
Sang Legenda Rajawali Api turun dengan pelan di hadapan Shun Land dan pangeran Makkamaru. Putri Ambo Dale dan pangeran Isogi segera turun dari punggung Sang Legenda Rajawali Api.
Pangeran Makkamaru yang duduk tertunduk segera mendongak matanya berkaca-kaca melihat dua sosok yang memakai pakaian kebangsawanan tetapi sudah sobek sana sini tubuhnya pun kurus dan hitam.
Dengan kegembiraan yang teramat sangat pangeran Makkamaru langsung loncat ke hadapan kedua pemuda dan pemudi ini, ketiganya berpelukan tidak ada suara yang keluar hanya isak tangis kegembiraan.
Setelah mereda rasa haru di hati mereka bertiga, pangeran Makkamaru segera bertanya. "Adik bagai dan di mana ibu dan ayah sekarang".
"Sekarang ini ayah dan ibu tinggal di gubug tidak jauh dari sini". Putri Ambo Dale menjawab. Pangeran Makkamaru melirik ke Shun Land meminta izin untuk segera berangkat ke tempat ayah dan ibunya.
"Kita berangkat sekarang, putri Ambo Dale dan pangeran Makkamaru serta pangeran Isogi naik ke Sang Garuda aku menyusul". Shun Land berkata singkat.
Tanpa ragu-ragu pangeran Makkamaru memerintahkan putri Ambo Dale dan pangeran Isogi untuk segera naik ke punggung sang Legenda Rajawali Api dan dirinya pun menyusul setelah Mereka berdua berada di atas punggung sang Legenda Rajawali Api.
Sang Legenda Rajawali Api terbang menuju gubug kepala bangsawan Andi Bugis tuan Labusa dan Nyai Ilempe berada. Shun Land menyusul terbang mengikuti Sang Legenda Rajawali Api di belakang.
Hanya butuh sekitar 15 menit mereka sudah berada di depan gubuk yang sangat sederhana. Nyai Ilempe dan tuan Labusa berlari menyongsong ke arah pengeran Makkamaru dan memeluknya dengan gembira hingga mereka lupa ada Shun Land di sana.
Tuan Labusa tersadar ketika melihat sang Legenda Rajawali Api yang berada di sana.
__ADS_1
Tuan Labusa langsung berlutut di ikuti oleh Nyai Ilempe, tangan tuan Ilempe mengisyaratkan pada putri Ambo Dale dan pangeran Isogi untuk mengikuti berlutut.
"Salam hormat dan sembah bakti pada Sang prabu Shun Land, terima kasih telah menjemput saya hingga Sang prabu kesusahan sampai ke pulau yang tidak berpenghuni". Tuan Labusa berkata sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan wajah.
Pertemuan haru di lanjutkan dengan obrolan, Shun Land mempertanyakan bagiamana semua ini bisa terjadi.
"Tuan Labusa ceritakan lah dari awal bagai mana ini bisa terjadi" Shun Land bertanya langsung. Tuan Labusa tidak langsung menjawab matanya berkaca-kaca teringat akan masa-masa awal kerajaan Kutai Martadipura di dirikan dirinya mendukung dengan sepenuh hati pada waktu Shun Land sebagai motor penggerak berdirinya kerajaan.
Shun Land menancapkan hukum-hukum dasar Kerajaan dengan landasan keadilan seluruh kepentingan dari pejabat tinggi kerajaan sampai ke rakyat biasa merasakan peraturan kerajaan tidak memihak siapapun tetapi peraturan itu benar-benar untuk keadilan dan kesejahteraan seluruh negri.
Tapi Tuan Labusa sangat sedih kerajaan yang berdiri sangat kokoh atas dasar keadilan dan kebenaran mulai berubah menjadi kerajaan yang diktator, mengeluarkan kebijakan dan peraturan hanya untuk kepentingan penguasa dan kebebasan penguasa bertindak sesuka hati.
"Maaf sang prabu saya jadi terkenang masa-masa awal pada waktu kita merintis berdirinya Kerajaan yang pada saat itu hidup dalam kegelapan, kejahatan merajalela premanisme di setiap pelosok ada, Sang prabu menjadi pelopor saya pun ikut bergabung hingga sebagian besar daratan Sula ikut merasakan ketentraman dan kedamaian,....
"Tapi semenjak kakak Sang prabu berkuasa situasi mulai berubah, saya yang ikut merintis berdirinya kerajaan ini merasa sangat sedih dan marah karena landasan berbangsa dan bernegara mulai di rubah sedikit demi sedikit menjadi kerajaan milik penguasa peraturan yang memihak pada kepentingan pengusaha mulai di buat untuk melegalkan tindaka......
"Mereka menekan rakyat yang lemah, pejabat yang menentang satu persatu di eksekusi dengan tuduhan korupsi dan makar dan berbagai tuduhan yang benar-benar tidak di lakukan hanya fitnah untuk menyingkirkan,...
Saya adalah salah satu pejabat yang memegang teguh landasan berbangsa di eksekusi dengan dua cara 1.di fitnah sebagai dalang makar kepada kerajaan dan di buru pasukan khusus untuk di musnahkan, tapi berkat keberanian pangeran Labas Paban yang mengirim informasi agar saya bersembunyi dan akhirnya bisa keluar dari daratan luas Sula yang sekarang ini menjadi markas kedua dari kerajaan yang di pimpin Pangeran Jaya Lelana atau pangeran Shan Land, begitulah sang prabu kisah yang saya alami". Tuan Labusa mengakhiri ceritanya.
__ADS_1
"Paman satu lagi yang ingin saya tanyakan pada paman tetapi ini bukan masalah kerajaan tetapi masalah lainnya, begini paman saya mempunyai warisan yang di titipkan dari Pangeran Cakrawala Leluhur Kebangsawanan Wajak yang berupa sebuah peta yang merujuk pada Daratan luas Sula semoga paman bisa membantu karena paman adalah asli anak bangasa daratan luas sula, ini paman petanya saya kurang begitu mengetahui daerah tersebut".
Shun Land setelah bicara membuka sebuah gulungan dari kulit naga yang di sana terlukis sebuah peta merujuk pada Daratan luas Sula. Tuan Labusa memandang peta tersebut begitu juga pangeran Makkamaru memperhatikan dengan seksama. Kemudian pangeran Makkamaru berkata tetapi nadanya terlihat sedikit ragu.
"Lingkaran ini sepertinya kawasan Maros-penangkep ini tidak jauh dari kediaman kita ya ayah". Pangeran Makkamaru mengamati lebih teliti lagi lalu berkata dengan ucapan yang penuh keyakinan.
"Saya ingat......! ini adalah gua Leang Tedongnge Maros-pangkep". Suara pangeran Makkamaru sangat yakin akan keberadaan Gua tersebut. Tuan Labusa yang mengetahui keberadaan gua Leang Tedongnge kemudian berkata.
"Sang Prabu alangkah baiknya bila sang prabu di temani pangeran Makkamaru yang tahu seluk beluk kawasan tersebut karena memang gua tersebut dekat dengan wilayah saya yang sekarang di duduki oleh pangeran Shan land". Tuan Labusa memberikan usulan.
Shun Land lalu menjawab usulan tuan Labusa. "Baik tuan Labusa memang lebih bagus saya bersama pangeran Makkamaru, sekarang lebih baik pangeran Makkamaru mengantarkan ke istana Galuh Purba, setelah itu kembali lagi ke sini, saya tunggu di sini, saya juga ingin bermeditasi".
Akhirnya tuan Labusa dan istri Nyai Ilempe serta putri Ambo Dale di antar ke istana Galuh Purba sedangkan pangeran Isogi belakangan. Shun Land masuk ke dalam gubuk lalu bersila dan memulai bermeditasi sedangkan pangeran Isogi menunggu di luar.
Hari telah berlalu berganti malam, sang Legenda Rajawali Api datang kembali bersama pangeran Makkamaru, pangeran Makkamaru pun memberitahukan pada putri Dian Prameswari dwibuana istrinya bahwa dirinya akan di perintahkan oleh Shun Land untuk ikut bersama ke daratan luas Sula.
Pangeran Isogi menunggangi Sang Legenda Rajawali Api sendiri ke istana Galuh Purba, pangeran Makkamaru menjaga Shun Land di luar gubug yang sedang bermeditasi.
______*****______
__ADS_1