
Tidak lama satu bayangan di ikuti 200san orang mengikutinya masuk ke balik air terjun tersebut.
Satu sosok pria berusia 55 tahunan duduk di ujung ruangan cukup lebar, dia memakai baju dari kulit macan putih tubuhnya tinggi besar dadanya bidang raut wajahnya menunjukkan pria tersebut memiliki keseriusan dalam segala hal.
Sorot matanya tajam bagai tatapan Elang lapar menatap empat sosok yang ada di depannya.
Dia lah Ki Braja Geni pimpinan perguruan Braja hitam dari daratan luas Celebes guru dari Panca Braja.
"Katakan semuanya tanpa ada yang di tutupi aku sangat tidak senang dengan orang yang tidak jujur" ucapan Ki Braja Geni sangat berwibawa.
Baraja Musti dari yang tertua dari Panca Braja menjawab dengan jelas dan tegas.
"Guru pedang Naga bergola telah lepas dari tempatnya kami mendapat sinyal darurat dari tiga orang yang berjaga di sana tapi sayang ketika sampai di celah gua orang tersebut telah pergi begitulah yang terjadi guru."
Bersamaan berakhirnya suara Braja musti memberi keterangan Braja Denta datang dengan para pengikut perguruan Braja hitam.
Sikap Ki Braja Geni jauh dari perkiraan mereka berlima dia tidak menunjukkan kemarahan atau pun rasa kecewa.
"Aku sudah menduganya kalian berlima tidak akan bisa menghentikannya, tapi aku ingin di antara kalian menjelaskan sosok seperti apa yang bisa mencabut pedang Bintang tingkat 3 ???".
Braja Denta menjawab, dengan jujur. "Kami berlima tidak melihat sosok yang mencabut pedang Naga bergola guru...!!! Tetapi di antara pengikut kita ada yang melihat pemuda itu, majulah Tarman beritahukan sosok yang mencabut Pedang Naga Bergola."
Satu pria brewok yang terhantam ekor Naga bumi Sabui dan terjebur di sungai maju ke hadapan Ki Braja Geni.
"Tuan Braja Geni saya melihat sosok pemuda tampan sekitar 25 tahunan di temani Seekor Naga biru dan satu burung Rajawali sangat besar dengan ukuran badan sebesar anak sapi, begitulah yang saya lihat." Tarman berkata jujur.
"Panca Braja atur anak buah mu untuk melacak pemuda itu bila kalian menemukannya jangan bertindak apa pun segera laporkan kepada ku, menurut perkiraan ku kalian berlima tidak akan mampu mengalahkannya".
Ki Braja Geni memberikan perintah kepada ke lima muridnya.
Tanpa banyak bicara kelimanya keluar dari gua tersebut di ikuti para pengikutnya.
------------*****-----------
__ADS_1
Sang Rajawali Api terbang menuju ke timur tetapi setelah agak jauh berbelok arah ke barat dengan kecepatan tinggi sang Naga bumi Sabui hanya mengikuti tanpa protes.
"Haiii Garuda mau kemana arah kita mengapa kita kembali ke arah barat." Shun land protes.
"Kita ke ujung kulon di sana yang paling aman membuka kitab ilmu pedang tarian Rajawali Api" sang Rajawali Api menjawab.
Tidak sampai satu waktu menanak nasi sampailah Shun land di pantai selatan daratan luas Dwipa tepatnya di mulut gua Sang Hyang Sirah.
Di sana Leluhur Ki Srengga telah berdiri seakan sudah mengetahui akan ada muridnya yang datang berkunjung.
Di sini membuktikan linuwihnya leluhur yang sarat dengan ilmu yang tinggi bukan saja ilmu olah Kanuragan tetapi ilmu kebatinan pun sangat tinggi hingga rasa dan perasaannya sangat peka akan ke jadian yang belum terjadi.
Shun land berlutut di hadapan gurunya sambil memegang pedang Naga Bergola di kedua tangannya.
"Guru salam hormat dan sembah bakti, ku pasrakan pedang Naga Bergola sebagai bakti murid kepada guru."
"Ku terima salam hormat dan sembah bakti mu nak mas Satria Nusa Kancana." Leluhur Ki Srengga menjawab sambil menerima pedang Naga Bergola.
"Aku Ki Srengga murid dari Leluhur Jati Purwa mewakili Leluhur agung Hyang Triloka sebagai Empu Pedang Naga Bergola memberikan pedang Naga Bergola kepada nak mas Satria Nusa Kencana untuk di pergunakan sebaik mungkin membela yang lemah memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan seluruh khayalan banyak."
"Saya Shun land alias Satria Nusa Kencana menerima pedang Naga Bergola saya ikrar berjanji dan bersumpah untuk menjaga dan menggunakan pedang Naga Bergola di jalan kebenaran." Shun land menerima pedang Naga Bergola.
Terdengar suara di batin Shun land. "Salam hormat dan sembah bakti kepada paduka Raja Shun land saya Naga Bergola akan setia mendampingi paduka Raja dalam suka atau pun duka bahkan sampai Roh ini hancur lebur."
"Aku Naga bumi Sabui menyaksikan ikrar sumpah setia mu." Di susul suara Sang Rajawali Api. "Aku sang Garuda Perkasa menyaksikan ikrar sumpah setia mu Naga Bergola."
Begitulah proses serah terima atau di sebut izazah sebuah ilmu atau sebuah pusaka yang di ajarkan Leluhur kita sejak jaman ribuan tahun bahkan puluhan ribu tahun yang silam.
Hingga alur asal usul ilmu atau pusaka tersebut tidak putus atau yang sekarang lebih di kenal dengan istilah sanad ilmu atau suatu pusaka.
"Bangunlah nak mas Satria." Leluhur Ki Srengga berkata.
Shun land berdiri dan mengikuti masuk ke dalam gua Sang Hyang Sirah.
__ADS_1
Mereka duduk berhadapan di batu lebar di dalam gua Sang Hyang Sirah.
"Nak mas Satria, apakah nak mas sudah tahu di mana letak kitab ilmu pedang tarian Rajawali Api." Leluhur Ki Srengga memulai pembicaraan.
"Belum guru tapi menurut sang Rajawali Api di tulis di warangka pedang Naga bergola ini murid belum memeriksanya." Setelah bicara Shun land melihat dengan teliti warangka pedang Naga Bergola.
Tapi sayang Shun land tidak melihat sebuah aksara atau gambar gerakan di warangka pedang tersebut, yang terlihat hanya ukiran seekor Naga dari ekor sampai kepala.
"Naga bumi Sabui kau ingat di mana Hyang Triloka menulis kitab ilmu pedang tarian Rajawali Api di warangka pedang Naga bergola." Shun land bicara melalui telepati pada naga bumi Sabui.
"Maaf tuan saya tidak ingat dengan detail tapi yang saya ingat di tulis di warangka pedang Naga bergola hanya itu yang saya ingat." Naga bumi Sabui menjawab tanpa ragu.
"Coba kau alirkan kekuatan Api abadi mu ke pedang tersebut lalu kau cabut dari warangkanya." Sang Rajawali Api memberi petunjuk.
Shun land memegang pedang Naga Bergola lalu mengalirkan kekuatan api abadinya sedikit demi sedikit pedang Naga Bergola bergetar dengan hati-hati Shun land mencabut pedang Naga Bergola pelan-pelan.
Pedang berwarna hitam kelam terlihat sedikit demi sedikit Pamor pedang Naga Bergola memenuhi gua sang hyang Sirah.
Leluhur Ki Srengga mundur beberapa langkah dari tempat duduknya, begitu kuatnya pamor pedang Naga Bergola.
"Sudah ribuan tahun aku terkurung di dalam pedang ini betapa segarnya udara di luar, terima kasih paduka raja agung telah membebaskan diri ku dari hukuman atas dosa dosa ku terdahulu mungkin sang maha Pencipta memberikan kesempatan kedua pada diri hambanya untuk berbuat amal kebajikan,....
Sudah waktunya hamba menumpas ketidak Adilan sebagai wujud rasa syukur hamba di beri kesempatan kedua,...
Paduka raja sebenarnya leluhur agung Hyang Triloka menulis kitab Tarian Rajawali Api itu dari hamba dulu ilmu ini bernama jurus tarian Naga kahyangan, tetapi leluhur agung Hyang Triloka menambahkan di setiap jurus dengan gerakan gerakan Sang Rajawali Api,...
Leluhur agung Hyang Triloka ingin menghilangkan kesan arogannya bangsa hamba dia ruang nama ilmu pedang tarian Naga kahyangan menjadi ilmu pedang tarian Rajawali Api,...
Hamba masih mengingat dengan jelas ilmu pedang yang leluhur agung Hyang Triloka menulis di warangka pedang Naga bergola ini,....
Hamba akan mengirim langsung ke ingatan paduka raja, bersiaplah kosongkan pikiran paduka raja."
Suara Roh Naga Bergola menggema di batin Shun land, tanpa banyak bertanya Shun land berkonsentrasi untuk bermeditasi mengosongkan pikirannya dalam posisi berdiri sambil memegang pedang Naga Bergola.
__ADS_1
Mulanya terasa sakit kepala Shun land bagai di hantam palu besar tapi lama-lama rasa sakit itu hilang di barengi muncul bayangan seseorang memegang sebuah pedang sedang memperagakan sebuah jurus.
---------------*****------------------