LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
141. Mulai berguru ilmu saipi air.


__ADS_3

Sedangkan Ki Bajul pakel naik ke atas tebing untuk menyiapkan makanan dan minuman.


Keesokan harinya Ki Srengga memberi dasar dasar ilmu saipi air, pada pangeran Shun land


Ilmu saipi banyu ini hanya ada tiga bagian pertama untuk pertahanan ke dua untuk menyerang ke tiga untuk penyembuhan.


Dalam prakteknya ilmu saipi tidak banyak gerakan tubuh hanya di bagian ke dua untuk menyerang musuh, selebihnya mengolah tenaga dalam mengontrol kekuatan air yang ada di dalam tubuh.


Pelabuhan Tarumanagara menjadi sangat ramai oleh hilir mudik kapal besar dan kecil entah dari para nelayan yang mau melayang hasil tangkapannya Entah para pedagang lintas samudra yang mencoba peruntungan di pelabuhan yang berubah jadi sebuah pusat pemerintahan.


Hilir mudik kapal pengangkut kayu dari dataran luas Dwiva bagian timur menambah padatnya hilir mudik kapal di pelabuhan itu.


Di antara para pedagang dan para pekerja kapal yang sedang sibuk oleh aktivitas masing-masing, tiga orang sedang memperhatikan para pekerja dan menyelidiki keadaan pelabuhan.


Mereka bertiga berpakaian seperti penduduk setempat yang membedakan hanya logat bahasa yang medok ciri khas daerah tengah daratan Dwiva.


"Kakang apa kita lebih baik menemui Ki Casta pemilik penginapan pohon Kedawung mungkin dia mengetahui perubahan ini". Salah satu dari mereka berkata pada kawannya.


"Benar juga, apa yang kau katakan". Temannya menyahuti.


Sebelum mereka bertiga beranjak dari duduknya datang seorang pendekar dengan senjata golok besar, pendekar itu menepuk pundak salah satu dari mereka bertiga.


"Bandi kapan kau sampai ke sini".


Pendekar itu menyebut salah satu dari mereka dengan nama Bandi.


Bandi menoleh lalu melakukan gerakan silat di sambut oleh pendekar golok besar.


"Lama kita tidak bertemu ilmu tenaga dalam mu makin tinggi saja" Bandi memuji teman lamanya.


Pendekar golok besar duduk di samping Bandi, dia tengak-tengok setelah tidak ada yang memperhatikan lalu bicara seperti berbisik.


"Ada tugas apa kalian sampai kemari".

__ADS_1


Bandi menjawab. "Aku di tugaskan untuk mengetahui apa yang terjadi di sini, Casmin antar aku ke juragan Casta"


Pendekar yang di panggil Casmin langsung menimpali "kita ke kedai Kiara saja nanti aku cerita semua di sana". Setelah bicara Casmin berdiri dan keluar dari rumah makan itu menunggu di depan rumah makan.


Bandi membayar ke pelayan setelah itu keluar di ikuti dua tamannya, Mereka berempat menuju ke selatan pelabuhan.


Casmin masuk kedai kecil di ikuti Bandi dan kedua temannya, Bandi mempertanyakan situasi di pelabuhan yang mendadak ramai dan banyak prajurit keamanan di sana sini.


Casmin menceritakan kejadian setelah bulan yang lalu dari pertama Muncul hewan legenda Rajawali besar yang mengelilingi pelabuhan lalu kembali lagi setelah itu ada penyergapan di Penginapan pohon Kedawung oleh prajurit yang tidak di kenal.


Setelah itu pelabuhan di kuasai oleh pihak prajurit itu dan membangun kekuatan yang di kepalai oleh seorang putri dari bangsawan timur daratan luas Dwipa.


Begitu lah yang terjadi". Casmin mengakhiri ceritanya.


Bandi dan kedua rekannya menatap tajam seakan tak percaya.


"Ada lagi yang lebih menakutkan kelompok ini bila ada yang menentang atau menyebarkan isu kepada masyarakat agar jangan mematuhi peraturan mereka keesokan harinya akan mati dengan jasat yang mengerikan, atau orang itu hilang tanpa bekas bagai di telan bumi". Casmin menambahkan penjelasan.


"Bagai mana juragan Casta setelah peristiwa itu". Bandi bertanya lebih jauh.


"aku lebih nyaman bergabung dengan mereka, mereka memperlakukan ku seperti teman mereka aku merasa di hormati dan di hargai dari pada majikan ku yang dahulu yang yang berlaku sewenang-wenang".


Itulah jawaban juragan Casta". Pendekar Casmin menceritakan posisi Juragan Casta.


"Sekarang kau sendiri bagai mana". Bandi ingin tahu pendirian teman lamanya ini.


"Secara pribadi aku memilih tetap menjadi pengikut majikan kalian, kedai Kiara ini menjadi pos sisa-sisa pengikut setia majikan yang lama, aku dan Ki Candra ingin melapor tapi belum ada kesempatan, kebetulan kalian di utus kesini bagai mana menurut kalian". Casmin menjawab dengan jujur.


Menurut Casmin dia lebih memilih juragan yang lama karena dia lebih leluasa bertindak dan melakukan apa saja yang dia mau dan dia senangi.


"Sekarang kau sendiri bagai mana". Bandi ingin tahu pendirian teman lamanya ini.


"Secara pribadi aku memilih tetap menjadi pengikut majikan kalian, kedai Kiara ini menjadi pos sisa-sisa pengikut setia majikan yang lama, aku dan Ki Candra ingin melapor tapi belum ada kesempatan, kebetulan kalian di utus kesini bagai mana menurut kalian". Casmin menjawab dengan jujur.

__ADS_1


Menurut Casmin dia lebih memilih juragan yang lama karena dia lebih leluasa bertindak dan melakukan apa saja yang dia mau dan dia senangi.


"Menurut ku kau harus ikut dengan ku ke padepokan gelap ngampar melapor ke ketua langsung, di sana akan di adakan pertemuan seluruh pengikut ketua besar, dari berbagai padepokan yang telah bergabung". Bandi memberi masukan.


"Baiklah kapan kita berangkat kesana" Casmin bertanya lebih lanjut, di jawab oleh Bandi.


"Besok kita berangkat malam ini kita mengumpulkan orang yang masih setia pada majikan kita".


Bandi dan Casmin dan kedua temannya di bantu pemilik kedai Kiara Ki Candra menghubungi orang-orang yang masih setia pada majikan mereka.


Hingga malam mereka baru bisa menghubungi orang yang masih setia pada majikan mereka, semuanya berjumlah sebelas orang, dari mereka ada juga yang masih bekerja di rumah makan kembang Tanjung.


Di depan guha Pawon berdiri dua bangunan besar dan empat bangunan lebih kecil.


Di ruangan utama berkumpul enam orang yang menjadi pembesar padepokan itu. Niraya Sura, Upiak arai, Maasiak Ki Saron dan dua murid utamanya, Dadang dan Baskara.


Duduk melingkar membahas langkah selanjutnya untuk mengatasi kekuasaan mereka yang sekarang ini terganggu oleh keberadaan kapal kapal yang bersandar di pelabuhan Tarumanagara.


"Ki Saron sudah berapa padepokan yang telah bergabung dengan kita sekarang ini". Niraya Sura bertanya memulai pembicaraan


"Sudah tiga padepokan besar dan empat padepokan kecil dalam tiga atau empat hari lagi para ketua dari mereka akan sampai kemari, padepokan besar Cimande di tatar pesisir selatan yang masih belum mau bergabung tapi kami mengupayakan dengan iming-iming besar dan padepokan Cikampek yang dengan tegas menolak terang terangan tidak mau berkerja sama". Ki Saron menjelaskan panjang lebar.


Dua pelayan wanita muda datang membawa minuman dan makanan setelah itu mereka Segera kembali di isyaratkan oleh Maasiak.


"Aku pun mendapat kabar bahwa kakang Kama Deva akan bergabung di sini untuk melatih para murid inti, Ki Saron segeralah mempelajari kitab ilmu saipi angin untuk di gabungkan dengan ilmu gelap ngampar yang sudah di kuasai ki Saron, kita aka segera menguasai daratan luas Dwipa ini dalam genggaman kita, daratan luas Swarna Dwipa sudah kita kuasai hampir 70 persen oleh Kakang Asvaghosa dan Adik Deva putra".


Niraya Sura memberi arahan pada Ki Saron ketua perguruan gelap ngampar.


Di saat mereka sedang bicara sambil menikmati minuman dan makanan, di luar heboh kedatangan seekor Naga hitam dengan penunggang seorang laki-laki besar berjubah hitam di punggungnya ada gambar Naga hitam di kelilingi warna merah api membara.


Niraya Sura segera melesat keluar ke halaman padepokan di ikuti Ki Saron, juragan Upiak arai dan Maasiak.


Di atas halaman seekor naga sisik hitam pekat mengilat mengepakan sayap menebar hawa panas pelan-pelan turun, di atasnya punggungnya laki-laki gagah berjubah hitam parasnya sangat menawan banyak yang tertipu bahwa dia berusia sekitar 30an tahun padahal dia telah melewati beberapa jaman.

__ADS_1


Niraya Sura segera berlutut di ikuti dengan yang lainya.


...****************...


__ADS_2