Duren Manis

Duren Manis
Ketegaran Rara


__ADS_3

Rara dan mertuanya menunggu Arnold dipindahkan ke dalam kamar rawat inap. Mereka tampak bercakap-cakap mengusir kebosanan.


Rara : "Mah, melahirkan itu sakit ya?"


Mama Arnold : "Tergantung, Ra. Kalau normal sakitnya sebentar. Kalau cecar sampai bertahun-tahun masih terasa sakitnya."


Rara : "Dokter bilang kemungkinan Rara bisa melahirkan normal. Tapi kok takut sakit ya, ma."


Mama Arnold : "Tenang aja. Kamu pasti bisa lewatin. Dan saat bayi ini sudah ada ditanganmu, rasa sakit itu akan hilang."


Rara : "Makasi ya, mah."


Tring! Tring! Rara mengambil ponselnya yang berdering. Jodi menelponnya,


Jodi : "Halo, Ra?"


Rara : "Ya, kak? Mas Arnold sudah dipindahkan ke kamar."


Jodi : "Bagus. Gimana kakinya?"


Rara : "Mas Arnold lumpuh, kak. Dokter bilang terapi akan segera dilakukan."


Jodi : "Terapi untuk apa?"


Rara : "Mas Arnold kan habis operasi, jadi harus terapi pasca operasi apalagi dia sempat koma juga kan."


Jodi : "Ok. Apa kau sendirian?"


Rara : "Mertuaku ada disini, kak."


Jodi : "Dengar, aku masih ada urusan. Kau tau... dengan Katty..."


Rara : "Apa ada sesuatu yang spesial?"


Jodi : "Ya, aku berusaha mengatakan isi hatiku. Dan sepertinya aku belum bisa."


Rara : "Cukup katakan kau mencintainya. Ayolah, kak."


Jodi : "Aku gak berani. Gimana kalau aku ditolak?"


Rara : "Astaga! Apa perlu aku yang bilang sama kak Katty?"


Jodi : "Itu terlihat tidak serius. Akan kucoba lagi... Tapi..."


Rara : "Beneran nich, aku telpon kak Katty sekarang."


Jodi : "Jangan..! Dia lagi tidur."


Rara : "Jam segini masih tidur... Kak... kalian habis..."


Jodi : "Aku tidak bisa menahannya lagi, ok. Aku janji akan menikahinya tapi dia menolak menikah denganku dan alasannya banyak sekali."


Rara : "Sabar sedikit, kak. Mungkin ada sesuatu yang membuat kak Katty begitu."


Jodi : "Apa dong? Aku frustasi nich."


Rara : "Buat dia hamil, kak. Dia gak akan menolak lagi."


Jodi : "Aku berusaha, okey... Dia bangun... Aku telpon lagi nanti."


Rara meletakkan ponselnya kembali ke tas.

__ADS_1


Mama Arnold : "Itu Jodi?"


Rara : "Iya, mah. Biasa nanyain mas Arnold."


Mama Arnold : "Arnold apa Katty?"


Rara : "Sekalian curhat, mah."


Mama Arnold : "Dia baik sekali ya. Mau jagain Arnold, jagain kamu."


Rara : "Iya, mah. Sampai jagain mama Mia juga. Kak Jodi bantuin mama Mia bawain darah waktu lahiran."


Mama Arnold : "Mama kamu uda lahiran? Kok gak ngasi tau mama sama papa?"


Rara nyengir lebar, ia benar-benar lupa memberi tahu mertuanya kalau Mia udah melahirkan.


Rara : "Maaf, mah. Rara beneran lupa dech."


Mama Arnold : "Tapi mamamu baik-baik aja kan?"


Rara : "Sempat gak sadar sich, mah. Dan masuk ke ruang ICU. Tapi sekarang sudah sadar. Coba kita v-call aja ya."


Rara baru mau mengambil ponselnya ketika pintu kamar terbuka dan Arnold dibawa masuk memakai kursi roda.


Rara : "Mas..."


Arnold tersenyum manis pada Rara. Dua perawat mengangkat Arnold ke atas bed rumah sakit. Ronald juga berjalan masuk membawa beberapa kertas dan barang-barang Arnold.


Perawat : "Kursi rodanya saya taruh disini ya, pak. Kalau ada apa-apa bisa panggil saya di ruang suster."


Arnold : "Iya, makasih."


Kedua perawat itu keluar, Rara duduk di samping Arnold.


Arnold : "Udah, Ra. Masih kenyang. Kamu laper?"


Rara : "Baru makan sama papa, mama."


Arnold : "Jodi mana?"


Rara : "Ntar juga dateng. Masih sibuk katanya."


Arnold : "Sayang, kamu gak pa-pa liat aku kayak gini?"


Rara : "Kenapa? Aku kan uda tau resikonya. Mas yang penting udah baik-baik aja sekarang."


Arnold : "Tapi aku lumpuh, Ra."


Rara : "Udah, jangan mikir apa-apa lagi, mas. Mas harus cepat pulih dan pulang kerumah ya."


Orang tua Arnold menatap keduanya dengan senyum mengembang. Mereka sangat beruntung memiliki menantu seperti Rara yang tulus menerima kondisi Arnold.


🌼🌼🌼🌼🌼


Elo tampak berjalan cepat memasuki kampus tempat ia bekerja. Ia sedikit terlambat datang karena kemacetan parah akibat kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan.


Sore itu ada rapat dosen yang tidak bisa dihadiri dosen Husin dan Elo harus menghadirinya untuk mewakili dosen senior itu.


Ruang meeting sudah penuh dengan dosen ketika Elo masuk ke dalamnya. Ia duduk di kursi kosong dan mulai mendengarkan agenda meeting.


Meeting kali ini membahas mengenai mata kuliah semester depan. Elo mencatat setiap detail perintah yang disampaikan dekan agar diperhatikan pada dosen.

__ADS_1


Ada kesempatan untuk mahasiswa penerima beasiswa untuk melakukan percepatan kuliah agar bisa menyelesaikan perkuliahannya dengan cepat maksimal 3 tahun.


Elo teringat pada Riri, ia juga ingin Riri segera lulus kuliah agar bisa segera melamarnya. Elo mencatat detail persyaratan yang diperlukan untuk percepatan kuliah.


Usai meeting dosen, Elo berbincang sejenak dengan dosen lainnya. Mereka mengetahui kalau Elo cucu dari pemilik kampus. Otomatis rasa hormat dan sopan santun langsung ditunjukkan dosen lainnya pada Elo.


Inilah yang tidak disukai Elo, ia jadi kesulitan menemukan teman yang tulus. Sampai Elo merasakan ponselnya bergetar, ia memilih mengakhiri pembicaraan dan keluar dari ruang meeting.


Elo melihat Riri menelponnya,


Riri : "Halo, kak. Kakak sibuk gak?"


Elo : "Baru aja selesai meeting dosen. Kenapa, Ri?"


Riri : "Kak, mama uda melahirkan. Aku lagi di rumah sakit."


Elo : "Oh ya? Wah, aku harus kesana nich. Mau liat baby twin."


Riri : "Kakak mau kesini?"


Elo : "Ya, Ri. Rumah sakit mana? Share loc ya."


Riri : "Iya, kak. Mmm..."


Elo : "Ada lagi? Sayang..."


Wajah Riri memerah mendengar bisikan mesra Elo.


Riri : "Kak, jangan panggil gitu, malu."


Elo celingukan ke sekitarnya. Gak ada orang di dekatnya.


Elo : "Disini gak ada orang. Kita bisa jalan-jalan gak? Nanti aku anter balik ke asrama."


Riri : "Mau kemana?"


Elo : "Aku punya buku baru. Kita bisa baca reviewnya sambil dinner. Aku yang masak."


Riri : "Mau, kak. Tapi aku ijin dulu ya."


Elo : "Tunggu ya. Aku otw."


Elo menutup telponnya. Dengan cepat ia berjalan ke parkiran dan menghampiri mobilnya. Saat itu tanpa sengaja, Elo menabrak seorang gadis yang lewat.


Spontan Elo menarik tangan gadis itu hingga hampir memeluknya.


Elo : "Maaf, aku gak sengaja."


Gadis : "Gak pa-pa, pak. Saya juga gak liat bapak tadi."


Mereka berpisah jalan dan Elo masuk ke mobilnya tanpa tahu seseorang sudah memotret kejadian itu dari kejauhan.


🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.

__ADS_1


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2