ra? Kenapa? Aku v-call ya.”
__ADS_1
Mia mematikan sambungan dan kembali menelpon Rara, wajah Rara yang dipenuhi air mata terlihat jelas.
Mia : “Kamu kenapa, sayang? Capek? Banyak tugas?”
Rara : “Iyaa…hiks… hiks… Rara capek… hiks…”
Mia : “Cep… cep… sayang jangan nangis dong. Aku bantu buat tugasmu ya.”
Rara : “Rara mau peluk kakak. Rara mau kakak sering-sering temenin Rara kayak dulu. Hiks.. hiks…”
Mia : “…” hanya tersenyum menatap ke layar ponselnya.
Rara : “Rara sudah tahu hubungan kakak sama papa… hiks…”
Mia : “Maaf ya, Ra. Aku sangat tidak tahu diri, tapi aku akui kalau aku jatuh cinta sama papamu, Ra.”
Rara : “…”
Mia : “Tapi kamu tenang aja, aku tidak akan menemui papamu lagi. Kita masih bisa berteman kan? Seperti dulu.”
Rara : “Tapi gak akan sama, kalau kakak gak pernah datang ke rumah Rara.”
Mia : “Kita bisa ketemu di kampus, jalan ke mall, kamu juga bisa ke rumahku. Gak harus aku ke rumahmu kan?”
Rara : “Trus si kembar gimana? Kakak gak kangen mereka?”
Mia : “Kamu bisa ajak mereka juga, kan. Tapi aku gak bisa ke rumah kamu lagi, Ra.”
Rara : “Kakak gak mau tahu kondisi papa sekarang?”
Mia : “… Oh, ya Ra. Coba kirim tugasmu dulu, nanti aku bantu jawab. Aku mau mandi dulu, kamu juga mandi dong. Kucel gitu sama bau acem…” Mia mengalihkan pembicaraan dengan cepat.
Rara : “Kakak…!! Ih, Rara gak bau acem…”
Mereka berdua tertawa bahagia, bercanda seperti biasanya. Perasaan Rara sudah lebih baik sekarang, ia mengirimkan tugasnya pada Mia dan berjalan ke kamar mandi.
Diujung tangga, nenek tersenyum melihat senyuman Rara yang masuk ke kamar mandi. Tadi nenek berniat melihat keadaan cucunya sambil memanggil untuk makan malam dan dia mendengarkan semua percakapan Rara dan Mia. Nenek kembali berharap kalau Mia bisa jadi menantunya dan ibu bagi Rara dan si kembar.
-------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------
__ADS_1