
Shun Land memilih berjalan kaki walaupun sekarang dia sudah menguasai Aji Saipi angin secara otomatis dia bisa berjalan di atas tetapi ini tidak di lakukan dengan tujuan ingin menyusuri setiap pedukuhan yang di lewatinya hal kedua Shun Land belum mempunyai arah tujuan yang pasti.
Sambil berjalan hati Shun Land tidak berhenti memuji sang Pencipta tentang keindahan alam Penciptanya yang terbentang luas.
Shun Land pun memikirkan dari mana dia harus memulai mencari kebenaran siapa sebenarnya pembunuh sang guru dan kedua kakak seperguruannya.
Tanpa terasa sudah setengah hari Shun Land berjalan di depan terlihat sebuah pedukuhan.
Shun Land melangkahkan kakinya lebih cepat ingin singgah sebentar untuk mengisi perutnya yang sudah sekian lama tidak kemasukan makanan. Andai saja tidak menguasai ajian inti Air niscaya Shun Land sudah kurus kering bahkan bisa menemui ajal karena kelaparan.
Selain itu Shun Land pun mengunakan pusaka cupumanik astagiana bila terasa haus dan lapar cukup beberapa teguk rasa haus dan lapar akan hilang.
Shun Land memasuki pedukuhan tidak jauh sebuah warung di pinggir jalan. Terlihat ada beberapa orang sedang singgah ada yang sedang menyantap makanan ada yang sekedar beristirahat sambil menikmati secangkir teh manis.
Seseorang menggeser duduknya mempersilahkan Shun Land untuk duduk.
"Terimakasih tuan telah memberikan tempat untuk saya, bibi tolong satu porsi nasi lauknya cukup ikan asin dan satu mangkok sayur" Shun Land berterima kasih atas kebaikan dan langsung memesan makanan.
"Baik kisanak tapi sayang lauk asinnya sudah habis bagaimana kalau ikan gabus goreng...?"
Si bibi pemilik warung menyahuti.
"Tidak apa-apa bibi". Shun Land menjawab.
"Nak mas terlihat bukan penduduk sini, kalau boleh boleh tau hendak kemanakah atau dari manakah ?". Seseorang yang memberikan ruang duduk bertanya terlihat dari pakaiannya dari orang berada.
Shun Land menengok sambil menjawab. "Saya hanya seorang pengembara ingin melihat luasnya daratan Sunda Dwipa kalau di tanya tujuan hanya mengikuti langkah kaki paman".
"Nak mas harus hati-hati akhir-akhir ini banyak perampokan terjadi, memang semenjak di tinggal leluhur Ki Srengga, tiga hari yang lalu penduduk saya yang baru pulang dari kota bertahun-tahun hartanya di rampok hanya menyisakan pakaian yang melekat".
__ADS_1
Shun Land meneruskan bicara dengan bertanya, "pedukuhan apa ini paman".
"Perkenalkan Nama saya Harja saya ini kepala pedukuhan Cikawung ini, saya juga dulu yang mengantarkan mayat tanpa badan leluhur Ki Srengga dia sekaligus pinisepuh pedukuhan ini ke ibu kota Sunda Pura,...."
Harja berhenti lalu melanjutkan bicaranya.
"Andai leluhur masih ada mungkin rute ke kota akan aman, yang membuat situasi menjadi tambah tertekan bagi kaum kecil seperti pedukuhan kami ini adalah Raja kami yang luhur budi dan adil menghilang setelah kematian gurunya semua masyarakat menduga bahwa Raja kami pun di bunuh pendekar yang membunuh gurunya".
Kepala pedukuhan Cikawung Harja tertunduk sedih mengingat orang yang selalu melindungi pedukuhan Cikawung ini telah tiada.
Shun Land menahan nafas mendengar penuturan kepala pedukuhan.
"Paman sudah melapor ke pihak kerajaan".
"Kami saya sudah melapor tetapi pihak kerajaan kewalahan banyaknya kerusuhan dari perampok atau pun yang lainnya yang marak terjadi akhir-akhir ini mungkin kejadian ini di picu kepergian Raja tak kembali dan tidak ada kabar berita semua menduganya sudah meninggal". Kepala pedukuhan menjelaskan dengan wajah yang lesu.
"Setelah makan bolehkah saya melihat anak bibi semoga saja saya bisa sedikit membantu". Shun Land menatap ke bibi Marni menunggu jawaban.
"Silahkan Nak mas dengan senang hati, saya merasa berhutang Budi bila nak mas bisa menyembuhkannya". Bibi Marni menjawab dengan senang.
"Iya nak mas anak bi marni ini sudah beberapa purnama sakit bila nak mas mempunyai kemampuan dalam pengobatan Sudi kiranya membantu mencoba menyembuhkannya biar saya yang akan membayar jasa Nak mas". Kepala pedukuhan Harja mencoba membantu dg membayar upahnya.
Shun Land tidak menjawab di khusu menikmati makan, setelah selesai makan Shun Land di antar bibi pemilik warung bi Marni masuk kedalam kamar di ikuti kepala pedukuhan yang niat aslinya mempunyai hati pada bi Marni yang janda walau pun sudah tidak di bilang muda tapi kecantikan bi Marni membuat kepala pedukuhan jatuh hati dan ingin di jadikan istri keduanya.
Tergeletak seorang anak bibi Marni yang sudah memasuki usia remaja, badannya kurus kering tapi di lihat wajahnya kecantikan anak perawan bi Marni tidak hilang.
Shun Land memegang lengan memeriksa denyut nadinya. Terasa di ujung jari Shun Land denyut nadi anak perempuan bibi Marni yang bernama Lasmini tidak beraturan.
"Bu siapa ini". Lasmini bertanya suaranya sudah lemah, bi Marni duduk di sebelah kepala gadis itu air matanya berlinang tanpa terasa melihat penderitaan anaknya.
__ADS_1
"Nak dia kakak pengembara ingin mengobati penyakit mu". Bi Marni menjawab sambil mengelus kepala anak gadisnya yg semata wayang.
"Bibi dan paman tolong keluar sebentar yaa percayalah tidak akan terjadi apa-apa". Shun meminta keduanya keluar dua tidak ingin pusaka cupumanik astagiana banyak yang tahu.
Melihat wajah Shun Land bukan wajah orang jahat tetapi lebih mirip seorang bangsawan bi Marni dan kepala pedukuhan Harja tanpa pikir panjang keluar dan menutup pintu kamar.
"Adik manis minum lah tiga tegukan saja ya sambil berdoa semoga sang maha Pencipta menyempurnakan penyakit adik manis".
Shun Land mengeluarkan Pusaka cupumanik astagiana yang mempunyai kesaktian penyembuhan. Lasmini mengangguk tanda mengerti entak kenapa hati Lasmini merasa teduh dan tenang dekat Shun Land.
Shun Land membantu mengangkat kepala gadis malang ini, dengan sekali sentuh Shun Land sudah mengetahui penyakit Lasmini yang terkena racun walaupun tidak begitu ganas hingga nyawanya bisa bertahan sampai saat ini.
Setelah meminum air dari pusaka cupumanik astagiana perlahan tubuh Lasmini berkeringat semakin lama keringat itu berubah warna kekuningan di sertai bau tidak menyengat.
Tubuh Lasmini menggigil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya bagai di remas-remas tapi itu tidak berlangsung lama hanya beberapa menit berangsur-angsur rasa nyeri itu menghilang kulit yang sudah pucat kini kembali seperti semula wajahnya cerah kembali.
Lasmini mencoba bangkit ingin duduk bersandar setelah merasa tidak ada yang di rasa tapi tubuhnya masih lemah Shun Land membantu hingga bisa duduk bersandar.
"Terimakasih kasih kakak pendekar telah menyembuhkan penyakit saya, saya bersedia menjadi pelayan kakak pendekar sebagai rasa terima saya". Lasmini berterima kasih dan ingin membalas budi dengan apa yang dia mampu.
"Jangan di pikirkan gadis manis sudah kewajiban membantu yang sedang kesusahan". Shun Land menjawab dengan tersenyum.
Shun Land melanjutkan bicara "bibi tolong bawakan air hangat".
Bi Marni tanpa banyak pikir langsung mengambil air hangat satu gelas besar dan membawanya kedalam. Begitu masuk betapa senang dan gembira melihat anak gadis sudah bisa duduk.
"Bibi tolong beri minum dan setelah itu mandikan dengan air hangat biar baunya hilang". Setelah bicara Shun Land keluar lalu duduk di tempatnya tadi.
---------------&&&&------------
__ADS_1