
Di sebuah cekungan pantai selatan daratan luas Sula sebuah pedukuhan yang di huni penduduk asli daratan luas Sula di pimpin seorang bangsawan Wana berNama Tau Taa Wana.
Seluruh penduduk di sana sangat sederhana di antara penghasilan mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup dari mencari ikan di laut yang sangat berlimpah.
Bersebelahan dari pedukuhan Bone sedikit ke timur di sana juga berdiri beberapa bangunan kokoh di antara bangunan ada salah satu bangunan yang paling besar dan tinggi bahkan mempunyai dua lantai.
Kelompok bangunan itu adalah perguruan Tapak Geni yang di pimpin oleh Ki Brata Geni dan kelima muridnya panca Braja.
Perguruan itu telah bersih dan terurus kembali setelah kembalinya pimpinan perguruan dan kelima muridnya.
Puluhan tahun perguruan itu terbengkalai tidak terurus di tinggalkan oleh pimpinan perguruan Ki Braja Geni dan kelima murid utama Panca Braja hingga di tinggalkan para murid karena sang guru besar tak kunjung kembali.
Ki Braja Geni rela meninggalkan perguruan warisan dari nenek moyang nya yang berasal dari penduduk asli dari teluk bone, demi ambisi ingin memiliki pedang Naga Bergola dan kitab Tarian Rajawali Api.
Setelah kabar Ki Braja Geni Telah kembali para murid yang meninggalkan perguruan berbondong-bondong kembali lagi.
Di dalam bangunan yang paling besar Ki Braja Geni sedang mengadakan pengumuman akan kedatangan junjungan Mara Deva Ki Braja Geni meminta pada semua muridnya agar hormat pada junjungan Mara Deva karena semua kebutuhan perguruan di penuhi junjungan Mara Deva.
(Suku Wana adalah salah satu Suku tertua di pulau Sulawesi tengah di duga oleh para sejarawan sudah ada sejak jaman mezolithicum yang berasal dari teluk Bone, sekarang berada di hutan Morowali, suku Wana juga si sebut juga dengan Tau Taa Wana, atau "orang Taa". Sekilas info mengenal suku di Nusantara kembali ke cerita)
Dalam kesempatan itu Ki Braja Geni memberikan tugas pada panca Braja yang aslinya tugas ini di berikan junjungan Mara Deva.
"Panca Braja kalian berlima harus pergi ke kerajaan Kutai Martadipura, kalian berlima harus menyusup di kalangan istana, kalian berlima harus menjadi pembuka junjungan Mara Deva untuk masuk di kalangan istana". Ki Braja Geni menjelaskan tugas untuk Panca Braja.
Junjungan Mara Deva mempunyai rencana ingin menghancurkan Shun land dari dalam dengan cara menjadikan kakak laki-laki Shun Land Shan land atau Jaka lelana menjadi panah mematikan bagi Shun Land.
Taktik Junjungan Mara Deva menugaskan Asvaghosa dengan beribu kotak kekayaan membuat sibuk Shun Land di daratan luas Dwipa hingga Daratan luas Nusa kencana atau Kalimantan luput perhatiannya Shun land hingga Junjungan Mara Deva leluasa mendekati raja perwakilan yaitu kakaknya sendiri Shan land atau Jaka lelana.
__ADS_1
Perguruan Braja Geni belum banyak yang mengenal karena telah vakum lebih dari seperempat abad hingga tidak akan di kenali raja Perwakilan Shan land dan bawahannya.
Junjungan Mara Deva telah mengenal dengan baik struktur keluarga Shun Land karena sejak awal pemilik tubuh 4 lintang ke5 pancer ini telah di awasi sejak lama pada waktu itu yang di tugaskan untuk mengawasi adalah Niraya Sura.
Ini adalah suatu kecerobohan Junjungan Mara Deva sendiri membiarkan Shun land untuk berkembang hingga akhirnya menjadi bumerang baginya untuk saat ini.
Junjungan Mara Deva terlalu percaya diri karena merasa telah menguasai tenaga dalam lebih dari 100.000 lingkaran yang sangat sulit untuk mencari tandingannya hampir mustahil bagi orang biasa untuk mencapai tenaga dalam setinggi itu.
Junjungan Mara Deva sudah tahu bahwa gurunya Pancasiksa walau mempunyai tenaga dalam tinggi melebihi dirinya tetapi dia tidak bisa bertarung seperti kakak seperguruannya Leluhur Raja agung Jatiraga.
Karena Pancasiksa mempunyai tubuh pasif hanya bisa bertahan tak terkalahkan tetapi tidak bisa menggunakan tenaga dalam untuk menyerang musuh.
Tetapi di balik kekurangan Pancasiksa memiliki kelebihan bakat untuk meramu berbagai ilmu olah Kanuragan menjadi sesuatu jurus atau ajian yang baru dan sakti salah satunya ciptaan Pancasiksa yang sangat hebat bahkan seperti menentang kodrat manusia yaitu Ajian Rawarontek yang tidak bisa mati walaupun tubuhnya hancur asal ada sebagai tubuhnya yang menyentuh tanah maka akan kembali menyatu dan meregenerasi sel-sel seluruh tubuhnya.
Tetapi Sang Maha Pencipta tidak demikian untuk menyeimbangkan dunia Shun land luput dari perhatian dan berkembang sangat pesat hingga bisa berimbang kekuatannya dengan junjungan Mara Deva bahkan bisa mengalahkannya.
Istana Sundapura hening tidak ada yang berani bicara satu patah katapun padahal para pembesar kerajaan semua hadir bahkan Ki Bajul Pakel yang berada di perguruan Badak liar labuhan dia kembali ke istana Sundapura untuk Mengantikan posisi panglima pasukan khusus senyap yang kosong.
Kilatan api kuning kemerahan terlihat sesekali di bola matanya tidak ada yang berani berkata sepatah katapun semua sadar dengan sekali gerakan istana itu hancur dengan bila kemarahan orang nomor satu di daratan Sundaland yang agung.
Dengan tanpa rasa takut permaisuri May Lien menghampiri dan bersimpuh di kaki Shun Land yang sedang berdiri menatap atap istana kedua tangannya di kepalkan.
Keluar kata yang lembut penuh kasih tiada keraguan keluar dari sang permaisuri yang paling di sayangi di antara permaisuri yang lainya tetapi tidak pernah ingin di istimewakan.
"Kakang jika kau suruh diri ku untuk terbakar oleh api kemarahan mu aku rela demi meredakan amarah mu yang akan merugikan bumi Pertiwi ini, tapi satu permintaan ku kau akan selalu menguasai amarah mu, karena kami semuanya berdiri di sini hanya ingin bersama mu membangun negeri ini, tataplah mataku kau boleh menghancurkan dengan api kemarahan mu tapi satu harus kau ingat seluruh sorot mata dunia tertuju pada diri mu sebagai pemimpin negeri ini yang mulai bangkit membangun peradaban besar seperti leluhur mu".
Sambil berkata permaisuri May Lien berdiri lalu memegang wajah Shun land dengan kedua tangannya dan menarik sedikit ke bawah hingga wajah mereka berhadapan sangat dekat tetapi mata Shun Land tetap tak menatap mata permaisuri May Lien.
__ADS_1
"Tatap aku apa kau takut". Suara keras terdengar keluar dari mulut mungil permaisuri May Lien, semua yang hadir menjadi kaget dan menatap ke depan secara spontan, karena siapapun tidak ada yang berani menatap wajah Shun land apa lagi bicara keras.
Shun Land bagai di kejutkan listrik jutaan what s spontan menatap sorot mata sendu yang rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk keselamatan dirinya.
Perlahan kilatan api di mata Shun Land menghilang mata itu kembali ke warna semula lalu memerah meneteskan air mata seperti orang biasa.
Tanpa sadar tubuh Shun land jatuh berlutut tubuhnya lunglai tak berdaya permaisuri May Lien pun ikut duduk di hadapan Shun land yang sesenggukan menangis mengungkapkan isi hati yang remuk redam harga dirinya di injak-injak bahkan seperti mukanya di lempari kotor hewan di depan rakyatnya yang menyanjungnya.
"Harga diriku bagai di injak-injak wajah Ku di lumuri kotoran hewan akan di ke manakah wajah ku di hadapan rakyat ku". Suara lirih keluar dari mulut Shun Land.
Dengan lembut permaisuri May Lien berkata.
"Kau sejak pertama bertemu dengan ku tak punya kehormatan karena yang mempunyai kehormatan hanya sang maha Pencipta pemilik alam ini, yang merasa punya kehormatan hanya hati yang lemah penuh kesombongan kau tidak punya kehormatan tapi kau adalah wakil yang mempunyai kehormatan untuk menegakan keadilan dengan memberikan berkah tubuh empat lintang kelima pancer pada mu".
Kalimat yang keluar dari permaisuri May Lien membuat hati Shun Land bergetar hebat hingga dia teringat ketika tersesat di ruang dimensi iblis hati tidak terasa dia telah masuk perangkap iblis hati keangkuhan merasa terhormat karena bisa mengalahkan kesaktian Mara Deva.
Dari sini ada peribahasa di balik kekuatan seorang laki-laki ada wanita hebat di belakangnya, jadilah wanita lemah lembut tanpa kekuatan apapun tapi bisa berdiri kuat di samping laki-laki yang terkadang di satu titik dia seperti bayi tak bisa berjalan dan berkata apa-apa.
Shun land berdiri meninggalkan ruang utama istana di gandeng permaisuri May Lien dan iring permaisuri Sari Tungga Dewi dan permaisuri Dewi Sumayi di belakangnya menuju peristirahatan Raja di belakang ruangan utama istana.
Putri Dian Prameswari dwibuana membubarkan persidangan, sidang akan di lanjutkan setelah suasana duka mereda.
_____*****_____
Terima kasih yang telah mengikuti perjalan LRA, like komentar dan Supportnya selalu menjadi catatan pribadi Author.
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA.
__ADS_1
SALAM NUSANTARA
SALAM GARUDA PERKASA