LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
168. Tangisan bahagia berjumpa dengan Kakak


__ADS_3

"Bersabarlah ibu yakin kau akan mendapatkan jodoh yang tidak kalah tampan dari Paduka raja Shun land" Dewi bulan merah menghibur.


Matahari telah di sambut oleh sang lembayung yang selalu setia menunggu di ufuk barat, sinar kemerahan yang redup keluar menandakan matahari mengucapkan selamat tinggal hari ini.


Shun land dan Boma di ikuti Ayu Sondari berjalan keluar kota kecil guha pawon.


(Guha Pawon adalah sebuah gua alami dan situs purbakala yang terletak di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, atau sekitar 25 km arah barat Kota Bandung. Merupakan sebuah tempat yang penting bagi orang Sunda karena di sanalah tempat berkumpulnya sesepuh Sunda yang sekarang menduduki bagian barat pulau Jawa. Di sana pernah ditemukan kerangka manusia purba yang konon adalah nenek moyang orang Sunda (masih diteliti di balai Arkeolog Bandung).


Mereka bertiga masuk kedalam hutan dan mencari tempat sedikit terbuka, tidak lama kemudian sang Rajawali Api turun dari angkasa dengan gagahnya.


Ayu Sondari duduk di paling depan di ikuti Shun land dan Boma, setelah mereka itu sang Rajawali Api mengentalkan kakinya lalu mengepakan sayap-sayap sang Rajawali Api terbang dengan teriakan khasnya membelah hari yang mulai malam.


Sang Rajawali Api meluncur dengan cepat, wajah Ayu Sondari menjadi pucat pasi ketakutan ini kali pertama menunggang hewan legenda yang menjadi dongeng oleh ibunya ketika dia hendak tidur, tidak di sangka dia bisa berjumpa dengan hewan legenda sang Rajawali Api.


Wajah Ayu Sondari menoleh ke belakang lantas berkata pelan tapi cukup jelas terdengar. "Kau adalah sang pendekar legenda Rajawali Api yang sering aku dengar cerita sejak aku kecil". Mata Ayu Sondari Nanar seakan tidak percaya.


Mendengar ucapan Ayu Sondari Shun Land tidak menjawab hanya mengangguk.


Terdengar di batin Shun land. "Kau dengar Raja agung sempruuuul aku ini mahluk legenda cerita ku ada di mana-mana".


"Kau ini baru di puji sedikit saja bangga yang dia maksud itu aku, Mana ada pendekar seekor burung empriiit hahahaha". Shun land menjawab perkataan sang Rajawali seenaknya.


"Kau ini tuli apa pura-pura tuli, jelas-jelas dia berkata Pendekar Legenda Rajawali Api bukan pendekar Shun land, jelas kau iri pada ku dan kebesaran ku". Sang Rajawali Api menjawab tak mau kalah.


"Andaikan kau bukan seorang legenda kau tetap sahabat ku jiwa mu dan jiwa ku sudah saling terikat berapa jauhnya kau bila kau mati aku bisa merasakannya". Shun land berkata dengan sungguh-sungguh.


"Ah dasar Raja semprul malah kau bicara mati, haloooo aku masih hidup jangan bicara kematian Apa kau ingin aku segera mati". Sang raja wali salah pengertian.


"Sudah juga ngomong sama burung emprit, heeey awas kelewat" Shun land memperingati.


Sang Rajawali Api berbelok lagi ke arah asal dia melewati hutan yang biasa dia turun dekat istana kerajaan Tarumanagara.


"Kau tanyakan pada naga bumi Sabui di mana letak pedang naga bergola kalau ingatanmu belum bisa mengingatnya". Shun land memberikan perintah.


Mereka bertiga turun dari punggung sang Rajawali Api lalu berjalan ke arah istana.


Tidak berapa lama sampailah di depan gapura istana yang di jaga delapan prajurit empat di kanan dan empat di kiri.


Mereka serentak bermbungkukan badannya seraya berkata. "Selamat datang paduka raja".

__ADS_1


Ayu Sundari melongo dia tidak menyangka begitu dihormatinya raja muda yang selama ini sering bertengkar dengannya.


"Kalian jangan katakan pada siapa pun bahwa aku sudah kembali, kita menginap saja di penginapan Nyai Dewi Kamalia". Shun land berkata dengan tegas.


Mereka berjalan menuju pusat pelabuhan tidak memakan banyak waktu mereka sampai ke depan rumah makan kembang Tanjung milik Dewi Kamalia.


Boma tanpa menoleh langsung masuk, di sana sudah sepi pengunjung karena hari sudah sedikit larut malam.


Shun land mengikuti Boma yang berjalan di depan, di duduk di meja paling dekat dengan ruangan tempat memesan makanan.


Dua orang pelayan wanita datang setelah mereka melihat siapa yang datang salah satu pelayan berlari ke dalam ingin memberitahukan pemilik rumah makan bunga tanjung.


Pelayan yang satunya langsung bertanya. "Apa yang bisa saya bantu Paduka".


Tapi Boma mendahului menjawab, "buatkan 4 porsi makanan yang paling spesial di rumah makan ini cepat ya jangan pakai lama".


"Baik Paduka kami segera menyiapkan pesanan Paduka". Lalu pelayan itu pergi untuk menyiapkan pesanan.


Di dalam ruangan pribadi Dewi Kamalia pelayan memberikan laporan, "Nyonya Dewi di luar ada paduka raja bersama dua temannya satu lelaki dan satu lagi seorang gadis cantik".


Dewi Kamalia tidak tidak menampakan wajah kaget mimiknya biasa saja. "Itu bukan paduka raja itu Jaka lelana paduka raja sedang mengikuti kompetisi pendekar muda persilatan di perguruan Gelap ngampar".


"Nyonya tolong lihat dulu ini mah temanya saya kenal tubuhnya subur perutnya hamil 8 bulan". Pelayan itu memaksa.


Akhirnya Dewi Kamalia mengalah dia berdiri lantas berjalan di ikuti pelayan itu.


Setelah dekat pintu karena sinar lampu yang merahan kulit Shun Land kelihatan hitam lantas Dewi Kamalia berkata. "Itu Jaka lelana bukan paduka raja". Tapi ketika melihat Boma Dewi Kamalia sedikit penasaran akhirnya mendekat.


Dewi Kamalia lalu berlutut sembari mengatakan. "Salam buat Paduka sembah bakti saya haturkan maaf saya tidak bisa menyambut dengan hormat".


"Bangunlah Bibi Dewi tidak apa-apa saya hanya ingin makan dan menginap di penginapan bibi sampai besok pagi" Shun land menyuruh bangun.


"Baik paduka saya akan siapkan tiga kamar apa dua kamar paduka". Dewi Kamalia bertanya.


"Tiga kamar bibi, kenalkan ini Ayu Sondari dia sudah saya anggap bagai adik saya sendiri". Shun land memperkenalkan Ayu Sondari.


"Baik paduka" jawab Dewi Kamalia lalu berdiri melangkah untuk mempersiapkan tiga kamar sebaik mungkin, bagai mana Shun adalah seorang raja yang telah merubah jalan hidupnya dari lembah hitam ke kehidupan yang penuh martabat. Wajar dia mendapatkan perlakuan yang istimewa darinya melebihi siapa pun.


Keesokan harinya Shun land, Boma dan Ayu Sondari pergi ke istana di iringi Dewi Kamalia dan dua pelayannya.

__ADS_1


Penjaga gapura istana yang sudah berganti jaga, sangat gembira melihat raja mereka telah kembali, serta Merta berlutut dan menghaturkan salam hormat dan bakti kepada raja mereka. Shun land dan yang lainnya berjalan menuju pintu istana yang sudah sedikit mewah karena sudah banyak perubahan semakin indah.


"Hanya aku tinggal beberapa waktu istana ini sudah berubah menjadi sangat indah Putri Dian Prameswari dwibuana memang cocok untuk menjadi seorang perdana menteri". Shun land bergumam dalam hati sambil melihat kanan kiri.


Di dalam istana putri Dian duduk di dampingi pangeran Makkamaru panglima perang Sarpa, pemimpi tertinggi pasukan khusus senyap Antaka pendekar syair kematian, Ki Bajul pakel, ada pula Jaka lelana dan Rhaka prawira.


Begitu pintu di terbuka semua yang di dalam matanya tertuju pada yang datang, Jaka lelana berdiri memandang Shun land dan Boma berganti mulutnya terbuka tapi tidak keluar suara wajahnya pucat pasi kaget bagai mimpi Melihat kedua orang ini.


Shun land dan Boma berhenti berjalan memandang Jaka lelana jantungnya berdegup kencang seakan mimpi yang tidak akan terjadi tapi menjadi kenyataan.


Boma berlari kecil sambil berkata. "Kau Shan land, kau Shan land, kau Shan land bocah nakal tak tahu aturaaan kau jangan melupakan Aku yaaaah". Boma menari-nari sambil menunjuk Jaka lelana.


Jaka lelana tidak banyak kata lagi menyongsong Boma dan memeluk dengan erat.


"Aku tidak menyangka akan bertemu lagi dengan mu kakak ku jahat". Jaka lelana tidak bisa menahan air mata kebahagiaan.


"Kau lihat dia kita akan mengeroyoknya biar tidak bisa lolos lagi". Boma menunjuk ke arah Shun land sambil tangan kirinya menuntun Jaka lelana ke hadapan Shun land.


Sebelum sampai Jaka lelana ke hadapan Shun land, Shun land berlutut sambil berkata. "Maafkan Aku kak Shan land aku tidak ada sangat engkau membutuhkan ku".


Hanya itu yang keluar dari mulut Shun land dengan derai air mata kebahagiaan.


Jaka lelana meraih bahu Shun land sambil berkata,. "tidak pantas seorang raja besar berlutut di hadapan yang lain waktu pun dia kakaknya sendiri".


Shun land berdiri memeluk kakaknya sendiri dengan erat, dan berujar dengan nada sangat memilukan.


"Kak kau tahu ibu kameng sangat menyakini bahwa kau masih hidup itu yang membuat ku tidak putus harapan untuk mencari mu sampai daratan luas Dwipa ini tapi dia telah meninggalkan kita selama-lamanya". Shun Land mengungkapkan segala isi hatinya dan beban jiwanya.


Kakak beradik itu sedang mengungkapkan kerinduannya setelah puluhan tahun tidak bertemu. Tiba-tiba terdengar suara yang sangat tidak mengenakan pendengaran.


"Yaaah seorang raja nangis kaya anak-anak yang kehilangan mainan hahaha". Boma berkata sambil tertawa tapi air matanya kebagian tidak berhenti keluar dari matanya.


Sontak saja seisi ruangan utama istana tertawa bahagia.


...****************...


Maaf para sahabat NOVELTOON yang mengikuti tulisan ini dengan setia.


update tulisan ini kurang konsisten mohon maklum adanya. 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2