
Riri duduk diantara
Alex dan Mia. Sesekali ia bersandar pada mamanya karena merasa lelah. Setelah
dansa selesai tadi, Riri baru merasa sangat lelah dan ketika ia melihat Mia,
tubuhnya bergerak mendekati mamanya itu dan memeluk Mia sangat erat.
Mia : “Kamu capek,
sayang?”
Riri : “Iya, mah.”
Mia : “Kan ada
suamimu.”
Riri : “Maunya sama
mama.”
Alex mengelus
kepala Riri, dan mengajak anak dan istrinya itu untuk duduk dulu. Mia
menanyakan apa Riri mau makan dan kepala Riri mengangguk. Lili dengan sigap membungkuk
dan mengambilkan makanan untuk Riri. Pak Kim sudah menunjuk tempat makan VVIP
dan membantu Lili.
Riri makan sambil
disuapi oleh Mia. Bergantian dengan Alex yang memberinya minum.
Mia : “Habis ini
gak bisa nyuapin Riri lagi ya. Kan Riri uda ada mas Elo.”
Riri : “Iya, mah.
Tadi makan juga disuapin mas Elo.”
Mia : “Manja banget
sich.”
Alex : “Kamu jaga
diri baik-baik ya. Jangan lupa makan, kalau baca buku jangan lupa sama
suamimu.”
Riri : “Iya, pah.
Takutnya mas Elo yang lupa sama Riri.”
Elo : “Gak akan.
Boleh jewer telinga nich kalo lupa sama kamu, sayang.”
Mia dan Alex
tersenyum mendengar kata-kata Elo. Keduanya berdoa agar Riri selalu bahagia
dimanapun nanti dia berada bersama Elo.
Setelah makanan di
piring habis, beberapa tamu undangan juga mulai berpamitan pada pemilik rumah
sebelumnya. Ada beberapa nyonya yang mendekati Riri dan memuji-muji kecantikan
Riri dengan suara keras. Jelas mau menjilat Riri tuch, semua orang di kota ini
sudah tahu kalau sekarang Riri pemilik rumah besar pak Michael.
Tinggal menunggu
waktu sampai warisan kakek jatuh semuanya ke tangan Elo dan Riri. Mereka harus
menjilat Riri agar bisa berteman dengan Riri. Bahkan sampai ada nyonya yang
sengaja menarik anaknya untuk berkenalan dengan Riri.
Elo menatap tajam
nyonya yang ingin mengenalkan anak laki-lakinya pada Riri. Nyonya itu ngibrit
melarikan diri sebelum Elo sempat berkata apa-apa. Lili dengan sigap memasang
badan untuk menghalangi laki-laki lain menyentuh Riri.
Riri : “Lili, kamu
sudah makan?” bisik Riri saat Lili membantunya duduk kembali.
Lili : “Sudah,
nona.”
Riri : “Jangan
bohong, sejak tadi kau terus mengikuti aku. Makan dulu sana.”
Lili : “Setelah
nona masuk ke kamar pengantin, saya akan makan.”
__ADS_1
Wajah Riri merona
mendengar kata-kata Lili, tangan Riri refleks menepuk lengan Lili. Elo menatap
keheranan pada Lili yang memasang wajah datar sedangkan Riri yang terlihat
malu-malu. Apa yang mereka bicarakan barusan?
Mia, Alex, Rio dan
Kaori juga berpamitan untuk segera pulang ke rumah. Malam semakin larut dan si
kembar sepertinya sudah menunggu untuk disusui Mia. Mia mencium kening Riri dan
berbisik padanya,
Mia : “Jangan
terlalu tegang saat melayani suamimu nanti. Nikmati saja.”
Riri : “Riri takut,
mah.”
Mia : “Bilang sama
dia, ‘pelan-pelan, mas’ gitu.” Kata Mia dengan wajah imut.
Riri : “Gitu ya
mah, ntar Riri bilang gitu dech.” Riri tersenyum melihat tingkah mamanya.
Mia : “Kamu manis
banget sich.”
Riri : “Mama juga.”
Keduanya berpelukan
erat sebelum akhirnya melepaskan diri. Alex juga memeluk Riri dengan erat.
Alex : “Baik-baik
di rumah suamimu ya, sayang. Kalau ada apa-apa, telpon papa ya.”
Riri : “Iya, pah.”
Riri berhadapan
dengan Kaori yang mengucapkan selamat sambil memeluknya.
Kaori : “Pake
kadoku ya. Tadi aku titip sama Lili.”
Riri : “Kamu ngasi
Kaori : “Ada aja.
Besok aku telpon dan kamu harus cerita detail apa yang terjadi. Okey.”
Riri : “Iya, kepo.”
Saat Riri menatap
Rio, kembarannya itu tampak acuh padanya. Rio berjalan sedikit menjauh dari
keluarganya dan pura-pura sibuk dengan ponselnya.
Riri : “Rio...”
Rio pura-pura
budeg. Riri berjalan mendekatinya dan sibuk memutari Rio yang terus saja
berputar. Rio dengan cepat menahan tubuh Riri yang hampir jatuh karena
tersandung gaunnya sendiri.
Rio : “Kau ini!
Masih saja ceroboh. Aku tidak bisa terus menjagamu!”
Riri : “Makasih, Rio.”
Rio : “Berdiri yang
benar. Suamimu sudah nunggu tuch.”
Riri : “Apa kamu
gak mau meluk aku?”
Rio : “Nggak.”
Riri : “Yakin?”
Riri sudah hampir
melepaskan pegangannya dari Rio saat kembarannya itu memeluk Riri dengan erat.
Tangis kedua saudara kembar itu membuat setiap orang yang melihatnya jadi
terharu.
Elo merangkul bahu
Riri yang melambaikan tangan pada keluarganya. Riri masih terisak setelah Rio
__ADS_1
melepaskan pelukannya dengan berat hati.
Elo : “Ayo kita
masuk.”
Riri hanya
mengangguk, mereka melewati beberapa pelayan yang masih sibuk membereskan
rumah. Pelayan-pelayan itu membungkuk pada Riri dan Elo ketika mereka lewat.
Riri : “Apa kalian
sudah makan?”
Pelayan : “Sudah, nyonya
muda.”
Riri : “Jangan lupa
istirahat ya. Saya ke atas dulu.”
Pelayan : “Baik,
nyonya muda. Silakan beristirahat.”
Lili yang melihat
Riri berjalan menaiki tangga bersama Elo, ingin mengikutinya juga. Tapi Riri
berhenti ditengah-tengah dan berbalik menghadap Lili.
Riri : “Lili,
pergilah ke kamarmu.”
Lili : “Apa nona
butuh sesuatu? Saya bisa ambilkan dulu.”
Riri : “Berhentilah
mengikutiku, ini sudah malam. Kembali ke kamarmu.”
Lili : “Saya harus
memastikan nona masuk ke dalam kamar. Silakan.”
Riri : “Lili, kau
sangat menyebalkan.”
Mereka sampai di
lantai 2 dan Dio sudah berdiri di depan kamar pengantin. Giliran Elo yang merasa
kesal.
Elo : “Apa kau
serius?”
Dion : “Apa? Aku
tidak melakukan apa-apa.”
Elo : “Pergi dari
sini! Kalian tidak boleh mengganggu pengantin baru.”
Dion : “Aku hanya
memastikan kalian berdua aman.”
Elo : “Dirumahku
sendiri? Dan ini di depan kamarku.”
Dion : “Aku hanya
melakukan tugasku, tuan muda.”
Lili : “Nona,
sebelum masuk apa nona memerlukan sesuatu?”
Riri : “Sudah
kubilang kembali ke kamarmu.”
Elo : “Cepat
minggir, Dion!”
Dion : “Tidak
sabaran sekali.”
Elo : “Minggir atau...
🌻🌻🌻🌻🌻
Atau author minta
vote lagi sama mas Elo dan Riri...
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).