
Pedukuhan Tjikawung di gegerkan oleh mayat sepasang pendekar dan satu mayat tanpa badan.
Kepada Pedukuhan Tjikawung dan para tokoh serta penduduk yang melihat kepala Ki Srengga dan kedua muridnya sangat terpukul mereka sangat mengenal Ki Srengga dan kedua muridnya karena Ki Srengga adalah pahlawan bagi mereka.
Setiap ada gangguan dari hewan buas atau pun dari para perampok Ki Srengga selalu memberikan pertolongan dengan keikhlasan kematian Ki Srengga dan kedua muridnya bagai kehilangan seorang bapak bagi penduduk Tjikawung.
Kepala Pedukuhan sendiri yang mengantarkan kepala Ki Srengga ke istana Sundapura kerajaan Tarumanagara, sedangkan mayat Narpat Maja dan Larasati di kuburkan di pedukuhan Tjikawung.
Dua prajurit penjaga gerbang kota Sundapura menghentikan tiga penunggang kuda yang akan masuk ke gerbang kota.
Para penjaga setelah mendengar cerita dari kepala pedukuhan Tjikawung mereka semuanya bergidik badannya, mereka tidak bisa membayangkan betapa murkanya sang raja bila melihat Kepala gurunya yang tanpa badan.
Mereka bertiga di antar sampai gerbang istana setelah itu kepala Pedukuhan Tjikawung di kawal oleh pasukan istana memasuki istana.
Saat itu di dalam istana Shun Land sedang duduk di singgasana di temani permaisuri May Lien dan putri Dian Prameswari dwibuana berserta suami.
Shun Land sendiri sudah hampir seminggu merasa tidak enak perasaan tanpa di ketahui alasannya, mungkin ini suatu isyarat dari sang maha Pencipta bahwa akan ada peristiwa yang pahit menerpa wibawa seorang Raja.
Dua pengawal istana datang menghadap tanpa basa-basi pengawal itu menceritakan ada yang ingin menghadap dari Pedukuhan Tjikawung.
Shun Land langsung mempersilahkan, tapi hati Shun Land semakin berdebar-debar tanpa sebab.
"Salam hormat dan sembah bakti pada paduka, saya kemari ingin menyampaikan kabar duka semoga paduka raja tidak kaget dengan kabar duka yang akan saya sampaikan".
Kepala pedukuhan Tjikawung menghaturkan salam hormat dan sembah bakti pada rajanya, lalu menceritakan peristiwa pagi kemarin tidak ada yang terlewatkan bahkan menceritakan bahwa mayat istri Narpat Maja Larasati dalam kondisi tak berpakaian di samping tongkat yang di atasnya tertancap kepala Ki Srengga.
Setelah selesai bercerita kepala pedukuhan Tjikawung menyodorkan kepala Ki Srengga yang di bungkus kain warna putih lalu di letakkan di atas meja depan sang Raja.
__ADS_1
Shun Land mendengar cerita kepala Pedukuhan Tjikawung hanya diam saja dia tidak tahu apa yang harus di ucapkan marah pun bahkan tak keluar.
Shun Land Lalu berdiri dan membuka perlahan-lahan kain pembungkus kepala di buka, mata Shun Land nanar hatinya bagai di iris sembilu tapi tidak ada air mata yang keluar perasaannya telah membeku.
Kepedihan Shun land sudah memuncak hanya dalam tenggang waktu dua minggu tiga saudara seperguruan mati di Bunuh dan yang membuat hati Shun Land semakin merasa harga dirinya hancur adalah guru yang dia hormati mati di bunuh tanpa perikemanusiaan.
Permaisuri May Lien hanya terpaku begitupula putri Dian Prameswari dwibuana dan pangeran Makkamaru mereka hanya diam mematung.
"Terima kasih paman telah memberikan informasi ini dan mengantarkan mayat guru saya, putri Dian Prameswari dwibuana tolong urus pemakaman guru ku dan berikan hadiah pada kepala Pedukuhan Tjikawung, permaisuri May beritahu kedua permaisuri, bunda Ratu SHI khal dan ayahanda bahwa saya akan pergi ke ujung kulon semoga mendapat petunjuk, sepertinya kematian panglima Antaka, guru dan kedua saudara perguruan ku di lakukan oleh satu orang dan mempunyai maksud yang lebih dari sekedar membunuh semua orang terdekat ku".
Shun Land bicara sedikit panjang dengan wajah yang datar saja setelah itu di melesat ke pintu istana bagai kan menghilang.
Kepala Pedukuhan Tjikawung melongo melihat rajanya menghilang tiba-tiba dari hadapannya, tetapi putri Dian Prameswari dwibuana yang menjabat sebagai pelaksana pemerintah langsung langsung memberikan hadiah pada kepala Pedukuhan Tjikawung dan berpesan jangan menceritakan peristiwa ini pada yang lain.
Shun Land segera melesat menuju ujung kulon mengharap ada petunjuk tentang pembunuhan guru dan ketiga saudara seperguruannya.
Dalam perjalan Shun Land selalu berpikir apa yang sebenarnya tujuan dari pembunuhan ini.
Shun Land langsung mengerahkan seluruh tenaga dalamnya dan kekuatan api abadinya hingga tubuhnya bagaikan angin melayang sangat cepat menuju gua Sanghyang Sirah.
Tidak butuh waktu lama Shun Land telah tiba di depan bangunan yang sudah tak tersentuh tangan beberapa hari.
Tidak ada apa-apa yang terlihat sama seperti dahulu, "mungkin pertarungan terjadi di depan gua Sanghyang Sirah di bawah tebing".
Shun Land berkata sendiri, lalu berjalan ke samping mengitari bangunan perguruan hingga sampai ke belakang bangunan perguruan.
Mata Shun Land menelusuri halaman belakang hingga sampai ke tepi tebing dan berhenti ketika melihat sebuah pakaian yang berserakan di tepi tebing.
__ADS_1
Setelah dekat Shun Land mengenali pakai tersebut adalah pakaian kakak seperguruannya nyai Larasati tangan Shun Land reflek mengambil pakaian atasan itu dengan maksud untuk menyimpan nya sebagai kenangan.
Saat pakaian itu di angkat sebuah topeng hitam terbuat dari besi terjatuh ke tanah Shun Land lalu mengambil topeng tersebut.
"Ini mungkin topeng pembunuh yang tertinggal karena terburu-buru". Topeng itu di simpan nya di balik baju nya.
Setelah merapihkan pakaian nyai Larasati dan menyimpannya di dalam rumah gurunya Shun Land melesat turun ke depan gua Sanghyang Sirah.
Shun Land meneliti jejak bekas pertarungan setelah mengamati secara seksama Shun Land menyimpulkan.
"Ada lima orang yang mengeroyok guru dengan tenaga dalam yang tinggi hampir menyamai ku, tiga laki-laki dan dua pendekar perempuan, tapi di mana burung emprit, mengapa tidak membantu guru".
Shun Land berjalan memasuki gua Sanghyang Sirah hingga sampai di ruangan yang luas bekas dia berlatih jurus kitab Naga Kahyangan, tapi di sana dia tidak menemukan sahabat nya sang Rajawali Api.
Shun Land kemudian duduk bersila di tempat biasa Ki Srengga Bertapa Brata, lalu memutuskan panca inderanya dan segala rasa perasaannya.
Shun Land berfokus ke ruang jiwanya untuk menghubungi sang Rajawali Api melalui Batinnya.
"Di mana kau". Shun Land bicara melalui Batinnya tapi tidak ada balasan dari sang Rajawali Api walau pun batinnya telah terhubung.
Shun Land lalu menghubungi sang Naga bumi Sabui. "Naga bumi mengapa emprit tak menjawab panggilan ku walau pun kau sudah terhubung dengan batinnya".
Tidak lama terdengar di ruang batin Shun suara Naga bumi Sabui. "Tuan Sebulan yang lalu sang Rajawali Api berkata ingin memulihkan kekuatannya apinya sepenuhnya hingga bisa menggunakan jurus tarian Rajawali menurutnya hanya Dengan jurus Tariannya yang mampu membinasakan Mara Deva dan gurunya Pancasiksa dia bertapa di kawah gunung Krakatau tuan".
Setelah mendapatkan informasi dari Naga bumi Sabui Shun Land meneruskan bermeditasi untuk mendinginkan pemikiran dan perasaannya untuk menentukan langkah selanjutnya.
________*****_______
__ADS_1
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI LRA MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN BUAT SAHABAT-SAHABAT NOVELTOON.
🙏🙏🙏🙏🙏