LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
418. Sang Garuda 19. Pelabuhan Canggu.


__ADS_3

Sang Legenda Rajawali Api terbang ke arah barat hingga pegunungan Arjuna, setelah itu kembali ke arah timur menelusuri sungai Brantas hingga melihat suatu pelabuhan yang sedang di bangun tetapi pelabuhan ini bukan di tepi pantai tetapi di dalam daratan tempat di pedukuhan Majakarta.


(Sekarang Mojokerto, perubahan dialek Jawa dari A menjadi O, belum di ketahui sejak kapan secara pastinya dialek itu berubah, dan pengaruh dari mana perlu penelitian mendalam, tetapi ada teori, dialek A menjadi O sejah abad 17-18 Masehi yang digagas oleh seorang ahli politikus Ras bangsa Belanda untuk memecah bangsa Sunda Besar (wilayah Nusantara di bagi dua Sunda Besar dan Sunda kecil). menjadi suku suku kecil. Teori ini bisa terlihat tidak ada Raja-raja di pulau Jawa yang memakai O, kecuali setelah masa penjajahan VOC). 🙏🙏🙏.


Sang Legenda Rajawali Api lurus ke timur hingga sampailah suatu dermaga kecil di muara sungai Brantas, "mungkin itu yang di maksud Pelabuhan Hujung Galuh". Shun Land menunjuk ke depan bawah".


Sang Legenda Rajawali Api tidak menjawab tetapi menukik ke bawah agak jauh dari pelabuhan Hujung Galuh, Shun Land turun dari punggung Sang Legenda Rajawali Api. "Kau tunggu aku di sini hingga aku kembali".


Shun Land berjalan menyusuri jalan pelabuhan Hujung Galuh di kejauhan ada kedai minuman yang masih buka, waktu itu malam belum terlalu larut.


Shun Land masuk ke kedai itu seorang pelayan wanita setengah baya menghampiri. "Tuan mau persen apa". Pelayan itu bertanya.


"Saya minta minuman teh hangat jangan terlalu manis bibi" Shun Land menjawab singkat.


Pelayan itu pergi dan tak lama kembali membawa nampan berisi kendi dan gelas terbuat dari bambu. "Silahkan tuan". Pelayan itu meletakkan kendi dan gelas di hadapan Shun Land.


Pelayan itu hendak berbalik tetapi langkahnya terhenti mendengar Shun Land bicara. "Bibi bolehkah saya bertanya, saya baru singgah di pelabuhan ini".

__ADS_1


Pelayan itu berbalik dan menjawab. "Silahkan tuan, andai saya tahu jawabannya saya akan menjawabnya". Shun Land lanjut bertanya. "Bibi benarkah ini pelabuhan Hujung Galuh, dan siapakah yang berkuasa di sini".


"Benar tuan pendekar ini adalah pelabuhan Hujung Galuh, dulu pelabuhan ini di kuasai bangsawan Osing tuan Lembu Marunda, tetapi sudah dua bulan ini pelabuhan ini di kuasai kepala wilayah Majakarta Wisnu Wardana dan sekarang ini wakilnya sedang berada disini bersama 3 anak buahnya".


Pelayan itu menjawab apa adanya, sejak perebutan pimpinan pembangunan benteng pertahanan di pelabuhan Hujung Galuh dan ketua bangsawan Osing tuan Lembu Marunda mengalah, kepemimpinan di pelabuhan di kuasai oleh Wisnu Wardana.


Di sudut kedai empat orang sedang minum teh hangat mereka adalah Perwakilan kepala wilayah Majakarta Wisnu Wardana yang ke kepalai oleh Kebo Ireng dan adiknya Kebo bule, Jagal Pati dan Jaran Abang. Kebo Ireng menoleh ketika pelayan itu menunjuknya tapi tidak memperdulikannya.


"Terima kasih Bibi" Shun Land berterima kasih, setelah itu bangkit sambil membawa kendi minum teh hangatnya menghampiri Kebo Ireng. "Maaf tuan tuan bolehkah saya bergabung tenang saja masalah minum dan makanan saya yang traktir". Shun Land memberikan hormat dan bertanya.


"Silahkan pendekar muda masih ada kursi kosong dan terimakasih atas kedermawanan tuan, kalau boleh tahu dari manakah tuan pendekar ini". Kebo Ireng mempersiapkan dan bertanya dengan sopan.


Shun Land menjawab dengan jujur. Kebo Ireng dan ketiga anak buahnya memang sudah mendengar Raja Galuh Sindula bernama Jaya sempurna tetapi Kebo Ireng dan anak buahnya tidak menyangka bahwa yang di hadapannya adalah Kaya Sempurna sang raja itu.


Mereka berempat menerka tidak mungkin seorang raja malam-malam berkeliaran di pelabuhan dan minum minuman di kedai kecil. Shun Land duduk dan melambaikan tangannya ke pelayan, pelayan yang tadi menghampiri.


"Bibi tolong bawakan menu makan malam yang paling enak di sini untuk lima orang nanti tagihannya saya yang tanggung". Shun Land memesan makanan untuk mendekati Kebo Ireng dan Anak buahnya wakil kepala wilayah Majakarta Wisnu Wardana.

__ADS_1


Tiga pelayan membawakan pesanan satu meja penuh makanan di tata sedemikian rupa, "silahkan tuan Kebo Ireng dan kawan-kawan". Shun Land berbahasa-basi.


Sambil makan Shun Land mencoba memancing dengan berpura-pura tidak mengetahui bahwa di pelabuhan Hujung Galuh adalah wilayah perguruan Osing.


"Tuan Kebo Ireng sebenarnya siapa yang jadi kepala pelabuhan ini". Kebo Ireng mendapatkan pertanyaan ini berhenti makanya memandang Shun Land yang tertunduk makan seolah-oleh tidak bertanya hal penting. setelah menyakinkan bahwa Shun Land tidak berniat Jahat kebo Ireng berkata.


"Sebenarnya pelabuhan ini dulu di kuasai oleh perguruan Osing tuan Lembu Marunda tetapi sejak peristiwa pengambil alihan oleh tuan Wisnu Wardana pelabuhan ini di tinggalkan oleh para keamanan dari bawahan tuan Lembu Marunda, sehingga kami berlima di tugaskan oleh Kepala wilayah Majakarta tuan Wisnu Wardana untuk memberikan keamanan bila terjadi keributan di sini". Kebo Ireng menjawab apa adanya."Tuan Kebo Ireng saya ini orang luar tidak ada maksud apa-apa, tetapi saya sangat penasaran mengapa tuan Wisnu Wardana merebut wilayah yang sejak dulu jadi wilayah bangsawan Osing tuan Lembu Marunda yang berada di naungan kerajaan Galuh Sindula". Shun Land memulai dengan pertanyaan yang penting.


Kebo Ireng langsung menjawab tidak ada rasa curiga sedikitpun. "Sebenarnya begini tuan pendekar muda, pada saat ada utusan dari Kerajaan Galuh Sindula yang datang kepada setiap wilayah pelabuhan, Tuan Wisnu Wardana menunggu utusan itu agar mendapatkan dana untuk membangun pelabuhan ini di wilayah Majakarta yang memang pelabuhan ini masuk pedalam tetapi menurut kepala wilayah Majakarta tuan Wisnu Wardana pelabuhan Canggu lebih trategis dari pada pelabuhan Hujung Galuh ini,....


"Tetapi utusan itu tidak kunjung datang, tuan Wisnu Wardana sangat kecewa hingga pada waktu akan di bangun benteng pertahanan di pelabuhan ini tuan Wisnu Wardana meminta kepala Tuan Lembu Marunda untuk memindahkan pembangunan benteng itu ke pelabuhan Canggu di Majakarta, begitulah yang saya tahu tuan pendekar muda". Kebo Ireng menjelaskan apa adanya.


Shun Land menggunakan kepalanya, sekarang dirinya mengerti ternyata ini hanya salah paham saja, ini jelas jelas kesalahan pangeran Sanjaya triloka yang tidak menghitung pelabuhan Canggu sebagai pelabuhan yang di bangun benteng pertahanan dan pembangunan pengungsian ruang bawah tanah.


"Tuan Kebo Ireng apakah Kepala wilayah Majakarta Wisnu Wardana sudah menyatakan bergabung dengan kerajaan Galuh Sindula". Shun Land bertanya lebih dalam lagi.


"Menurut saya sudah tuan pendekar ketika itu masih berada di kota Sundapura kerajaan Tarumanegara, pernyataan itu yang di utus Kebo bule dan Jagal Pati dan Kuda Abang". Tangan Kebo Ireng menunjuk ketiga anak buahnya.

__ADS_1


_____*****____


__ADS_2