
Pangeran Sanjaya triloka hanya menunduk lalu berkata dengan wajah menunduk.
"Paduka tolong beritahu saya, apa kesalahan saya di tuduh penghianat kerajaan, dan apa bukti atas tuduhan itu".
"Pangeran Sanjaya triloka aku tidak bisa mengatakan sekarang yang jelas kau harus di hukum, tapi bukan aku yang akan menghukum tetapi paduka permaisuri yang sekarang menjadi ratu bengis kau paham.... hahahaha".
Boma yang duduk di singgasana berkata tanpa ragu-ragu di akhiri dengan tawa puas.
Tidak berselang lama kepala pengawal istana berkata dengan keras.
"Seluruh prajurit berlutut permaisuri agung dan pembesar kerajaan memasuki istana".
"Sembah hormat pada paduka permaisuri dan pembesar kerajaan". Suara para prajurit dan para pelayan istana sambil berlutut.
Permaisuri Sari tungga dewi masuk ke istana di apit sebelah kanan dan kiri permaisuri Dewi Sumayi dan permaisuri May lien di belakangnya putri Dian Prameswari dwibuana dan suaminya pangeran Makkamaru. Di belakang ada Mawinei sambil menuntun sang anak perempuannya.
Ratu Shi khal dan suami perdana menteri Jhasun memutuskan untuk menyepi mendekatkan diri kepada sang pencipta di perguruan gajah Mungkur di lereng gunung Pulosari, perguruan milik eyangnya leluhur Ki Bagus Atma.
Boma yang duduk di singgasana berdiri sambil senyum-senyum pindah duduk di sebelah istrinya Mawinei.
Putri Dian Prameswari dwibuana melihat kakaknya pangeran Sanjaya triloka hanya tersenyum tanpa bicara.
Terdengar suara lembut penuh ketegasan dari permaisuri Sari tungga dewi.
"Pangeran Sanjaya triloka hukuman mu sangat berat sekali yaitu makan bersama kami". Setelah berkata tanpa basa basi permaisuri Sari tungga dewi dan kedua permaisuri lainnya berdiri menuju tengah aula istana yang penuh dengan makan dan minuman.
__ADS_1
Putri Dian Prameswari dwibuana dan pangeran Makkamaru berjalan mendekati pangeran Sanjaya triloka setelah dekat lalu berkata.
"Maaf adik Sanjaya semua ini adalah kejutan dari saya menyambut adik yang lama tidak berjumpa berdirilah kita makan bersama sang permaisuri".
Mendengar ucapan dari sang kakak pangeran Sanjaya triloka hanya menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan rasa kesal di permainkan sang kakak sedemikian rupa sambil berkata dalam hati 'awas kau Boma raja gadungan akan ku balas nanti' sambil menatap ke Boma yang sudah berperang dengan makanan.
Boma mendapatkan tatapan dari pangeran Sanjaya triloka nyengir kuda dan berkata dengan santai seakan tau arti dari tatapan itu.
"Hai hai.... jangan menatap ku penuh dendam aku hanya di suruh kakak mu putri Dian Prameswari dwibuana".
Melihat ini semua tertawa terlebih panglima Tarpa tapi setelah itu semuanya meminta maaf pada pangeran Sanjaya triloka dan istri putri Sanja beserta pengikutnya.
Sambil makan pangeran Sanjaya triloka bicara menceritakan semua kejadian yang terjadi pada dirinya.
Tetapi permaisuri Sari tungga dewi dan yang lainnya tidak bisa berbuat apa-apa karena sang Raja Shun Land sedang tidak berada di istana karena keputusan berada di tangannya.
----------------------
Malam itu di kawah gunung Krakatau suara gemuruh lahar bergejolak, cahaya purnama tertutup awan hitam kilatan petir bersahutan.
Malam yang seharusnya indah penuh cahaya rembulan yang sedang purnama kini berganti gelap gulita hanya kilatan petir yang di susul gelegar halilintar memenuhi kawasan pegunungan Krakatau dan sekitarnya.
Di dalam kawah sosok hewan mitologi purba sang Legenda Rajawali api duduk dengan sayap melingkar ke depan menutupi sosok manusia yang hanyut dalam semedinya mendekat diri pada sang maha pencipta.
Pada saat itu entah bagaimana sebabnya batu besar yang menjadi tempat latihan dan semedi sang legenda Rajawali api dan Raja Shun Land terangkat keatas oleh gelegar lahar yang bergejolak hingga sampai ke puncak gunung.
__ADS_1
Tetapi yang menjadi suatu keanehan lahar itu tidak bisa keluar meleleh ke bawah seakan tertahan batu besar tempat bersemayamnya dua mahluk yang sedang dalam perjalan spiritual menuju puncak ke sadaran tertinggi di sisi sang maha Pencipta.
Sang legenda Rajawali api fokus menyerap kekuatan api yang ada terlihat percikan-percikan api dari lahar yang mendidih menuju tubuh sang legenda.
Di sisi lain sang Raja Tarumanegara Shun Land saat itu kesadarannya sedang berada di sebuah taman yang indah dan sejuk dia duduk bersila dengan tenang.
Kepasrahan jiwa dan raga pada sang pemilik jagat raya secara total membuat ruhnya keluar di tarik sesuatu menuju taman yang indah di sana telah duduk sang guru Batiniah yang tak lain pencipta kitab pedang tarian Rajawali api dan pencipta pedang Naga Bergola Sang Hyang Triloka.
Ketika matanya terbuka Shun Land terhenyak kaget melihat sang guru Batiniah duduk di depannya sangat dekat, spontan Shun Land menangkupkan kedua tangan di depan wajah seraya berkata.
"Salam bakti dari murid yang tidak punya tatakrama ini".
Sang Hyang Triloka tersenyum melihat tingkah laku sang murid yang menanggung beban sangat berat dalam hidupnya tetapi keikhlasan dan pengorbanannya tidak separuh-separuh seluruh hidupnya di abdikan untuk menyebar kebaikan keseluruhan sesama dia tidak memilih kepada siapa berbuat baik.
"Murid ku kau telah berlatih dengan keras semua jurus pedang tarian Rajawali api telah kau kuasai dengan sempurna 4 bagian ajian Saipi telah kau pahami dan kuasai, eyang ingin memberikan kabar duka yang mendalam semoga keikhlasan mu pada sang mengabdi Sang Pencipta tidak goyah".
Sang Hyang Triloka berhenti bicara menatap memperhatikan Shun Land tatapan penuh kasih.
Shun Land mendengar ucapan sang guru Batiniah tidak bereaksi dia sudah siap dengan segala resiko, Shun Land ingat ketika pulang dari tanah Samosir dalam kapal diatas danau Toba bertemu dengan seorang pertapa memberikan kalimat Falsafah 'Dalamnya laut bisa di selami tetapi dalamnya hati manusia tidak dapat di ketahui, tingginya gunung bisa di daki tapi tingginya keinginan manusia tidak ada batasnya, ingat kekuatan manusia ada batasnya. Bila ada pemberian lebih maka akan ada yang harus di bayar itu hukum alamiah dari yang maha Pencipta'. (Lihat chapter 233).
Shun Land sadar kekuatan yang di berikan dari sang maha Pencipta melebihi batas manusia biasa dia sudah siap akan harga yang harus dia bayar. Shun Land sudah teguh dengan tekadnya untuk mengabdikan hidupnya untuk menyebar kebaikan ke seluruh alam semesta ini hidupnya sudah bukan untuk dirinya sendiri.
"Eyang murid sudah siap dengan segalanya, murid ikhlas mengabdi kepada sang Pencipta dengan jalan menyebarkan kebaikan membantu yang lemah menolong yang kesusahan katakanlah eyang jangan ragu-ragu".
Shun Land menjawab dengan tenang penuh keteguhan hati.
__ADS_1
---------&&&&---------
Terima kasih untuk sahabat yang dengan setia menunggu cerita LRA semoga yang mahakuasa mengizinkan sampai tamat Aamiin.....🙏🙏🙏🙏