
Sambil menikmati daging sapi segar mereka bercanda ria dengan lapas. Entak kenapa keakraban dan rasa persaudaraan di antara mereka terjalin erat keluar dari hati nurani mereka.
Shun Land yang tadinya merasa kesepian karena jauh dari orang-orang terkasih sekarang mulai merasakan mempunyai keluarga baru, kehadiran Lamsijam yang kepribadiannya polos dan jujur mewarnai kelompok kecil ini menjadi hidup.
Karakter Delay yang usil dan suka ceplas-ceplos membuat kelompok kecil ini penuh tawa, di sela-sela makan nyeletuk ucapan Lamsijam yang spontan ketika Delay menyatakan markas ini menjadi rumah pertama buat kelompok ini. Tapi Delay susah menyebut kelompok ini karena belum ada nama.
"Delay jangan susah-susah menyebut Keluarga ini sebuah saja keluarga Utusan keadilan mudah bukan di ucapkan?.
Aji Wijaya yang jarang bicara mulut reflek berkata "Serujuuuuuu". Di ikuti kakaknya Aji Wisesa berkata "keluarga Utusan keadilan".
"Kita sepakat keluarga kecil ini bernama keluarga Utusan keadilan, nona Lasmini suapi tuan Jaya tanda peresmian nama keluarga Utusan keadilan ini, simbol welas asih memberi makan dan kasih sayang". Delay melirik ke Lasmini mengerakkan alisnya ke atas.
Lasmini mengambil sepotong daging dan mengasingkan ke mulut Shun Land sambil berkata. "Makanlah suamiku kau kepala keluarga jangan sampai badanmu kurus kaya paman Lamsijam uuup aaaa aaaam".
Shun Land membuka mulutnya mengikuti candaan istrinya. "Ada bayi di suapi minta minum susu". Delay berkata sambil menjauh duduknya dari Shun Land.
Semuanya tertawa bahagia. "Terima kasih semuanya kalian menjadi sahabat dan keluarga saya yang baru, saya merasa hidup kembali, perjalan saya ini benar-benar sendiri kemudian saya mempunyai teman hidup gadis ini yaa memang cantik seperti bidadari tapi kadang-kadang bidadari nyerocos dan di tambah kalian semakin rame". Shun Land berkata jujur.
"Kita akan menginap di sini hingga 3 atau 4 hari, saya ingin memikirkan langkah selanjutnya, paman Lamsijam apa paman pernah ke gunung Dieng ke tempat persembunyian pembunuh bayaran kelas tinggi tiga raja kematian guru Raja tengkorak dan guru Tapak besi". Shun Land bertanya.
"Kalau kesana belum tapi menurut kakang tapak besi mereka bertiga berada di puncak gunung Dieng". Lamsijam berkata menurut sepengetahuannya.
__ADS_1
Malam semakin larut mereka pun pergi beristirahat Shun Land dan Lasmini di antar Lamsijam ke salah satu kamar sedangkan mereka berempat tidur di ruangan depan markas, Lamsijam sendiri yang sudah terbiasa tidak tidur berjaga dengan duduk di depan markas Raja tengkorak.
Di dalam kamar Lasmini yang merasa lelah dan cape setelah kepalanya menempel ke bantal langsung pergi ke alam mimpi. Shun Land berbaring menatap ke langit-langit pemikirannya bimbang antara melakukan kepentingan pribadi yaitu mengejar pembunuh gurunya Ki Srengga dan kakak seperguruannya panglima Antaka dan Narpat Maja belum lagi menyelidiki ke hancuran perguruan Gajah Mungkur yang menewaskan ibu dan ayah.
Di sisi lain ada keperluan menyangkut masalah rakyatnya yang saat ini memerlukan sosok yang melindungi dan membuat mereka merasa tentram. Shun Land pun akhirnya bermeditasi untuk menjernihkan pikirannya mendekatkan diri kepada sang maha Pencipta.
Hingga pagi mulai menyingsing Shun Land membuka matanya mengakhiri meditasinya. Shun Land telah menemukan langkah apa selanjutnya.
Dalam meditasinya Shun Land menemukan kepentingan yang lebih utama yaitu kepentingan rakyatnya dari pada kepentingan pribadinya menuntut keadilan kepada para pembunuh. Untuk saat ini Shun Land sudah mantap akan meneruskan mengejar kejahatan yang marak saat ini.
Selain itu Shun Land pun ingin membangun kekuatan baru lagi hanya untuk kali ini Shun Land ingin orang-orangnya yang bergabung harus dari dunia persilatan, keputusan ini berdasarkan tabiat manusia, mereka tidak berbuat jahat dan merugikan yang lain bukan karena tidak berniat tetapi karena ketakutan dari yang lebih besar dan lebih kuat.
Berdasarkan pemikiran itu Shun Land ingin membuat suatu kelompok yang benar-benar tidak ada toleransi untuk tindak kejahatan. Dengan kelompok ini orang baru mendengar namanya juga ketakutan.
Keinginan ini timbul berdasarkan beberapa kali bermimpi, pada waktu mimpi itu dirinya berada di tengah-tengah perang sangat dahsyat dan besar hampir seluruh daratan dan lautan Sunda Ageng di penuhi oleh api peperangan hati kecilnya sendiri kadang ada perasaan takut.
Mimpi itu terus menghantui pemikirannya, hatinya bertanya-tanya apakah mimpi perang itu di tujukan untuk dirinya di masa depan atau hanya suatu simbol peperangan dalam hatinya menghadapi segala penyakit hati dan rasa was-was dan rasa ragu-ragu yang kadang timbul saat mengambil keputusan.
Setelah melakukan meditasi pemikiran dan hati Shun Land menjadi jernih dan memuaskan dirinya harus membangun pasukan yang sangat kuat, dengan pertimbangan andaikan perang itu bukan untuk dirinya mempunyai keuntungan setelah Topongramenya selesai mempunyai pasukan yang lebih kuat, kalau mimpi perang itu untuk dirinya maka pasukan ini menjadi tambahan kekuatan pasukan yang sudah ada.
Tapi untuk saat ini nama kelompok ini Utusan keadilan dan hanya bergerak membasmi para rampok, begal, penyamun dan kejahatan yang berhubungan langsung dengan masyarakat banyak.
__ADS_1
Namun indentitas kelompok ini tetap di rahasiakan dan keberadaannya pun tidak di ketahui selain anggota kelompok ini. Untuk masalah mengejar pembunuh guru dan kakak seperguruannya Shun Land akan di lakukan sambil jalan menyisir setiap wilayah yang terlihat rawan kejahatan. Dalam hal ini Shun Land ingin membersihkan secara menyeluruh di setiap pelosok dataran luas Sunda Dwiva dan akan berlanjut sampai daratan Pulau kedewatan Bali setelah itu baru akan kembali ke daratan luas Swarna Bumi.
Shun Land selalu mengharapkan uluran bantuan sang maha Pencipta dalam melakoni laku Ritual Topongrame ini.
Shun Land setelah membersihkan diri keluar dari kamarnya dengan pakaian yang bersih.
Lasmini di bantu Delay memasak untuk makan bersama, sedangkan Dua kakak beradik Aji Wisesa dan Aji Wijaya memotong dan menjemur daging sapi untuk di jadikan dendeng.
Shun Land duduk bersama dengan Lamsijam di depan markas yang memang ada pendopo besar untuk pertemuan dan para bawahan Raja tengkorak menyetor uang wilayah.
"Tuan Jaya ada 2 kelompok lagi yang masih ada di jalur alas Roban ini keduanya juga bawahan Raja tengkorak biasanya mereka akan menyetor ke sini dua kali sebulan, kemungkinan dua atau tiga hari lagi purnama waktunya mereka akan datang menyetor". Lamsijam memberikan laporan.
"Mereka menyetor kesini dengan seluruh bawahannya apa hanya ketua mereka paman Lamsijam". Shun Land balik bertanya.
"Mereka yang datang ketua dan beberapa anak buahnya saja". Lamsijam memberikan keterangan Shun Land langsung membuat keputusan. "Kalau begitu kita tidak akan menyergap di sini kita datangi markasnya paman apa jauh dari sini"
"Markas mereka di pegunungan Muria di sebelah timur pedukuhan Semarang. Kalau begitu ketika mereka datang saya akan berpura-pura memberikan perintah kepada mereka agar menemui Raja tengkorak dan membawa seluruh anak buahnya ke daerah gua Kreo kita tidak susah-susah mendatangi Mereka itu menurut saya tuan Jaya". Lamsijam memberikan ide.
"Itu lebih bagus" jawab Shun Land menyetujui. Sedang asik bercengkrama Lasmini datang memanggil mereka berdua untuk makan bersama.
Lamsijam memanggil Aji Wisesa dan Aji Wijaya untuk makan bersama. Mereka pun berkumpul menikmati makan dengan menu utamanya daging sapi di tambah berbagai sayuran yang tersedia di dapur bekas persediaan makan Raja tengkorak dan bawahannya.
__ADS_1
Di sela-sela makan Lamsijam kepalanya celingukan terus dan makan sepertinya tidak tenang. Dan tingkah ini di lihat oleh Shun Land. "Ada apa paman sepertinya paman tidak tenang katakan jangan ragu-ragu kita adalah keluarga jangan ada yang di sembunyikan".
****************"