
Boma yang merasa hatinya tak enak, dia memohon izin untuk pulang lebih awal, walaupun tugas membereskan ruangan bekas perta belum selesai.
Hati Boma berdebar-debar seakan mendapat firasat yang tidak baik.
Dia khawatir ibunya yang sedikit tidak enak badan, penyakitnya memburuk maklum dia usia yang sudah senja.
Tapi ibu kameng tidak boleh memberi tau, pangeran Shun Land, di takutkan menganggu kegiatan di istana.
Langkah kaki Boma di percepat melihat pintu. Kediamannya terbuka lebar dan ada gambar telapak tangan.
Sepertinya pintu itu di paksa, di buka dari luar.
Boma masuk ke dalam, terlihat ruangan itu berantakan. Pintu kamar terbuka lebar, dengan hati penasaran Boma melangkah ke arah pintu.
Sampai di depan pintu, Boma kaki lemas, hingga dia terduduk, wajahnya pucat, dia tidak tau harus berbuat apa.
Pemandangan di depannya membuat mentalnya jatuh, pikiran nya buntu, nafasnya memburu.
Setelah dapat menguasai dirinya dia berlari mengunakan ilmu saipi angin, menuju istana.
Sesampai di istana ada Mawinei yang sedang merapihkan ruangan bekas perta.
Tubuh Boma gemetar Di depan Mawinei, matanya berair. Dia berkata dengan terbata-bata.
"Di ma na pang pangeran" hanya itu suara yang keluar.
Mawinei melihat sikap Boma yang tidak biasa, Mawinei langsung memberi tau kemana pangeran pergi, mungkin ada masalah yang penting.
Boma langsung berlari ke depan istana, pintu gerbang segera terbuka, seluruh prajurit penjaga sudah mengenal Boma.
Setelah keluar dia menanyakan kearah mana pangeran Shun Land berjalan, pada prajurit penjaga.
Dengan serempak prajurit menunjuk kearah pinggir jalan, ke seseorang yang berdiri memperhatikan, sepasang burung yang hinggap di pohon pinggir jalan.
Boma Segera berlari ke arah orang itu, setelah dekat langsung bersimpuh,
"Pangeran ibu, ibu pangeran" Boma bicara sambil berlinang air mata.
"Boma katakan dengan jelas ibu kenapa, tenangkan dirimu, bicara yang jelas" pangeran Shun land penasaran.
Pangeran Shun Land berlari bagai kilat, setelah mendengar kabar duka dari Boma yang berkata dengan cucuran air mata.
__ADS_1
pintu gerbang istana hancur berkeping keping di diterjang pangeran Shun Land.
pangeran sampai di pintu rumah ibu Kamen yang terbuka, pelan-pelan melangkah hati berharap berita dari Boma itu salah.
selangkah dua langkah tiga langkah hati pangeran Shun Land berdebar kencang, ketika langkah ke empat jantung berhenti berdetak darahnya mendidih, wajahnya bagai bara api.
Di lihatnya ibu Kamen tergeletak di ranjang, dengan dada yang hangus sampai pakaian ikut terbakar, tergambar tapak tangan di dadanya, kulitnya menghitam tanda telapak tangan itu begitu panas membara.
tubuh pangeran Shun Land terjatuh, bersimpuh di samping jasat sang ibu tercinta, yang mengurus, menjaga sejak dia bayi.
Di rengkuhnya tubuh itu lalu berdiri. tangisannya meledak, bibirnya memanggil ibu dengan seluruh kekuatan tenaga dalam dan kekuatan api abadi.
*iibbuuuuuuu"
bersamaan dengan suara itu aura pangeran Shun Land, meledak hebat, bangunan rumah itu hancur berkeping-keping.
gelombang ledakan itu sampai ke aula utama istana, yang sedang mengadakan Rapat, secara spontan, panglima Tian agan dan yu asri haring, melesat ketempat asal ledakan.
terlihat pangeran Shun Land, sedang membopong jasad tanpa nyawa ibu angkatnya, dengan tangisan yang meraung-raung,
Terdengar suara pangeran Shun Land penuh kemarahan dan kesedihan mendalam.
"siapa pun yang melakukannya aku pastikan akan menerima keadilan yang setimpal"
seluruh istana menuju ke belakang istana, tempat ledakan itu terjadi.
Sang Ratu menangis hatinya bagai di iris-iris, bagai mana perasan putranya, dia tak bisa membayangkannya.
tidak begitu lama terdengar dentuman keras beberapa kali, setelah itu hening,
putri May lien, putri Sari Tungga Dewi, putri Dewi sumayi, pendekar Antaka panglima Shu khal dan tetua Sri khal, Sesepuh agung, ibu Sesepuh Dewi Iswari, menyaksikan kejadian itu.
putri Sari Tungga Dewi, melesat pergi, kearah dentuman itu, di ikuti putri dewi sumayi, dan putri May Lien.
semuanya mengikuti arah lari putri Sari Tungga Dewi, mengkhawatirkan keadaan pangeran Shun Land.
putri Sari Tungga Dewi, sampai di lereng gunung, terlihat pangeran Shun Land berdiri bagai patung, seluruh tubuhnya di selimuti api abadi berwarna merah membara.
Tapi tubuhnya tidak terbakar, menghadap tebing yang berlubang, serpihan batu di mana-mana.
putri Sari Tungga Dewi, mendekati sekitar dua Depa berlutut sambil berkata disertai Isak tangis.
__ADS_1
"pangeran aku merasakan kemarahan dan kesedihan pangeran, sadarlah pangeran, aku tidak akan berhenti berlutut sampai pangeran sadar mengendalikan diri"
tidak lama putri Dewi sumayi, datang berlutut di samping putri Sari Tungga Dewi.
"Pangeran tidak di dunia ini yang paling aku cintai, selain pangeran, sadarlah pangeran, aku rela menggantikan kesedihan pangeran dengan seluruh jiwa dan raga sebagai gantinya"
tapi pangeran Shun Land tetap berdiri bagai patung, kobaran api di seluruh tubuhnya tetap menyala.
sangat Ratu SHI khal, ibu sesepuh Dewi Iswari, tetua Sri khal, maha Patih Jhasun, panglima Shu khal, pendekar Antaka.
datang dan semua berlutut semuanya bersahutan, memanggil pangeran Shun Land agar segera sadar, tetapi pangeran Shun Land tetap mematung dengan kobaran api abadinya.
suara Auman Lodaya sang harimau besar terdengar di punggungnya ada putri May Lien, di atas kepala sang Rajawali api,terbang pelan.
Lodaya menghampiri dari arah depan, setelah jarak setengah depa Lodaya sang harimau besar, bersimpuh sang Rajawali api hinggap di sisi sang Lodaya,
putri May lien berjalan perlahan dia tidak takut terbakar, hatinya bagai di iris-iris sembilu, melihat sang pangeran belahan jiwanya berdiri bagai patung di selimuti api kemarahan.
Sambil berjalan putri May lien, berkata
"pangeran belahan jiwa ini, kalau tubuh dan jiwa ini harus terbakar dan hancur....
aku May Lien, rela dan ikhlas, bila itu meredakan kemarahan dan kesedihan pangeran....
Raga ini, jiwa ini tidak mempunyai arti di banding kesadaran pangeran yang di butuhkan negri ini...
Sadarlah pangeran ku" setelah jarak selangkah lagi. putri May lien, bersimpuh di kaki pangeran Shun Land, tangan putri May lien hendak menyentuh kobaran api abadi, tiba-tiba api itu meredup.
Dalam kesadaran pangeran Shun Land, dirinya berdiri di lautan bara api, dia hanya mengingat telapak tangan yang tergambar di dada sang ibu, tapi tiba-tiba ada yang memanggil, suaranya sangat hapal.
Suara dari orang yang tak pernah menuntut, orang yang tak pernah membuat dia marah, orang yang selalu mengerjakan apa dia mau, orang yang selalu mementingkan keperluannya.
orang yang siap mengorbankan jiwa dan raganya demi keselamatan nya,
orang yang selalu ada, di dalam kesedihan atau kesenangan, orang yang tidak memperdulikan, apa dia seorang pangeran atau pengemis sekali pun, dia akan tetap menemaninya.
...****************...
tinggalkan jejak
like end komennya
__ADS_1
terima kasih 🙏🙏🙏