LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
150. Tipu muslihat Putri malu.


__ADS_3

Tiga bayangan berkelebat di antara pohon pohon besar di hutan belantara bayangan itu menuju ke barat hingga singgah di sebuah pedukuhan.


Mereka bertiga berjalan santai masuk ke gerbang pedukuhan yang terbuat dari kayu.


Mereka pun singgah di salah satu kedai kecil di pinggir jalan lalu memesan minuman dan makanan.


Putri malu menerima minuman dari wanita paruh baya sambil bertanya.


"Bibi kampung apa kah ini dan masih jauh kah ibu kota Sundapura dari sini".


"Ini pedukuhan Carapan Nona, ibu kota Sundapura masih cukup jauh nona sekitar setengah hari bila berjalan kaki". Pemilik kedai menjawab.


Seorang penunggang kuda melintas di depan kedai yang di singgahi Ki Kala Durga dan kedua wanitanya.


Ki Kala Durga melirik kearah penunggang kuda tersebut, tatapan mata mereka bertemu penunggang kuda tersebut memalingkan wajahnya ke depan dan berlalu dari pandangan mata Ki Kala Durga.


"Siapakah penunggang kuda tadi bibi sepertinya pejabat tinggi kerajaan" Ki Kala Durga bertanya.


"Tuan benar-benar tidak mengenalnya pasti tuan bukan berasal dari daerah sini, dia itu panglima besar kerajaan Tarumanagara Panglima Antaka yang terkenal itu".


Pemilik kedai menjawab pertanyaan dengan polos, andai saja pemilik kedai mengetahui jawabannya akan berdampak buruk pasti tidak akan menjawab dengan jujur.


Wajah Ki Kala Durga tersenyum gembira lalu merogoh ke dalam bajunya menggambil sebuah gulungan lalu membukanya.


Terlihat sebuah sketsa wajah seseorang laki-laki dan menyamakan dengan penunggang kuda tersebut, tersungging senyum gembira dari bibir Ki Kala Durga Lalu berkata.


"Putri dan Dewi angin-angin cepat habiskan kita meneruskan perjalanan agar tidak terlalu malam sampai pada ibu kota Sundapura".


Keduanya mengerti ucapan Ki Kala Durga setelah mendengar jawaban pemilik kedai yang mengatakan penunggang kuda itu panglima Antaka.


Sementara itu Antaka sudah berada di depan gerbang perguruan Singa perbangsa untuk bertemu Ki Aria Wirasaba.

__ADS_1


Panglima Antaka di antara salah satu murid Ki Aria Wirasaba menemui Ki Aria Wirasaba.


Dengan penuh kegembiraan Ki Aria Wirasaba menyambut kedatangan Panglima Antaka, berbagai makana dan minuman di sediakan untuk menghormati salah satu petinggi kerajaan.


"Trima kasih Ki Aria telah menyambut saya begitu istimewa ini sebenarnya terlalu berlebihan". Panglima Antaka memulai pembicaraan.


"Tidak apa-apa tuan panglima ini hanya sekedarnya, tapi tidak biasa tuan bertamu ke perguruan Singa perbangsa apa hanya sekedar berkunjung apa memang ada keperluan penting yang perlu di sampaikan kepada saya". Ki Aria Wirasaba segera bertanya.


Sebelum menjawab panglima Antaka melirik Kana dan kiri, Ki Aria Wirasaba mengerti maksud dari panglima Antaka langsung mengisyaratkan beberapa muridnya dan dua orang pelayan perguruan untuk meninggalkan ruangan.


Setelah mereka keluar panglima Antaka bicara.


"Tuan Aria sekarang ini situasi dunia persilatan sedang di Landa kemelut banyak keonaran dan pembunuhan terjadi pembuat onar memakai atribut dan pakaian dari perguruan hingga antar perguruan saling mencurigai saya ingin pendapat Ki Aria untuk masalah ini, karena imbasnya kepada keamanan kerajaan yang tidak setabil".


Panglima Antaka langsung pada pokok bahasan.


"Perguruan saya juga telah menjadi korban fitnah tersebut ada serentetan perampokan dan pemerasan dengan atribut dan pakaian perguruan Singa perbangsa di daerah perguruan Cimande, hingga nama baik saya tercoreng di depan Ki Aria Natanagara, menurut saya ini adalah salah satu tindakan sekelompok orang yang ingin di antara perguruan saling serang dan saling membunuh".


Ki Aria Wirasaba menimpali ucapan panglima Antaka dan menjelaskan kejadian yang menimpa perguruannya.


"Tuan penjaga apa ini perguruan Singa perbangsa saya ingin menemui guru besar Ki Aria Wirasaba karena tadi pagi lapak dagangan saya di acak-acak dan modal berdagang saya di rampas oleh murid perguruan ini".


Wanita itu berkata dengan menundukkan kepala menahan Isak tangis yang akan meledak.


"Benar nyai ini perguruan Singa perbangsa, apa nyai tidak salah lihat dengan kejadian itu". Penjaga gerbang bertanya seolah tidak percaya dan ingin meyakinkan wanita pedagang itu tidak berbohong.


"Tidak tuan saya sangat yakin yang merampas dan menghancurkan lapak dagangan saya adalah salah satu dari murid perguruan ini, tapi kalau tuan tidak percaya dan tidak mengijinkan saya untuk bertemu dengan guru besar Ki Aria Wirasaba tidak apa-apa, memang nasib orang kecil dan lemah seperti saya selalu di curigai dan di rugikan oleh pihak besar dan kuat seperti perguruan ini".


Setelah bicara wanita pedagang itu hendak membalikkan badannya tapi suara penjaga membuat mengurungkan niatnya.


"Tunggu nyai saya akan mengantarkan nyai pada Ki Aria Wirasaba pemimpin perguruan ini".

__ADS_1


Penjaga itu berpamitan pada ketiga temannya yang ikut mendengarkan dirinya bicara pada wanita pedagang itu.


"Dasar para penjaga bodoh mudah saja mempercayai sandiwara ku hihihihi". Wanita itu bergumam di dalam hatinya.


Wanita itu adalah Putri Malu yang ingin memancing panglima Antaka untuk keluar dari perguruan Singa perbangsa setelah di tempat yang sepi akan di eksekusi bertiga.


Penjaga gerbang mengetuk pintu sambil berkata, "tuan guru ada seorang wanita ingin bertemu, katanya lapak dagangan dan modal berdagangnya di rampas oleh salah satu murid perguruan Singa perbangsa".


Panglima Antaka yang sedang melacak keberadaan para perusuh meminta Ki Aria untuk mempersilahkan masuk dengan harapan dapat informasi dari korban.


"Suruh masuk kemari". Ki Aria Wirasaba mempersilahkan wanita itu.


Penjaga gerbang mendorong pintu lalu berkata. "Silahkan nyai masuk di dalam guru Ki Aria Wirasaba menunggu nyai".


Dengan gaya malu-malu Putri Malu masuk sambil menundukkan kepalanya.


"Silahkan duduk nyai dan coba ceritakan apa yang nyai alami hingga nyai menyimpulkan bahwa murid saya yang melakukan tindakan yang membuat nyai mendapatkan kerugian"


Ki Aria Wirasaba mempersilahkan duduk, Putri Malu yang menyamar menjadi seorang pedagang sayur menceritakan apa yang terjadi tapi kali ini putri Malu menambah ketergantungan bahwa dia mengetahui kemana dia pergi yang kemungkinan tempat persembunyiannya.


"Tuan Aria pada waktu saya tidak memperdulikan keselamatan saya, saya mengikuti kemana murid Ki Aria sampai ke tepi sebuah hutan di sana ada jalan setapak saya masuk ke hutan itu tapi ketika hendak terus maju saja di hadang oleh ular cukup besar jadi saya tidak sampai ke persembunyiannya". Putri malu pun menangis keras seakan benar-benar kecewa.


Panglima Antaka mendengar cerita yang sederhana ini menjadi percaya dan langsung berkata.


"Nyai masih ingat jalan kesana dan mengantar saya ke sana, saya ingin membuktikan apa benar mereka itu asli murid-murid perguruan Singa perbangsa atau orang lain yang pura-pura menjadi murid perguruan Singa perbangsa".


Putri Malu langsung menjawab dengan nada kecewa. "Sayang sekali tuan saya tidak bisa mengantar tuan karena uang saya sudah habis".


Ki Aria Wirasaba langsung bertanya karena keheranan apa urusannya mengantar ke jalan para perusuh dengan uang.


"Nyai mengapa tidak bisa menunjukan jalan kesana kan tidak pakai uang".

__ADS_1


"Tuan saya ini seorang perempuan untuk kesini saja saya tidak beri sendirian saya menyewa dua orang pendekar di kampung saya walau pun tidak sesakti tuan-tuan tapi cukup untuk membunuh hewan-hewan buas di jalan, saya membayar hanya cukup pulang pergi dari kampung sampai ke sini kalau saya pergi bersama tuan akan di kenakan biaya tambahan uang saya sudah habis". Putri Malu bicara sambil menyusut air mata palsu demi menyakinkan mereka berdua.


_____*****_____


__ADS_2