
Setelah di sepakati mereka kembali ke kamar masing-masing.
Hari turnamen pendekar muda persilatan tiga belas hari lagi Shun Land memberitahukan Boma bahwa dirinya ingin bersemedi selama seminggu di dalam kamar dia ingin Boma menjaga agar tidak ada yang mengganggunya.
Shun land memejamkan matanya lalu berfokus untuk bersemedi tidak lama dia larut dalam semedinya.
Seakan ada yang menarik kesadarannya memasuki lorong gelap yang sangat panjang tubuhnya seakan terlempar sangat cepat pada lorong itu.
Dia terjatuh pada tepian kawah gunung Merapi kawah itu mendidih berwarna merah membara.
Shun land melihat dirinya berada di tepi kawah gunung Merapi, kawah mengepulkan asap putih seorang kakek tua duduk dengan tenang bersila tidak jauh jauh darinya.
Shun land mendekati kakek tua itu. Setelah di amati dari dekat dia adalah guru batinnya.
"Duduklah dan mengapa kau ingin menemui ku" kakek tua itu berkata tidak membuka matanya.
Shun land duduk bersila lalu berkata. "Aku ingin mengalihkan pusat pemerintahan ku di daratan luas Dwipa ini".
"Apa alasan mu ingin mengalihkan pusat pemerintahan mu ke daratan luas Dwipa ini". Sang guru bertanya balik.
"Aku sendiri tidak mengetahuinya tapi hati kecil ku berkata aku harus memindahkan pusat pemerintahan ku di daratan luas Dwipa ini". Shun land menjawab.
"Sekarang apa yang membuat mu ragu, sudah ku katakan pada mu jangan sesekali berpikir tentang akibat yang belum kau perbuat bukanlah itu suatu pemikiran keliru, berbuatlah apa yang menurut mu benar dan yakinlah apa yang menjadi kata hatimu paling dalam karena itu adalah berhubungan dengan sang maha pencipta, sudah aku terangkan dulu janganlah kau berpikir seperti tuhan, lawan keraguanmu dengan keyakinan bahwa engkau hanya seorang manusia biasa hanya berbuat sesuai dengan kemampuan mu, laksanakan apa yang kau yakini buang keraguan itu hanya membebani pikiran mu dan mental mu". Sang guru batinnya berkata panjang lebar.
Shun land terdiam lalu berkata, "terima kasih guru". Setelah berkata Shun land merasa dari tubuh sang guru batinnya mengeluarkan kekuatan yang membuat dirinya terhempas ke sebuah lorong seperti dia datang.
Tidak butuh waktu lama kesadaran Shun land kembali ke tubuhnya. Dia pun melanjutkan semedinya untuk meningkatkan tenaga dalamnya.
------------------*****------------------
Di istana baru kerajaan Tarumanagara kala itu putri Dian Prameswari dwibuana sedang mengadakan musyawarah untuk menentukan siapa yang akan menjadi pimpinan pelabuhan Cilamaya yang telah di kuasainya.
"Menurut saya lebih baik untuk sementara di pimpin panglima armada laut naga biru paman Tarpa menunggu paduka raja kembali". Pangeran Makkamaru berpendapat.
__ADS_1
Di sana hadir Dewi Kamalia panglima perang Sarpa mantan ketua bajak laut Karimun pangeran Nanjan dan beberapa pejabat lainnya.
Ketika mereka sedang beradu pendapat datang seorang prajurit. "Maaf tuan putri di depan gapura istana kerajaan ada dua pemuda yang ingin menghadap katanya di utus oleh paduka raja".
"Bawa kemari suruh menghadap". Putri Dian Prameswari dwibuana memerintah.
Prajurit itu segera keluar, mereka yang di dalam istana saling pandang dalam benak mereka menerka-nerka siapa gerangan yang menjadi utusan sang raja muda Shun land.
Dua orang pemuda seumur Shun land datang menghadap putri Dian Prameswari dwibuana.
Mereka yang di dalam istana melongo andaikan kulihat pemuda ini tidak sedikit hitam mereka menyangka bahwa dia adalah raja Shun Land.
Dua pemuda itu berlutut dan memberi hormat dan memperkenalkan diri. "Nyai Ratu Nama saja Jaka lelana dari perguruan cimaya dan ini sahabat saya Rakha Prawira dari perguruan Pagar ruyung, kami kesini di utus oleh pendekar Satria Nusa kencana, bahwasanya saya kesini di perintahkan untuk memimpin pelabuhan Cilamaya ini adalah titipan dari beliau".
Salah satu dari pemuda itu berkata sambil memberikan kain yang berlambang burung Rajawali api dan di bawahnya ada nama Satria Nusa kencana.
Putri Dian Prameswari dwibuana menerima kain tersebut meneliti kain tersebut, setelah memastikan kain tersebut bahwa itu benar dari Raja Shun land lalu berkata.
"Baiklah Jaka lelana sebelum kalian kepelabuhan Cilamaya lebih baik kalian beristirahat dulu nanti kami akan membuat lencana dan Segala keprluan untuk saudara Jaka lelana".
Seekor burung merpati terbang ke dalam istana dan hinggap di senderan singgasana di kakinya ada gulungan kecil.
Putri Dian Prameswari dwibuana segera mengambil gulungan tersebut lalu membukanya.
"Berita dari siapa putri". Pangeran Makkamaru bertanya.
"Ini dari paduka Raja muda Shun land kita harus memberi tahu paman Antaka dan Ki Bajul pakel untuk berangkat ke kota guha pawon, kakang apa kita harus memberi tahu raja Shun Land bahwa Jaka lelana sudah kesini". Putri Dian Prameswari dwibuana memberikan keterangan dan bertanya.
"Itu lebih bagus". Pangeran Makkamaru menjawab singkat.
Putri Dian Prameswari dwibuana menulis surat singkat lalu mengikatkan pada kaki burung merpati dan melepaskan kembali.
--------------------*****----------------------
__ADS_1
Di daratan Swarnabumi bagian tengah sedikit ke barat, tanah pegunungan dan perbukitan.
Di sebuah lembah sangat luas di dekat gunung Gadang(kerinci) lembah itu di sebut lembah hitam, lebah itu di kelilingi perbukitan dan pegunungan.
Sebuah istana besar yang di dominasi warna merah kehitaman di gerbang istana di hiasi patung naga hitam kiri kanan dengan bola mata merah kekuningan.
Masuk kedalam dari gerbang istana ada taman cukup luas di hiasi berbagai bunga yang beracun, pendopo istana sangat besar di setiap tiang di hiasi gambar naga hitam yang menyemburkan api hitam menambah kesan ke kehidupan kelam.
Di dalam istana sebuah singgasana terbuat dari batu marmer sandarannya di hiasi batu permata berwarna warni terlihat sangat mewah.
Di samping singgasana berbaris kursi kecil masing-masing tujuh kursi setiap sisi.
Lima langkah di depan singgasana lantai turun setengah jengkal, 6 kursi berbaris di masing-masing sisi.
Depannya enam kursi telah berbaring duduk para pejabat penting istana kerajaan itu.
Sebuah pintu besar di kanan istana kerajaan berderik pintu besar kanan kiri terbuka, seorang pria gagah berwajah tampan seumuran tiga puluhan berjalan di iringi tujuh wanita cantik di kiri dan kanan.
Di belakang ada tiga gadis dan tiga pemuda berpakaian pendekar sangat cantik dan tampan.
Para pejabat berlutut dan menundukkan kepala serta menangkupkan kedua telapak tangan di depan wajah mereka seraya berkata serentak.
"Salam bakti buat Baginda raja junjungan agung Mara Deva yang di berkahi kahyangan".
Mara Deva duduk di singgasana tubuhnya memancarkan aura merah kehitaman wajah tampan tapi terkesan sangat dingin dan kejam.
Di sisi kana duduk tiga putri 1.putri Ratih, 2.putri Tisna, 3.putri priti, di susul tiga putra 1.Parva, 2.Harsa, 3.Vibrama.
Sedangkan di sisi kiri hanya terisi tiga kursi, 1.asvaghosa, 2.Kama Deva, 3.Deva putta.
"Kalian ku panggil berkumpul di sini untuk memberikan laporan tentang bocah yang akan memberikanku senjata yang sangat ku idam-idamkan oleh Guru ku dan diri ku, dengan senjata itu aku akan menguasai dunia persilatan dan membuat kekuasan ku semakin kokoh, dengan senjata itu pula aku akan membunuh semua keturunan bang*** Jatiraga yang membuat ku sengsara ratusan tahun bahkan ribuan tahun".
Mara Deva mengawali bicara dengan berapi-api.
__ADS_1
...****************...