LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
375. Jaya Sempurna 108. Penyesalan Dewi Pakuan.


__ADS_3

"Darah murni mu dari keturunan Raja Agung Sundaland Jatiraga tidak mempunyai arti bila kau tidak mempunyai adab dan kesopanan, kau telah melampaui batas, walaupun kau titisan dan totosan darah murni Raja Agung Sundaland Jatiraga itu bukan acuan untuk bertindak sesuka hatimu, tetapi itu adalah suatu tanggung jawab besar yang harus kau pikul, seharusnya kau menjadi suri tauladan untuk rakyat mu, apakah kau tidak malu di panggil ketiga istriku yang tua dengan panggilan Nyai Ratu, nyai adalah orang yang di tuakan sedangkan Ratu adalah pimpinan bagi wanita, dari awal kita di pertemukan oleh Sang Maha Pencipta untuk meneruskan trah Sundaland yang Agung sepertinya aku salah menilai mu". Shun Land berhenti bicara sambil memperlihatkan wajah yang amat kecewa dan marah.


Dewi Pakuan mendengarkan dengan seksama hatinya bagi di iris-iris sembilu dirinya merasa sangat kecewa pada dirinya sendiri karena telah mengecewakan hati orang yang mengasihinya dan menyayanginya dia juga orang yang mengangkat derajatnya sangat tinggi, mendengarkan ucapan sang suami yang isinya nasehat walau dalam kemarahan membuat air mata penyesalan tidak henti-hentinya mengalir membasahi wajah ayu putih halus memancarkan kilau aura kekuningan.


"Haaay haaay kau jangan keterlaluan memberikan nasihat dia masih muda dan kesalahannya bukan karena di sengaja tapi karena ketidak tahuannya melunaklah dan beri kesempatan pada istri mu aku yakin dia mau belajar sungguh-sungguh". Terdengar di batin Shun Land suara Sang Legenda Rajawali Api membela Dewi Pakuan.


"Diam kau,.... kau ingin membela yang salah dan ingin menjadi pahlawan karena ucapan mu di dengarnya, sekali lagi bicara kau juga akan mendapatkan hukuman yang berat dari ku". Shun Land membentak sang Legenda Rajawali Api.


"Sang Garuda jangan membela ku, aku memang bersalah dan pantas mendapatkan kemarahan dan hukum paduka, paduka jangan hukum yang lain ini aku rela melepaskan gelar Ratu Galuh Sindula asal yang lain tidak mendapatkan keburukan dari kesalahan Ku ini, asal pintaku satu jangan jauhkan diriku dari paduka walaupun harus jadi pelayan paduka". Dewi Pakuan bicara melalui batinnya sambil tak henti-hentinya menangis.


Nyai Gora Sindula melihat ini hatinya gembira karena putri angkatnya mendapat pelajaran yang akan selalu di ingat sepanjang hayatnya, sebagai seorang yang bertugas menjadi pengasuh ini kejadian yang di harapkannya agar putri asuhnya menjadi dewasa dan bijaksana.


Tiba-tiba permaisuri Sari Tungga Dewi berdiri dan berkata "paduka saya tahu Nyai Ratu Galuh Sindula melakukan kesalahan tapi itu suatu kewajaran karena manusia biasa berilah hukuman saya menjamin kedepannya tidak terulang lagi, dan saya menjamin Nyai Ratu Galuh Sindula akan belajar tata tertib dan hukum di istana kerajaan aku dan permaisuri May Lien juga permaisuri Dewi Sumayi akan mengajarinya dengan sungguh-sungguh". Permaisuri Sari Tungga Dewi yang tertua membukakan dadanya untuk menjadi tameng buat Dewi Pakuan.


"Baik aku akan memberikan maaf tapi hukum tetap hukum harus ditegakkan kau aku hukum dengan hukuman harus menjadi pelayan bila tidak di depan rakyat dan kau juga harus belajar pada permaisuri Sari Tungga Dewi dan permaisuri May Lien juga permaisuri Dewi Sumayi ingat hilangkan rasa tinggi hatimu merasa paling beruntung dan merasa paling tinggi hingga membuahkan tingkah laku semua hatimu, sudah aku memaafkan mu jangan menangis lagi, makanlah kalian berdua kalian sepertinya belum makan, Permaisuri Sari, permaisuri Dewi ajak keduanya makan". Shun Land berkata sambil melirik ke Nyai Gora Sindula dan mengedipkan mata tanda isyarat. Nyai Gora Sindula mengangguk pelan mengerti tujuan isyarat itu.


Permaisuri Sari Tungga Dewi merangkul pundak Dewi Pakuan yang masih tertunduk sambil terisak-isak lalu mengangkat untuk berdiri dan membawanya ke tempat tadi makan. Begitu pula permaisuri May Lien di raih oleh permaisuri Dewi Sumayi sambil membisikan sesuatu pada telinga permaisuri May Lien, permaisuri May Lien mengangguk pelan tanda mengerti.


Ketiganya makan bersama Dewi Pakuan dan permaisuri May Lien juga Nyai Gora Sindula di layani olah permaisuri Dewi Sumayi dan permaisuri Sari Tungga Dewi.

__ADS_1


Sang Legenda Rajawali Api melihat sandiwara ini memalingkan wajahnya ketika Shun Land memandangnya. "Apa kau ingin Permaisuri Dewi Sumayi yang mengasuh mu sejak kecil menghukum mu". Shun Land berkata langsung pada Sang Legenda Rajawali Api.


Sang Legenda Rajawali Api bergidik permaisuri Dewi Sumayi yang namanya di sebut menatap tajam Sang Legenda Rajawali Api, yang di tatap langsung merebahkan tubuhnya dan menunjukkan kepalanya pura-pura tidak melihat.


Setelah makan selesai Shun Land lalu berkata. "Permaisuri Sari Tungga Dewi, dan Dewi Pakuan juga nyai Gora Sindula berangkat duluan menaiki Sang Garuda ke perguruan Kanoman sumur Pitu di lereng gunung Ceremai, kau Sang Garuda setelah sampai jemput Permaisuri Dewi Sumayi Dan permaisuri May Lien di sini".


"Baik paduka". Permaisuri Sari Tungga Dewi menjawab singkat. Mereka ketiganya naik ke punggung sang Legenda Rajawali Api dengan sekali hentakan kakinya sang Legenda Rajawali Api melesat ke angkasa dengan cepat.


Sepeninggal mereka bertiga permaisuri Dewi Sumayi berkata. "Kakang tadi terlalu kejam pada Nyai Ratu Galuh Sindula aku sampai tak tega".


"Biarkan Adik Dewi itu untuk mengajarinya agar serius belajar sikap sebagai bagian yang tertinggi di istana, mudah-mudahan dia mau belajar sungguh-sungguh". Shun Land menimpali ucapan permaisuri Dewi Sumayi.


Yang paling tua dari kedua kusir berkata. "Aku akan memberanikan diri untuk berkata pada paduka raja ingin menjadi kusir istana semoga beliau mau menerima ku, bagai mana dengan kau". Temannya yang lebih muda menjawab.


"Aku juga ingin kakang tapi malu mengatakannya takut tidak di terima kitakan hanya kusir biasa". Yang muda menjawab apa adanya.


Shun Land yang pendengarannya peka hanya tersenyum mendengar kedua kusir itu. Yang paling tua berjalan kehadapan Shun Land setelah dekat langsung berlutut dan berkata.


"Salam pada paduka raja, izinkan saya ingin bicara". Kusir itu bicara di jawab oleh Shun Land singkat. "Silahkan paman". Sang kusir melanjutkan bicaranya.

__ADS_1


"Paduka saya ini dan adik saya seorang kusir di pelabuhan kadang bila ada kerjaan saya bisa memberikan dan memenuhi kebutuhan keluarga kami berdua tetapi bila tidak ada yang mengunakan jasa kami,.....


,.... Kami harus menahan rasa perih di hati kami karena menyaksikan keluarga kami kekurangan makan dan jajan anak-anak kami, Kami mohon ke luasan hati paduka untuk menerima kami bekerja di istana paduka, walaupun hanya menjadi pengurus kuda kami rela dan ikhlas paduka". Kusir itu berkata apa adanya dan menghiba agar di terima oleh Shun Land bekerja di istana.


Shun Land tersenyum lalu berkata. "Baik paman saya akan menerima paman berdua dengan satu ujian paman harus membawa dua kereta ini sampai ke perguruan Kanoman sumur Pitu di lereng gunung Ceremai dan tidak kurang satu apapun paman sanggup".


Mendengar ini kusir yang muda pun langsung beranjak dari duduknya lalu menghampiri dan berlutut di hadapan Shun Land dan berkata. "Sanggup paduka saya dan kakak saya akan mengantar dan menjaga dengan segenap jiwa kami".


Shun Land tersenyum melihat dan mendengar ucapan yang penuh semangat dari kusir lebih muda ini yang sedikit pemalu.


Shun Land lalu mengambil kain di dalam kereta yang bergambar kepala Sang Legenda Rajawali Api lalu berkata.


"Pasang bendera ini di kereta yang di depan agar kalian tidak ada yang berani mengganggu".


Kusir yang paling tua menerima lambang kerajaan itu dan segera memasangnya di bantu sang adik. "Sekarang paman berangkatlah saya akan menaiki Sang Garuda, paman berdua jangan khawatir saya akan mengawasi paman dari atas". Shun Land memberi perintah untuk berangkat lebih dulu.


Setelah mendapatkan perintah mereka berdua memberi hormat dan segera berangkat. Kedua berangkat penuh semangat dan rasa gembira.


*******************

__ADS_1


__ADS_2