
"Dia akan mengikuti setelah kita jauh dari pantai, tubuh besar dan panjang si naga bau itu akan jadi sorotan bila banyak yang melihat" jawab sang Rajawali api.
Nahkoda kapal lemo-lemo datang menghampiri pangeran Shun Land.
"Tuan Satria Nusa kencana, kemana tujuan kita sekarang"
Nahkoda kapal lemo-lemo bertanya sambil ketakutan melihat burung Rajawali besar.
Pangeran Shun Land, mengerti akan ketakutan nahkoda kapal lemo-lemo.
"Tenang paman lemo-lemo Rajawali ini sahabat saya, dia tidak akan melukai kita, tujuan kita ke tanah bumbu, menurut telik sandi jalan paling cepat menuju gunung pamaton melalui muara tanah bumbu".
"Tuan Satria Nusa kencana, tapi melalui tanah bumbu, kapal tidak bisa masuk, sungai itu dangkal kedalamnya, kami hanya bisa menunggu di sana". Nahkoda kapal lemo-lemo memberi penjelasan, dia telah mengetahui muara sungai tanah Bumbu.
(Jaman 2 ribu thn yang lalu, permukaan air laut tidak setinggi sekarang, jadi menurut perkiraan sungai tanah bumbu Kalimantan ini termasuk sungai kecil, tidak seperti sungai Mahakam Barito dan sungai lainnya, setelah lapisan es di kedua kutub mengikis, banyak sungai-sungai kecil jadi membesar, karena permukaan air laut meninggi).
"Tenang paman lemo-lemo setelah sampai di tanah bumbu saya akan melakukan perjalanan darat, menurut telik sandi dari sana sekitar satu Minggu perjalan darat sampai di gunung pamaton, tenang saya mempunyai penunjuk jalan yang jitu" pangeran sambil menepuk leher Rajawali api.
"Tuan Satria Nusa kencana, jalur darat dari sana banyak perampok dan penyamun, berhati-hati lah" Nahkoda Lemo-lemo memberi informasi.
Hari semakin malam pangeran Shun Land masuk ke kamarnya.
Kapal berlayar dengan tenang, di kelamaan selat selat, seekor ular bersayap berkaki empat mengiringi kapal tersebut.
Pagi pun tiba, putri Dian Prameswari dwibuana, duduk di anjungan kapal menikmati sang Surya yang baru menampakan separuh badan.
Pemandangan ini sungguh sangat indah, angin sepoi-sepoi dari Utara menerpa rambut hitam panjang sepinggang. Semakin menambah jelita wajah exotic berdarah Dwiva.
Pelayan kapal datang memberikan satu gelas minuman hangat jahe di beri air nira, hangat dan manis menelusuri leher indah berkulit kuning Langsat.
"Terima kasih paman, berapa lama lagi paman kita sampai ?". Putri Dian Prameswari, berterima kasih dan bertanya.
"Mungkin sebelum sore kita sampai tuan putri" sang ABK menjawab, lalu pergi dan berpapasan pangeran Shun Land.
__ADS_1
"Tuan tunggu sebentar, minum dan sarapan akan segera saya antar"
"Terima kasih paman dan tolong beri sedikit ikan pada Rajawali api ku paman". Pangeran Shun Land meminta, untuk memberi ikan pada sang Rajawali api.
Kapal terguncang hebat, semua kru termasuk Nahkoda kapal lemo-lemo dan wakilnya Tana Beru, keluar dari dek bawah, menuju ke anjungan depan.
Pangeran Sanjaya triloka dan Boma, berlari, pangeran Shun Land dan putri Dian Prameswari dwibuana meloncat dari atas balkon.
Satu ikan besar, sebesar badan sapi remaja tergeletak di anjungan depan, ikan itu sudah hampir mati hingga tak membahayakan.
Di sisi kiri seekor ular hijau besar berkaki empat dan bersayap, mengiringi kapal dari jarak empat depa.
Sang Rajawali api tak kalah di cakarnya satu ikan, sebesar domba betina, teriakannya memekakan telinga.
Tapi semua kru, pangeran Sanjaya triloka dan putri Dian Prameswari dwibuana, Boma pun tak ketinggalan, menepi ke geladak kapal, melihat sang naga bumi Sabui sedang berenang di permukaan.
Pangeran Shun Land segera menepi dan melihat, lantas berkata sedikit keras.
"Terima kasih sahabat ku, aku dan saudara-saudara ku tidak akan kelaparan lagi, pergilah jangan terlalu dekat nanti bisa di lihat pihak musuh yang ada di mana-mana"
Para kru dan ketiga sahabat, menatap penuh tanya.
"Dia sahabat ku, dia naga bumi berkekuatan air". Semua terbengong, ternyata pangeran Shun Land, memiliki hewan-hewan legenda yang menemaninya, entah rahasia apa lagi yang dimilikinya, sungguh begitu misterius pangeran dari kerajaan Kutai khal ini.
Dalam benak, pangeran Sanjaya triloka, dan putri Dian Prameswari dwibuana semakin kagum dan merasa sangat tepat menjalin hubungan baik, akan berguna di masa depan.
Di lain tempat di lereng sebuah gunung lima buah rumah besar dan satu pendopo di tengahnya.
Ki tapak sakti sedang menyidang satu murid tertuanya tapak geni, dia sangat marah tapi tidak berbuat apa-apa, karena bagaimanapun, tapak Geni banyak berbuat jasa pada padepokan tapak maut.
"Kau harus bertanggung jawab atas segala akibat dari tindakan mu, telah menghilangkan nyawa seorang pelayan kerajaan, yang ternyata pelayan itu orang yang sangat penting bagi putra mahkota kerajaan....
__ADS_1
Sekarang ini dia telah menjadi seorang raja, cepat atau lambat dia akan menuntut balas atas orang yang di cintanya"
Pendekar tapak Geni hanya diam dia tau, kesalahannya tapi itu di lakukan karena, bayaran yang sangat tinggi, seratus ribu keping emas, bisa membiayai tiga tahun padepokannya.
"Itu terserah guru dan saudara-saudara seperguruan, tapi saya juga tidak menyangka bahwa bang*** Maasiak menipu ku, ternyata target adalah ibu angkat putra mahkota, yang dia katakan target hanya seorang pelayan ibu dari yang merebut tunangannya"
Ki tapak sakti hanya diam, lalu bicara
"Aku tahu kau di jebak Maasiak, tetap saja poin pentingnya kita berurusan dengan satu kerajaan, perguruan kita telah lama hidup dari hasil jadi pembunuh bayaran, bahkan sampai ke daratan luas Dwipa dan Swarnabumi, kita akan melawan habis-habisan bila ada yang mau mengusik perguruan kita.....
"Apa pun alasannya, orang yang akan menuntut balas dan memusnahkan perguruan tapak maut, yang telah berdiri ratusan tahun silam, kita akan melawannya, sampai titik darah penghabisan......
"Ini adalah resiko dari pekerjaan kita, yang mengambil jalan hitam mau tak mau, kita harus siap menghadapi kesulitan-kesulitan bersama, karena kita pun menikmati hasil bersama apakah kalian siaaap".
"Siaaap guru, kami akan bertaruh nyawa, membela perguruan ini, yang telah membesarkan kami". Semua murid bersemangat setelah mendengar ucapan ki tapak sakti, yang berotasi menyala-nyala.
"Hai tapak sakti keluar kau apa kau sudah menjadi pecundang atau pengecut, kerjamu hanya mengunakan anak buah mu, dan berlindung di tengah-tengah gundik mu, anak buah mu sudah sekarat yang menghadang ku"
Teriakan yang mengandung kekuatan tenaga dalam tidak rendah, keluar dari seseorang di luar, menggema sampai ke dalam pendopo utama padepokan.
Ki tapak sakti melesat bagaikan terbang keluar pendopo menuju ke halaman pendopo tempat berlatih para murid.
Empat pendekar berpakaian serba hitam berdiri tegak menantang sang lawan keluar dari pendoponya.
Satu pendekar berbadan pendek sedikit gemuk dengan senjata tongkat berkepala tengkorak dari bahan baja hitam, berkacak pinggang tidak ada rasa takut walau berhadapan dengan, Ki tapak sakti pendekar kelas tinggi yang sudah meraja rela dan mengepalai para pembunuh bayaran kelas tinggi.
...****************...
like end komennya serta support nya, buat pertumbuhan tulisan, bernuansa NUSANTARA
terima kasih yang telah mengikuti dari awal tulisan ini, berkah dan sehat selalu buat kalian aamiiin
🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
SALAM NUSANTARA
DALAM GARUDA PERKASA