
Lasmini dan putri Sanja duduk berdampingan di sebelahnya nyai Karmia dan Kasmia, setelah itu Shun Land, pangeran Sanjaya triloka dan yang lainnya sedangkan Pataya dan anak buahnya duduk di ujung pendopo dekat dengan pintu. Ki Bantara sendiri duduk berhadap-hadapan dengan pangeran Sanjaya triloka dan Shun Land.
Dua wanita keluar yang satu paruh baya dan yang satunya lagi seumur putri Sanja. Mereka berdua membawa gelas yang terbuat dari tembikar yang di bakar dan dua kendi ukuran sedang, mereka berdua menaruhnys di tengah lingkaran mereka duduk.
"Silahkan tuan-tuan dan nyonya-nyonya hanya ini yang bisa kami berikan air hangat gula aren maafkan kami tidak bisa menghormat dengan selayaknya" yang paruh baya berkata dia adalah istri Kepada pedukuhan yang bernama Nyai Sunyi dan yang muda adalah anaknya Mangaling.
"Perkenalkan ini istri saya dan dia adalah anak saya dan yang mengantar kalian adalah suaminya Taruno". Pak Bantara memperkenalkan anggota keluarganya.
Shun Land mencolek pinggang pangeran Sanjaya triloka untuk bicara memperkenalkan diri pangeran Sanjaya triloka segera membuka mulut menyahuti ucapan pak Bantara.
"Maaf pak Bantara saya tidak langsung memperkenalkan diri, saya bernama Sanjaya triloka dari Bangsawan Wajak Sangiran lembah begawan Solo, dan itu istri saya putri Sanja, dan ini perkenankan juragan dagang kami Dewi Lasmini dan ini suaminya tuan Jaya Sempurna, kami kesini satu ingin bermalam kedua ingin sedikit berbagi dengan penduduk pedukuhan Prawata ini singkatnya juragan dagang utusan keadilan Dewi Lasmini ingin berdarma bakti, dan untuk Paman Pataya mungkin pak Bantara sudah mengenalnya sekarang dia dan anak buahnya menjadi pegawai juragan kami jangan khawatir pak Bantara dan penduduk sini akan dirugikan oleh mereka, itulah maksud kami ingin menemui pak Bantara sebagai kepala pedukuhan",......
Pangeran Sanjaya triloka berhenti bicara karena Delay datang, lalu duduk di dekat Lamsijam. "Tuan Sanjaya dan nona Lasmini pesanan makanan di kedai sudah siap". Delay memberikan laporan.
"Pak Bantara bagai mana kalau kita makan bersama di sini bersama para penduduk pak Bantara undang seluruh penduduk biar semuanya kami yang nanggung dan kami ingin mengetahui ada berapa jumlah penduduk di sini ?". Shun Land kali ini ikut bicara.
"Tidak apa-apa tuan Jaya kami merasa senang karena beberapa hari ini tangkapan ikan lagi kurang bagus nanti Taruno dan Caksono mengundang para penduduk, kalau jumlah para penduduk menantu saya yang mengetahui jumlah percisnya". Pak Bantara mempersilahkan dengan wajah berbinar-binar tanda sangat senang.
__ADS_1
Dalam kesempatan itupun Pataya dan ke 4 anak buahnya meminta maaf pada kepala pedukuhan pak Bantara dan seluruh penduduk, pangeran Sanjaya triloka juga menjelaskan selain Darma bakti sesama para penduduk pun mendapatkan uang koin emas dari Pataya sebagai permintaan maaf.
Di istana Sundapura kerajaan Tarumanegara Boma sedang mondar mandir setelah melihat kondisi permaisuri May Lien yang terluka, Boma akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan Permaisuri Dian Prameswari dwibuana, langkahnya cepat seakan mempunyai hal yang sangat penting.
Sesampainya di depan pintu Boma segara mengetuk dan berkata. "Maaf permaisuri saya izin menghadap ada sesuatu yang ini saya bicarakan".
"Masuklah kak Boma" terdengar dari dalam suara permaisuri Sari tungga dewi yang pada saat itu sedang berbicara dengan putri Dian Prameswari dwibuana membicarakan tugas keuangan karena putri Sanja yang sedang pergi bersama suaminya.
"Maaf permaisuri dan putri Dian saya mengganggu pembicaraan kalian berdua". Setelah duduk Boma bicara.
"Begini permaisuri dan putri Dian saya ingin meminta izin untuk pergi ke perguruan gajah Mungkur untuk melihat langsung keadaan perguruan Leluhur Ki Bagus Atma dan setelah itu saya langsung ke gua Hyang Sirah, saya penasaran biasanya Adik Shun Land kalau lagi ada masalah di akan bermeditasi di sana besok saya akan berangkat itu yang saya bicarakan permaisuri". Boma bicara langsung pada niatnya.
Permaisuri Sari tungga dewi tidak bicara dirinya sendiri sebenarnya ingin meninggalkan istana tetapi kepentingan istana adalah kepentingan seluruh negeri makanya dia menahan diri untuk mencari keberadaan sang suami hal kedua yang menahannya untuk pergi adalah dirinya mengerti betul sikap dan kepribadian sang suami, tidak mungkin kepergiannya meninggalkan istana pasti mempunyai alasan yang amat penting dan mendasar berkenaan dengan seluruh kepentingan kerajaan ini sedangkan dari ketiga permaisuri hanya dia yang di berikan amanat bahwa bagaimana pun keadaan dan situasi dia harus tetap mengurus kerajaan ini.
Permaisuri paham betul perasaan Boma, karena dia orang yang paling dekat dengan suaminya sejak kecil selain saudara angkat dia pula yang selalu ada di samping Shun Land dalam keadaan suka ataupun duka.
__ADS_1
"Say akan selalu mendukung apa yang di rencanakan kakak Boma tapi menurut saya lebih baik kakak tidak sendirian, kakak Boma termasuk keluarga terdekat istana saya tidak ingin melihat kehilangan keluarga yang ke sekian kalinya". Permaisuri memberikan masukan sekaligus perintah bahwa Boma harus ada yang menemani.
"Kakak Boma saya mengusulkan kakak di temani kakang Makkamaru karena dia sudah sering ingin mencoba mendatangi tempat tempat yang sering Paduka Raja Shun Land singgahi termasuk gua Hyang Sirah di ujung kulon. Putri Dian Prameswari dwibuana ikut bicara.
Boma berpikir sejenak lalu segera memutuskan, "Baiklah permaisuri putri Dian saya akan berangkat besok dan nanti sore saya akan menemuinya sekaligus saya ingin berpamitan pada permaisuri May Lien dan permaisuri Dewi Sumayi, saya pamit permaisuri dan putri Dian". Boma setelah bicara berdiri dan menundukkan kepalanya tanda hormat lalu berjalan menuju pintu ruangan pribadi permaisuri Sari tungga dewi.
Sambil berjalan ke kediamannya Boma tidak putus-putus memikirkan kematian Ratu Shi khal dan perdana menteri Jhasun, selain junjungannya sang ratu Shi adalah orang kedua yang dia hormati selain ibunya sendiri.
Dalam pemikiran Boma semoga dengan melihat langsung ke perguruan gajah Mungkur tempat kejadian tersebut bisa menemukan satu titik terang sang pembunuh berdarah dingin ini.
Esoknya Boma dan pangeran Makkamaru sudah menunggangi kuda khusus untuk perjalanan jauh, Baru saja mereka keluar di gerbang istana luar seekor harimau besar mengejar, Boma berhenti turun dari kudanya. Lalu bicara seperti bicara pada manusia.
"Aku tahu kau ingin ikut, tetapi tugas mu melindungi permaisuri May Lien, siapa yang menjaganya bila kau pergi bersama ku" Boma mengusap-usap kepala Lodaya seakan mengerti ucapan Boma Lodaya menggoyangkan seluruh tubuhnya dan berjala kedepan dan duduk di hadapan kuda Boma dan pangeran Makkamaru.
Boma hanya bisa mengusap dada hewan yang satu ini benar-benar seperti manusia keinginannya tak bisa di hentikan, "Baiklah kalau kau memaksa tapi bila masuk pedukuhan kau tidak boleh membuat para penduduk ketakutan". Boma akhirnya mengalah.
Boma meneruskan perjalanan bersama pangeran Makkamaru dan Lodaya mengikuti dari belakang.
__ADS_1
******************