
Shun Land memanggil pelayan untuk membayar semua. "Tuan saya di beri perintah oleh nyonya besar agar tidak menerima bayaran dari tuan sepeserpun kata nyonya 'ini sebagai ucapan selamat datang' begitu nyonya berkata".
Akhirnya Shun Land mengalah dan memberikan 3 koin emas pada pelayan itu. "Terimalah ini hadiah telah melayani kami dengan sangat baik". Pelayan itu menerima dengan senang hati.
Lasmini keluar berjalan dengan cepat tanpa bicara melewati Delay, Delay pun mengikuti tanpa bicara. Lasmini langsung berjalan masuk ke kedai. "Kakang dan semuanya kita di undang oleh pemilik penginapan beliau sudah menunggu di ruangan tamu".
"Baiklah kita menemuinya sekarang kakang sudah ingin merebahkan tubuh mari paman, bibi". Shun Land menjawab lalu berdiri tetapi sebelum melangkah Delay berkata.
"Tuan Jaya saya belakangan ya ingin makan dulu". Delay memegang perutnya. Kasmia pun menyambung ucapan Delay. "Saya menemani kakang Delay nanti kami akan menyusul".
Aji Wisesa tersenyum lalu berkata menggoda Delay. "Ayo kita tinggalkan mereka berdua agar tidak mengganggu kedua calon pengantin mengatur strategi perang nanti".
Mereka pun meninggalkan Delay dan Kasmia mengikuti Lasmini dan Shun Land yang sudah mendahului. Begitu masuk Lasmini dan Shun Land Nyai Gora Sindula langsung berdiri menyongsong mereka berdua.
Dia sana pun telah ada beberapa pelayan wanita untuk melayani mereka ikut berdiri dan membungkukkan badan tanda menghormat.
"Selamat datang di penginapan Kalingga semoga kalian semua betah dan puas atas layanan kami, pelayan tolong antar pengikut nona Lasmini dan Suami, biar saya yang mengantar nona Lasmini beserta suaminya".
Nyai Gora Sindula mengatur pelayanannya dan memilih dirinya sendiri untuk mengantar Shun Land dan Lasmini.
Shun Land dan Lasmini mengikuti nyai Gora Sindula ternyata mereka berdua di bawa ke ruangan pribadi Nyai Gora Sindula sendiri.
__ADS_1
Nyai Gora Sindula memasuki ruangan pribadinya di ikuti Shun Land dan Lasmini kali ini Nyai Gora Sindula tidak duduk di tempat tadi tetapi menarik kain penutup kursi yang berada di sudut ruangan, setelah itu mempersilahkan Shun Land untuk duduk.
Begitu kain putih terbuka terlihat sebuah kursi yang indah bagaikan singgasana seorang raja, kursi itu di hiasi dengan permata si sandarannya.
"Nak duduklah kursi itu sudah ribuan tahun menunggu pemiliknya, sudah ratusan pemuda yang duduk di kursi itu tetapi kursi itu menolaknya, sepertinya penantian ini akan berakhir". Nyai Gora Sindula menuntun Shun Land ke kursi itu. Lasmini hanya diam saja dirinya tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Shun Land perlahan duduk di kursi singgasana sana itu, terlihat wajah Nyai Gora Sindula tegang Shun Land sendiri yang akan menduduki kursi itu biasa biasa saja.
Tangan Shun Land keduanya memegang sisi kursi singgasana badannya perlahan turun dan akhirnya bokongnya menyentuh kursi tidak ada terjadi apa-apa, Shun Land perlahan-lahan menyandarkan tubuhnya di kursi tersebut dan seluruh bobot tubuhnya di bebankan pada kursi singgasana tersebut.
Nyai Gora Sindula akan bicara sesuatu tetapi lidahnya tertahan kerena ada getaran halus di kakinya, bumi yang di pijak bergoyang hebat di susul suara ledakan sangat keras di udara.
"Duuuaaaaarrr.......!!!
Pada saat bersama ledakan dan guncangan bumi, Shun Land terasa seluruh kesadarannya di tarik ke suatu tempat dan melihat istana sangat besar dan megah lebih besar dan lebih megah dari istana Sundapura Tarumanegara dan istana Martadipura di Kutai Nusa kencana yang di bangunnya, tetapi pandangan itu hanya sesaat menghilang bersamaan kesadarannya yang kembali ke tubuhnya.
Setelah keadaan kembali normal Nyai Gora Sindula langsung berlutut di hadapan Shun Land dengan tangan yang di tangkupkan di depan wajah dan berkata dengan bahasa yang asing bagi Shun Land.
"Junjunan sesembahan abdi haturan sembah baktos mugia di tampi parantos lami abdi nungguan Junjunan calik dina lenggahing kaprabon kaagungan mahkota Galuh Sindula". (Galuh Purba)
Hanya yang menjadi suatu keanehan suara nyai Gora Sindula berubah seperti suara seorang perempuan yang lemah lembut tapi penuh kewibawaan yang agung.
__ADS_1
Bersamaan dengan berhentinya ucapan itu, nyai Gora Sindula tubuhnya robot ke tanah dan tak sadarkan diri. Spontan Lasmini merangkul nyai Gora Sindula dengan memanggilnya.
"Ibuuuuu.....!!!".
Tubuh nyai Gora Sindula terbujur lemas di pangkuan Lasmini entah kenapa perasaannya sangat sedih melihat nyai Gora Sindula lemas tak berdaya kesedihannya melebihi melihat ibunya sendiri yang terjatuh.
Shun Land berdiri dan menghampirinya lalu berjongkok memegang Cakra mahkota nyai Gora Sindula, terlihat di mata batin Shun Land di dalam tubuh nyai Gora Sindula terdapat mustika biru berkekuatan air yang sangat dingin.
Tiba-tiba pusaka cupumanik astagiana melayang di depan nyai Gora Sindula dan terlihat oleh Shun Land keluar beberapa tetes air biru dari mustika nyai Gora Sindula dan masuk ke pusaka cupumanik astagiana.
Pusaka cupumanik astagina kembali lagi ke balik baju Shun Land, Shun Land yang tadinya akan mengalirkan api abadinya mengurungkannya lalu mengalirkan kekuatan air yang bersumber dari mustika air panca warna, tubuh nyai Gora Sindula begitu di aliri kekuatan air mustika panca warna segera segar kembali dan perlahan membuka matanya setelah kesadarannya pulih langsung memeluk Lasmini dengan derai air mata kebahagiaan. "Terima kasih Putri ku kau telah membawa Junjunan ke sini dan duduk di haknya sekarang tugas ibu sudah selesai".
Shun Land sebenarnya masih belum mengerti dengan kejadian yang barusan di alaminya tetapi dirinya tidak berani bertanya dulu karena melihat kondisi nyai Gora Sindula yang terlihat kurang sehat.
Pikiran Shun Land masih memikirkan kalimat yang di ucapkan nyai Gora Sindula dengan bahasa yang asing di telingnya apa arti kalimat itu dan Shun Land pun sangat tidak mengerti mengapa ketika duduk di kursi singgasana ini ada yang menarik kesadarannya untuk melihat istana yang sangat megah.
Kepala Shun Land terasa pusing hingga terduduk kembali di kursi singgasana itu tangannya merai ke minum yang ada di atas meja. Sementara itu nyai Gora Sindula sudah duduk di kursi panjang bersama Lasmini.
"Mungkin kalian berdua bingung apa yang terjadi barusan nanti bila waktunya sudah santai ibu akan menceritakan semuanya". Nyai Gora Sindula berkata dengan tenang.
"Sekarang kalian fokus ke rencana kalian melaksanakan pernikahan dua keluarga kalian besok pagi, ibu akan memerintahkan anak buah ibu untuk mempersiapkan semuanya". Nyai Gora Sindula meneruskan bicaranya.
__ADS_1
Shun Land penasaran dengan kursi yang di dudukinya dia pun berdiri dan melihat dengan teliti di sini jelas bahwa singgasana di kerajaan tarumanegara dan kerajaan Kutai Martadipura tidak ada apa-apanya dengan di Bandingkan kursi singgasana ini.
****************