LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
191. Pertarungan melawan Braja Geni guru besar Panca Braja.


__ADS_3

Shun land menarik napas dalam-dalam lalu membuka matanya tubuhnya telah pulih walau pun tenaga dalamnya terkuras separuh.


"Ooh ternyata ada sepuh yang menyaksikan pertarungan tadi, Salam hormat buat sepuh andai boleh tau ada keperluan apa sepuh turun gunung Sudi menemui saya". Shun land berkata sambil mengisyaratkan pada Boma untuk menyingkir.


Sementara itu para penduduk Pedukuhan itu melihat dari jauh mereka sangat kagum pada pemuda tampan, walau masih muda tetapi telah memiliki ilmu Kanuragan tinggi dan mempunyai perangai yang sopan santun walau dengan musuh.


Sedangkan para pengikut Panca Braja tidak berani lari jauh dari tempat pertarungan tadi, mereka menebak bila melarikan diri dengan mudah pemuda sakti itu dapat membunuh mere dengan mudah.


"Sebenarnya aku tidak ingin bentrok dengan murid Ki Srengga karena kami dari satu leluhur agung Sang Hyang Triloka, akan tetapi saya telah mendapatkan pesan dari leluhur terdahulu untuk memiliki pedang Naga Bergola, semoga Nak mas Satria bisa menyerahkan Pedang Naga Bergola dengan suka rela". Braja Geni berkata tanpa merasa berdosa ingin memiliki sesuatu yang bukan miliknya.


"Sepuh Ki Braja atas dasar apa anda ingin memiliki Pedang Naga Bergola yang sudah menjadi milik saya. Karena menurut keterangan para leluhur, siapa yang bisa mencabut pedang Naga Bergola secara otomatis menjadi pemilik pedang tersebut begitu Leluhur agung Sang Hyang Triloka berkata pada Raja agung Jatiraga,, pas kebetulan saya yang sanggup mencabut Pedang Naga Bergola secara otomatis menjadi pemilik pedang tersebut".


Shun land berkata dengan suara yang jelas dan tegas sebenarnya Shun land tidak ingin ada pertarungan apa lagi melawan seorang sepuh, tapi apabila memaksa Shun land tidak akan mundur walau pun hanya setapak.


Mendapatkan pertanyaan ini Braja Geni terdiam di hati kecilnya membenarkan ucapan Shun land akan tetapi keserakahan telah menutup dan memutuskan urat rasa malunya, Braja Geni lalu berkata dengan tenang.


"Dasar ku untuk memiliki pedang tersebut adalah aku lebih tua dan lebih pantas untuk memiliki pedang Naga Bergola ciptaan leluhur agung Sang Hyang Triloka dari pada diri mu yang masih bau kencur".


"Satu lagi pertanyaan untuk sepuh Ki Braja, mengapa Ki Braja tidak langsung berusaha untuk mencabut Pedang Naga Bergola dari tempatnya, sepuh Ki Braja telah tahu tempat pedang naga bergola berada, atau jangan-jangan sepuh Ki Braja tidak mampu mencabutnya, setelah saya bisa mencabutnya sepuh ingin memilikinya dengan dalih lebih pantas, betapa naif dan serakahnya sepuh ingin memiliki barang yang bukan hak sepuh".


Shun land membalas ucapan Ki Braja Geni tanpa rasa takut.


"Kau ini masih muda tapi sudah menentang tokoh tua dunia persilatan, apa kau merasa hebat telah dapat mencabut dan memegang Pedang Naga Bergola, kau tidak akan mampu menandingi kekuatan ku, cepat serahkan Pedang Naga Bergola sebelum kesabaran ku habis". Ki Braja Geni akhirnya mencul juga sifat aslinya yang di selimuti rasa keserakahan.


"Maafkan sepuh saya harus mempertahankan yang sudah menjadi hak saya walau pun nyawa taruhannya". Shun land menjawab sambil mencabut pedang Naga Bergola.

__ADS_1


Shun land setelah pertarungan tadi dia lebih mudah mengatur kekuatan api abadinya di gabungkan dengan kekuatan api yang ada di pedang Naga Bergola.


Pamor dari bilah Pedang Naga Bergola menebar ke sekitar area pertarungan, Ki Braja Geni sempat mundur setapak melihat dan tertekan aura Pedang Naga Bergola.


Tetapi dia segera mencabut sebuah tongkat hitam yang terselip di pinggangnya tekanan Aura dari pedang Naga Bergola bisa di netralkan dengan aura tongkat tersebut.


Ki Braja Geni mengeluarkan kekuatan apinya di alirkan pada tongkat tersebut, tongkat yang tadinya hitam pelahan menjadi merah membara.


Ki Braja Geni mengeluarkan tujuh puluh persen kekuatan tenaga dalamnya dia mengeluarkan sebuah jurus andalannya Ajian Panca Braja.


Shun land segera bersiap dengan jurus terakhir dari Ilmu tarian Naga kahyangan, Naga melindungi Bumi tahap kedua.


Kukuatan api abadi dan kekuatan api dari Pedang Naga Bergola menyatu dalam tubuhnya, bilah Pedang Naga Bergola yang hitam legam di selimuti api merah kehitaman.


Ki Braja Geni menyerang dengan kecepatan tinggi dengan senjata pusaka langit tongkat Braja lintang di ayunkan secara menyilang.


Tubuh mereka berdua melesat, kedua senjata pusaka bentrok di udara menimbulkan ledakan cukup besar dan kobaran api yang menyambar ke sekitar.


.Shun land dan Ki Braja Geni sama-sama terpental sekitar lima tombak, senjata pusaka Ki Braja Geni Ada retakan Alus di bagian beberapa bagian terutama di wilayah bentrok dengan Pedang Naga Bergola.


Dari sudut bibir Ki Braja Geni merembes darah segar menandakan luka dalam akibat bentrokan tenaga dalam yang kuat.


Ki Braja Geni segera memasang kuda-kuda untuk menyerang akan tetapi tubuhnya ambruk, Braja Denta yang tidak terluka terlalu parah segera menyambar tubuh gurunya.


Sedangkan empat anggota Panca Braja sudah sedari tadi di bawa oleh bawahan mereka yang setia.

__ADS_1


Shun land setelah melihat musuhnya telah di bawa pergi, segera menyarungkan pedang Naga Bergola lalu duduk bersila untuk memulihkan kondisinya.


Dengan kekuatan mustika air panca warna luka dalam ringan dengan cepat dapat di sembuhkan setelah itu Shun land bersemedi sejenak di jaga oleh Boma yang berdiri di belakangnya.


Para penduduk dan pedagang melihat dari kejauhan pertarungan yang begitu cepat, mereka merasa kagum dan sang pemuda yang dapat mengimbangi pendekar tua yang sakti dan banyak pengalaman bertarung.


Para pengikut Panca Braja mereka tidak pergi tetapi ikut menjaga Shun land yang sedang memulihkan diri.


Mereka merasa mempunyai merasa berhutang Budi terhadap Shun land, andaikan Shun land ingin membunuh mereka maka dengan mudah Shun land dapat melakukannya.


Colet yang menjadi pimpinan di antara mereka mempunyai inisiatif untuk berhenti mengikuti Panca Braja yang terbukti tidak perduli pada mereka, bahkan Majikan mereka dengan kejam dan tidak mempunyai rasa kemanusiaan tega mengorbankan mereka dengan menyuruh mereka bertarung dengan lawan yang bukan tandingan mereka.


Tetapi mereka sangat kagum dengan sosok pemuda yang mereka ingin celakai, tetapi pemuda tersebut memberikan pilihan pada mereka untuk mengampuni mereka.


Colet dan rekan-rekannya merasa beruntung andai lawan mereka pendekar yang tidak mempunyai sifat welas asih niscaya mereka sekarang sudah menjadi mayat.


Akhirnya mereka memutuskan untuk ikut menjaga Shun land yang sedang memulihkan diri, sebagai rasa terima kasih mereka terhadap Shun Land yang memberikan kesempatan kedua untuk memulai kehidupan yang lebih baik.


Setelah setengah waktu menanak nasi Shun land membuka matanya tubuhnya sudah segar kembali seperti semula ini lah kelebihan ilmu saipi air yang dapat memulihkan kondisinya dengan cepat Shun Land pun meminum air dari pusaka kendi manik astagina yang mempunyai kekuatan memulihkan tenaga dalam dengan cepat.


Shun land waktu bertarung melawan Ki Braja Geni tidak meminum air dari pusaka kendi manik astagina niscaya dirinya telah tumbang bentrok dengan kekuatan Ki Braja Geni yang mempunyai kekuatan tenaga dalam lebih dari empat puluh ribu lingkaran.


Sedangkan kekuatan shun land hanya memiliki sekitarnya tiga puluh lima ribu lingkaran itu sudah terkuras separuh waktu melawan Panca Braja.


Dari sini Shun land merasa sangat bersyukur setiap keadaan sulit dia memiliki jalan keluar.

__ADS_1


---------------------*****------------------------


__ADS_2