
Dewi Lerna pun masuk bersama kedua adik kembarnya Tuti Baniah dan Tuti Ulwiah dan langsung bicara. "Adik Boma Kapal yang adik Boma inginkan sudah saya persiapkan Kedua adik saya akan mengantar".
"Terima kasih Nyai Dewi Lerna tapi tolong hal ini di rahasiakan, dan saya telah mengobrol dengan kedua pelayan Nyai ini, mereka berdua ingin ikut dengan saya, mereka berdua sudah rindu keluarga mereka di daratan luas Nusa kencana, tolong nyai Dewi Lerna mengizinkan mereka berdua untuk berlayar bersama saya".
Kedua pelayan yang bernama Tietie dan Bibi Arin mengerutkan keningnya mendengar ucapan Boma tetapi mereka berdua diam saja.
Dewi Lerna dan kedua adiknya tersenyum mereka bertiga mengerti tujuan asli Boma, tanpa banyak pikir Dewi Lerna menjawab.
"Itu bukan persolan yang besar silahkan Adik Boma mengajak mereka sekaligus untuk berlibur untuk mereka yang telah lama bekerja di sini".
Pelayan Tietie dan Arin pergi untuk berkemas Sedangkan Boma keluar bersama pendekar kembar adik Dewi Lerna Titi Baniah dan Tuti Ulwiah, mereka bertiga menunggu kedua pelayan di depan bangunan keamanan pelabuhan.
Tidak lama Pelayan Tietie dan Arin keluar menghampiri Boma, Mereka berlima berjalan ke arah dermaga, Saat melintas ke depan lelang ikan Boma melihat sebuah kapal yang membongkar ikan hanya saja ada satu kejanggalan, para awak kapal yang menurunkan ikan badanya kekar berisi dan mereka seumuran.
Boma sebenarnya ingin bertanya pada dua pendekar kembar adik Dewi Lerna Tuti Baniah dan Tuti Ulwiah tetapi niat tersebut di urungkan karena Boma tidak ingin rencana keberangkatannya di ketahui oleh Shun Land dan keluarga istana terutama 3 permaisuri Shun Land yang pastinya akan melarangnya karena alasan keselamatan.
Sambil berjalan memandangi kapal nelayan tersebut dan mengingat setiap detail dari kapal tersebut. Perjalanan mereka akhirnya sampai ke kapal yang di siapkan olah Dewi Lerna.
Kapal tersebut tidak terlalu besar dan ada beberapa barang dagangan untuk mengelabuhi pelabuhan Martadipura di kerajaan Kutai Martadipura daratan luas Nusa Kencana. Ada tujuh awak kapal dan satu kapten kapal bernama Laksono di bantu wakil kapal Ipang dan Narji.
__ADS_1
Boma menaiki kapal bersama Tietie dan Arin sebelum itu Boma berterima kasih pada kedua pendekar kembar Tuti Baniah dan Tuti Ulwiah. Kapal perlahan meninggalkan pelabuhan Cirebon menuju Utara.
Tidak lama dari keberangkatan kapal yang di tunggangi Boma lima orang berkuda datang dan langsung turun dari kudanya menemui pendekar dua kembar, mereka berlima adalah Patayan dan ke empat anak buahnya.
Pataya di utus oleh permaisuri Sari Tungga Dewi untuk mencegah Boma menemui Pangeran Jaya Lelana atau Pangeran Shan land. Pada waktu itu Permaisuri Sari Tungga Dewi penasaran dengan tujuan Boma yang sebenarnya, akhirnya sesampainya di istana langsung mendatangi Mawinei di kediamannya.
Permaisuri Sari Tungga Dewi menanyakan tujuan sebenarnya Boma, Mawinei menjawab sesuai dengan apa yang di perintahkan Boma, tetapi Mawinei yang tidak pandai berbohong ketahuan oleh Permaisuri Sari Tungga Dewi, setelah di desak oleh Permaisuri Sari Tungga Dewi akhirnya Mawinei menceritakan yang sesungguhnya.
Permaisuri Sari Tungga Dewi yang mengetahui sifat Suaminya sangat gusar karena bila Shun Land Bangun dari meditasinya dan mengetahui tindak Boma ini bisa jadi seisi istana akan terkena imbasnya.
"Nyai Tuti apakah Boma sudah berlayar". Pataya bertanya pada dua pendekar kembar. Tuti Baniah langsung menjawab. "Maaf tuan Pataya kapal yang di tumpangi tuan Boma sudah berangkat satu jam yang lalu".
Pataya yang mendengar jawaban dua kembar menjadi lemas lalu berkata. "Terima kasih Nyai, Saya undur diri akan melapor ke Permaisuri Sari Tungga Dewi". Pataya tidak banyak berkata-kata langsung menaiki kudanya di ikuti ke empat anak buahnya.
Di salah satu sudut kota pelabuhan Cirebon sebuah rumah penampungan ikan ramai di datangi beberapa orang yang bertubuh kekar. Mereka semuanya langsung masuk kedalam di antar oleh pelayan langsung keruangan dalam.
Dalam ruangan itu duduk seorang berwajah tampan walaupun sudah tidak muda lagi. Dua puluh orang itu langsung duduk rapih di depan orang tersebut. Mereka adalah pasukan darat Tombak Trisula bawahan Kama Deva yang di pimpin oleh kapten Cakra.
Kapten Cakra berkata. "Warsinah kapan gelombang ke tiga akan sampai ke pelabuhan". Yang di sebut Warsinah langsung menjawab.
__ADS_1
"Tuan Cakra gelombang ke tiga akan sampai kemungkinan Minggu depan".
Kemudian Kapten Cakra berkata lagi. "Warsinah kau atur keberangkatan gelombang kedua ini menuju ibukota Medangdili, di sana sudah ada Tajudin yang mengatur, ingat kalian semuanya harus hati-hati bila perlu bunuh langsung bila ada yang berpeluang membocorkan rahasia ini".
Ucapan kapten Cakra sangat tegas Warsinah mendengar ini langsung menjawab Dengan pasti. "Tenang kapten semuanya telah mengerti dan tahu apa yang mereka lakukan, sebagai laporan lanjutan. Pasukan yang sudah sampai ke ibukota Medangdili mencapai 400 orang dan sekarang yang dalam perjalanan ada 50an untuk kali ini penyamaran di rubah dari pedagang menjadi para pencari kerja, kami pun sudah mendapatkan lima orang wanita yang kami pekerjakan untuk menjadi para istri agar lebih meyakinkan". Warsinah memberikan laporan lebih rinci.
Kama Deva memasukan pasukan daratnya melalui pelabuhan Cirebon sekitar 2000 pasukan, dan melalui pelabuhan Asemarang 2000 pasukan.
Dalam hal ini Mara Deva memerintahkan Anak buahnya untuk menyusup ke dalam wilayah jantung kota pemerintahan kerajaan Galuh Sindula dengan berbagai cara, sebagai nelayan, sebagai para kuli panggul dan bangunan dan berbagai profesi lagi.
Ada pula yang menyamar sebagai pedagang senjata dan perkakas pertanian, mereka yang menyamar sebagai pedagang senjata sekaligus sebagai membawa senjata para pasukan yang di sembunyikan sedemikian rupa.
Setiap rombongan yang menuju ke ibukota kerajaan kota Medangdili mereka menyamar dengan berbagai para pedagang, pedagang kain pedagang emas dan sebagainya.
Selain itu Deva Putta pun melancarkan trik lamanya menyewa pembunuh bayaran untuk membuat keributan kecil di daerah yang jauh dari ibukota untuk mengalikan perhatian pihak kerajaan, dengan demikian para pendekar kepercayaan Shun Land tidak semuanya berpusat pada keamanan pelabuhan terutama pasukan khusus senyap yang telah di ketahui keberadaannya oleh Deva Putta.
Para telik sandi baru di bentuk untuk mengetahui setiap perkembangan di pusat kerajaan, bila strategi penyerangan ini berjalan lancar Negri Sundaland akan penuh dengan kobaran api peperangan di setiap sudut wilayah seperti gambaran mimpi-mimpi Shun Land.
Shun Land sendiri belum menyadari strategi Deva Putta seperti ini, Shun Land belum mengetahui wilayah kekuasaannya telah di susupi oleh pasukan musuh, yang lebih parahnya lagi penyusup ini telah memasuki ibukota kerajaan kota Medangdili.
__ADS_1
Ini lebih berbahaya dari serangan Mara Deva yang pertama yang hanya mengkhususkan serangan Armada Laut itu pun bisa di gagalkan dengan pertarungan dirinya melawan Mara Deva langsung. Tetapi kali ini sungguh berbeda selain serangan armada laut Tombak Perak di barengi dengan serangan pasukan darat yang langsung ke jantung kerajaan.
______*****______