Duren Manis

Duren Manis
Ke rumah Romi


__ADS_3

Kondisi kesehatan Romi semakin membaik, ia akan kembali ke rumahnya hari ini. Jelita akan mengantar Romi pulang sekalian ingin tahu rumah Romi untuk pertama kalinya.


Setelah mereka sarapan menemani Pak Hary, Romi berpamitan pada Pak Hary yang mengajaknya bicara menjauh dari Jelita.


Pak Hary : "Jadi, apa sudah kau lakukan?"


Romi : "Lakukan apa ya, pak?"


Pak Hary : "Membuatkan aku cucu."


Romi : "Hehe... Belum pak. Meskipun saya ingin sekali, tapi kami kan belum sah."


Pak Hary : "Lalu tiga hari ini kalian ngapain aja di dalam kamar?"


Romi : "Kami ngobrol, istirahat, dan membahas projek bisnis bapak."


Pak Hary menepuk pundak Romi dengan keras,


Pak Hary : "Kau menghabiskan tiga hariku yang berharga hanya untuk mengharapkan sesuatu yang kosong. Aku berharap kau bisa lebih baik lagi."


Romi melongo melihat calon mertuanya itu, baru kali ini ia melihat seorang bapak mengharapkan putrinya hamil sebelum pernikahan.


Romi : "Saya akan berusaha keras, pak."


Pak Hary : "Panggil papah. Kamu ini..."


Jelita yang kepo, mengendap-endap untuk menguping pembicaraan keduanya. Tapi tidak berhasil karena mereka hanya ngobrol sebentar.


Romi menggandeng tangan Jelita ke mobil Jelita yang terparkir di depan rumah. Ia duduk di belakang kemudi.


Pak Hary : "Kalian hati-hati ya. Ingat lusa jadwal pra-wedding."


Jelita : "Dah, pah."


Jelita melambaikan tangan pada papanya, perlahan mobil bergerak keluar dari halaman rumah Jelita.


Romi mengendarai mobil menuju rumahnya. Tidak bisa dipungkiri tiada tempat yang paling nyaman selain di rumah sendiri.


Setelah berkendara sekitar lima belas menit, Romi menghentikan mobil Jelita di depan sebuah rumah yang bisa dibilang tidak sederhana.


Romi keluar dari mobil, membuka gerbang rumahnya dan memarkir mobil Jelita di garasi mobil. Mobilnya sendiri sudah ada di dalam garasi, tampak bersih mengkilat.


Romi membukakan pintu rumahnya dan mempersilakan Jelita untuk masuk.


Romi : "Selamat datang di rumahku."


Jelita melihat sekeliling rumah yang isinya cukup minimalis. Banyaknya jendela membawa sinar matahari masuk ke dalam rumah, menghangatkan isi rumah. Ia meraba meja kayu di depan sofa dan tidak menemukan debu disana.


Jelita : "Rumahmu bersih sekali. Ada yang membersihkannya?"


Romi : "Ya, ada ART yang datang setiap pagi dan pulang sore. Dan untuk makanan, aku membelinya lewat online."


Jelita : "Apa ada bahan makanan di kulkas?"

__ADS_1


Romi : "Coba saja kau lihat, dapurnya sebelah sini."


Jelita mengikuti Romi menuju dapur, Romi membuka kulkas dan mengambil minuman dingin. Jelita melihat-lihat isi kulkas, mengambil sedikit bahan makanan dari dalam sana.


Romi : "Kamu mau masak apa?"


Jelita : "Cuma masakan sederhana, aku harap kamu suka."


Romi : "Apa? Sayur bening? Udang asam manis? Bento? Ayam bakar?"


Jelita : "Bagaimana kamu bisa tahu bekal makanan yang kuberikan pada pak Alex?"


Romi : "Bukan Alex yang makan, tapi aku."


Jelita menoleh menatap Romi yang berdiri di belakangnya, tangannya tidak sengaja menggenggam bungkusan bumbu jadi yang langsung muncrat mengenai pakaiannya.


Jelita : "Astaga, bajuku..."


Jelita segera mencuci tangannya di wastafel, ia mencoba menghilangkan noda bumbu di pakaiannya, tapi agak susah.


Romi : "Yah, jadi kotor. Ganti bajumu dulu, sini."


Romi menarik tangan Jelita menuju kamarnya, ia membuka lemari pakaiannya dan melihat Jelita masih berdiri di depan pintu.


Romi : "Masuk sini."


Jelita : "Aku disini aja. Gak enak."


Romi : "Ayo masuk, ini pakai ini. Aku tunggu di luar ya. Kamar mandinya disana, bajumu dicuci di wastafel dapur aja. Ada sabun bagus disana."


Jelita tidak menyadari kalau Romi belum keluar dari kamarnya, ia memakai kemeja Romi dan merapikan rambutnya yang panjang.


Saat Jelita berbalik, ia tidak melihat Romi di belakangnya. Jelita mengambil dressnya di lantai, ia berjalan kembali ke dapur.


Jelita : "Romi, sabunnya mana?"


Romi yang sedang mengupas bahan makanan, menoleh menatap Jelita yang terlihat seksi dengan kemeja kebesaran yang menutup sebagian tubuhnya.


Romi mengalihkan pandangannya dari Jelita dan membuka lemari di depannya. Ada sekotak sabun disana, Romi memberikannya pada Jelita.


Romi : "Ini, pakai sedikit saja dulu. Takutnya tanganmu alergi. Disana ada wastafel."


Romi menarik nafas panjang, ia cukup tergoda dengan apa yang ia lihat tadi. Harus diakui Romi kalau bentuk tubuh Jelita sangat bagus dan proporsional.


Romi meletakkan pisau dapur yang dipakainya memotong sayuran. Ia menatap punggung Jelita yang berdiri tidak jauh darinya.


Perlahan Romi berjalan menghampiri Jelita yang sedang mengucek noda pada pakaiannya. Ia memeluk pinggang Jelita, tangannya juga ikut mengucek di dalam wastafel.


Aroma wangi tubuh Jelita, menggoda Romi untuk mencium lehernya. Dengan tangannya yang basah, Romi menyusuri leher Jelita.


Jelita : "Ro... Romi..."


Romi : "Sssttt... Jangan takut..."

__ADS_1


Jelita : "Kamu mau apa? Nanti ada yang lihat."


Romi : "Gak ada siapapun disini."


Saat Romi ingin mencium Jelita, ponselnya berdering nyaring. Jelita bernafas lega, jantungnya hampir copot menghadapi godaan Romi.


Cepat-cepat ia menyelesaikan mencuci pakaiannya, sementara Romi menjawab panggilan telponnya.


Setelah menjemur pakaiannya di halaman samping, Jelita mulai memasak makan siang untuk mereka berdua nanti.


Romi yang sudah selesai menelpon, mencium aroma masakan yang menarik hidungnya. Di meja makan sudah terhidang makanan sederhana yang dimasak Jelita.


Ada sayur bayam jagung, tempe goreng, ayam goreng dan sambal terasi. Romi ngiler mencium aroma masakan itu. Ia ingin segera makan siang, padahal masih jam 10 pagi.


Jelita mengambilkan nasi dan melayani Romi makan. Mereka sudah seperti pengantin baru yang terlihat mesra.


Selesai makan, giliran Romi yang mencuci piring. Jelita duduk manis di kursi tinggi samping meja dapur. Matanya sibuk melihat satu persatu foto yang terpasang di kulkas.


Kebanyakan foto itu berisi foto Romi bersama Alex dan mungkin keluarga Alex. Jelita belum mengenal semua keluarga Alex.


Romi melirik pose duduk Jelita yang terlihat menggoda di sampingnya. Paha mulus Jelita terpampang di hadapan Romi. Glug! Romi menelan liurnya dengan susah payah.


Tubuhnya bereaksi aktif melihat tubuh Jelita. Setelah mengeringkan tangannya, Romi membopong Jelita menuju sofa besar di ruang TV.


Jelita : "Aarrgg... Bikin kaget, turunin aku."


Romi : "Kamu harus tanggung jawab."


Jelita : "Apa lagi sich?"


Romi : "Kau membuatku tegang."


Jelita : "Apa??!!"


Bruk! Keduanya terjatuh diatas sofa. Lengan Jelita tidak sengaja menekan tombol pada remote TV yang berada dibawah tubuhnya. TV dihadapan mereka menyala dan jreng! Muncul adegan 18++ pada layar TV.


Wajah Jelita menghangat melihat setiap adegan panas yang diputar. Ia memalingkan wajahnya saat kedua lawan jenis di dalam film itu tampak menyatukan tubuh mereka.


Jelita : "Ternyata kelakuanmu begini ya."


Romi tidak menjawab, pikiran kotornya semakin kotor karena menonton film ++. Entah siapa yang mengatur DVD playernya otomatis hidup dan menampilkan film itu.


Bukan Romi pelakunya, tapi ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari film itu. Jelita mendorong tubuh Romi agar bangun dari atas tubuhnya. Tapi mendadak pandangan Romi berpindah pada Jelita.


Jelita menelan liurnya, jelas sekali pandangan mata Romi menatapnya penuh gairah. Jelita memejamkan matanya, ketakutan melihat Romi semakin mendekatinya.


------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------


__ADS_2