LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
145. Sumur Kahuripan di rawa Batu jaya.


__ADS_3

Pangeran Shun land, Ki Bajul pakel dan Ki Srengga hanya menatap punggung Boma, tidak berkata sepatah kata pun.


Boma sampai malam duduk menyendiri bagai mana pun dia sangat berat berpisah dengan pangeran Shun land walau sering bertengkar dia adalah satu-satunya saudara dia berani bertaruh nyawa demi membela saudaranya ini.


Yang membuat sakit hati Boma tidak ada sedikit pun simpati dari pangeran Shun land padanya, seakan dirinya tidak ada artinya di hati pangeran Shun land.


Sampai seperempat malam, Boma baru bisa tidur lelap.


Keesokan harinya masih pagi-pagi sekali angin laut pantai selatan dingin menusuk sampai ke tulang, tapi pangeran Shun land dan Ki Bajul pakel sudah membersihkan diri bersiap untuk berangkat ke Rawa batu jaya.


Ki Srengga masuk ke dalam gua untuk membangun Boma.


"Bangun Boma sudah pagi".


Boma mendengar suara Ki Srengga lantas bangun dia melirik ke kanan dan kiri sudah tidak ada siapa-siapa hanya dia dan Ki Srengga.


"Cepat membersihkan diri dan ambil barang barang mu kita akan pergi dari sini, ku tunggu di luar". Ki Srengga berjalan ke luar gua.


Boma Segera mencuci mukanya dan segera berkemas dia takut di tinggal oleh Ki Srengga di gua yang terpencil.


Sampai ke pintu gua Boma melihat pangeran Shun land dan Ki Bajul pakel belum berangkat sang Rajawali Api masih berjalan jalan di pinggir pantai.


Pangeran Shun Land segera melangkah ke arah sang Rajawali Api tanpa melirik ke Boma lalu melompat ke punggung sang Rajawali Api di ikuti Ki Bajul pakel.


Boma matanya berkaca-kaca melihat itu semua tetapi ketika hendak menangis terdengar suara pangeran Shun land memanggil.


"Kau mau tinggal di sini apa mau ikut kalau ikut cepat naik". Boma mendengar ini langsung lari dan meloncat ke punggung sang Rajawali Api. Ki Bajul pakel tertawa Ki Srengga tersenyum bangga pada murid-muridnya yang terlihat sangat kuat mempunyai rasa persaudaraan.

__ADS_1


"Awaaas akan ku balas kau pangeran sempruuuul raja sempruul". Boma berkata sambil menahan tangis terharu ternyata saudara angkatnya hanya bercanda ingin meninggalkan dia gua yang terpencil.


Sang Rajawali Api terbang dengan cepat tidak butuh waktu lama mereka sampai ke rawa Batujaya.


Mereka bertiga turun di gumuk tengah-tengah rawa Batujaya di sana tidak terlihat Naga bumi Sabui.


Pangeran Shun land menengok kanan dan kiri tetapi tidak menemukan Naga bumi Sabui.


Sang Rajawali Api berjalan ke arah tepian rawa dia membentangkan sayapnya kilat kilat api merah membara muncul, sang Rajawali mengepakan sayapnya ke depan, seperti orang membentangkan kedua tangannya lalu menangkupkan ke depan.


Dari sayap itu keluar api kuning kemerahan menuju tengah Rawa yang ada rumput birunya. Belum sampai api itu terbang benda biru ke atas lalu menukik hinggap di samping pangeran Shun land.


"Paman Bajul pakel dan Boma sebaiknya kalian ke pelabuhan menemui paman Antaka dan yang lainnya, Boma berikan pesanku pada paman Antaka supaya menyelidiki perguruan gelap ngampar".


Ki Bajul pakel dan Boma pergi ke pelabuhan Tarumanagara menemui panglima pasukan khusus senyap Antaka adik seperguruan Ki Bajul pakel.


Sang Rajawali kembali dengan cepat dan hinggap di samping kanan pangeran Shun land.


"Pangeran ikuti aku" Naga bumi Sabui berjalan di ikuti pangeran Shun land dan sang Rajawali Api.


Naga bumi Sabui berhenti di pinggir kayu jati berderet seperti rakit, Gaga bumi Sabui menyingkirkan kayu-kayu tersebut terlihat sumur berdiameter satu depa orang dewasa.


Ternyata naga bumi Sabui menutup sumur tersebut dengan batang pohon jati purba yang entah dari mana dia asalnya.


Di pinggir sumur itu ada batu lebar pipih yang halus permukaannya seperti tempat mandi.


"Batu itu tempat membersihkan diri, guru dari Raja agung Jatiraga, guru beliau bernama Sanghyang triloka, batu mustika itu dulu bersatu dengan batu mustika api merah delima tetapi ketika di berikan oleh Sanghyang triloka kepada muridnya Raja agung Jatiraga batu mustika air itu terbelah jadi dua tanpa sebab, sebelum Mala petaka itu datang, Raja agung Jatiraga memasukan batu mustika air panca warna itu ke sumur ini, tempat pemandian mendiang gurunya Sanghyang triloka, lalu dia berpesan kepadaku,...

__ADS_1


"Naga bumi Sabui sahabat ku Jagalah tempat ini hingga suatu masa manusia pilihan dari keturunan ku datang mengambilnya", ....


Terus Raja agung membawa batu mustika merah delima ke gua dan melemparkan batu mustika api merah delima ke sumur lahar itu, dia pun berpesan yang di tujukan bukan kepadaku tapi pada burung pemarah itu..


"Garuda perkasa sahabat ku Jagalah batu mustika api merah delima ini sampai manusia pilihan datang mengambilnya".


Tetapi waktu datang tanda tanda Mala petaka dari alam semesta burung itu menyuruh ku menjaga batu mustika api merah delima. Tapi aku bisa terhubung dengan batu mustika air panca warna ini karena mempunyai kekuatan yang sama".


Naga bumi Sabui bercerita, sang Rajawali yang mulai pulih ingatannya lalu menimpali.


"Walau pun aku pemarah tapi aku menyuruh mu menunggu Batu mustika api merah delima agar kau selamat biar leluhur agung Jatiraga dan aku yang berkorban melindungi tempat-tempat penting seperti Sumur Kahuripan ini selamat, kalau di antara kita mati semua siapa yang meneruskan menjaga warisan leluhur agung ini dari naga api hitam dan Mara Deva yang serakah, apa kau rela negri ini di kuasai Mara Deva dan naga api hitam, dasar naga bau tanah".


Walau bicara dengan berapi-api sang Rajawali Api sangat mencintai sahat sejatinya ini dia rela memilih dirinya yang berkorban menemani sang leluhur agung Jatiraga.


Pada waktu itu yang di tugaskan sebenarnya mereka berdua tetapi melihat sang Leluhur agung Jatiraga sendirian berjuang menyelematkan beberapa keturunannya dan benda benda pusaka serta tempat-tempat penting lainya dirinya memutuskan untuk membantu dan memastikan keselamatan sahabatnya.


Maka ketika hujan lahar panas dari langit sang Rajawali Api mengerahkan seluruh kekuatannya menutupi gunung tersebut hingga tubuhnya hancur tidak mampu melawan kekuatan alam dari sang maha pencipta.


Demi sahabat sejatinya bisa selamat.


Naga bumi Sabui matanya berkaca-kaca menatap sang Rajawali Api dia pun berjalan mendekati dan meletakan kepalanya di pangkal leher sang Rajawali Api


"Terima kasih kau saudaraku sahabatku kau sering membelaku, ketika aku akan terbunuh oleh Naga api hitam kau menolong pun menolongku". Naga bumi Sabui berterima kasih.


Sang Rajawali Api memalingkan wajahnya agar air matanya tidak terlihat menutupi rasa haru bisa kembali bersama berjuang dengan Naga bumi Sabui yang tidak pernah terpersit sedikitpun di hatinya ketika dia tubuhnya hendak hancur.


"Kau senang ya bisa bersama dengan ku lagi". Naga bumi Sabui menggoda sang Rajawali Api.

__ADS_1


"Cepat kau katakan bagai mana caranya untuk mengambil mustika air panca warna jangan banyak bercanda" sang Rajawali Api berkata menutupi rasa harunya.


...****************...


__ADS_2