LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
45. Sidang pengadilan pangeran Khal Shugal


__ADS_3

Istana Sunda ageng yang berada di tengah-tengah kota Nusa kencana, terlihat sangat sibuk, sejak pagi tiba.


Waktu itu akan diadakan persidangan pengadilan pangeran Khal Shugal.


Persidangan ini akan dipimpin langsung oleh sang ratu SHI khal, selain itu dihadiri oleh perdana menteri Jhasun, serta pangeran Shun Land.


Seluruh pejabat tinggi kerajaan hadir, untuk mengutarakan pendapat mereka, walaupun keputusan mutlak ada di tangan sang ratu SHI khal, tetapi pihak kerajaan menerima masukan dari luar, terutama dari pejabat-pejabat penting kerajaan,


Pejabat-pejabat kerajaan yang mendapatkan undangan untuk menghadiri persidangan pengadilan pangeran Khal Shugal, antara lain.



panglima Shu khal


Tetua 1 Saman khal. Bagian senjata


Tetua 2 Sri khal, Bagian pangan dan perdagangan


Tetua 3 Mantikei, Bagian olah keprajuritan


Sesepuh agung Khal San


Tabib istana, Tabib Lau lien



Ada juga perwakilan dari para bangsawan



Tetua Ampong, dari bangsawan Danum


Tetua Saman Adyatma, dari bangsawan Banjar


Tetua Bue bataguh, dari Bangsawan Ngaju



Hadir juga dari sesepuh spritual atau sesepuh keagamaan. Badewa Tjilik Riwut.


Semua undangan telah hadir, tak terkecuali Sesepuh agung Khal San, yang notabene sebagai ayah dari tersidang pangeran Khal Shugal.


Panglima Shu khal sudah menduduki kursi kehormatan, sebagai pembicara, karena pimpinan sidang tetap di pegang oleh perdana Mentri Jhasun.


Mereka semua sedang menunggu Sang Ratu SHI khal dan perdana menteri Jhasun beserta putra mahkota kerajaan pangeran Shun Land. Yang belum terlihat kehadirannya.


Panglima Shu khal, memanggil kepala pengawal istana Djata, Untuk menjemput Sang Ratu SHI khal dan yang lainnya.


"Kepala pengawal istana, segera jemput sang Ratu SHI dan perdana menteri, karena sidang istimewa pengadilan pangeran Khal Shugal, akan segera di mulai"


"Baik panglima, titah segera di laksanakan'" jawab Kepala pengawal istana Djata


Djata pun segera bergegas melaksanakan, langkah cepat untuk menjemput sang ratu SHI khal, perdana menteri Jhasun, serta pangeran Shun Land.


Semua yang hadir di sidang istimewa pengadilan pangeran Khal Shugal, berdiri dan membungkukkan badan memberi hormat kepada sang ratu SHI khal, perdana menteri Jhasun, serta pangeran Shun Land.


Ketika Ratu SHI khal, perdana menteri Jhasun serta pangeran Shun Land memasuki Aula persidangan.


Setelah sang ratu si dan perdana menteri Jhasun, serta pangeran Shun Land telah menduduki tempatnya.


Panglima Shu khal segera membuka persidangan.


 ----------------------


Pagi itu di luar istana, tepatnya di depan penginapan yang tak jauh dari istana kerajaan


Pendekar penunggang kuda hitam, keluar meninggalkan penginapan, arah yang dituju adalah istana kerajaan Kutai Khal.


Gerbang istana dijaga ketat, boleh berpuluh-puluh prajurit, itu adalah untuk mengantisipasi terjadinya sesuatu hal yang tidak diinginkan.


Pihak keamanan kerajaan memang sengaja meningkatkan keamanan, demi kelancaran kelangsungan, berjalannya sidang pengadilan pangeran Khal Shugal.


Pendekar penunggang kuda hitam itu, Akhirnya sampai di depan gerbang istana.

__ADS_1


Dia pun turun dari kudanya dengan tenang, dan menghampiri para prajurit penjaga pintu gerbang, dia pun melantunkan sebuah syair dengan tenang dan senyum yang berkarisma.


"Angin membawa ku sampai di sini


Semoga angin tak membohongi ku.


"Sampaikan salam ku pada pangeran


Aku sengaja datang dengan jiwa dahaga


"Jangan halangi langkahku


Karena jalanku penuh dengan kematian


"Biarkan pangeran membawakan setetes air


Untuk menghapus dahaga jiwaku.


Setelah selesai membacakan bait-bait, suasana menjadi mencekam, para prajurit penjaga terdiam seribu bahasa.


Hati mereka ingin bergerak dan menghalangi sang pendekar, akan tetapi tubuh mereka tidak mengikuti apa yang diperintahkan hati.


Pengawal Tian agan dan yu asri haring, merasakan gelombang aura menghipnotis,


Walau sangat kecil.


Segera mereka berdua melesat ke arah pintu gerbang istana.


Pintu gerbang telah terbuka, berdiri sosok pria dengan menuntun kuda hendak masuk ke dalam istana.


Segera Tian agan dan yu asri haring, menghadang pendekar itu, seraya bertanya.


"Wahai pendekar ada keperluan apakah, hingga pendekar menyambangi istana ini"


Pendekar penunggang kuda itu, sedikit kagum karena kedua pengawal ini, tidak terhipnotis oleh lantunan bait-bait syairnya.


Sang pendekar itu melantunkan bait-bait syair nya, kali ini di lambari tenaga dalam yang sedikit tinggi dari yang pertama.


Hingga suaranya sampai terdengar ke dalam aula istana, yang akan memulai jalannya sidang pengadilan pangeran Khal Shugal.


Jangan biarkan darah menghias istana indah ini


"Aku hanya inginkan pangeran


Membawa panasnya api abadi


"Tubuh ini sangat kedinginan


Jiwa ini sangat menggigil


"Kehangatan api abadi pangeran


Semoga bisa hangatkan jiwa ku


Keluar ledakan tenaga dalam dari tubuh pendekar itu, bersaman dengan bait syair yang terakhir.


Ledakan tenaga dalam menghantam kedua pengawal dalam istana, Tian agan dan Yu asri haring.


Tian agan dan Yu asri haring, mendapatkan serangan jarak jauh, tidak tinggal diam, keduanya mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, membentuk tameng di depan dadanya.


Bentrokan kedua kekuatan tenaga dalam, menghasilkan dentuman tidak di sebut kecil.


Debu berterbangan tinggi, menghiasi halaman istana.


Dari ledakan itu terlihat beda tingkatan penguasaan tenaga dalam yang sangat mencolok.


Pendekar itu tersenyum dengan kharisma yang khas, tertuju ke kedua pengawal dalam istana.


Sedangkan Tian agan dan yu asri haring, mendapati efek yang tidak terduga, jauh dari harapan mereka berdua.


"Boooooom"


Tubuh Tian agan dan yu asri haring terpental sejauh 6 Depa, darah mengalir dari sudut bibir keduanya.

__ADS_1


Luka dalam yang tidak di anggap ringan menerpa kedua pengawal dalam istana tersebut.


Mereka tak bisa bangkit lagi, hanya bisa duduk di topang kedua lutut mereka, tangan mereka memegang dada, yang terasa seakan meledak.


Seluruh isi aula persidangan berdiri, mendengar ledakan itu, tidak terkecuali pangeran Shun Land, yang merasa heran, mengapa pendekar yang di luar itu.


Mengetahui bahwa dirinya, memiliki kekuatan api abadi.


Sebagai putra mahkota kerajaan pangeran Shun Land, tidak berpikir panjang, karena tidak mustahil banyak prajurit, yang akan menjadi korban bila dirinya tidak cepat, keluar menemui pendekar itu.


Tubuh pangeran Shun Land melesat bagaikan terbang, melompat keluar mengunakan ilmu saipi angin.


Kedua kaki pangeran Shun Land, berhenti di dekat, Tian agan dan yu asri haring.


Kedua Tangannya memegang punggung, Tian agan dan yu asri haring, mengalirkan tenaga dalam, untuk meringankan luka dalam yang mereka alami.


Setelah di rasa cukup, memerintahkan keduanya menyingkir lebih jauh.


"Paman dan bibi sebaiknya mundur dulu agak jauh, biar aku yang menghadapi pendekar itu"


Mendengar itu Tian agan dan yu asri haring sangat terpukul hatinya.


Niat hati ingin melindungi pangeran Shun Land, tapi kenyataannya, mereka berdua yang di selamatkan pangeran Shun Land.


Auman harimau besar menggema di seluruh istana.


Tidak berselang lama melompat seekor harimau besar setinggi dada orang dewasa, di ikuti teriakan sang Rajawali api, dan hinggap di bahu kiri pangeran Shun Land.


Melihat ini pendekar itu tertawa terbahak bahak, seperti mendapati kegembiraan yang luar biasa.


Seuntai syair keluar dari pendekar penunggang kuda hitam itu.


"Angin tak mengirim dusta


Jiwaku bergelora melihat bara


"Semoga takdir tak berbuat tidak adil


Jiwa yang kedinginan ini menjadi hangat


"Pangeran bersiaplah


Untuk menjemput takdir yang tidak bisa meronta


"Keluarkan segala anugerah yang tersembunyi di balik ketidak berdayaan semesta


Bersaman berakhirnya bait syair,


Angin bertiup kencang mengelilingi tubuh pendekar itu, aura meledak hebat di sekitarnya.


Suasana menjadi mencekam, di seluruh istana,


Mata semua mata tertuju ke halam istana.


Semua tegang menghawatirkan keselamat sang putra mahkota kerajaan pangeran Shun Land.


Ibunda Ratu SHI khal, memegang erat tangan perdana menteri Jhasun, tiada suara yang keluar dari mulutnya.


Hati sang Ratu menjerit ke sang maha pencipta takdir, "selamat kan putra ku wahai yang mempunyai kehendak takdir"


...****************...


maaf hari ini cuma satu chapter


tiada kata indah pantas untuk sahabat-sahabat NOVELTOON.


selain Terima kasih dan sehat selalu buat kalian semua.


jangan lupa like dan komennya serta support nya. untuk perkembangan tulisan ini,


iiih penulis pedalaman mulai Rewel


🤭🤭🤭🤭🤭

__ADS_1


salam Nusantara 🙏🙏🙏


 


__ADS_2