Duren Manis

Duren Manis
Extra part 23


__ADS_3

Extra part 23


Pintu kamar mandi terbuka, Melda menatap Alan yang berwajah panik.


“Aku punya nama, jangan manggil kayak kamu nggak kenal sama aku. Minggir.” Melda membawa botol infus dan berjalan tertatih-tatih kembali ke dekat tempat tidurnya. Alan membantu Melda menggantung infusnya


kembali ke tempat semula. Lalu membantu Melda naik ke tempat tidurnya lagi.


“Makasih ya. Kamu bisa baik juga. Kamu tidur dulu sana. Istirahat,” kata Melda yang masih belum ingin berbaring. Wanita itu melihat ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu.


“HP-mu ketinggalan di rumah. Kamu nggak tidur lagi?” tanya Alan.


“Nggak ngantuk. Yah, X bawa HP nggak? Aku mau nonton,” tanya Melda sambil melirik suaminya yang masih tidur dengan posisi terduduk di sofa.


Alan mengeluarkan tablet dari dalam tas-nya, ia membuka tablet itu dan memperlihatkan beberapa video film terbaru.


“Mau nonton film yang mana?” tanya Alan.


“Ach, sini aku yang pilih. Ini tinggal pencet play aja kan?” tanya Melda.


Alan mengangguk dan menyerahkan tablet itu pada Melda. Alan sebenarnya heran dengan sikap Melda. Wanita itu bersikap biasa saja setelah Alan memprovokasinya tadi. Tapi Alan belum melihat sikap Melda pada X nantinya. Alan tersenyum smirk, saat X bangun nanti, ia bisa melihat sifat Melda yang sebenarnya.


Melda asyik menonton firm komedi romantis, ia sesekali terkikik geli melihat tingkah aktor dan aktris di dalam film itu. Alan yang kembali sibuk dengan laptopnya, sesekali melirik Melda. Ia sudah tidak sabar ingin membangunkan X dan membiarkan Melda menonton film tanpa menggunakan headset.


**


Matahari sudah mulai terbit saat X terbangun dari tidurnya. Ia merentangkan tubuhnya dan membuka mata. Senyum tersungging di bibirnya saat melihat Melda dan Alan tertidur di bed. Alan tertidur dengan posisi setengah berbaring di samping Melda. Ditangan Alan tampak tablet yang sudah mati.


Semalam X belum tidur sepenuhnya saat Melda bangun. Ia sudah ingin mendekati Melda tapi menahan diri karena melihat Melda bicara pada Alan. X mendengar dan mengintip semua yang terjadi lalu ikut tertidur


bersama mereka. Tidak ingin mengganggu mereka berdua, X keluar dari kamar perlahan-lahan. Ia ingin membeli sarapan dan juga kopi.


Melda terbangun sesaat setelah X menutup pintu kamar. Ia melihat ke samping, Alan tertidur di sampingnya sambil menggenggam tablet. Pelan-pelan Melda mengambil tablet itu dan hampir meletakkannya di atas


meja di samping tempat tidur, ketika tiba-tiba Alan bergerak memeluk tubuh Melda.


“Mah...,” lirih Alan dalam mimpinya.

__ADS_1


Melda yang terkejut, hanya bisa tetap berbaring di samping Alan. Tangan Melda mengelus kepala Alan dengan sayang. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan Alan. Tidak punya orang tua disaat yang paling memerlukan dukungan mereka. X dan Melda juga sama-sama kehilangan orang tua pada saat seumuran Alan.


“Alan, mama sayang sama kamu,” bisik Melda entah didengar Alan atau tidak. Yang jelas pelukan Alan semakin erat di tubuh Melda.


X yang masuk sambil mengendap-endap, melihat Alan memeluk Melda sambil tertidur. Melda dan X saling tatap, sebelum X meletakkan semua barang belanjaannya diatas meja.


“Sayang, kamu udah bangun? Kakimu gimana? Masih sakit ya?” tanya X sedikit berbisik.


Melda malah cemberut tanpa mau menatap X lagi. X menggaruk kepalanya, Melda masih marah karena masalah kemarin. Tapi X belum ngerti ada masalah apa sebenarnya.


“Yank, kemarin itu kamu ngomong apa sich? Aku beneran nggak ngerti. Aku nggak terus terang bagian mananya?” tanya X sabar.


“Diem nggak. Anakku lagi tidur. Berisik,” desis Melda galak. Mirip ibu bebek yang anaknya baru menetas.


X menghela nafas, kali ini ia harus sangat sabar memanjangkan perutnya menghadapi istrinya yang sedang ngambek. Wangi bubur ayam panas menguar memenuhi kamar rawat inap itu ketika X membuka tutup bubur. Melda mengeluh lapar sambil tetap mengusap kepala Alan. X mendekatkan sesendok bubur ayam ke dekat bibir Melda.


“Tiup dulu, sayang. Masih panas nich,” kata X sebelum Melda membuka mulutnya.


Melda meniup bubur yang masih mengepul itu, ia menjulurkan lidahnya untuk mengecek suhu dan X langsung menjauhkan sendok lalu mencium Melda dengan cepat. Wanita itu tidak bisa bergerak karena takut


membangunkan Alan yang masih tidur. X tersenyum senang bisa mencuri ciuman Melda tanpa perlawanan.


bubur.


Melda hanya mengunyah makanannya tanpa bicara. Ia tidak ingin bicara sekarang dengan resiko membangunkan Alan. Melda sedang menikmati rasanya memiliki anak sebesar Alan. Mungkin kalau anak mereka dulu bisa dilahirkan, badannya mungkin sudah hampir sama dengan Alan.


“Mah...,” panggil Alan lagi dalam tidurnya. X dan Melda menatap Alan yang mulai terbangun. Remaja itu menyadari kalau ia sudah memeluk Melda dan cepat-cepat bangun.


“Pagi, putraku. Gimana tidurmu?” tanya Melda sambil senyum-senyum gak jelas.


Alan turun dari tempat tidur lalu masuk ke kamar mandi dengan wajah merona. Melda menoleh pada X, “Bilang terus terang, dia anakmu sama Bella kan?” tanya Melda to the point sambil sedikit berbisik.


Melda tidak mau pertengkarannya dengan X didengar remaja itu. X menggeleng tegas, ia tidak pernah tidur dengan Bella, bagaimana bisa Alan adalah putra kandungnya.


“Semalam anak itu bilang, kamu ayah kandungnya. Mana yang benar?” tanya Melda lagi sambil berbisik.


X menghela nafas, ia tidak mau membahasnya sekarang. Sebenarnya ia sudah melihat ada yang tidak benar pada diri Alan. Anak itu bertingkah baik di depannya, tapi sepertinya ada sesuatu yang ia sembunyikan.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok! X dan Melda menoleh menatap pintu kamar yang diketuk seseorang. Pintu dibuka dengan cepat saat X bilang ‘masuk’. Alvin masuk ke dalam kamar terburu-buru dengan wajah panik.


“Kakak ipar, apa yang terjadi?” tanya Alvin sambil mengatur nafasnya. Sepertinya pria itu berlari dari rumah X ke rumah sakit.


“Kamu atur nafas dulu dech. Emangnya kamu kesini, lari?” tanya Melda kasihan melihat Alvin ngos-ngosan.


“Iya, kak. Tadi aku sampai rumah, lihat pecahan mug lagi diberesin, jadi panik juga lihat darah. Dan langsung lari kesini setelah dikasih tahu kalau kakak ipar disini,” jelas Alvin dengan cepat.


Melda dan X tertawa mendengar suara Alvin jadi aneh karena bicara terlalu cepat. Alvin yang ditertawakan, cuma bisa nyengir sambil garuk-garuk kepala.


Alan keluar dari kamar mandi dan melihat Alvin sudah datang. Ia ingin pulang untuk mandi dan menanyakan apa yang diperlukan Melda.


“Aku perlu pakaian ganti. Minta saja sama mba Ulan ya. Bawakan juga HP-ku dan chargernya. X, kamu mau mandi disini?” tanya Melda.


X mengangguk dan Alan pergi bersama Alvin untuk mengambilkan pesanan mereka. Tinggal X dan Melda di dalam kamar itu.


“Yank, kamu perlu tahu sesuatu. Sepertinya ada yang aneh dengan Alan. Dia suka berbohong untuk kesenangannya sendiri. Aku belum punya buktinya, tapi dari hasil pengamatanku, anak itu sedikit bermasalah,” kata X.


“Ini bukan alasan karena kamu nggak mau ngaku kan?” tanya Melda sambil memicingkan matanya.


“Kalaupun itu benar, aku nggak ingat sama sekali pernah tidur dengan Bella. Ataupun melakukan hal seperti donor sp**ma...”


Keduanya saling pandang ketika X menggantung kalimatnya. Ia teringat sesuatu tentang hal terakhir yang ia katakan pada Melda.


“Kamu pernah melakukan donor itu? Kapan?” tanya Melda mulai paham apa yang terjadi.


X mengingat saat itu ia mengikuti pelatihan dan diminta mendonorkan darahnya juga sp**ma. Padahal lembaga yang menaungi kegiatan donor itu memiliki peraturan yang ketat tentang identitas pendonor aslinya.


“Aku aja harus tanda tangan banyak dokumen. Ada kok copy dokumennya. Jadi aku bisa nuntut mereka kalau membocorkan identitasku,” kata X jujur.


Melda memikirkan sesuatu untuk mengecek kebenarannya, ia akan merentas web perusahaan itu nanti. Sementara X berniat untuk melakukan test DNA. Keduanya saling menatap lagi sebelum X mendekat dan


ingin mencium Melda lagi.


“Yank, sampai masalah ini jelas, jangan anggurin aku dong. Kan bukan salahku,” kata X merayu Melda.


“Awas aja sampai kamu nggak jujur sama aku ya. Nanti aku... mmppphhh!!” jerit Melda ketika X menciumnya dengan brutal.

__ADS_1


**


Gimana akhirnya ya? Nantikan upnya guys.


__ADS_2