Duren Manis

Duren Manis
Suami siaga


__ADS_3

Mia tertawa cekikikan melihat balasan dari Stella setelah ia mengirimkan foto-foto mesranya dengan Alex. Ia membayangkan bulu mata palsu Stella lepas semua saat ia mengetik balasan itu.


Alex tersenyum melihat Mia tertawa, mereka sedang duduk di sofa setelah Alex selesai meeting. Mia menahannya untuk tetap disampingnya dan gak boleh kemana-mana. Padahal pekerjaannya masih menumpuk diatas meja.


Alex memikirkan sesuatu untuk membuat Mia mau melepaskannya. Tangan Alex mulai gerilya ke balik tank top Mia yang tidak sadar kalau kemejanya sudah dilepaskan Alex.


Mia melihat apa yang dilakukan Alex di bagian depan tubuhnya. Saat Mia mendorong bahu Alex agar menjauhinya, Alex tidak mau pergi. Ia harus memastikan dulu kalau Mia tidak akan menahannya bekerja hari ini.


Pakaian Mia hampir lepas semua saat Alex menyerangnya di sofa ruang kerja. Alex mencumbu seluruh jengkal tubuh Mia sampai istrinya menggigil nikmat.


Tangan Alex tiada henti mencari titik sensitif Mia dan meremasnya. Mia menggelinjang kegelian,


Mia : "Maass... geli... Nanti ada yang masuk."


Alex : "Gak ada yang masuk. Aku mau masukin kamu..."


Alex tidak bisa menahan birahinya saat melihat tubuh Mia. Tadinya ia hanya ingin menggoda Mia agar mau melepaskannya tapi ia jadi kebablasan.


Mia pasrah saat Alex menyatukan tubuh mereka diatas sofa. Tubuh Mia berguncang seiring pergerakan Alex dibawahnya. Tangannya meremas rambut Alex dan pelepasan keduanya terjadi bersamaan.


Alex : "Ugh... Mantap, sayang."


Mia : "Maass... Kenapa harus main sich? Belepotan nich..."


Alex : "Loh, aku kan harus jadi suami siaga."


Mia : "Maksudnya?!"


Alex : "Siap antar jaga. Selalu siap mengantar dan menjagamu. Termasuk menjaga anak kita."


Mia : "Itu kalau mau melahirkan, mas. Bukan dengan cara barusan."


Alex nyengir karena modusnya ketahuan Mia, pikirannya lebih rileks setelah pergumulannya dengan Mia. Mia melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan Alex mengikutinya. Mereka sama-sama membersihkan diri dan kembali berpakaian.


Mia merasa sedikit lelah, ia memejamkan matanya dan tertidur di sofa. Alex akhirnya bebas kembali bekerja, ia mengebut menyelesaikan pekerjaannya sebelum jam makan siang sebentar lagi.


------


Romi dan Jelita baru diijinkan keluar dari kamar hotel tempat mereka menginap setelah pernikahan. Setelah tiga hari tiga malam bersama, Romi baru berhasil membobol Jelita semalam.


Di malam pernikahan mereka, Romi sudah siap tempur. Mereka hampir melakukannya saat Jelita mulai menangis kesakitan dan merasa tidak nyaman. Padahal Romi merasa tidak melakukannya dengan memaksa.


Romi menarik selimut menutupi tubuh mereka dan memeluk Jelita, ia menekan pelipisnya yang sakit karena hasrat yang belum terpuaskan. Tubuh Jelita masih gemetar ketakutan,


Romi : "Tenang, sayang. Aku gak akan maksa kalau kamu belum siap. Tidur ya."


Jelita : "Ma... Maaf, sayang..."


Romi : "Ssttt... Aku gak pa-pa. Masih sakit?"


Jelita : "Sakit dikit."

__ADS_1


Romi : "Kamu luka? Aku lihat ya."


Jelita : "Jangan...!!"


Romi : "Aku janji cuma liat aja."


Wajah Jelita memerah saat Romi menyibak selimut yang menutupi tubuh polosnya. Setelah mengecek bagian sensitif Jelita dengan lidahnya, Romi kembali menutup selimut Jelita.


Ia melihat Jelita ngos-ngosan dengan wajah merah padam,


Jelita : "A... Apa yang ka... kamu laku UIkan?"


Romi : "Mengobati lukamu, enak gak?"


Jelita mengangguk perlahan, ia merasa sangat malu saat kenikmatan melanda tubuhnya. Ia baru pertama kali merasakannya dan Romi melakukannya dengan baik.


Romi : "Mau lagi?"


Jelita menyembunyikan wajahnya ke dada Romi,


Romi : "Tidurlah."


Mereka tertidur lelap sampai pagi menjelang.


Hari kedua menginap, Jelita merasa bosan berdiam di kamar saja. Papanya benar-benar tidak mau dibantah. Mereka dikurung di dalam kamar sepanjang hari.


Meski makanan tetap diantar, Jelita juga ingin keluar dari kamar dan jalan-jalan.


Romi : "Kita bisa keluar setelah melakukannya."


Romi : "Mungkin kita bisa mencoba sesuatu..."


Jelita : "Contohnya?"


Romi : "Foreplay yang panjang dan panas."


Jelita : Apa lagi itu?"


Romi : "Kau pernah melihatnya di rumahku kan?"


Wajah Jelita memerah mengingat adegan panas yang pernah ia tonton di rumah Romi. Dan ia tidak yakin kalau mereka harus melakukan apa yang ada pada film itu.


Romi : "Atau kita bisa minum sesuai yang memabukkan. Kamu pernah minum miras?"


Jelita : "Aku pernah coba waktu pesta papa dan aku gak bangun sampai dua hari."


Romi : "Mungkin dosisnya terlalu kuat. Gimana kalau kita coba aja?"


Jelita tidak punya pilihan lain selain mempercayai Romi. Setidaknya ia bisa mempercayakan tubuhnya pada suaminya itu.


Dan mulailah ide gila Romi, mereka mencoba foreplay yang panjang dan panas dulu. Jelita ngos-ngosan setelah Romi menciuminya dengan brutal. Ia belum tahu cara melakukannya, jadi cuma bisa pasrah dibawah tekanan Romi.

__ADS_1


Tapi saat penyatuan mereka hampir terjadi, Jelita menjerit melihat sesuatu dibawah pusar Romi yang sudah menegang sempurna. Ia ngeri membayangkan sesuatu itu akan memasuki tubuhnya.


Jelita : "Aku gak mau...!! Udah...!"


Lagi-lagi Romi harus menelan hasratnya yang sudah memuncak. Jelita yang melihat ekspresi kecewa di wajah Romi jadi tidak tega.


Jelita : "Maaf..."


Romi berbaring di samping Jelita, membelakangi tubuh Jelita dan memejamkan matanya. Ia hanya ingin tidur sebentar agar sakit kepalanya hilang. Jelita hanya memandangi tubuh Romi dengan perasaan yang sulit diartikan.


Hari ketiga, Romi sudah tidak ingin mencoba apa-apa lagi saat seorang room service mengantarkan sebotol minuman ke kamar mereka.


Jelita menerima minuman itu dan mulai meminumnya tanpa bicara apa-apa. Ia sudah browsing cara minum yang aman untuk cukup membuatnya sedikit mabuk.


Romi yang sejak tadi hanya duduk di atas ranjang mengecek e-mail masuk, melongo melihat Jelita minum sendirian. Ia berjalan cepat menyambar gelas ketiga Jelita dan meletakkannya di meja.


Romi : "Kamu ngapain sich?!"


Jelita : "Aku mau minum... Ach, panas sekali."


Jelita menarik dress yang dipakainya hingga terbuka lebar. Ia membungkukkan badannya hendak mengambil gelas minuman di meja, tapi Romi sudah menarik tangannya.


Jelita : "Sayang, aku kesal... Kamu nyebelin... Jahat...!!"


Romi membopong Jelita ke atas ranjang, ia menarik selimut menutupi tubuh istrinya itu. Romi mengusap rambut Jelita,


Romi : "Tidur dulu ya."


Romi baru akan beranjak dari sisi Jelita, tapi tubuhnya dengan cepat ditarik Jelita keatas ranjang. Jelita menciumi Romi dengan sangat agresif. Bahkan melucuti pakaiannya sampai mereka benar-benar polos.


Romi : "Kamu yakin, sayang?" Romi mencoba bertanya pada Jelita yang hampir tertidur.


Jelita : "Hmm..." Jelita hanya menjawab seperlunya, kesadarannya mulai menurun tapi ia masih bisa mendengar suara Romi.


Sekali lagi Romi mencoba menyatukan tubuh mereka dan berhasil. Jelita hanya meringis kesakitan, tapi tidak menolak dengan keras seperti sebelumnya.


Darah segar mengalir membasahi sprei ranjang mereka, Romi terus bergerak diatas Jelita sambil sesekali mencium bibirnya. Desahan Jelita membuat Romi semakin bersemangat menekannya.


 


Sampai pelepasan mereka yang entah sudah keberapa kalinya, Romi ambruk diatas tubuh Jelita yang langsung tertidur. Romi mencium kening Jelita,


Romi : "Makasih, sayang. I love you."


------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------


__ADS_2