LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
189. Pertarungan melawan panca Braja


__ADS_3

Sementara kelima pendekar yang mengancam Shun land saling pandang mereka ragu untuk mengejar Shun land dan Boma setelah mengetahui kekuatan Shun land.


Shun land keluar dari kedai makan, kelima pendekar yang di pimpin Colet mengikutinya.


"Pemuda songong tunggu urusan kita belum selesai". Teriak Colet.


Shun land tetap melangkah ke luar tanpa rasa takut, di luar telah ada tiga puluhan pendekar yang menunggu mereka telah bersiap untuk menyerang.


Boma berkata dengan sedikit gemetar. "apa kau mempunyai rencana untuk mengahadapi semuanya".


"Mereka hanya keroyo(anak kepiting) berlagak menjadi kepiting dewasa, majulah kalian semua aku tidak ada waktu untuk mengurusi kalian". Shun land berkata dengan sedikit keras.


"Bang*** sombong sekali kau anak muda kau belum mengetahui kejamnya dunia persilatan". Salah satu dari mereka berkata sambil mengarahkan senjatanya yang berupa tongkat ruyung.


Melihat ada yang menyerang Boma segera mencabut sebuah senjata pusaka kelas bumi tingkat tinggi pemberian dari panglima Shu khal.


Sambil menyongsong serangan tersebut Boma berkata. "Biar keroyo yang satu ini menjadi lawanku"


Pertarungan sengit terjadi antara Boma dan anak buahnya Colet, hingga suatu ketika Kampak Boma mengenai punggung lawan sampai tangannya musuh tersebut tidak bisa di gerakkan lagi.


Musuh langsung meloncat mundur sambil meringis kesakitan darah menyembur dari punggungnya, luka tersebut cukup lebar dan dalam temannya segera membantu dengan menotok untuk menghentikan pendarahan yang bisa menyebabkan kematian.


"Kau mundurlah di antara mereka ada yang berilmu tinggi sekelas paman Tian agan dan yu asri haring, serahkan semuanya padaku, aku juga ingin menjajal kehebatan Pedang Naga Bergola ini".


Shun land berkata pada Boma, walau sedikit kecewa Boma menuruti perintah Shun land dia tidak ingin keberadaannya menjadi beban Shun land, Boma percaya sang adik angkatnya ini sekarang ilmu Kanuragannya melebihi ilmu Kanuragannya puluhan kali lipat darinya.


Lima orang maju menyerang dengan senjata tongkat besi, mereka membuat pormasi ada yang menyerang ada yang melindungi hingga sudah untuk melumpuhkannya.


Kekuatan tenaga dalam mereka cukup tinggi mereka memiliki lebih dari sepuluh ribu lingkaran.


Shun land hanya loncat kesana kemari menghindari serangan yang tersusun rapi, ini lah salah satu kelebihan jurus-jurus Panca Braja.


Shun land sambil menghindar memperhatikan setiap perubahan gerakan pormasi tersebut.

__ADS_1


"Aku mengerti yang paling berbahaya adalah yang paling belakang yang bertindak sebagai ekor kalajengking, andai pasukan ku bisa pormasi seperti ini mungkin akan lebih kuat. Aku tak akan membunuhnya semoga nanti bisa aku gunakan". Gumam dalam hati Shun land.


Shun land mengeluarkan Sumpit raja neraka, lalu berbisik pada Sumpit itu. "Jangan kau bunuh mereka cukup lumpuhkan dengan luka yang tidak berbahaya".


"Baik tuan ku hamba laksanakan". Terdengar suara roh Sumpit raja neraka di batin Shun land.


Shun land melenting keatas sambil menempelkan ujung Sumpit raja neraka ke bibirnya lalu meniup dengan tenaga dalamnya.


Lima sinar kuning kemerahan keluar sangat cepat menembak ke bahu kanan kelima anak buah Panca Braja.


Mereka berlima berusaha menghindar tapi usaha mereka gagal Semua sinar sumpit raja neraka seperti mempunyai mata mengejar sampai musuh tidak berdaya, ada yang menahan dengan tingkat besi tetapi sinar itu kuning ke merahan bisa melalui dengan mudah.


Kelima anak buah Panca Braja terduduk tidak berdaya dengan dada kanan yang berlubang sebesar jari manis tembus ke belakang, walau luka tersebut tidak membuat mereka kehilangan nyawa tetapi mereka tidak mungkin melanjutkan pertarungan.


Dua puluh lima anak buah Panca Braja maju membentuk lima lima pormasi di antara mereka Colet salah satunya.


Mereka mebentuk pormasi kalajengking besar siap menghancurkan apa saja yang ada di depannyaa.


Shun land merasakan kelima orang yang memperhatikan dari jauh, kelima orang tersebut adalah Panca Braja ingin mengetahui sejauh mana ilmu Kanuragan pemilik pedang Naga Bergola.


Panca Braja tidak segan-segan mengorbankan anak buak mereka demi untuk mengukur kemampuan ilu Kanuragan lawan.


Tetapi Shun land tidak memperdulikan kelimanya dia memfokuskan untuk melumpuhkan mereka semua dengan tanpa membunuh.


Setelah berpikir sebentar Shun land akhirnya memutuskan untuk mengunakan sebagian kekuatan apinya untuk mengintimidasi lawan.


Shun land menyimpan sumpit raja neraka lalu mencabut Pedang Naga Bergola dari warangkanya.


Shun land pun mengeluarkan Aura nya Apinya seketika di sekitar itu udara menipis berganti hawa panas sedikit demi sedikan naik, para pendekar anak buah Panca Braja saling berpandangan mereka ragu untuk melanjutkan pertempuran Karena musuh memiliki ilmu yang jauh di atasnya.


"Kalian sebaiknya meninggalkan majikan kalian yang dengan kejam memberikan tugas pada kalian, yang bukan tandingan kalian, aku bisa saja membunuh kalian semua dengan mudah tapi aku tidak melakukan, karena kalian mempunyai hak hidup dan menentukan pilihan, tentukanlah pilihan kalian mati sia-sia berkorban demi tuan kalian yang dengan kejam mengorbankan kalian atau kalian menyerah aku akan memperlakukan diri kalian dengan adil ???."


Shun land membuat mental mereka jatuh dan menjelaskan apa yang di perbuat para tuan mereka.

__ADS_1


Colet yang sedari awal sudah ciut hatinya langsung melempar senjata kedepan dan menyingkir dari arena Pertarungan sambil berkata. "Aku tidak akan ikut campur urusan Kalian".


Melihat Colet yang cukup tinggi ilmu Kanuragannya menyerah di ikuti oleh yang lainnya.


"Turunlah bila kalian menginginkan pedang yang berada di tangan ku ini, anak buah mu sudah memilih jalan yang tepat, meninggalkan tuan sekelompok pengecut seperti kalian". Shun land bicara keras sambil mengacungkan Pedang Naga Bergola ke salah satu pohon besar yang ada di sana.


Braja Denta memandang ke kakak seperguruannya Braja musti, Braja musti mendapatkan tatapan Braja Denta mengangguk.


Mereka berlima baru kali ini di sebut pengecut oleh seorang pemuda bau kencur menurut mereka, darah mereka spontan mendidih ingin merobek mulut tersebut.


Lima sosok keluar dari rimbunan dedaunan pohon besar tersebut mereka berlima melayang bagaikan terbang.


Ini membuktikan mereka berlima seimbang dengan kekuatan tenaga dalam Shun land.


"Nak Satria Nusa Kencana tidak menyangka kau sangat pandai menjebak orang tua ini".


Braja Musti mengakui kepintaran Shun land menjebaknya dengan berpura-pura tidak mengerti tentang masalah pusaka.


"Paman Braja Musti jangan terlalu naip, pedang di tanganku ini tidak banyak yang mengetahuinya kecuali kelompok Mara Deva, mungkin paman bagian dari mereka".


Shun land menjawab dengan tegas.


"Maaf nak Satria Kami tidak mengenal Mara Deva walau kami tahu siapa Mara Deva yang memiliki ilmu Rawarontek menurut Leluhur kami, kami pun mengetahui pedang Naga Bergola dari leluhur kami, siapa yang memegang pedang Naga Bergola akan menguasai dunia persilatan". Braja Musti diam sejenak lalu melanjutkan.


"Kami telah menunggu hampir puluhan generasi menunggu yang bisa mencabut pedang tersebut dan akan meminta baik-baik tapi bila kau tidak memberikan dengan baik-baik terpaksa kami menggunakan cara kekerasan". Braja Musti mengakhiri bicaranya.


Shun land berkerut keningnya ternyata selain kelompok Mara Deva masih ada yang lain yang mengetahui senjata bintang Pedang Naga Bergola. "Siapakah mereka yang mengetahui Pedang Naga Bergola ini".


"Aku telah di beri kepercayaan oleh leluhur agung Sang hyang Triloka untuk mewarisi pedang ini dan aku akan menjaga pedang Naga Bergola ini dengan nyawaku sebagai bentuk bakti ku terhadap leluhur ku, bila paman berlima mampu silahkan rebut dari tanganku".


Shun land menjawab dengan tegas tanpa rasa takut sedikit pun.


--------------------*****-------------------

__ADS_1


__ADS_2