
"Suruh masuk penjaga". Raja wilayah Majakarta Wisnu Wardana menjawab. Shun Land mengiyakan bahwa kedua orang tersebut bawahannya.
Kapten Barja dan Nyai Mirah masuk dan duduk di samping kepala Bangsawan Osing tuan Lembu Marunda lalu berkata. "Salam hormat dan sembah bakti pada Sang prabu Jaya Sempurna serta salam hormat pada raja wilayah Majakarta paduka Wisnu Wardana, salam hormat pada ketua Bangsawan Osing tuan Lembu Marunda, Sang prabu Jaya Sempurna ada titah apa saya di panggil ke pelabuhan Hujung Galuh, sampai di sana saya mendapatkan informasi sang prabu Jaya Sempurna ada di pelabuhan Canggu".
"Terima kasih paman Barja dan Nyai Mirah, paman tolong bawakan sepuluh kotak keping koin emas kesini yang ada di kapal". Shun Land menjawab, kapten kapal Barja langsung berangkat kepelabuhan. Shun Land melanjutkan bicaranya.
"Paduka Wisnu Wardana, setelah melihat lokasi ini, saya ingin paduka Wisnu Wardana juga membangun benteng pertahanan dan pengungsian ruang bawah tanah di muara Sungai purba berantas di Labuhan, dan saya pun akan menempatkan Armada Laut Naga Biru untuk ikut menjaga pintu masuk di perairan selat Bali ini". Shun Land mengakhiri bicaranya.
Paduka Wisnu Wardana, setelah melihat lokasi ini, saya ingin paduka Wisnu Wardana juga membangun benteng pertahanan dan pengungsian ruang bawah tanah di muara Sungai purba berantas di Labuhan, dan saya pun akan menempatkan Armada Laut Naga Biru untuk ikut menjaga pintu masuk di perairan selat Bali ini". Shun Land mengakhiri bicaranya.
Raja wilayah Majakarta Wisnu Wardana berkata dengan sesuatu pertanyaan yang banyak orang tidak memikirkannya.
"Sang prabu Jaya Sempurna, untuk membangun sebuah benteng pertahanan saya mengerti maksud dan tujuannya tetapi untuk membangun pengungsian di ruang bawah tanah dan atasnya kuat terhadap api ini sungguh tidak saya mengerti, sepengatahuan saya yang namanya pengungsian adalah tempat di mana kita kalah dan rakyat kita di tindas sedangkan sekarang kita belum kalah untuk apa rakyat harus di ungsikan mohon berikan saya jawaban yang membuat saya mengerti dan menghilangkan rasa kebingungan di hati saya .?".
Mendengar pertanyaan ini Shun Land tersenyum lalu menjawab dengan santai dan bijaksana. "Sebelum saya menjawab pertanyaan inti saya ingin membicarakan sedikit bagian dari ilmu alam semesta ini". Shun Land berhenti bicara menatap semuanya dengan tatapan welas asih yang sangat dalam inilah wujud hasil dari Ritual Topongrame yang nyata dalam kehidupannya.
__ADS_1
Lalu Shun Land meneruskan bicaranya.
"Alam semesta ini dulunya tidak ada lalu di ciptakan menjadi ada hampir semuanya berpasangan, ada kiri dan kanan, ada depan dan belakang, ada laki-laki dan perempuan, ada siang dan malam, ada panas dan dingin, ada Api dan Air, ada sedih dan gembira, ada ada kelahiran dan kematian, ada kesenangan dan kesengsaraan, ada kebenaran dan kesalahan, ada benar dan salah, ada jahat dan baik dan yang lainnya,.....
"Semuanya di ciptakan oleh Sang Maha Pencipta alam semesta ini agar ada keseimbangan dan sebagai bukti dari kekuasaan Sang Maha Pencipta, lalu di ciptakan diri kita yang bebas untuk memilih ini sebagai bukti bahwa Sang maha Pencipta sangat adil tidak pernah memaksa kita untuk menentukan sikap padahal Sang Maha Pencipta sangat mampu untuk memaksa kita berbuat pada satu sisi, kanan tau kiri, benar atau salah, tetapi itu tidak dilakukan oleh sang maha pencipta karena bila berbuat seperti itu Sang Maha Pencipta alam semesta ini tidak adil,.....
"Tujuan Sang Maha Pencipta menciptakan semua berpasangan ini sebagai ujian bagi kita untuk menentukan sikap di jalan mana kita melangkah, dalam diri kita pun semua berpasangan dari fisik sampai ke sifat dan tabiat, ada sifat baik dan buruk, ada tabiat baik dan buruk,....
"Sang Maha Pencipta memberikan suatu pilihan pada kita di jalan yang baik atau jalan yang buruk, yang baik akan mendapatkan kebaikan dan ketenangan, yang buruk akan mendapatkan keburukan dan kegelisahan dan kesengsaraan,.....
"Kita di takdirkan untuk memilih jalan yang damai tetapi kita pun tidak bisa menghindar dari peperangan ini, di pihak sana yang di takdirkan memilih jalan peperangan dan keserakahan, ini adalah suatu ujian dan perjuangan untuk kita, bahwa kita berdiri di jalan yang benar wajib memerangi ketidak adilan sebagai bukti rasa syukur kita terhadap Sang Maha Pencipta untuk menciptakan keseimbangan di alam semesta ini,....
"Tujuan dari peperangan adalah melindungi hak dan melaksanakan aturan Sang Maha Pencipta, dan bagi yang kuat adalah suatu kewajiban untuk melindungi yang lemah, kita di sini mengobarkan semangat perjuangan untuk berperang untuk melindungi mereka yang lemah, kita tahu bila perang terjadi yang menjadi korban adalah rakyat yang lemah andaikan kita menang tetapi rakyat yang kita lindungi tidak selamat itu pun sia-sia, tujuan di bangun pengungsian adalah bila perang terjadi rakyat yang kita lindungi menjadi aman, andaikan kita kalah kita sudah menang karena yang kita lindungi telah selamat".
Shun Land mengakhiri bicaranya sebenarnya Shun Land ingin menjelaskan lebih banyak tetapi Shun Land mengurungkannya karena tidak semuanya akan mengerti dengan pembicaranya.
__ADS_1
Raja wilayah Majakarta Wisnu Wardana mendengarkan dengan seksama dengan kecerdasan yang di milikinya bisa mengerti Inti dari penjelasan Shun Land yang sedikit panjang lebar.
Sementara itu di halaman lelang pelabuhan Canggu Sang Legenda Rajawali Api sedang duduk di tengah halaman dengan berbagai gaya kadang kala dia mengulurkan percikan api di kedua sayapnya.
Para penduduk setempat maupun para pedagang semuanya merasa takjub dengan ke gagahan dan ke saktinya, keberadaan Sang Legenda Rajawali menjadi tontonan, mereka yang selama ini hanya mendengar dari dongeng dongeng para leluhur, mereka sekarang bisa melihat dengan mata telanjang keberadaan Sang Legenda Rajawali Api.
Kisah pertempuran Sanghyang Tunggal dengan Raja manusia purba raksasa kini di ceritakan kembali, cerita yang dulu di anggap dongeng belaka kini di yakini lagi kebenarannya, dalam kisah itu pun di ceritakan tunggangan Sanghyang Tunggal adalah seekor burung Rajawali sangat besar dan mengeluarkan kekuatan panas.
Dengan munculnya Sang Legenda Rajawali Api di tengah-tengah masyarakat menjadi suatu bukti bahwa cerita leluhur mereka bukan sekedar dongeng semata.
Para pujangga pada Zaman itu mulai meneruskan cerita Leluhur mereka tentang seorang satria gagah perkasa penunggang sang Legenda Rajawali Api, mereka berkreasi berbagai judul menurut kreativitas mereka masing-masing.
Para pujangga ada memberi judul cerita mereka dengan judul "Satria penunggang Sang Rajawali". Ada juga yang memberi judul "Satria penunggang Sang Garuda perkasa". Ada juga yang memberi judul "Pendekar Garuda perkasa". Dan yang paling masyhur dengan Judul "Legenda Rajawali Api". Yang di sisipi ajaran-ajaran tentang kebaikan, tentang Ketuhanan, tentang sejarah Bangsa besar Sundaland yang telah maju dalam segi ilmu pengetahuan dan berbagai ilmu pengetahuan tentang ilmu Kanuragan maju pesat di sana juga di sisipi ajaran-ajaran falsafah Asli Bangsa Sunda yaitu falsafah Saepi empat unsur. Saipi Api, Saipi Air, Saipi Angin dan Saipi Bumi, di sana di terangkan makna yang tersirat dan surat dengan detail.
______*****_____
__ADS_1