LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
100. Memburu pendekar tapak Geni sang pembunuh 15


__ADS_3

Semuanya serentak menjawab "mengertiiiii".


Acara di lanjutkan dengan makan bersama sampai malam.


Dalam kesempatan itu pangeran Shun Land dan rombongan, berpamitan untuk meneruskan perjalanan ke gunung pamaton.


Pagi-pagi sekali penunjuk jalan dan pak Kalur menyiapkan ke empat kuda tunggangan pangeran Shun Land dan ketiga sahabatnya, segala keperluan telah di urus pak Kalur kepala pedukuhan Santui yang baru.


Semua penduduk berbaris di kiri dan kanan jalan yang di lalui pangeran Shun Land beserta Rombongan.


Sebelum mereka menaiki kudanya masing-masing, terdengar suara seorang gadis setengah berteriak sambil berlari.


"Tungguuuu", Isah gadis berkulit putih bagai keturunan negeri tirai bambu, berambut ikal sepinggang berlari.


Sesampainya dia di sana, tanpa ragu-ragu memeluk pangeran Sanjaya triloka, seraya berkata, "Terima kasih pangeran, bila pangeran kembali sempatkan mampir ke pedukuhan ini".


"Saya akan usahakan" hanya itu yang keluar dari mulutnya, sambil melepaskan tangan yang di pegang Isah sang gadis berambut ikal.


Ada keharuan yang menyelinap di hati pangeran Sanjaya triloka.


Banyak mata yang berkaca melepas kepergian para sang pahlawan pedukuhan.


Tiga ekor kuda hitam, satu kuda coklat dan satu lagi kuda putih berlari cepat atas Padang rumput.


Tidak butuh waktu lama, rombongan pangeran Shun Land memasuki hutan hujan yang berbukit, tapi hutan itu tidak selebat hutan Pinus di balik Pedukuhan Santui.


"Tuan Satria Nusa kencana sebentar lagi hari menjelang malam di bukit ini ada gua. Kita beristirahat di sanah" penunjuk jalan Karba berkata.


Sebenarnya jarak antara pedukuhan Santui ke gunung pamaton tidak terlalu jauh, kalau jalannya tidak melalui hutan lebat dan berbukit. Hanya membutuhkan waktu setengah hari.


"Baiklah paman kita juga harus mengistirahatkan kuda kuda kita.


Gua itu cukup beristirahat mereka berlima, sedangkan kuda kuda mereka di tambatkan di luar.

__ADS_1


Pangeran Shun Land memilih untuk bermeditasi guna meningkatkan tenaga dalamnya, sedikit demi sedikit pangeran Shun Land meningkatkan tenaga dalamnya Samapi mencapai sepuluh ribu lingkaran, dan bila di gabungkan kekuatan api abadi pemberian leluhur agung di cangkang bayi sang Rajawali api, pangeran Shun land mencapai lima belas ribu lingkaran. Menjelang pagi pangeran Shun Land membuka matanya.


Semuanya masih terlelap tidur. Dalam benak pangeran Shun Land, berpikir dia harus membiasakan diri dengan kekuatan apinya.


Dia pun keluar dari gua itu setelah sedikit jauh, lalu duduk bersila dan mengatur napas.


Pelan pelan pangeran Shun Land mengalirkan kekuatan apinya ke seluruh tubuhnya, perlahan-lahan suhu di tempat itu naik.


Tanah, daun-daun pohon di sekitar situ perlahan kering kerontang semakin lama semakin meluas.


Tubuh pangeran Shun Land di penuhi kilatan-kilatan api, semakin lama semakin besar hingga seluruh tubuh itu di selimuti api berwarna kuning ke merahan.


Kuda kuda mulai gelisah dan meringkik keras, hingga membangunkan seisi gua.


Putri Dian Prameswari dwibuana dan pangeran Sanjaya triloka keluar dengan cepat, di kejauhan gumpalan api kuning kemerahan.


Pangeran Sanjaya triloka dan Karba menjauhkan kuda kuda tersebut, sedangkan Boma dan putri Dian Prameswari dwibuana mendekati gumpalan api kuning kemerahan.


Pangeran Shun Land setabil menyalurkan kekuatan api abadinya, segera memperagakan jurus Saipi Geni dari jurus satu sampai jurus ke tiga berulang-ulang.


Meningkat kejurus yang kedua saipi Geni membakar jiwa menyerang pohon yang lebih besar, pohon itupun sama tumbang dah terbakar.


Hingga naik jurus yang ketiga saipi Geni menghancurkan alam, tubuh pangeran Shun land melenting ke atas dan turun dengan cepat, kobaran api abadi membesar membabat pohon selebar beberapa depa.


Pohon pohon tumbang dengan kobaran api yang besar.


Putri Dian Prameswari dwibuana melompat mundur beberapa depa menghindari hawa panas.


Terdengar suara di batin pangeran Shun Land.


"Hey pemuda gemblung kau ingin membakar seluruh hutan ini". Dengan berakhirnya suara itu kepakan sayap sang Rajawali api menghembuskan angin besar memadamkan api yang menyala di pohon-pohon.


Pangeran Shun land sadar apa yang di lakukannya, dia menarik kekuatan api abadinya, batapa kagetnya melihat kerusakan yang di lakukan oleh jurus Saipi Geninya.

__ADS_1


Pangeran Shun land tidak menyangka akan sebesar ini kerusakan oleh jurus-jurusnya.


"Kau tidak tau bila seluruh tenaga dalam mu, kau ubah jadi api, kekuatannya akan naik kali-kali lipat, bukan saja alam di sekitar mu yang rusak tapi organ-organ tubuhmu pun akan banyak yang rusak, walau kau mempunyai tubuh empat lintang kelima pancer, lama-lama akan hancur, kecuali kau telah memiliki mustika air panca warna, yang mendinginkan organ dalam mu, sebesar apapun api abadi kau gunakan ada pendingin yang menstabilkan".


Sang Rajawali api mengingatkan pangeran Shun land, "aku mengerti apa yang kulakukan". Jawab pangeran Shun land.


"Kau tau lawan yang aku hadapi nanti, dia mempunyai ilmu tapak Geni, bila aku tidak bisa menggabungkan kekuatan api abadi ku dengan tenaga dalam ku aku akan binasa di tangan lawanku". Pangeran berkilah.


Sang Rajawali api tidak ingin berdebat lebih lebih jauh dia mengerti kekhawatiran pangeran Shun Land, dia pun teringat akan panasnya api hitam milik naga api hitam, musuh bebuyutannya.


Tapi dia percaya dirinya akan kuat menahan kekuatan api hitam milik naga api hitam, sekarang tubuhnya lebih kuat dari tubuh sebelumnya, dulu ketika masih di dalam cangkang dia di kelilingi api abadi ribuan tahun, tanpa di sengaja menyerap api abadi sejak bayi struktur tubuhnya menyatu dengan api abadi.


Mereka berdua tidak menyadari perdebatan itu di saksikan empat pasang mata, semua merasa kaget sang Rajawali api bisa berbicara layaknya seorang manusia.


Ketika melirik ke arah gua, pangeran Shun land baru menyadari perdebatan itu di saksikan empat pasang mata sahabatnya.


"Maaf kau telah mengganggu waktu istirahat kalian dengan latihan ku", pangeran Shun land meminta maaf atas keteledorannya.


Kalau tau akibatnya akan sebesar ini dia akan memilih area lebih jauh dan memilih di Padang rumput atau di tanah tegalan.


"Tidak Satria Nusa kencana, malah kami meminta maaf karena mengganggu latihan Satria Nusa kencana", putri Dian Prameswari dwibuana segera membantah.


Mereka pun kembali ke depan gua.


Waktu masih gelap, Pajar kecil baru menyingsing, waktu masih gelap.


Mereka membakar ranting-ranting pohon kering di sekitar itu, untuk menghangatkan tubuh mereka.


"Pangeran, apa pangeran tidak merasa panas tubuh pangeran terbungkus api begitu besar". Putri Dian Prameswari dwibuana bertanya sangat penasaran sekal.


"Aku tidak merasakan panas sedikitpun, malah aku merasa tubuh ku lebih ringan dan tangkas, aku sendiri tidak mengerti bagai mana cara menjelaskannya, hanya waktu pertama kali aku merasa seluruh tubuh terasa di bakar tengah-tengah bara api, setelah itu aku tidak merasakan panas lagi".


Pangeran Shun Land berkata apa adanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2