LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
277. Jaya Sempurna 10. Membantu perguruan Cimande.


__ADS_3

Shun Land merasa kecewa tidak menghabisi pendekar pedang setan Dewi Andita selagi ada kesempatan, terbukti sekarang menjadi biang kekacauan di dunia persilatan.


Lasmini pamitan ingin mendahului beristirahat. "Kakang dan sepuh saya izin pamit duluan ingin membereskan perbekalan yang berantakan.


Sesampainya di dalam kamar Lasmini mengambil buntelan pakaian dirinya dan merapikan agar besok tinggal berangkat. Setalah itu Lasmini mengangkat buntelan pakaian Shun Land yang berada di sudut kamar bersama pedang Naga Bergola.


Akan tetapi Lasmini mengerutkan keningnya buntelan itu begitu terasa berat, memang Lasmini sejak menikah tidak pernah membuka barang-barang pribadi milik Shun Land untuk melihatnya, sekarang pun tidak berani membukanya bila tidak meminta izin terlebih dahulu.


Lasmini perlahan membuka buntelan pakaian itu hatinya penasaran apa sebenarnya isi dalam buntelan itu selain pakaian. Terlihat dua buah stel pakai di bawahnya ratusan kantong kecil bertumpu.


Dengan rasa berdebar Lasmini membuka satu kantong begitu terbuka dan menjatuhkannya di tempat tidur, mata Lasmini sekan loncat dari tempatnya melihat ratusan keping emas.


Jantungnya seakan berhenti berdetak dalam benaknya menghitung dalam satu kantong isinya ratusan keping emas, sedangkan seluruh kantong kecil itu jumlahnya ratusan.


Setelah memasuka kembali kepingan-keping uang emas itu Lasmini bergegas keluar menemui Shun Land.


"Kakang boleh bicara sebentar". Lasmini berbisik di telinga Shun Land, sepuh Ki Aria Natanagara dan ketiga muridnya berhenti mengobrol mereka semua melirik ke arah Lasmini dan Shun Land.


"Maaf sepuh dan kakang kakang semua saya undur diri dulu ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan istri saya". Shun pamitan.


Begitu bangun Lasmini Langsung menarik tangan Shun Land sepuh Ki Aria Natanagara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Mungkin mereka masih pengantin baru" Danur berkata sambil tertawa.


Sesampainya di kamar Lasmini langsung menunjuk kearah ratusan kantong koin emas lalu berkata. "Kakang semua uang ini milik kakang...? Dari mana semua ini...?".

__ADS_1


"Iya itu milik kakang semuanya kakang dapat dari para perampok yang kakang kalahkan, nah untuk sekarang uang itu milik neng Lasmini". Shun Land beralibi.


"Boleh saya belanja pakaian bagus seperti para putri kerajaan dan beberapa perhiasan mewah ???" Lasmini bertanya seakan tak percaya baginya bagaikan bermimpi mempunyai uang sebanyak itu.


Shun Land mengangguk hatinya sedikit terenyuh istrinya hidup kesulitan setelah di tinggal bapaknya. Sebenarnya Shun Land ingin membuat kejutan untuk kegembiraan bila sampai di ibukota kerajaan Sundapura.


Bagi Shun Land uang itu tidak seberapa nilainya, Shun Land mengambil satu kantong koin emas lalu keluar bergabung lagi bersama sepuh Ki Aria Natanagara.


"Sepuh ada sedikit uang tolong terima sebagai rasa terima kasih saya telah di beri tumpangan bermalam disini, sisanya semoga bisa membantu perguruan yang sepuh pimpin". Shun Land menyodorkan kantong koin emas.


Sepuh Ki Aria Natanagara langsung menerima tanpa basa-basi karena untuk saat ini perguruannya butuh dana untuk para murid yang sedang kesusahan.


Sepuh Ki Aria Natanagara langsung membuka kantong koin emas itu matanya melotot melihat semuanya uang koin emas.


,.... kerajaan bukan tidak mau memberi lebih banyak tetapi setelah lama di tinggal Raja kami, kerajaan kesulitan keuangan banyak yang tidak membayar pajak, tetapi sepertinya nak mas Jaya memberikan terlalu banyak saya tidak bisa menerimanya". Sepuh Ki Aria Natanagara menyodorkan kembali uang tersebut ke Shun Land.


"Tidak sepuh uang itu tidak seberapa jangan sepuh menolaknya keduanya uang tersebut hasil dari perampok yang saya taklukkan jangan khawatir saya kekurangan uang saya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan saya dan istri dalam 3 tahun mendatang". Shun Land memaksa.


"Kalau begitu saya terima terima kasih nak mas Jaya, tadinya saya takut nak mas Jaya kedepannya kekurangan". Sepuh Ki Aria Natanagara menerima dan memberi alasan mengapa tidak menerima bantuan uang tersebut.


"Sepuh tadi saya mendengar sepuh membicarakan perguruan pedang setan, seberapa kuat pemimpin perguruan itu, apakah masih jauh letaknya kalau dari sini" pertanyaan Shun Land hanya ingin tahu letak perguruan saja tetapi Shun Land pun menanyakan kekuatan Dewi Andita agar tidak curiga.


Padahal aslinya Shun Land sudah bisa menebak kekuatan pendekar pedang setan karena pernah bertarung ketika mau mengikuti kontes latih tanding di perguruan Gelap ngampar. (Lihat chapter 158).


Pada saat itu Dewi Andita mempunyai kekuatan tenaga dalam hanya 20 ribuan lingkaran andai pun dia bisa naik dalam waktu setahun hanya sekitar 10ribu sampai 20ribu itupun bila berlatih tanpa kenal waktu dan mempunyai bakat di atas rata-rata, itu bukan masalah berat buat diri Shun Land.

__ADS_1


"Kalau kekuatan bertarung Di pedang setan dulu masih di bawah saya tanaga dalamnya hanya sekitar 20ribuan tetapi untuk saat ini saya tidak mengetahui melihat dia bisa membunuh Ki Wirantaka dari perguruan Macan putih dalam satu gerakan kemungkinan dia memiliki 40ribu sampai 50ribu lingkaran tenaga dalam,.....


,..... tempat perguruan pedang setan berada di kaki gunung ceremai, ada apa nak mas Jaya menanyakan tempat perguruan pedang setan". Sepuh Ki Aria Natanagara menjawab apa adanya.


"Terus terang saya ingin menjajal kemampuan bertarung pendekar pedang setan sekaligus ingin mencari pengalaman bertarung dengan pendekar mumpuni". Shun berkilah.


Sepuh Ki Aria Natanagara mengerutkan dahinya dan memuji keberanian Shun Land dalam hatinya. "Nak mas Jaya harus mempunyai kekuatan tenaga dalam minimal 50ribu lingkaran itupun masih 50-50 kemungkinan menangnya".


Sepuh Ki Aria Natanagara melanjutkan bicaranya dengan bertanya. "Berapa lingkaran tenaga dalam yang nak mas Jaya milik bagaimana bila latih tanding dengan murid saya Danur".


"Tenaga dalam yang sekitar 35ribu lingkaran lebih, bila kang Danur siap saya tidak keberatan". Shun Land berbohong agar sepuh Ki Aria Natanagara tidak mencurigai hingga penyamarannya tidak terbongkar.


Danur langsung pergi ke tengah lapangan di ikuti Shun Land dan yang lainnya. Murid-murid yang sedang berlatih menghentikan latihannya memberikan ruang untuk mereka berdua.


Danur dan Shun Land telah saling berhadapan, Danur memasang kuda-kuda bersiap menyerang dahulu tetapi dengan gerakan sangat cepat dia atas kemampuan sedikit Shun Land langsung berada di samping Danur dan menyentuh lehernya dengan telunjuk.


"Kang Danur sudah kalah" Shun Land berkata sambil kembali lagi duduk di tempat tadi di ikuti sepuh Ki Aria Natanagara, Praja dan Suteja.


Danur melangkah lesu tapi menerima kekalahan karena bila pertarungan sebenarnya dirinya sudah mati.


Shun Land sengaja mempercepat latih tanding dirinya tidak ingin mengunakan yang dia kuasai.


Setelah itu Shun Land berpamitan ingin segera istirahat seharian penuh dibatas punggung kuda.


-------------&&&&-------------

__ADS_1


__ADS_2