
Ke esok pagi seluruh istana sudah di ramaikan berbagai kegiatan puluhan prajurit dan para pelayan wanita hilir mudik di dalam dan di luar istana Sundapura untuk mempersiapkan acara jamuan kerajaan menyambut kembalinya sang Raja Shun Land dari pertapaan.
Para tamu undangan sudah ada yang datang entah dari kalangan raja-raja bawahan atau pun dari kalangan dunia persilatan mereka sangat antusias dan bersemangat kegembiraan terlihat dari wajah mereka yang berseri-seri.
Kehilangan sosok yang sangat penting dan sosok yang menjadi andalan dari rongrongan dan ancaman keamanan dari luar dan dalam kerajaan sungguh suatu kehilangan yang membebani jiwa dan raga mereka.
Rasa was-was dan khawatir akan serangan dari dalam dan luar kerajaan menghantui hari-hari mereka sedangkan orang yang sangat di andalkan tidak berada di kerajaan.
Kabar kembalinya sang Raja Shun Land membuat semangat dan harapan bangkit kembali keberanian pun berkobar di dalam dada mereka.
Matahari sudah naik sedikit tinggi di hari itu para undangan sudah menempati kursi yang sudah di sediakan di depan mereka meja yang penuh dengan makanan yang enak-enak dan tidak ketinggalan berbagai buah-buahan di tata dengan indah.
Kursi kehormatan di depan aula utama istana mulai terisi terdengar suara penjaga pintu masuk keluarga istana.
"Seluruh isi istana agar berdiri dan memberikan penghormatan kepada Ketiga permaisuri yang segera memasuki istana".
Seluruh yang hadir berdiri sambil membungkukkan badannya tanda menghormati ketiga permaisuri kerajaan Tarumanegara.
Berjalan di depan permaisuri Sari tungga dewi di apit sebelah kiri dan kanan oleh permaisuri Dewi Sumayi dan permaisuri May Lien di belakangnya ada putri Serindang bulan dan putri Dian Prameswari dwibuana serta putri Sanja. Di barisan ketiga ada panglima pasukan khusus senyap Ki Bajul pakel sebagai kepala keamanan pangan Sanjaya triloka dan pangeran Makkamaru berjalan gagah di sampingnya.
Ketiga permaisuri duduk di kursi kebesaran putri Serindang bulan duduk di samping permaisuri Dewi Sumayi yang lainnya duduk di kursi yang sudah di susun untuk mereka sebagai bagian dari keluarga istana.
Tidak lama terdengar suara kepala penjaga pintu depan istana memberi pengumuman.
__ADS_1
"Kepada seluruh keluarga istana dan para tamu undangan untuk berdiri membungkukkan badan tanda penghormatan kepada paduka Raja Shun Land sebagai pimpinan kerajaan Tarumanegara yang sah akan segera memasuki istana".
Pintu depan istana terbuka pelan-pelan terlihat raja Shun Land berdampingan dengan Lasmini melangkah di iring 6 pelayan wanita di belakangnya 100 prajurit berbaris rapi dan berjalan sangat kompak dalam melangkah.
Semua mata tertuju pada Shun Land dan Lasmini berjalan menuju singgasana, hampir semua yang memandang di hati mereka beranggapan bahwa perempuan yang berjalan berdampingan dengan Shun Land adalah selir barunya.
Di antara mereka ada dua pasang mata sangat terkejut dan merasa heran, mereka berdua adalah dari perguruan Cimande Ki Aria Natanagara dan murid tertuanya Danu.
Mereka berdua heran karena sudah mengenal Shun Land sebagai Pendekar Jaya Sempurna dan menyakinkan bahwa yang berjalan itu bukan Raja Shun Land. Anggapan mereka berdasarkan dari aura yang keluar dari tubuh Shun Land. Tapi keduanya tidak berani berkata apa-apa.
Setelah duduk di singgasana Shun Land lalu berkata. "Terima kasih atas kehadiran kalian semua maafkan saya yang baru bisa bertatap muka dengan kalian, untuk selanjutnya yang memimpin acara ini saya serahkan kepada permaisuri tercinta saya permaisuri Sari tungga dewi, maaf saya masih merasa capek baru kembali dari perjalanan jauh".
Permaisuri Sari tungga dewi mempersilahkan raja Shun Land untuk memulai makan dan setelah itu para tamu undangan dan seluruh yang hadir di persilahkan menikmati hidangan yang telah di sediakan.
Setelah berkata Shun Land segera meninggal aula utama istana kembali ke kediaman. Tidak berselang lama sepuh Ki Aria Natanagara dan Danu berpamitan pada permaisuri Sari tungga dewi untuk memenuhi undangan Shun Land.
Sepuh Ki Aria Natanagara dan Danu berjalan keluar di antara prajurit istana ke kekediaman Shun Land.
Shun Land mempersilahkan sepuh Ki Aria Natanagara dan Danu masuk kekediaman yang sekarang Shun Land tempati, para pelayan di suruh keluar dari ruangan itu pintu di tutup rapat, Lasmini keluar dari kamar dan duduk di samping Shun Land.
"Salam sepuh kita bertemu lagi dan tolong sepuh jangan memanggil saya tuan putri sebut saja seperti di kediaman sepuh". Lasmini berkata dengan malu-malu lalu Shun Land menimpali.
"Sepuh Ki Aria Natanagara jangan heran saya akan menceritakan semua,.... Lalu Shun Land yang sudah di kenal sepuh Ki Aria Natanagara dan Danu sebagai pendekar Jaya Sempurna menceritakan semua bahwa dirinya di paksa oleh permaisuri Sari tungga dewi untuk menjadi raja palsu.
__ADS_1
Sepuh Ki Aria Natanagara menganggukkan kepalanya mendengarkan Shun Land bercerita.
"Tolong sepuh Ki Aria Natanagara jangan menceritakan ini kepada siapapun". Shun Land mengakhiri ceritanya.
"Kalau seperti itu ceritanya saya mengerti nak mas Jaya dan neng Lasmini percayalah saya tidak akan bercerita pada siapa pun, nak mas Jaya dan neng Lasmini saya mohon pamit banyak yang harus saya laporkan ke permaisuri Sari tungga dewi".
Sepuh Ki Aria Natanagara keluar di antar oleh Shun Land dan Lasmini sampai pintu depan kediaman yang di jaga dua prajurit.
----------------------
Berita kembalinya raja Shun Land tersebar ke seluruh pelosok negeri berita ini sangat cepat hingga hanya dalam dua hari berita kembalinya raja Shun Land sampai ke perguruan pedang setan di kaki gunung ceremai.
Demi memastikan berita ini Asvaghosa yang habis bersantai dengan Dewi Andita si pedang setan di ruangan pribadinya menyuruh Dewi Andita untuk mengutus dua muridnya ke kota Sundapura mencari kebenaran berita ini.
Berita kembalinya raja Shun Land pun sampai ke telinga pendengar bayaran tingkat tinggi pendekar Topeng hitam dan pendekar tanpa wujud di hati keduanya merasa was-was raja Shun Land mengetahui persembunyiannya.
Setelah mengetahui Raja Shun Land bisa mengalahkan Mara Deva kedua pendekar kembar ini merasa menyesal tergiur bayaran mahal ikut andil membunuh leluhur Ki Srengga.
Di puncak gunung Sumbing pendekar tiga raja kematian Ki Kala Durga, Dewi Sukma dan Dewi angin-angin tidak jauh berbeda dengan pendekar kembar Karta dan Karto.
Mereka bertiga merasa di jebak oleh Asvaghosa. "Bajingan ayah dan anak sama liciknya, kita di jebak oleh Asvaghosa keparat anak dari Mara Deva". Ki Kala Durga uring-uringan setelah meneliti dengan benar dan mengetahui siapa Shun Land dan mengetahui tingkat ilmu olah Kanuragannya.
Ki Kala Durga, Dewi Sukma dan Dewi Angin-angin selama hidup mereka baru kali ini hidup mereka merasa terancam timbul merasa kesal dan dendam pada Asvaghosa yang telah menjebak mereka.
__ADS_1
***************