
Akhirnya sang Rajawali Api memutuskan untuk menyusul Naga bumi Sabui di daerah timur daratan luas Dwipa.
Sang Rajawali Api menelusuri aura dari sahabatnya yang sudah tersambung dengan batinnya, dengan kecepatan terbang yang maksimal sang Rajawali Api telah sampai di atas hutan jati purba yang lebar.
"Naga bau tanah di mana kau kau aku tidak melihat kau karena lebatnya hutan ini" sang Rajawali Api bicara melalui telepati batinnya.
"Sedang apa kau mencari ku bukannya mengawasi dan menjaga Junjungan muda kita malah mencari ku" jawab Naga bumi Sabui.
"Cepat katakan di mana kau ada hal penting banyak tanya" sang Rajawali Api berkata dengan marah.
"Kau lihat sungai besar telusuri sungai itu" Naga bumi Sabui menjawab dengan santai.
"Kau muncul ke udara nanti aku mengikuti mu" sang Rajawali Api malah balik mengatur.
Sang Naga bumi Sabui akhirnya mengalah dia muncul ke udara lalu di ikuti sang Rajawali Api.
"Aku sudah menelusuri tiga air terjun ini tidak menemukan peta pedang naga bergola". Sang Naga bumi Sabui memberitahu.
"Kau ini tidak ingat" sang Rajawali Api bertanya,. "Yang aku ingat tempatnya di sini tapi aku tidak ingat di balik air terjun yang mana". Jawab sang Naga bumi Sabui.
"Kita cari yang paling tinggi" sang Rajawali Api memberikan saran.
Mereka berdua menelusuri air terjun mencari yang tertinggi, setelah menemukan yang tertinggi mereka terbang masuk ke balik air terjun itu.
Di balik air terjun itu ada dinding batu yang cukup lebar sekitar lebar satu depan dan tinggi dua depan terlihat di sana ada goresan goresan ujung pedang tapi goresan-goresan itu tertutup tebalnya lumut.
"Kau bakar dinding itu hingga lumutnya kering berjatuhan apa kau bisa melakukannya". Naga bumi Sabui bicara sambil menengok ke sang Rajawali api.
Tanpa banyak bicara sang Rajawali api mengalirkan kekuatan apinya ke dua sayapnya lalu mengibaskan sayap itu ke dinding tersebut.
Keluar api sangat panas membakar permukaan dinding tersebut, lumut lumut tersebut pun rontok berjatuhan terlihat jelas guratan guratan ujung pedang membentuk suatu peta.
Empat buah gambar sebuah pulau dengan bentuk yang berbeda, di sebuah pulau yang terbesar ada sebuah. Gambar pulau ini paling bawah dan sebuah pulau di atasnya yang berbentuk panjang di sana terdapat dua.
__ADS_1
Tiga titik tersebut ada garis lurus menghubungkannya.
"Kau mengerti dengan peta ini". Sang Naga bumi sabui bertanya pada sahabatnya.
Sang Rajawali api tertawa di serpihan ingatannya dia mengingat ucapan Hyang Triloka lalu dia berkata.
"Aku sama sekali tidak mengerti tentang peta itu yang kuingat hanya ucapan Hyang Triloka terbanglah lurus hanya itu yang kuingat".
"Dasar burung emprit Aku kira kau tertawa kau sudah mengingat tempatnya, cepat kau katakan ada apa kau menyusul ku kemarin". Sang Naga bumi sabui berkata dengan nada sedikit tinggi.
"Tadi aku melintas di atas kota guha Pawon aku merasakan aura musuh kita aku sangat khawatir dengan junjungan muda kita sebaiknya kita segera ke sana, aku takut Naga Baji**** menyerang junjungan kita".
Sang Rajawali api tidak menunggu jawaban dari Sang Naga bumi Sabui Dia terbang dengan cepat, naga bumi sabui mengikutinya dari belakang.
---------------*****---------------
Di pagi itu di dalam arena sudah berjejer kursi di sebelah timur dan di sebelah barat, di sebelah timur kursi untuk Niraya sura dan sekutu-sekutunya, dan di sebelah barat kursi tersebut untuk para peserta kompetisi pendekar muda persilatan.
Shun land dan rombongan berjalan keluar menuju arena pertandingan mengikuti dua orang murid perguruan gelap ngampar.
Hati Shun land mulai curiga mengapa kompetisi pendekar muda persilatan yang seharusnya ramai oleh para penonton tapi kompetisi ini sepi dari pengunjung.
Shun land memasuki sebuah pintu gerbang dengan daun pintu yang sangat tebal yang terbuat dari kayu jati purba.
Tetapi Shun land masih tenang tidak ada kekhawatiran dengan situasi ini berbeda dengan Ki Mahisa Taka, Wirantaka dan Dewi bulan merah,
Sedangkan Ki Aria natanagara tidak menampakkan kegelisahan atau pun ketakutan wajahnya tenang tidak ada kekhawatiran sedikitpun.
Di sebuah ruangan di dalam perguruan gelap ngampar Nyai Andita si pedang setan berkata dengan wajah begitu gembira.
"Aku sangat tidak sabar melihat bang*** Mahisa Taka dan Wirantaka mati, dan aku sangat ingin menguliti wajah Dewi bulan merah".
Ki Arya teja menimpali. "Aku ingin sekali melihat pemuda sombong yang telah mempermalukanku di depan umum mati dengan perlahan-lahan".
__ADS_1
Ki Kartolo si golok iblis terheran-heran melihat kedua temannya ini.
Shun land sudah sampai pada arena pertarungan kompetisi pendekar muda persilatan.
Mereka pun dipersilahkan untuk duduk di kursi yang telah disediakan di depan mereka meja-meja itu penuh dengan buah-buahan dan minuman seakan telah disediakan dengan begitu teliti.
Jatniko murid dari wirantaka mengambil gelas minuman yang disediakan tetapi sebelum gelas itu menyentuh bibirnya satu suara melarangnya.
"Jangan diminum minuman itu mengandung racun". Shun land melarang dengan suara Sedikit keras.
"Kita harus waspada ternyata tebakan leluhur Ki Srengga benar adanya bahwa kompetisi pendekar muda persilatan ini sebuah jebakan". Aria natanagara memperingati rombongannya.
"Hahahaha ternyata tua bangka pendekar tanpa julukan ikut juga jadi kami tidak susah-susah untuk mencari dan membunuh mu". Suara Nyai Andita si pedang setan mengolok-olok Ki Aria natanagara.
"Tutup mulut mu perempuan iblis". Wirantaka membentak keras pada nyai Andita si pedang setan.
Terlihat sekali Ki Wirantaka sangat membenci Nyai Andita si pedang setan perseteruan mereka sudah mendarah daging.
Di saat mereka mengeluarkan kata-kata saling mengejek dan menjelekkan keluarlah Niraya Sura, juragan Upiak arai, Maasiak dan Ki Saron guru besar perguruan gelap ngampar.
"Tidak kusangka perguruan gelap ngampar menjadi sarang para penghianat negeri ini, Saron kau tidak pantas lagi disebut pendekar jiwamu sangat pengecut pikiranmu sangat licik". Ki Mahisa Taka berkata dengan berapi-api.
"Hahahaha ucapanmu tidak ada artinya Mahisa taka, dalam dunia nyata pertarungan apapun yang dibutuhkan adalah kemenangan yang kalah akan binasa". Ki Saron yang telah terinfeksi jiwanya oleh Niraya Sura.
Bersamaan keluarnya Niraya Sura keluar juga ratusan prajurit lengkap dengan senjata dan tameng, mereka mengepung arena kompetisi pendekar muda persilatan.
Shun land masih tenang tidak ada ketakutan di wajahnya.
"Ternyata sangat mudah untuk membinasakan golongan putih ini sungguh kalian ini sangat polos hingga mudah terjebak hanya dengan umpan beberapa ribu keping emas hahahaha".
Suara Niraya Sura menggema memenuhi arena kompetisi pendekar muda persilatan yang di kelilingi pagar tinggi yang terbuat dari batu yang disusun membentuk dinding tebal.
Niraya Sura penuh dengan kegembiraan rencananya yang selama ini dia susun untuk menjebak para pendekar dari perguruan aliran putih berhasil dengan sangat gemilang.
__ADS_1
------------------*****----------------