
Kepala bajak laut Karimun Sarpa mengakhiri bicaranya.
Semua yang hadir terdiam semuanya rencana mereka yang kemarin di bicarakan tidak ada gunanya, ternyata Panglima angkatan laut Sarpa telah memiliki semua bahkan melibihi yang kerajaan miliki.
"Dan satu lagi permaisuri saya ingin ada dari kalian yang ikut bersama kami dan membawa lencana kerajaan sebagai bukti bahwa kami bagian dari kerajaan Kutai khal ini". Sarpa menambahkan, pangeran Nanjan mendengar ini langsung bicara.
"Paduka permaisuri izinkan saya yang menjadi wakil kerajaan ikut bersama dengan panglima Sarpa, percayalah saya akan bekerja dengan baik ini sesuai ilmu yang saya pelajari selama ini".
"Apakah adik yakin dengan keputusan ini". Putri Sanja nyeletuk bicara sebagai kakak ada rasa khawatir.
"Saya yakin sekali kakak". Pangeran Nanjan menjawab tegas.
"Baiklah dengan ini pula saya sebagai wakil dari raja Kutai khal paduka raja Shun land meresmikan armada laut kita dengan nama, Armada Naga biru, dan sebagai panglima perang pertama tuan Sarpa sah menjadi pimpinan Armada laut Naga bumi, untuk lencana dan sebagainya kita akan atur setelah ini". Permaisuri Sari Tungga Dewi langsung memutuskan.
Panglima armada laut Sarpa kembali ke pelabuhan bersama Dewi lerna.
Pangeran Sanjaya triloka menyiapkan pasukan kecil sekitar 300 pasukan, untuk mengamankan kedatangan anak buah panglima armada laut Sarpa.
Pangeran Sanjaya triloka pun menyiapkan beberapa kereta untuk mengangkut harta benda panglima Armada laut Sarpa. Sedangkan keamanan utama oleh pasukan khusus senyap Dewi lerna.
Pangeran Imogi adik pangeran Makkamaru di tugaskan untuk membuat lambang armada laut yang di pasang di ujung depan kapal perang dan sisi kanan dan kiri.
Tetua Saman khal yang khusus penempa senjata, di tugaskan merancang dan membuat lencana untuk armada laut Naga biru.
Pangeran Nanjan mempersiapkan segalanya untuk berlayar pertama kalinya dia memang mempelajari ilmu tentang kelautan dan strategis perang di laut dengan lembar-lembar yang di tulis oleh leluhurnya.
Setelah Sarpa ketua bajak laut Karimun pergi, langit perlahan-lahan gelap oleh mendung hitam kilat terlihat menghiasi mendukung itu.
Angin bertiup kencang bersamaan dengan gerimis turun dari langit. Gelombang sedikit demi sedikit naik, kapal yang tadinya tenang mulai terombang terombang-ambing oleh ombak yang semakin tinggi.
Kru kapal segera menurunkan jangkar menghindari kapal terbawa angin yang tidak menentu, hujan semakin lebat mengguyur kawasan itu halilintar bersahutan dia menunjukkan keperkasaannya.
"Tuan raja sempruul bersiaplah, kalian harus keluar dan berdiri di dekat ku, bila terjadi yang paling buruk kalian bisa langsung meloncat ke punggung ku, aku bisa terbang membawa kalian". Suara sang Rajawali Api menggema di batin pangeran Shun land.
Tapi apa jawaban pangeran Shun land sungguh di luar dugaan sahabatnya sang Rajawali Api.
"Tidak.....aku tidak akan meninggalkan bawahan ku dalam keadaan bahaya, lebih baik aku mati bersama dengan mereka dari pada aku mejadi seorang pemimpin yang pengecut meninggalkan bawahannya yang sedang menyabung nyawa, bila kau merasa takut pergilah aku tidak akan menghalangiku". Jawab pangeran Shun land tegas penuh keyakinan.
__ADS_1
Setelah pangeran Shun land bicara halilintar yang sangat besar menghantam sisi kapal hanya berjarak dua depa, halilintar seakan sengaja ingin menguji keberanian seorang pemimpin yang di ramalkan akan memimpin seluruh daratan Sunda besar dan Sunda kecil.
Pangeran Shun land meloncat ke geladak sambil berteriak, "Boma, Makkamaru, putri Dian cepat kemari''. Yang di panggil berada di kamar kabin kapal segera berjalan dengan hati-hati karena kapal sedang dalam keadaan oleng di hempas ombak ke kanan-kiri.
Walau pun kapal tidak stabil pangeran Shun land dapat berdiri dengan dengan tenang, ilmu saipi angin membuat tubuh pangeran Shun land tidak terpengaruh kondisi kapal.
Setelah mereka dekat pangeran Shun land memberi arahan, "kalian bertiga jangan jauh dari sang Rajawali Api bila ada kejadian membahayakan kapal ini terbanglah bersama dia, ini perintah jangan membangkang".
Putri Dian Prameswari dwibuana langsung menjawab dengan tegas dan penuh keyakinan, "tidak aku tidak akan meninggalkan kapal ini bagai mana pun keadaannya bila harus tenggelam di sini kita akan tenggelam bersama".
Pangeran Makkamaru dan Boma pun sama dia bertekad hidup dan mati bersama.
"Baik lah kalau itu keputusan kalian, paman Limo-limo paman Tana Beru apa kalian mempunyai solusi". Pangeran Shun land bicara dengan keras biar tidak kalah suara hujan dan angin.
Angin put*** beliung (angin puyuh) besar Dari kejauhan mendekat, terlihat hitam di hiasi kilatan-kilatan halilintar berwarna merah kekuningan.
Semua menatap angin puyuh itu dengan tegang, Nahkoda Lemo-lemo dan Tana Beru mendapat pertanyaan itu saling pandang akhirnya Nahkoda Lemo-lemo menjawab.
"Pangeran andai bisa kita arahkan kapal dari jalur angin puyuh itu". Nahkoda lemo-lemo menjawab, di sambut wakil nahkoda Tana Beru bicara setengah berteriak.
"Angkat jangkar dengan tepat". Sambil bicara wakil Nahkoda Tana Beru melompat menaiki tiang kapal. Lalu berteriak "belokan kapal ke kiri". Dia pun turun kembali.
Sang Rajawali Api berkata dengan telepati pada pangeran Shun land, "Tuan raja sempruul jauh yang dekat dengan ku, aku mencoba untuk mendorong kapal ini".
Mendengar ucapan ini walau sedikit dongkol di sebut raja sempruul pangeran berteriak. "Menyingkir dari sang Rajawali Api cepat".
"Ikat tali besar itu ke tiang depan dengan kuat". Pangeran Shun land dapat perintah dari sang Rajawali Api.
Paman Limo-limo, paman Tana Beru bantu aku ikat tali ini ke tiang depan bagian bawah".
Mereka bertiga mengikat tali dengan cepat di antara hujan dan angin yang kencang.
"Lemparkan kepadaku cepat badai angin itu segera datang" sang Rajawali Api berteriak di batin pangeran Shun land
Setelah di rasa kuat ujung tali di lemparkan ke arah Rajawali Api.
Ujung tali yang sudah di buat simpul untuk mengikat kapal di pelabuhan di raih oleh kaki sang raja wali.
__ADS_1
Dengan hentakan yang mengguncang kapal besar itu sang Rajawali Api melesat ke kiri depan kedua kakinya mencekam tali dengan keras.
Kapal melaju sedikit sang Rajawali Api terbang balik kearah kapal lalu berbelok keatas setelah itu dia menukik ke bawah sedikit lurus ke kiri depan, dengan begitu tarikan lebih kerasa.
Kapal bergerak lebih cepat menjauh dari jalur angin puyuh itu, sang Rajawali Api mengerahkan seluruh tenaganya dan kekuatan apinya menarik kapal yang berlawanan laju arah Angin.
Angin puyuh besar melintas hanya beberapa depa dari kapal tersebut.
Setelah angin puyuh berlalu sang Rajawali Api kembali ke kapal, baru saja mereka terlepas dari ganasnya angin puyuh besar.
Tiba-tiba ombak setinggi gunung kecil mengangkat kapal tinggi sekali, pangeran Shun land berteriak keras "Boma Makkamaru, Dian cepat naik ke punggung sang Rajawali".
Tapi ketiganya malah mendekati pangeran Shun land yang dekat dengan tiang kapal besar sehabis mengikat tali.
Mereka bertiga saling berpegangan putri Dian Prameswari dwibuana tangan kanannya berpegangan dengan pangeran Makkamaru sedangkan tangan kirinya meraih tangan pangeran Shun land.
"Andi kita harus mati kita akan mati bersama" teriak putri Dian Prameswari dwibuana.
"Kalian ini sangat tidak patuh, kalian akan menyesali keputusan kalian ini bila kalian selamat di bahaya badai ini". Wajah pangeran Shun land memerah marah ketiga sahabatnya tidak menuruti perintahnya.
Sang Rajawali Api pun tak bergeming dari tempatnya.
Kapal besar itu naik tinggi mengikuti ombak besar itu setelah itu meluncur ke bawah di hempaskan ombak besar itu.
Badan kapal belakang berada di bawah badan depan kapal mendongak, ketika akan meluncur kebawah kapal tiba-tiba naik keatas posisi kapal jadi stabil. Kru kapal Segera menimba air yang masuk ramai-ramai tapi sayang air terlalu banyak.
Mereka saling berpandangan menunggu kapal tenggelam.
...****************...
Like dan supportnya serta komentar sangat membantu pertumbuhan tulisan ini.
terima kasih sahabat NOVELTOON yang telah mendukung tulisan ini, yang jauh dari kata bagus.
jaga kesehatan kalian dengan pola hidup sehat dan istirahat yang cukup.
SALAM NUSANTARA
__ADS_1
SALAM GARUDA PERKASA